Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 108



“Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?”


“Sayang, kamu lihat itu.” Arif menunjuk dekorasi yang sudah selesai dan ada beberapa orang juga tengah sibuk menyusun meja dan kursi untuk para tamu besok.


“Kemari, ikut bersama ku.” Menarik lengan Adita, ia membuka salah satu foto mereka yang masih tertutup.


Adita terkejut melihat foto dirinya dan Arif yang terpajang di situ.


“Ini?”


“Iya. Ini adalah foto untuk pernikahan kita, besok!” ujar Arif penuh penekanan.


“Bagaimana? Ini semua kejutan untukmu, aku tidak ingin menunda lagi pernikahan kita.” Menatap lembut calon istrinya.


Tidak lama datang Bu Sintya dan juga Icha menghampiri mereka berdua.


“Bagaimana Mbak? Suka dengan kejutannya?” tanya Icha dengan senyum yang mengambang.


“Ini membuatku sangat terkejut. Aku tidak menyangka, kalian juga sudah mengetahui ini.” Mencubit lembut pipi Icha.


Icha terkekeh.


“Maafkan kami Mbak. Mau bagaimana lagi, kami harus menuruti semua yang di katakan oleh inspektur muda ini. Kalau tidak kami akan di ...”


“Akan apa? Nona Icha, jangan mengada-ngada. Sayang, aku tidak mengancam mereka,” tutur Arif dengan wajah yang memelas.


“Sudah, sudah. Kalian ini, jangan percaya sama mereka. Sekarang ikut Mama masuk,” ajak Bu Sintya menarik tangan Adita lalu di susul oleh Icha.


Sedangkan Arif ikut mengurus persiapan pernikahannya dan juga sibuk menghubungi pamannya yang belum tiba.


Setibanya di kamar, para perempuan sudah menunggu kedatangan Adita.


“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Adita terlihat gugup karena di tatap empat perempuan.


“Bagaimana Mbak?”


“Ba-bagaimana apanya?” tanya Adita bingung.


“Apa mbak Adita setuju akan menikah besok? Indah harap, Mbak Adita tidak menolak. Kami sangat lelah mempersiapkan ini semua,” Ujar Indah tanpa sadar.


“Astaghfirullah.” Langsung tersadar menutup mulutnya.


Adita terkekeh.


“Aku sudah tahu kok. Terima kasih ya, kalian begitu baik padaku.”


“Sama-sama Mbak.”


Keesokan paginya, Adita sudah bersiap dengan pakaian kebayanya. Karena pagi ini mereka akan melaksanakan akad nikah terlebih dahulu, lalu di lanjut dengan resepsi siang ini.


Semua orang memakai pakaian senada dengan warna gaun pengantin yang akan mereka kenakan siang nanti.


“Bagaimana saksi? Sah?” tanya pak penghulu melihat ke arah saksi.


“Sah ...” ucap saksi bersamaan.


Di ucapkan dengan satu helaan nafas, tanpa ragu walaupun sedikit nervous.


“Barrakaullah ....” di lanjut dengan pembacaan doa oleh pak penghulu.


Setelah itu, Arif meletakkan tangan di ubun-ubun istrinya sambil membaca doa dengan pelan.


Selesai membaca doa, Adita mengambil telapak tangan suaminya lalu menciumnya.


Semua orang bertepuk tangan dengan serentak, ikut berbahagia atas sahnya Adita dan Arif menjadi suami istri.


“Selamat ya, kalian sudah sah menjadi suami istri,” Ujar penghulu tersebut.


“Semoga pernikahan kalian sakinah, Mawadah dan Warahmah. Di karunia anak Soleh dan Sholeha,” tutur pak penghulu tersebut.


“Aamiin ...” sahut semua orang serentak.


Siang itu, para tamu undangan sudah hadir Adita dan Arif masih sibuk menyalami para tamu yang hadir dan memberi selamat kepada mereka.


Eza masih setia duduk di pelaminan bersama kedua orang tuanya yang sibuk menyalami para tamu.


Karena Arif dan Adita sama-sama anak yatim piatu, yang menggantikan orang tua yang duduk di pelaminan bersama mereka adalah Bu Sintya dari pihak perempuan, sedangkan dari pihak laki-laki adalah paman dan bibinya.


Tak terkecuali Dika dan Fahry, mereka juga menyambut tamu yang datang bahkan berbincang dengan rekan kerjanya yang turut hadir.


Sungguh meriah acara pernikahan mereka, diiringi dengan musik religi.


Sang pengantin cukup kelelahan menerima para tamu undangan hadir cukup banyak hingga malam hari.


Hingga jam 10.00 malam, akhirnya resepsi yang di gelar di vila tersebut selesai.


Semua orang kembali ke kamar mereka masing-masing, karena hari ini cukup melelahkan bagi semua orang tak terkecuali pengantin sendiri.


Arif menggendong Eza yang tengah tertidur pulas di gedongannya, sementara Adita perlahan melangkah mengikuti belakang pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut.


Adita harus perlahan melangkah, karena gaun yang ia kenakan cukup berat.


Setibanya di kamar, Arif meletakkan perlahan putra sambungnya ke tempat tidur yang empuk.


“Cape?” tanya Adita yang baru masuk ke kamar, lalu menutup pintunya.


“Lumayan Sayang. Sekarang ganti pakaianmu, kamu juga pasti cape.”


Adita mengangguk, ia membuka aksesoris yang ada di kepalanya, setelah itu ia membuka hijabnya.


Arif yang tadinya melihat pesan di ponselnya, teralihkan dengan Adita yang sudah melepas hijabnya.


Adita terlihat kesusahan membuka resleting gaunnya yang ada di belakang. Melihat itu, Arif berinisiatif membantunya.


“Perlu bantuan?” tanya Arif melangkah mendekati istrinya yang tengah berdiri menghadap cermin besar.


Adita mengangguk.


Perlahan Arif membantu istrinya, ia menelan salivanya melihat punggung istrinya yang putih dan mulus.


“Sudah?” tanya Adita menatap suaminya bengong dari pantulan cermin.


“Oh iya. Sudah,” sahutnya.


Arif Kembali melangkah duduk ke tempat semula.


Setelah berhasil melepaskan gaunnya, Adita lebih dulu memakai kamar mandi lalu bergantian dengan pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut.


Selesai membersihkan tubuh mereka masing-masing, mereka merebahkan tubuh di tidur dengan Adita yang berada di tengah-tengah putra dan suaminya.


Masih ada rasa canggung di antara keduanya, Arif memberanikan diri memeluk istrinya dari belakang.


“Apa boleh menghadap kemari?” bisik Arif di daun telinga istrinya.


Aroma wangi rambut Adita membuatnya semakin mengeratkan pelukannya, dengan tangannya masih berada di perut istrinya.


“Mas, aku tidak bisa bernapas.”


Arif baru tersadar, lalu melonggarkan pelukannya.


“Maaf,” sahutnya.


Adita tersenyum, lalu membalikkan tubuhnya menghadap suaminya.


Mata mereka saling bertemu, membuat Adita sangat malu lalu menutup wajahnya dengan tangannya.


“Kenapa di tutup?” tanya Arif menarik perlahan tangan Adita.


“Aku malu,” lirihnya.


Arif semakin mendekatkan wajahnya, hembusan napas mereka pun saling bertabrakan.


“Terima kasih,” Ujar Arif bicara pelan sembari mengelus pipi mulus istrinya.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Adita menatap lembut suaminya.


“Terima kasih sudah mau menikah denganku dan memberi ku kesempatan.”


Adita tersenyum.


“Seharusnya, aku yang berterima kasih padamu. Terima kasih sudah menerima aku dan putra ku,” tuturnya lembut.


Arif menarik istrinya ke dalam pelukannya, mencium pucuk kepalanya berulang kali.


“Jangan berterima kasih, aku sangat mencintai kalian berdua. Jangan tinggalkan aku, aku begitu sangat kehilangan kalian waktu itu. Aku hampir gila mencari kalian ke mana-mana,” tuturnya lembut.


“Maaf,” lirihnya.


“Sayang,” panggilnya lembut.


Adita mendongakkan kepalanya.


“Apa aku boleh meminta hakku sekarang?” tanya Arif.


Mencium aroma wangi tubuh istrinya, membuatnya tidak bisa menahannya lagi.


“Maaf. Aku itu ....”


“Itu apa?” tanya Arif melihat wajah istrinya tampak ragu untuk mengatakannya.


“Aku sedang datang bulan,” tuturnya pelan sambil menunduk merasa bersalah.


Arif tersenyum.


Cup!


Memberanikan diri untuk mengecup bibir ranum istrinya sekilas.


Wajah Adita memerah seperti tomat, karena untuk pertama kalinya Arif mencium dirinya.


“Tidak apa-apa, berarti belum rezeki malam ini. Kita bisa melakukannya setelah kamu selesai, sekarang istirahat ya.”


Adita mengangguk, Arif menarik kembali istrinya ke dalam pelukannya.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka terlelap, karena memang hari ini sangat melelahkan bagi mereka.