Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 101



Selepas magrib, Adita duduk di tepi kasur bersama putranya yang tengah bermain di atas tempat tidur. Sedangkan Adita masih dilema dengan pengakuan Arif yang ingin menikahinya, tanpa memandang masa lalu dan statusnya saat ini.


Bukan menolak, akan tetapi ia ragu akan menikah lagi, karena masih trauma dengan masa lalunya.


“Ma, mau makan,” tutur Eza yang terlihat masih sibuk bermain.


“Makan apa sayang?” tanya Adita mengusap kepalanya putranya.


“Telur dadar,” sahutnya.


“Oke, sebentar Mama masak dulu ya untuk Eza.”


Eza mengangguk, ia masih setia pada maianan Lego yang ia susun menjadi sebuah rumah.


Saat keluar kamar, Adita mendengar suara ketukan berulang kali, membuatnya mengernyit heran.


“Siapa bertamu malam-malam begini?” tanyanya dalam hati.


Adita melangkah pelan, lalu mengintip sedikit di balik jendela kaca.


“Pak Arif,” gumamnya melihat Arif di depan pintu masih dengan baju dinasnya.


“Dia sudah pulang dari luar kota?” tanyanya dalam hati.


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu kembali terdengar, Adita segera membuka pintu.


Ceklek!


“Assalamualaikum,” sapa Arif memperlihatkan senyumnya.


“Waalaikumsalam. Pak Arif baru pulang dari luar kota?” tanya Adita.


Arif mengangguk.


“Iya, aku langsung mampir kemari dan membawakan ini untuk Eza. Eza suka pizza bukan?”


Adita mengangguk.


“Om!” teriak Eza yang langsung berlari memeluk Arif.


“Om kapan datang. Hhmm, wangi. Om bawa pizza ya?” tebak Eza.


Arif mengangguk antusias.


“Masuk dulu,” ajak Adita.


Arif melepaskan sepatunya, lalu masuk sambil menggandeng tangan Eza untuk duduk di ruang tamu.


“Sudah makan?” tanya Adita.


Arif menggelengkan kepalanya, sambil membuka kotak pizza tersebut.


“Aku akan memasak untukmu. Tunggu sebentar.”


“Tidak perlu. Aku sudah memesan makanan untuk kita, sebentar lagi akan datang.”


“Oh.”


Sambil menunggu makanan datang, mereka bersama makan pizza yang Arif bawa.


Eza begitu antusias bercerita pada Arif, Adita hanya jadi pendengar sesekali ia tersenyum mendengar ocehan putranya tersebut.


Tidak lama makanan yang Arif pesan sudah datang, Arif meminta Adita untuk menyiapkan untuk mereka makan bersama.


Adita membawanya ke dapur, saat membuka kantong plastik tersebut Adita melihat tempat perhiasan kecil yang ada di dalamnya.


Sambil melihat ke arah luar, Adita memberanikan diri untuk membukanya.


Saat di buka, ada cincin emas yang terletak di dalamnya. Bahkan ada kertas kecil yang bertuliskan, i love u di dalamnya.


Mendengar suara Eza dan Arif yang menyusulnya, ia segera meletakkan kotak perhiasan tersebut kembali.


Ia segera mengambil piring dan sendok, lalu menuangkan nasi ke dalam piring mereka.


“Kamu tidak makan?” tanya Arif melihat Adita tidak menungkan nasi ke dalam piring miliknya.


“Tidak. Sebenarnya aku sudah makan tadi sore,” sahutnya.


Arif mengangguk mengerti.


Arif menyuapi Eza terlebih dahulu untuk makan, karena Eza meminta Arif yang menyuapinya.


Setelah Eza selesai makan, ia berlari ke kamar karena ingin melanjutkan mainannya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Arif sambil melirik jari Adita, tapi ia tidak menemukan cincin di jarinya.


Adita menggelengkan kepalanya.


“Itu dari kamu?” tanya Adita langsung.


Arif menghentikan aktivitas makannya.


“Maksudnya, aku tidak mengerti?” tanya Arif menatap Adita.


Adita menghela napas berat.


“Cincin itu dari kamu? Aku melihatnya ada di dalam kantong makanan.”


“Oh itu. Iya, aku membelikannya untukmu. Tapi, jika kamu tidak mau, buang saja.”


Adita mengernyit heran.


“Untuk kamu pakai. Tapi, jika kamu tidak menyukainya, tinggal buang saja.”


“Bukan begitu. Maksud ku ....”


“Mulai besok, kamu dan Eza tidak perlu datang ke rumah lagi untuk bekerja. Aku akan tetap membayar uang gajihmu tiap bulan,” tutur Arif setelah menyelesaikan makannya.


“Hah ... kenapa?” tanya Adita serius.


“Aku di pindah.”


“Pindah? Sampai kapan?”


“Sampai batas yang tidak dapat di tentukan, mungkin ini juga terakhir kalinya aku datang kemari. Aku tidak bisa memaksamu, jika kamu tidak ingin menikah denganku. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu, cincinnya di buang saja.”


Adita tercengang mendengar perkataan Arif, ia tidak menyangka jika Arif bisa berpikir dirinya menolak Arif. Padahal ia hanya butuh waktu, bukan menolak.


Setelah mengatakan itu, Arif beranjak dari meja dapur dan mengambil tas miliknya lalu meninggalkan Adita yang masih mematung di meja makan.


“Ma, Om Arif mana?” tanya Eza yang datang menghampirinya.


Adita langsung tersadar dan melihat sekeliling ternyata Arif sudah pergi dari rumahnya.


Adita berlari kecil melihat ke arah luar dan mobil Arif pun sudah tidak ada terparkir di depan rumahnya.


“Ma, Om mana?” tanya Eza lagi menarik baju Adita.


“Kita akan menyusul Om, oke.”


Eza mengangguk, ia bergegas mengambil jaket putranya lalu mengenakan pada Eza.


Adita segera mengunci pintu rumah dan bergegas pergi ke rumah Arif dengan menggunakan motor.


Jalanan cukup ramai, karena malam juga belum terlalu larut.


Butuh waktu untuk mereka tiba di rumah Arif, karena malam Minggu jalanan yang cukup padat.


“Kita sudah tiba sayang,” ujarnya pada Eza.


Mereka ke pos satpam, untuk bertanya terlebih dahulu karena ia tidak melihat mobil Arif terparkir.


“Pak, Pak arifnya ada?” tanyanya.


“Eh ada Eza. Tumben malam-malam datang kemari?”


“Pak arifnya baru saja keluar, sepertinya ada urusan karena sangat mendadak.”


“Kapan kira-kira Pak Arif pulang?” tanyanya lagi.


“Eh Adita tumben banget tanya Pak Arif. Ada apa? Kenapa wajahnya terlihat cemas begitu?” tanyanya penasaran.


“Ada yang ingin aku bicarakan, ini penting sekali.”


“Oh, itu Pak arifnya datang,” Ujarnya melihat mobil Pak Arif datang.


Arif melihat Adita yang ada di depan rumahnya.


Arif keluar dari mobilnya, akan tetapi ia keluar tidak sendirian melainkan ada wanita yang keluar dari mobilnya.


Adita menatap wanita tersebut, begitu anggun dengan pakaian syar’i nya.


“Adita, kamu kemari?”


“Hai Om,” ujar Eza melambaikan tangannya.


“Itu, A-anu ... ee, Eza mencarimu,” ujarnya berbohong.


“Benarkah?” ujar Arif langsung menggendong Eza.


Dengan polosnya Eza juga mengangguk, tampak Adita menghela napas lega.


“Eza, sepertinya akan turun hujan. Ayo kita pulang Sayang,” ajak Adita, karena memang ia merasakan ada rintik air hujan yang turun dari langit.


“Tapi, Ma. Eza mau naik mobil,” Sahut Eza.


“Kita pesan taksi, ayo. Nanti hujannya tambah deras sayang,” ujar Adita membujuk putranya. Eza akhirnya mengangguk, lalu turun dari gendongan Arif.


“Mbak, maaf. Ini dari pak Arif untuk anda, saya permisi pamit pulang,” ujarnya menyerahkan cincin tersebut pada tangan wanita itu.


Wanita tersebut mengernyit heran, tak terkecuali Arif sendiri.


Ia baru menyadari jika Adita sedang cemburu, lalu tersenyum.


“Aku akan mengantar kalian, pulang.”


Arif menarik kembali tubuh Eza dan menggendongnya.


“Tidak, Pak. Kami bisa memesan taksi saja,” tolak Adita lembut.


“Tidak. Diluar sana banyak sekali modus kejahatan.”


“Aisyah, Kamu masuk lah terlebih dahulu. Aku akan mengantar mereka dulu.”


“Iya Kak,” sahutnya.


“Kakak? Dia memanggilnya Kakak!” gumam Adita dalam hati.


“Cepat masuk. Apa yang sedang kamu pikirkan? Lihat, hujannya semakin deras.”


Adita langsung tersadar, lalu bergegas masuk ke dalam mobil Arif.