Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 18



“Bang, please ...” Icha menatap wajah Abangnya.


Akhirnya Dika mengangguk pelan, entah kenapa ia tidak mampu menolak keinginan adiknya tersebut.


Mungkin karena begitu sayang dan perhatiannya terhadap adik bungsunya itu, membuatnya tidak mampu menolaknya.


“Abang mau? Serius?” tanyanya antusias.


“Iya,” sahutnya sambil tersenyum.


“Alhamdullilah... terimakasih Bang. kalau begitu, Icha akan memberitahu Mama dan Papa,” tutur Icha hendak berlalu pergi.


“Icha,” panggilnya.


“Iya, Bang.”


Dika melihat wajah adiknya yang terlihat bahagia.


“Biarkan Mama dan Papa pulang malam ini, kita akan pulang besok!” ujar Dika.


Icha mengangguk.


“Iya, Bang.”


Icha kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


Tiba di luar, pemandangan hangat melihat orang tuanya saling bicara setelah seminggu lamanya mereka tidak bertemu dan tak saling bicara.


Sebelumnya Icha pernah ke rumahnya setelah kepergian ibunya dari rumah tersebut, sesampainya di depan rumahnya ia mengurungkan niatnya masuk karena melihat mobil Papanya tidak ada terparkir di luar.


“Icha,” panggil Papanya melihat Icha berdiri di depan pintu kamar.


Icha langsung tersadar.


“Iya, Pa.”


“Kenapa berdiri disitu? Kemari,” panggil Papanya.


Icha tersenyum lalu melangkah mendekati orang tuanya dan duduk bergabung bersama mereka.


“Bagaimana?” tanya Bu Sintya kepada putrinya.


Icha mengangguk.


“Abang dan Icha akan pulang besok. Malam ini, Papa dan Mama saja yang akan pulang terlebih dahulu.”


Pak Heri bernapas lega, bersyukur putranya ingin kembali pulang ke rumah.


“Terimakasih sudah memaafkan Papa, Nak. Papa tidak memberikan contoh yang baik untuk anak-anak, papa. Papa janji akan berubah,” tutur pak Heri.


Pak Heri tak henti-hentinya meminta maaf, ia berulang kali mencium telapak tangan putrinya.


“Iya, Pa. Jangan meminta maaf terus, kita mulai dari awal lagi Pah. Lupakan yang sudah berlalu,” Ujar Icha.


Cukup lama mereka berbincang hangat di ruang tamu, hingga makan malam bersama. Kecuali Dika yang belum keluar sama sekali dari kamar, selain banyak perkerjaan ia enggan untuk keluar kamar.


Bukan marah terhadap Papanya, hanya kecewa saja. Masih belum melupakan kejadian waktu itu.


Setelah itu, Icha mengantar orang tuanya ke teras rumah, karena sudah larut malam. Papanya membawa istrinya untuk pulang malam itu, sedangkan Icha dan Dika akan pulang ke rumah mereka besok.


“Hati-hati! Ma, Pa, di jalan.”


Sambil melambaikan tangannya, melihat mobil orang tuanya sudah menjauh, Icha kembali masuk lalu mengunci pintu, ia melihat Abangnya masuk ke dapur.


“Abang lapar?” tanya Icha melihat abangnya mengambil piring kosong.


“Iya,” sahutnya.


Icha mengambil makanan untuk Dika, yang sebelumnya ia sudah sisihkan untuk abangnya tersebut.


“Terimakasih, dek. Apa Mama dan Papa sudah pulang?” tanya Dika.


“Sudah, baru saja.”


Dika mengangguk, lalu melangkah ke arah ruang tamu.


Duduk di kursi untuk menghabiskan makanannya, Icha melihat Abangnya makan dengan begitu lahap.


“Sepertinya, Abang sangat lapar sekali,” gumamnya.


Icha berpamitan untuk pergi ke kamarnya, ia berganti dengan pakaian tidur.


Duduk di tepi kasur, melirik buku yang ia beli di toko tempat ia bekerja.


“Apa Fahry juga seorang penulis?” tanyanya.


Ia membeli buku dengan nama yang sangat mirip dengan nama Fahry.


Entah kenapa tiba-tiba teringat wajah Fahry, apalagi Fahry yang selalu bertutur kata sangat lembut kepadanya.


“Astaghfirullahallazim ... kenapa aku malah membayangkan wajahnya?”


Icha meletakkan kembali buku tersebut di nakas, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya karena terasa sangat lelah.


Setalah berdoa, ia merebahkan tubuhnya mulut Icha tak berhentinya berzikir dan kelopak matanya pun perlahan tertutup, tak butuh waktu lama ia sudah terlelap hingga masuk ke alam mimpi.


🌹🌹🌹


Sepulang dari mengantar Icha, Fahry bergegas pulang ke rumah. Ia sedikit mempercepat motornya, agar tiba rumah tepat waktu.


“Dari mana?” tanya Ifan yang sejak tadi menunggunya.


“Iya. Aku mengantar Icha pulang terlebih dahulu, tadi.”


Sambil memarkirkan motornya di tempat yang benar.


“Wow. Sudah sedekat itu kalian,” goda Ifan.


“Apaan sih. Abangnya tidak bisa menjemputnya, karena taksi tidak ada melintas di jam sore. Maka dari itu, aku menawarkan diri untuk mengantarnya.”


“Iya, iya. Aku hanya bercanda,” sahut Ifan sambil terkekeh.


Niat awalnya Ifan hanya ingin menggoda, akan tetapi Fahry menjelaskannya dengan serius, hingga membuat dirinya terkekeh melihat wajah Fahry yang serius.


“Sudah shalat?” tanya Ifan.


Fahry mengernyitkan keningnya heran.


“Kamu tanya siapa?” tanya Fahry.


“Kamu,” sahut Ifan.


“Tidak seperti biasanya, kamu bertanya begini. Sudah, alhamdullilah.”


“Aku hanya bertanya, Fahry.”


“Iya, maaf.”


Fahry bergegas mandi, karena sebentar lagi akan shalat isya berjamaah di masjid, lalu setelah itu ia rutin mengajarkan anak-anak untuk belajar membaca Al-Qur’an.


Walaupun Fahry tidak sekolah di pesantren, tapi dirinya selalu belajar mengaji sejak kecil.


Fahry dan Ifan melangkahkan kakinya bersamaan masuk ke masjid, mengerjakan shalat berjamaah.


Setelah itu, di lanjut mengajarkan anak-anak di masjid. Walaupun jumlah anak tersebut hanya beberapa orang, tapi dirinya bersyukur bisa mengajari mereka.


Selesai itu, Fahry membelikan anak-anak tersebut makan. Kebetulan gerobak bakso lewat dan mengajak mereka makan di kosannya.


“Kak Fahry,” panggil salah satu bocah yang sedang makan bersamanya.


“Iya. Ada apa?”


“Kakak tadi jalan sama cewek ya?” godanya.


“Ifal kok tahu?” tanya Ifan yang juga ikut duduk bersama mereka.


“Iya, tadi Ifal cari botol bekas sama Ibu. Tapi, Ifal tidak sengaja melihat kak Fahry berhenti di lampu merah.”


Ifal adalah anak yang tinggal dekat kosannya. Ifal anak yatim, ayahnya baru meninggal beberapa bulan yang lalu.


“Cantik tidak ceweknya?” tanya Ifan penasaran.


“Hus! Apaan sih Ifan! Jangan bertanya seperti itu, mereka masih kecil!” ujar Fahry mengingatkan temannya itu.


“Itu teman kerja kakak, sayang. Cepat di makam baksonya,” ujar Fahry.


“Iya, kak.”


“Yang lain juga, habiskan makannya ya. Kalau kurang boleh minta lagi sama Abang baksonya, nanti Kakak yang traktir.”


“Iya. Terimakasih banyak kak Fahry,” ujar mereka bersamaan.


“Iya, sama-sama.”


Mereka makan bersama, hingga bakso yang ada di mangkok mereka habis tidak bersisa.


“Sudah selesai?” tanya Fahri melihat anak-anak tersebut sudah menghabiskan baksonya.


“Sudah kak, sangat kenyang Alhamdulillah.”


“Alhamdulillah, sekarang pulang ya. Sudah malam, nanti Mama di rumah pada cariin.”


“Mama sudah tahu kak, kalau kita pasti di rumah kak Fahry. Mama tidak marah kok,” sahut Ifal dan yang lainnya mengangguk.


“Iya. Tapi, sekarang sudah malam. Ini bawa baksonya, untuk makan di rumah lagi.”


Fahry menyerahkan bakso yang sudah terbungkus.


“Terimakasih banyak kak. Hari Minggu, kita mengaji lagi ya kak?”


“Kakak tidak bisa janji. Kalau Kakak tidak sibuk, ya.”


“Iya, kak.”


“Assalamualaikum,” ucap salam mereka bersamaan.


“Waalaikumsalam...” sahut Fahry dan Ifan.


“Mereka sangat kecil ya Fahry. Tapi, mereka sudah merasakan kehilangan orang tua mereka.”


“Iya,” sahut Fahry singkat melihat kepergian anak-anak tersebut pulang dari rumahnya.


“Aku juga pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Namun, bedanya saat ibu ku pergi aku sudah dewasa.”


Ifan menepuk pundak Fahry, memberinya semangat.