
Tiba di rumahnya, betapa terkejutnya Anggun melihat koper miliknya sudah berada di luar.
“Kenapa barangku ada di luar?” tanyanya dalam hati.
Ia melangkah hendak masuk ke dalam rumah, akan tetapi pintu tersebut di kunci dari dalam.
Tok! Tok!
“Bi, buka pintunya!” teriak Anggun sambil menggedor kuat pintu rumah tersebut.
Bahkan ia juga menekan beberapa kali bel rumah, akan tetapi pintu tetap saja tidak di buka.
Anggun mengambil ponsel miliknya, ia melihat ada pesan masuk dari sang suaminya yang sebentar lagi akan menjadi mantannya.
“Kamu sudah tiba di rumah, bukan? Kamu pasti sudah melihat koper milikmu berada di luar! Bawa barang-barang busukmu itu dan pergi dari rumah ku!”
Anggun membaca pesan tersebut, dengan air mata yang kembali menetes.
Dunia begitu kejam padanya. Dua kali menikah, dua kali juga ia harus menerima kepahitan hidup. Karena kedua kali menikah ia selalu menjadi istri kedua.
Anggun terduduk lemas di teras, meratapi nasibnya saat ini.
“Apa salahku Tuhan. Kenapa hidup ini tidak adil padaku! Hiks ... hiks ....”
“Ke mana aku harus melangkah saat ini?” berbicara sendiri seperti orang tidak waras di teras.
Bahkan Bibi yang bekerja di rumahnya tidak tega melihatnya dari balik jendela, akan tetapi dirinya juga tidak berdaya. Karena yang ia jalani atas perintah Tuannya, jika tidak melakukannya ia pun akan menerima akibatnya.
Anggun terbaring di teras, dengan kepala bertumpu pada lengannya.
Air mata yang sudah terkuras habis, sejak pagi ia harus mengeluarkan air mata untuk suaminya yang bahkan tidak peduli padanya.
Bahkan tanpa sebab, ia pun tidak tahu apa kesalahannya sehingga dirinya di ceraikan begitu saja.
Apakah ini yang di sebut, habis manis sampah dibuang?
Anggun bangkit dari tempatnya terbaring, ia mengusap sisa air mata yang sudah mulai mengering.
Kali ini ia bertekad akan merebut kembali putrinya dan berusaha memenangkan hak asuh putrinya.
Anggun menggeret koper miliknya, melangkah keluar dari rumah besar tersebut.
Mobil yang ia kendarai sebelumnya bukanlah miliknya, sehingga ia harus pergi dari rumah tersebut dengan berjalan kaki.
Anggun tidak menemukan taksi sama sekali, bahkan ia bingung arah tujuannya saat ini.
Tidak mungkin ia pulang ke rumah orang tuanya, apalagi mengingat sikapnya yang egois selama ini.
Sudah berjalan hampir 800 meter, Anggun baru merasakan perutnya yang terasa lapar.
Ia duduk di tepi trotoar jalan, tenggorokannya pun terasa sangat kering.
Anggun membuka dompet melihat uangnya yang hanya tinggal satu lembar uang kertas seratus ribu.
Karena sebelumnya ia selalu membeli barang dan membayarnya menggunakan kartu kredit, jadi sangat jarang ada uang cash di dompetnya.
Ia pun tidak bisa menggunakan kartu kredit sekarang, semua kartu kredit yang suaminya berikan pasti sudah di blokir.
“Aku sangat haus sekali,” gumamnya.
Kebetulan ada orang yang menjual botol air mineral berkeliling di jalan.
“Berapa?” tanya Anggun.
Untuk pertama kalinya ia membeli minuman di pinggir jalan seperti saat ini.
“6 ribu,” sahutnya.
“Oh, murah sekali,” gumamnya memberikan uang satu-satunya.
“Ini, beli satu saja.”
Penjual tersebut menyerahkan botol berisi air mineral dan juga menyerahkan uang kembaliannya.
Anggun meneguk air tersebut hingga menghabiskan setelah dari botol tersebut, Anggun merasa lega setelah membasahi tenggorokannya.
Anggun kembali melanjutkan langkahnya yang tanpa tujuan, sambil menggeret koper miliknya.
Hari mulai gelap, Anggun duduk di halte bus sendirian.
Ingin pergi menginap di hotel, tapi dirinya hanya mempunyai uang 94 ribu rupiah yang tersisa di dompetnya.
Seharian berjalan kaki tanpa arah membuat Anggun terlihat kelelahan, bahkan seharian penuh perutnya belum terisi sama sekali.
Kepalanya terasa sangat pusing, untuk berdiri saja Anggun tidak mampu.
Bruk!
Anggun terjatuh hingga tidak sadarkan diri, tergeletak di halte bus seorang diri. Banyak yang berlalu lalang mobil dan motor melintas, akan tetapi tidak ada satu pun yang mau menolongnya.
🌹🌹🌹
Pagi hari.
Anggun mengerjapkan kedua matanya, bahkan ia menyipitkan kelopak matanya akibat terkena silau matahari yang masuk melalui celah-celah jendela.
Anggun melihat sekelilingnya yang begitu tidak asing baginya, ia mengernyit heran karena berada di dalam kamar miliknya dulu.
Seingatnya ia terakhir duduk di halte bus, karena tidak tahu arah tujuannya. Ia juga melihat pakaiannya yang sudah di ganti.
“Aku di rumah Mama? Siapa yang membawaku kemari?” gumamnya bertanya dalam hati.
Ia sangat tahu jika yang ia tiduri saat ini adalah kamar miliknya sebelum pindah ke rumah suaminya.
Kini pikirannya kembali pada putrinya, biasanya Naura setiap pagi menangis meminta susu.
“Lagi apa Sayang? Apa kamu tidak merindukan Mama?” gumamnya.
“Mama sangat merindukanmu,” ujarnya dalam hati.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, terlihat Bu Sintya datang dengan membawa nampan berisi roti dan segelas air susu.
“Kamu sudah bangun?” tanya Bu Sintya tersenyum melihat putrinya sudah bangun.
Anggun menanggapinya hanya dengan anggukan.
“Sarapan dulu,” ujar Bu Sintya meletekkan nampan itu di meja.
Anggun menggelengkan kepalanya.
Bu Sintya mengela napas, ia duduk di samping putrinya dan mencoba menyuapi Anggun.
“Makan lah. Mama tahu kamu itu sangat lapar! Buka mulutmu,” ujar Bu Sintya mendekatkan roti tersebut dekat bibir Anggun.
Anggun terpaksa membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang Mama, Anggun kembali meneteskan air matanya.
“Ada apa? Kenapa menangis? Apa rumah tanggamu baik-baik saja?” tanya Bu Sintya.
Sebenarnya Bu Sintya sudah mengetahui apa yang telah terjadi pada putrinya, karena Dika menceritakan semuanya.
Ketika pulang bekerja, Dika tidak sengaja melihat adiknya yang tergeletak di halte bus. Saat itu ia masih mengendarai mobilnya hendak pulang ke rumah.
Melihat adik perempuannya tergeletak di aspal, ia juga melihat koper milik Anggun yang tidak jauh darinya.
Ia mulai curiga ada yang tidak beres pada adiknya dan meminta orang suruhan menyelidiki hal tersebut, dan benar saja Anggun telah di usir dari rumah suaminya.
Anggun hanya diam mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Mamanya.
“Anggun. Mama bertanya padamu, bukan dengan tembok!”
“Apa peduli Mama? Jika rumah tanggaku sedang tidak baik-baik saja, lalu Mama mau apa? Mama tidak ada untukku, Mama hanya peduli sama Abang dan Icha!” kesal Anggun melihat ke arah lain.
“Kamu ini bicara apa? Tentu saja Mama peduli pada kalian semua! Buang egomu itu Anggun,” tutur Bu Sintya.
“Lihat Mama!” ujar Bu Sintya memegang dagu putrinya.
“Kenapa kamu selalu berpikir jika Mama tidak peduli padamu? Asal kamu tahu, setiap siang dan malam Mama selalu memikirkan kalian. Bagaimana bisa Mama tidak peduli pada anakku, yang telah aku kandung selama sembilan bulan?!”
“Buang jauh-jauh ego mu itu Anggun, berhenti berpikir seperti itu! Mama tidak pernah membeda-bedakan anak Mama.”
Anggun tampak menunduk.
“Hiks ... Ma, maafkan Anggun,” lirihnya langsung menangis.
Bu Sintya langsung menarik putrinya ke dalam dekapannya.
“Sebelum kamu meminta maaf, Mama sudah memaafkan mu, Sayang.”
Mengusap punggung putrinya yang masih menangis dalam pelukannya.