
Tiga hari sudah kepergian Adita, tiga hari pula Arif mencari keberadaan mereka. Arif hampir menyerah mencari keberadaan mereka, akhirnya dengan jalan gontai ia menghampiri Dika karena mereka semua tidak mau memberitahu keberadaan Adita.
“Kenapa wajahmu di tekuk begitu? Sudah menyerah sekarang?” ejek Dika masih duduk di kursi kebesarannya.
Arif menyusul Dika ke kantornya.
“Dika, aku mohon! Dimana Adita berada? Sungguh aku sangat menyesal,” ujarnya duduk di kursi dengan wajah memelas.
“Bagaimana? Tidak enak rasanya bukan? Di tinggal orang sangat kita cintai,” tutur Dika lagi sambil tersenyum mengejek.
“Iya, tidak enak sama sekali. Bagaikan sayur tanpa garam, eh bukan! Bagaikan sayur asem, tanpa asem tidak ada rasa kecutnya!”
Dika terkekeh mendengarnya.
“Ya kamu itu aneh, masa tidak percaya pada calon istrimu. Memangnya kamu tidak berpikir, di saat Aditya berkata seperti itu? Bisa saja dia ingin memisahkan kalian dan ingin kembali merebut mantan istrinya darimu! Atau bisa saja sekarang mereka sudah bersama?”
“Dika. Please! Jangan bercanda di situasi saat ini! Sungguh, aku sangat menyesal!” memijit pelipis kepalanya.
“Yakin kamu menyesal? Jika Aditya berkata yang tidak benar tentang mantan istrinya padamu, kamu akan percaya dan membuat hati Adita kembali terluka.”
“Arif. Adita sudah kami anggap seperti saudara, jika terjadi apa-apa padanya karena ulahmu! Kamu berhadapan padaku!” ancam Dika.
“Astaghfirullah Dika. Demi Allah, aku tidak berniat menyakitinya. Entah kenapa aku sangat bodoh waktu itu, percaya begitu saja! Sungguh, aku sangat kehilangan mereka berdua saat ini.”
“Aku juga mempersiapkan semua untuk pernikahan kami, sangat tidak lucu jika pengantinnya hanya aku sendiri!” kesal Arif pada temannya tersebut karena tidak ingin memberitahu keberadaan Adita.
“Hm ... kenapa tidak menikah di villa saja?”
“Bagaimana bisa menikah di villa?! Sedangkan ...” protes Arif tanpa sadar.
Ia terdiam sejenak mencerna ucapan Dika.
“Villa?” tanyanya menatap Dika.
Dika memainkan kedua alisnya sambil tersenyum.
“Kenapa? Apa kamu sudah bisa berpikir sekarang dan mencerna kata-kataku?”
“Huftt ... jadi kalian menyembunyikan di villa? Jahat sekali, aku seperti orang tidak waras mencarinya!” kesal Arif melempar pulpen yang ada di meja pada Dika.
Dika terkekeh melihat wajah kesal Arif.
“Kamu bisa menikah di villa itu,” usul Dika.
“Ide bagus, aku akan mempersiapkan ulang acara pernikahanku,” tuturnya.
“Aku ingin memberikannya kejutan, jangan biarkan Adita pergi dari villa itu hingga pernikahan kami di gelar.”
“Oke. Kita bicarakan nanti di rumah, karena kami adalah keluarga Adita. Jadi kamu harus membicarakan ini pada keluarga kami terutama Ibuku.”
“Iya. Itu masalah gampang,” sahut Arif bernapas lega.
Akhirnya ia bisa tersenyum, setelah mengetahui keberadaan Adita dan Eza.
Di villa.
Adita baru saja pulang berjalan-jalan di area villa tersebut dengan putranya, tiga hari menenangkan diri di sana cukup membuatnya tenang.
“Ayo mandi Nak, cukup bermainnya.”
“Ma, Om Arif mana?” tanya Eza pada ibunya.
Adita saat itu hendak membuka pakaian putranya, langsung terdiam mendengar pertanyaan putranya.
Tiga hari ia berusaha melupakan nama itu, akan tetapi tidak dengan Eza yang selalu bertanya tentang Arif polisi muda tersebut.
“Om kerja,” sahutnya.
“Sekarang Eza mandi, setelah itu makan. Kita akan memberi makan ikan lagi nanti sore,” ujarnya.
“Iya, Ma.”
Siang ini, Adita melihat ada beberapa orang yang datang ke villa tersebut dengan membawa beberapa rangkaian bunga, seperti sedang ada pernikahan.
“Apa ada acara di villa ini? Bukankan ini villa pribadi, hanya untuk keluarga saja,” tutur Adita dalam hati.
“Assalamualaikum Adita,” sapa Dika yang tiba-tiba ada di samping tanpa ia sadari karena terlalu fokus melihat kedatangan beberapa orang.
“Waalaikumsalam, Dika. Kamu di sini? Bersama siapa, di mana Indah?” tanya Adita melihat sekelilingnya.
“Aku kemari hanya sendiri. Temanku mau menikah di villa ini, beberapa hari lagi. Aku datang kemari untuk memberitahumu, agar tidak terkejut jika ada beberapa orang kemari untuk melakukan persiapan.”
“Aku akan pindah dari sini,” ujarnya.
“Tidak. Tidak perlu, yang di pakai hanya bagian di sana saja. Karena temanya outdoor, jadi kamu tidak perlu pindah. Kami juga akan datang kemari, setelah hari itu tiba.”
“Oh begitu.” Adita kembali mengangguk.
“Jaga diri kalian, kedatanganku kemari hanya untuk mengantar mereka. Karena belum mengetahui tempatnya, sekaligus melihat keadaan kalian.”
“Alhamdulillah, kami baik-baik saja. Mungkin besok atau lusa, aku dan Eza kembali ke rumah kami.”
Dika membulatkan matanya.
“Jangan! Eh maksudku tidak. Ini ... kamu tidak perlu ke mana-mana, kita akan pulang bersama nanti. Kalian harus tetap di villa ini,” sela Dika.
Adita mengernyit heran.
“Kamu mengerti kan?” tanya Dika agar Adita tetap di villa tersebut.
“Iya, baiklah.”
Adita mengangguk mengerti, tanpa menaruh curiga sedikitpun.
“Kalau begitu, aku permisi. Assalamualaikum,” pamit Dika.
“Waalaikumsalam,” sahutnya.
Setelah melihat kepergian Dika, Adita masuk ke kamarnya untuk menemui putranya yang sedang tidur siang.
Di mobil, Dika menghela napas lega.
“Bagaimana? Semuanya aman?” tanya Arif yang ternyata menunggu di mobil.
“Huftt ... hampir saja. Adita mau kembali lusa atau besok,” sahutnya.
“Hah! Terus bagaimana?”
“Ya aku sudah berusaha membujuknya, agar mereka tidak kembali besok.”
“Huh, alhamdullilah.”
Arif juga terlihat menghela napas lega.
🌹🌹🌹
Waktu begitu cepat berlalu hari yang di tunggu sudah tiba, besok adalah hari pernikahan Adita dan Arif yang di adakan di villa tersebut.
Namun, pernikahan ini masih belum di ketahui oleh Adita, bahkan ia masih menyangka pernikahan tersebut memang pernikahan temannya Dika.
Siang ini, keluarga Icha semua sudah tiba. Karena jarak dari kota ke villa tersebut memakan waktu sekitar dua jam.
Adita antusias menyambut kedatangan mereka, saling memeluk satu sama lain.
Eza yang terlihat sangat bahagia melihat kedatangan Azam, sejak kedatangan Azam ia hanya di kamar bersama Azam.
“Aku sangat bahagia melihat kedatangan kalian. Sungguh aku merindukan kalian,” ujar Adita pada Icha.
“Sama Mbak. Kami juga sangat merindukan mbak Adita dan Eza,” sahutnya.
“Adita, Mama ingin bicara penting denganmu,” panggil Bu Sintya padanya.
Karena Bu Sintya sudah menganggap Adita sebagai putrinya juga, sehingga ia meminta Adita memanggil dirinya dengan panggilan Mama sama seperti yang lainnya.
“Iya Ma,” sahut Adita.
Ia mengikuti langkah Bu Sintya, mereka melangkah ke arah tempat di mana pernikahan besok akan di lakukan.
“Dekornya sangat cantik ya. Pasti calon pengantinnya juga sangat cantik besok. Mama sudah tidak sabar ingin melihatnya besok,” tutur bu Sintya melihat dekorasinya memang sangat indah, di tambah temanya outdoor.
“Iya, Ma. Sangat bagus dan cantik,” tutur Adita melihat sekelilingnya.
“Mama mau bicara apa Ma?” tanya Adita.
Bu Sintya mengajak Adita untuk duduk di salah satu kursi kosong, letak kursi tersebut tepat menghadap ke arah danau yang ada di villa tersebut.
“Mama mau meminta sesuatu padamu, karena Mama sudah menganggap kamu seperti putri Mama sendiri. Mama memperlakukanmu sama seperti anak-anak Mama yang lainnya,” tutur lembut Bu Sintya.
“Mama mau minta apa dari Adita? Adita akan berusaha mengabulkannya,” tanya Adita menatap lembut wajah Bu Sintya.