Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 21



Dika duduk di balkon yang terhubung dari kamarnya, sambil melipatkan tangannya memandang matahari yang perlahan menghilang.


Dika mengingat jelas, perjanjian antara dirinya dengan sang kekasih untuk saling setia dan Dika juga siap menunggunya hingga lulus kuliah.


Mereka sudah tidak berkomunikasi sudah beberapa tahun, karena kekasihnya tiba-tiba tidak aktif dan tidak pernah berusaha menghubunginya juga padahal nomor ponselnya tidak pernah diganti.


Flashback On.


Pagi tadi Dika di hubungi oleh bos di tempatnya bekerja, bahwa hari ini ada pekerjaan tambahan dan juga mengajari keponakannya untuk memahami pekerjaan di kantor.


Dika mengiyakannya, ia mengatakan kepada Icha bahwa hari ini ia dan dirinya pulang ke rumah di sore hari.


Icha mengiyakan, karena dirinya juga bekerja paruh waktu jikalau hari Minggu.


Dika melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya, ia duduk sambil menunggu keponakan bosnya datang, ia membuka komputernya untuk mengecek dokumen-dokumen.


Tok! Tok!


Suara ketukan, langsung mengalihkan pandangan Dika ke pintu. Karena sebelumnya ia fokus dengan layar komputernya.


“Itu pasti dia,” ujar Dika.


Karena berpikir itu adalah keponakan dari bosnya.


“Masuk,” ujar Dika setengah berteriak, akan tetapi pandangannya tetap pada layar komputer.


“Maaf, pak. Saya adalah keponakannya Pak Candra, yang akan belajar dengan bapak.”


Mendengar suara tersebut, Dika menghentikan aktivitasnya dan netranya tertuju pada wanita yang berdiri di hadapannya.


Deg!


Wanita yang sangat mirip, bahkan tidak ada celah.


Mereka memandang satu sama lain.


“Bang Dika” lirih gadis tersebut.


“Indah. Benarkah, wanita di hadapanku ini, indah?” tanyanya dalam hati.


Dika langsung tersadar, lalu mengalihkan pandangannya dan wajahnya langsung berubah datar.


“Silakan duduk,” ujar Dika dingin.


“Siapa namamu?” tanya Dika dengan wajah datarnya.


Gadis tersebut menurutinya, ia menarik kursi yang ada di hadapannya lalu duduk.


Gadis tersebut mengernyit heran, ternyata Dika tidak mengenali dirinya.


“Nama saya Indah,” sahutnya.


Deg!


Dika menghentikan aktivitasnya sejenak.


“Kemari,” Ujar Dika.


Indah menurutinya, ia melangkah mendekati Dika lalu duduk persis di sampingnya.


Lalu ia menjelaskan beberapa hal yang ada di dalam kantor tersebut, cukup lama mereka berada di ruangan tersebut.


Netranya menangkap sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya indah.


“Apa kamu mengerti?!” tanya Dika sedikit kesal.


Apalagi melihat cincin yang melingkar jari manis Indah.


“Su-sudah,” sahut Indah tampak sedikit gugup.


“Baiklah, sudah selesai. Besok lagi aku akan mengajarimu,” imbuh Dika tanpa melihat Indah di samping, ia sibuk membalas pesan adiknya.


“Terimakasih, Bang.”


Indah memanggilnya dengan sebutan Abang, tidak berubah sejak dulu.


“Hm...” deham Dika.


Indah beranjak dari duduknya dan melangkah pelan menuju ke pintu ruangan.


Ia sangat ingin menyapa Dika dan bercerita banyak, setelah beberapa tahun lamanya terpisah sejak kepergiannya ke luar negeri.


“Ada apa? Apa yang ingin kamu jelaskan?” ujar Dika melihat Indah yang sangat berat melangkah.


Indah berhenti lalu menoleh k arah Dika yang sedang menatapnya.


“Abang tidak mengenaliku, sama sekali?” tanya Indah tanpa ragu.


“Tidak,” sahut Dika cepat.


“Memangnya kamu siapa?” tanyanya.


Indah menggelengkan kepalanya pelan.


Terlihat dari raut wajah Indah, ia kecewa karena Dika tidak mengenalinya sama sekali.


Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu. Berulang kali Indah menengok ke belakang, berharap Dika mengenalinya. Akan tetapi Dika malah kembali fokus dengan komputernya.


Melihat Indah seindah keluar dari ruangan tersebut, Dika menghela nafas kasar.


“Bagaimana bisa aku tidak mengenalimu, setiap hari kamu selalu ada di pikiranku. Tapi, kamu ternyata sudah menikah. Kamu melupakan perjanjian kita,” lirih Dika.


Flashback Off.


Dika menghela napas kasar.


“Hingga saat ini kamu tidak pernah menghubungiku!” gumamnya melihat layar ponselnya.


Dika beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati dinding balkon yang sebagai pembatas. Namun, ia melihat mobil asing yang masuk area rumah.


“Mobil siapa itu?” tanyanya dalam hati.


Akan tetapi ia melihat Anggun keluar dari mobil tersebut bersama pria, mereka bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.


“Kurang ajar! Berani sekali membawa prianya ke dalam rumah ini,” geram Dika mengepal kuat tangannya.


Ia bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon, karena sudah menjelang magrib.


Ia keluar kamar, ingin menemui adik perempuannya tersebut.


Saat di anak tangga, Dika masih melihat Anggun dan pria bersama adiknya tersebut masih saling menggenggam tangan satu sama lain.


“Siapa pria itu?” tanya Dika menatap adiknya tajam.


“Bang, dia Dino. Dino akan bertanggung jawab dan mau menikahi Anggun.”


Anggun berbicara tidak berani menatap Abangnya, nyalinya saat ini menciut melihat ada kemarahan di wajah Dika.


Karena mendengar keributan, Pak Heri keluar dari ruangan kerjanya.


“Ada apa ini? Siapa dia Anggun?” tanya pak Heri melihat pria yang di samping Anggun.


“Dia kekasih Anggun, Pa. Kita duduk dulu Pa, ada yang kami bicarakan kepada Abang dan Papa.”


Anggun mengajak Dino untuk duduk, terlihat dari wajah Dino yang juga terlihat gugup.


Anggun lebih dulu mengajak Dino untuk duduk, di susul oleh Dika dan Papanya.


“Apa yang ingin kalian bicarakan?” tanya Pak Heri.


“Pa, Anggun minta maaf. Ini semua salah kami dan Dino ingin menikahi Anggun dia ingin bertanggung jawab.”


“Bagus,” sahut pak Heri.


Anggun menyenggol siku Dino dengan sikunya, agar Dino berbicara untuk meyakinkan orang tuannya.


“Maaf Pak sebelumnya, perkenalkan nama saya Dino. Saya akan bertanggung jawab atas bayi yang di kandung oleh Anggun, saya akan menikahinya secepatnya.”


Pak Heri dan Dika masih diam menyimak perkataan Dino.


“Jadi... maksud kedatangan saya kemari, untuk melamar putri Bapak.”


“Punya apa kamu?” tanya pak Heri tegas.


“Saya mempunyai bisnis dan ada tiga cabang di luar kota,” tambah Dino.


Pak Heri mengangguk mengerti.


“Secepatnya menikah akan lebih baik,” ujar Pak Heri lagi.


“Yakin, bayi itu adalah darah dagingmu?” tanya Dika membuat semua orang menatapnya.


“Abang, Anggun tidak seperti yang Abang pikirkan!” pekik Anggun.


“Yang kami lakukan memang salah. Tapi, aku sangat yakin seratus persen ini adalah darah daging Dino,” tambah Anggun lagi.


“Hm... oke!” sahut Dika singkat.


“Sudah, sudah!” ujar Pak Heri.


“Kapan rencananya kalian akan menikah?” tanya Pak Heri lagi.


“Besok,” sahut Dino cepat.


“Secepatnya,” Ujar Anggun yang menjawab bersamaan dengan Dino.


Pak Heri mengernyit bingung, karena Anggun dan Dino menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda.


Membuat Dika tersenyum kecut, mendengar jawaban adiknya tersebut.


“Dino,” lirih Anggun menatap kekasihnya.


“Biar aku yang menjelaskannya sayang,” Ujar Dino lembut.


“Jadi... kami akan menikah besok, karena semakin cepat semakin bagus,” ujar Dino menjelaskan.


“Iya juga sih. Kalau begitu, katakan pada orang tua mu untuk datang ke rumahku. Kita akan diskusi tentang pernikahan kalian,” ujar pak Heri.


Dino tampak terdiam.


“Orang tua saya sudah tidak ada,” ucap Dino berbohong.


Anggun memicingkan matanya, mendengar Dino berbohong. Ia sangat tahu, jika orang tuanya masih ada, akan tetapi tidak ada di kota ini.


“Oh, ya?” ujar Dika.


Dino mengangguk.


“Benarkah Anggun?” tanya Dika memastikan kepada Anggun.


Karena ia menangkap kebohongan dari mata kekasih adiknya tersebut.