Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 67



Akhirnya Fahry pasrah dan menerima perlakuan istrinya untuk menggantikan celana suaminya.


“Sudah,” ujar Icha.


Ia melihat wajah suaminya yang tampak malu-malu, Icha mengulum senyumnya.


“Ayo, kita keluar. Mama pasti menunggu kita di luar,” ajak Icha.


“Ah, iya. Aku akan menyusul,” sahut Fahry menghela nafasnya.


Icha mengangguk, lalu melangkah keluar dengan membawa pakaian kotor suaminya dan juga tempat kecil yang berisi air dingin.


Berulang kali Fahry menghela nafas, setalah melihat kepergian istrinya.


“Astaghfirullah ... kenapa masih deg-degan ya?” gumam Fahry.


Ia beranjak dari tempat duduknya, sebelum keluar dari kamar ia kembali menghela nafas lagi.


“Huftt ... perasaan ini masih sama saat pertama kali bertemu dengannya, masih suka deg-degan. Padahal sudah sah menjadi suami istri,” gumam Fahry terkekeh dalam hatinya.


Malam hari, Icha memasak untuk malam mereka. Ada juga Ifan yang datang bertamu ke rumah mereka, karena melihat kabar dari televisi dan melihat motor milik sahabatnya Fahry.


Ifan langsung datang ke rumah Icha, untuk memastikan keadaan sahabatnya.


Icha melihat suaminya seperti kesusahan untuk makan, karena tangan kanannya merasa sangat sakit.


“Biar aku yang menyuapimu, Mas.”


Icha menarik piring suaminya.


“Sayang, aku bisa sendiri,” tolak Fahry.


Ia juga sungkan untuk di suapi oleh istrinya, karena ada mertua dan sahabatnya ikut makan malam bersama.


“Yakin?” tanya Icha.


“Iya,” sahut Fahry.


Icha kembali menggeser pelan piring tersebut pada suaminya.


Namun, sama seperti sebelumnya. Fahry sangat susah mengangkat tangannya kanannya, ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Sini Mas, biar aku saja yang menyuapimu,” ujar Icha tidak tega melihat suaminya yang kesusahan untuk makan.


Fahry akhirnya pasrah dan membiarkan istrinya menyuapinya.


Icha menyuapi suaminya dengan telaten, di sela itu ia juga menyuapi dirinya sendiri.


Setelah usai makan bersama, Fahry dan Icha mengantar Ifan dan Bu Sintya ke teras rumah.


“Sayang, minum obatnya dulu. Setelah itu istirahat,” ujar Icha menutup pintu rumah lalu menguncinya.


Ia mengambil obat yang di belikan oleh Mamanya, tentu dengan resep dokter. Karena sebelumnya Bu Sintya konsultasi dengan dokter melalui ponsel miliknya dan kebetulan dokter tersebut adalah yang biasa mengobati mereka.


“Ini,” Ujar Icha menyerahkan obat tersebut, dengan air minumnya.


Fahry duduk di sofa, lalu satu persatu meneguk obat.


“Sekarang Mas istirahat. Biasanya, efek obat tersebut pasti mengantuk.”


“Iya, Sayang.”


Icha menggandeng tangan suaminya masuk ke dalam kamar, Fahry perlahan naik ke atas tempat tidur.


Icha menyelimuti suaminya hingga setengah tubuhnya tertutup, begitupun dengan Icha ikut bersama suaminya masuk ke dalam selimut tebal tersebut.


“Masih sakit?” tanya Icha pada suaminya.


Memiringkan tubuhnya menghadap suaminya, sedangkan posisi tubuh fahry terlentang.


Fahry mengangguk, karena baru terasa sakitnya.


“Efek obatnya belum bekerja, Mas. Tidur lah, setelah bangun insya Allah sakitnya akan berkurang.”


“Iya, Sayang. Terima kasih sudah merawatku.”


Icha tersenyum lalu mengangguk.


Tak butuh waktu lama, efek obat tersebut mulai bekerja. Fahry sudah memejamkan matanya, sedangkan Icha masih terjaga.


Menatap suaminya dengan nafas yang sudah beraturan.


Kelopak mata Icha perlahan tertutup, menyusul suaminya ke alam mimpi.


Jam 03.01 dini hari.


Fahry merasakan hawa panas, bahkan sedikit kesulitan untuk bernafas.


Kretek!


Kretek!


Bunyi sesuatu terbakar.


Fahry membuka kelopak matanya, melihat kamarnya sudah di penuhi asap.


“Sayang, bangun!” teriak Fahry membangunkan istrinya.


Icha tersadar, langsung duduk melihat sekelilingnya penuh dengan asap.


“Ayo cepat keluar!” menarik tangan istrinya.


Fahry masih sempat mengambil berkas penting yang ada di lemari, yang sudah tersusun menjadi satu di dalam tas.


Lalu ia berlari menarik tangan istrinya untuk keluar rumah, bahkan ia melupakan tangannya yang sakit.


Pintu rumah langsung terbuka, karena beberapa orang membuka paksa dari luar.


“Ayo, cepat pak. Kebakaran,” teriak beberapa orang.


Fahry dan Icha berlari cepat, karena sebagian atap rumah mereka sudah di lalap api. Beruntung, semalam Icha tidur tidak melepaskan hijabnya saat hendak tidur.


Dengan nafas yang terengah-engah, Icha dan Fahry menjauhi rumah mereka.


Fahry hanya sempat mengambil berkas-berkas penting mereka, selain itu semuanya tidak ada yang bisa di selamatkan.


Semua orang sibuk menyiram api dengan air, dengan alat seadanya.


Tidak lama, terdengar suara alarm mobil pemadam datang.


Namun terlambat, api sudah melalap habis rumah mereka.


Hanya rumah mereka yang terbakar, karena kesigapan warga sekitar menolong hingga tidak ada rumah lain lagi terbakar.


Fahry dan Icha tidak bisa berkata-kata lagi, bahkan hanya baju yang melekat di tubuh mereka yang tersisa.


Tidak butuh waktu lama, api tersebut sudah padam dan beberapa warga sudah kembali ke rumah mereka.


Sedangkan mobil pemadam masih berjaga jika sewaktu-waktu api kembali menyala.


“Pak, tinggal di rumah saya saja untuk malam ini. Kasihan istrinya,” ujar salah satu pria setengah baya menghampiri mereka.


Tubuh Icha bergetar duduk di tanah, karena masih trauma dengan kejadian barusan.


Fahry mengangguk, karena kasihan melihat istrinya.


“Terima kasih sebelumnya, Pak.”


“Sama-sama,” sahutnya.


Fahry menggendong istrinya, karena tidak kuat lagi untuk berdiri. Bahkan Fahry melupakan rasa sakit lengannya.


“Sayang, istighfar ...” bisik Fahry di telinga istrinya sambil melangkah mengikuti punggung pria itu.


“Hiks ... hiks ... iya Mas,” lirihnya sambil terdengar Isak tangis memeluk suaminya.


🌹🌹🌹


Setelah bangun dari tidurnya, Dika melangkah ke kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya yang bau keringat akibat olahraga mereka.


Setelah selesai, Dika membangunkan istrinya dan meminta segera mandi. Sedangkan dirinya mengemasi semua pakaian mereka. Karena beberapa jam lagi, mereka akan terbang untuk pulang ke tanah air.


“Sayang, sudah selesai semua,” ujar Dika menyusun koper miliknya dan istrinya.


“Iya, terima kasih ya Bang,” sahut Indah yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Setelah itu mereka bersiap menuju bandara.


Saat di perjalanan menuju bandara, Dika sudah beberapa hari tidak mendengar suara adiknya.


“Aku akan memberinya kejutan besok,” ujar Dika dalam hati mengangguk pelan.


“Kenapa Sayang?” tanya Indah melihat suaminya mengangguk.


“Hah, tidak. Aku hanya berpikir, besok akan ke rumah adikku. Beberapa terakhir ini, aku sama sekali belum menghubunginya.”


“Iya, Bang. Aku juga merindukan Icha, rindu masak bersamanya.”


Dika tersenyum, dalam waktu beberapa Minggu saja istri dan adiknya sudah begitu dekat.


Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di bandara, Dika membawa kedua koper milik mereka. Sedangkan Indah hanya membawa tas kecil miliknya.


Setibanya di tanah air.


pagi ini, Dika begitu cemas. Karena nomor Icha dan Fahry tidak bisa di hubungi.


“Kenapa tidak aktif?” gumam Dika.


“Kenapa Bang?” tanya Indah melihat suaminya terlihat cemas.


“Aku keluar sebentar.”


Mengambil jaketnya.


“Mau kemana Sayang?”


“Mau ke rumah Icha,” sahut Dika sambil mengenakan jaketnya, lalu mengambil kunci mobilnya.


“Aku ikut,” ujar Indah setengah berteriak.


Dika mengangguk.


“Pakai jaketmu sayang. Diuar sedang hujan lebat,” Ujar Dika mengingatkan istrinya.


Indah mengangguk.


Setelah mengambil jaket miliknya, ia bergegas mengikuti langkah suaminya yang terlebih dahulu keluar kamar mereka.