Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 74



“Hati-hati kenapa, Mbak?” tanya Icha polos.


“Iya, hati-hati. Namanya juga di desa, banyak janda gatal. Apalagi Fahry, sudah genteng, rajin, baik, Soleh lagi.”


Icha tersenyum.


“Insya Allah, Mas Fahry tidak akan tergoda. Mas Fahry pasti setia, Mbak.”


“Iya, tapi kita perlu waspada juga.”


“Iya, Mbak. Terima kasih, aku akan menjaga Mas Fahry dari godaan wanita yang suka mengganggu suami orang.”


“Sip,” sahut ibunya Sifa.


“Oh ya. Kemarin, baru pulang dari tempat bidankan. Periksa apa? Kehamilan ya?” tebak ibunya Sifa.


Icha mengangguk pelan.


“Wah, bagaimana hasilnya?” tanyanya penasaran.


“Alhamdulillah, positif.”


“Alhamdulillah. Sifa, sebentar lagi kamu akan mempunyai teman.”


Sifa yang hanya tertawa, tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Tin!


Tin!


Suara klakson motor Fahry, berhenti tepat di depan rumahnya. Dengan membawa banyak sayuran di belakang motornya.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam ...” sahut Icha dan ibunya Sifa bersamaan.


Icha beranjak dengan menggendong Sifa, mendekati suaminya.


“Mas, apa semuanya baik-baik saja?”


“Alhamdulillah, motornya sedikit rewel. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah membaik.”


“Alhamdulillah.”


Fahry masuk ke dalam rumahnya, karena harus sarapan terlebih dahulu sebelum berkeliling kampung membawa sayurannya.


Sementara itu, ibu-ibu yang ada di dekat situ sudah berkumpul memilih sayur dan lauk yang ingin mereka beli.


Bu Sintya keluar dari rumah, untuk menggantikan Fahry melayani pembeli. Karena Fahry harus sarapan terlebih dahulu.


“Dipilih-di pilih Ibu-Ibu,” ujar Bu Sintya.


“Iya, Bu,” sahut mereka bersamaan.


Icha memberikan Sifa pada ibunya, karena dirinya harus menyiapkan makanan untuk suaminya.


“Sayang, mau makan sekarang?” tanya Icha mengambil air minum untuk suaminya.


Fahry mengangguk.


Setelah meletakkan gelas di meja, ia melihat punggung istrinya yang sedang sibuk mengambilkan makanan untuknya.


Fahry beranjak dari duduknya, langsung memeluknya dari belakang.


Grep!


“Sayang, aku merindukanmu,” bisiknya pada istrinya.


Icha mengernyit heran, lalu tersenyum berpikir jika suaminya ingin bermanja dengannya.


Icha meletakkan piringnya, lalu membalikkan badannya menghadap suaminya.


“Kenapa Mas, ada apa sesuatu yang terjadi?” tanya Icha pada suaminya.


Fahry menggelengkan kepalanya, lalu meninggalkan kecupan hangat di kening istrinya.


Lalu melepaskan dekapannya, Kembali duduk di tempat sebelumnya.


Icha Kembali mengambil makanan untuk suaminya, yang sempat tertunda.


“Mas, ada apa?” tanya Icha sambil meletakkan piring yang berisi nasi dan lauk pauknya.


“Tidak ada apa-apa, Sayang. Apa kamu sudah makan?” tanya Fahry sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Sudah Mas.”


Selesai makan, Fahry dan Icha kembali ke teras. Melihat ibu mertuanya sibuk melayani pembeli, sambil bercanda pada ibu-ibu tersebut.


“Fahry, pesanan Ibu ada?” tanya seorang ibu yang baru datang.


“Ada Bu,” sahut Fahry.


Ia mengambil kantong yang berisi sayuran dan ikan, motornya yang di modifikasi oleh Fahry hingga lebih mudah untuk membawa barang belanjaannya.


“Berapa semua?” tanyanya.


“Semuanya 150 ribu, Bu.”


“Fahry, apa kamu tidak rugi menjual semuanya begitu murah, hanya beda sedikit saja dari harga aslinya?”


“Iya kamu benar, Fahry. Semoga laris manis dan berkah selalu,” sahut ibu tersebut.


“Aamiin ....”


Setelah para pembeli pulang dengan membawa barang belanjaannya, Fahry berpamitan pada istrinya dan ibu mertuanya untuk berkeliling membawa sayur dan ikan yang ia jual dengan menggunakan motor miliknya.


🌹🌹🌹


Pagi ini, Dika tampak melangkah dengan terburu- buru menuruni tangga.


Pagi sekali, ia baru mendapat kabar, jika papanya di rawat di rumah sakit karena mengalami kecelakaan tunggal.


“Sayang, mau kemana, sepagi ini?” tanya istrinya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.


“Sayang, Papa kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah sakit.”


“Astaghfirullah ... Bang, aku ikut.”


Dika mengangguk.


“Ganti pakaianmu, aku tunggu di mobil,” ujarnya.


“Iya, Bang.”


Indah bergegas menaiki tangga, karena Indah sebelum salat subuh sudah mandi, jadi dirinya hanya menggantikan pakaiannya saja.


Dika menghidupkan mobilnya, sambil menunggu istrinya bersiap.


Ia mencoba menghubungi Mama dan adiknya, akan tetapi tidak bisa. Karena jaringan di desa tersebut sangat sulit, kalau tidak mamanya yang menghubungi lebih dulu.


“Ayo, Bang.”


Indah langsung masuk ke dalam mobil, Dika meletakkan kembali ponselnya.


“Apa perlu kita hubungi Mama, mereka semua disana harus mengetahui ini.”


“Abang sudah menghubunginya, akan tetapi tidak bisa. Kita akan coba lagi nanti,” sahut Dika melajukan mobilnya ke rumah sakit, dimana tempat papanya sedang di rawat.


Indah mengangguk.


20 menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit tersebut.


Dika dan Indah bergandengan tangan menyusuri koridor rumah sakit.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di rumah ICU tempat papanya di rawat.


Terlihat dari kaca kecil yang ada di pintu, pak Heri terbaring lemah dengan beberapa jenis alat terpasang di tubuhnya.


“Apa kalian keluarga dari pasien?” tanya perawat yang baru keluar dari ruangan tersebut.


“Iya, Sus. Kami anaknya,” sahut Indah.


“Dokter memanggil kalian ke ruangannya, mari saya antar.”


Indah mengangguk, ia menarik lengan suaminya yang masih menatap papanya dari kejauhan.


Setibanya di ruangan tersebut, dokter mempersilahkan mereka untuk duduk.


“Apa kalian keluarga dari pasien?” tanya dokter tersebut.


“Iya. Saya putranya,” sahut Dika.


“Jadi begini Pak. Beliau mengalami pendarahan di otak akibat benturan sangat keras di kepalanya, saat itu kami harus melakukan tindakan cepat yaitu melakukan operasi. Maaf, saya mengoperasi pasien tanpa persetujuan anda. Karena saat itu, tidak ada yang bisa kami hubungi. Sedangkan keadaan pasien sudah kritis dan harus segera di operasi.”


“Terus, bagaimana keadaan Papa saya saat ini, Dok?” tanya Dika.


“Pasien sedang koma saat ini,” sahut dokter.


Dika tidak bisa berkata-kata lagi, mendengar penjelasan dokter tersebut.


“Kapan Papa akan sadar, Dok?” tanya Indah yang tidak kalah khawatir.


“Saya tidak bisa memastikan, kita serahkan kepada yang maha kuasa. Berusaha tetap tenang dan ajaklah berkomunikasi pada pasien, walaupun tidak ada respons.”


Indah mengangguk.


Setelah itu, mereka berpamitan keluar dari ruangan tersebut.


“Sayang, sabar ya. Kita berdoa, agar Papa bisa melewati ini semua.”


“huft ... aku sungguh menyesal telah mengabaikan Papa kemarin. Aku anak yang tidak berguna!” Dika menyalahkan dirinya sendiri.


“Bang, ini bukan salah Abang. Ini adalah murni kecelakaan, jangan seperti ini ya. Ingat! pesan Dokter, jangan seperti ini di depan Papa. Mari kita rawat Papa, sudah saatnya kita sebagai anaknya merawat orang tua kita.”


Dika berulang kali menghela nafas, karena terasa sesak di dadanya.


“Kamu hubungi Anggun, katakan jika Papa sedang di rawat.”


Indah mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas miliknya.


Sedangkan Dika, melangkah masuk ke dalam ruang ICU tempat Papanya terbaring.


Terlihat wajah yang sudah mulai keriput, ada beberapa alat yang menempel pada tubuhnya.


“Pa, maafkan Dika ya Pa. Dika belum jadi anak yang baik, Papa sembuh ya. Dika akan mengajak Papa bertemu dengan Mama jika Papa sudah sembuh.”


Tanpa sadar meneteskan air matanya, sambil mengelus pelan tangan Papanya.