
Bu Sintya melangkahkan kakinya perlahan masuk ruangan ICU, dimana suaminya di rawat.
Bu Sintya meneteskan air mata, melihat suaminya yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit tersebut.
Tampak terpasang selang infus di beberapa bagian tubuhnya, tangan yang sudah terlihat keriput terpasang jarum infus.
Bu Sintya menatap sendu wajah suaminya, mata yang masih tertutup sempurna berharap mata tersebut terbuka dan mereka saling menatap satu sama lain.
Perlahan Bu Sintya menyentuh tangan suaminya, mengusapnya pelan. Hingga air matanya menetes tanpa henti, rasa bersalah yang cukup dalam.
“Mas, bangun Mas. Aku sudah kembali, walaupun sebenarnya kedatanganku tidak kamu inginkan. Aku akan tetap datang kepadamu. Bangun Mas, aku ingin meminta maaf karena sudah tidak percaya padamu dulu.”
“Mas, sebenarnya aku juga masih kesal padamu Mas. Walaupun kamu tidak melakukan kejahatan pada putrimu Icha, lihatlah kamu memberinya masalah berat padanya. Mas, bangun! Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu yang telah menjodohkan putrimu dulu.”
“Bangun! Kamu harus melindungi putrimu sekarang, bangun Mas! Hiks ... hiks ....”
Bu Sintya tidak bisa menahan tangisnya lagi, hingga datang perawat menghampirinya.
“Nyonya, apa anda baik-baik saja?” tanya perawat tersebut.
Bu Sintya mengangguk, sambil menghapus air matanya.
“Nyonya, saat ini Pak Heri harus di berikan semangat agar bisa melewati ini. Walaupun beliau masih terbaring dengan mata yang masih tertutup, ada kemungkinan Beliau mendengar apa yang kita bicarakan. Beri beliau semangat Nyonya, saat ini yang ia butuh kan adalah keluarganya.”
Tanpa mereka sadari, jika pak Heri meneteskan air matanya. Namun tubuhnya tidak berdaya.
“Iya, terima kasih.”
“Sama-sama Nyonya. Jika anda butuh sesuatu, panggil saya saja atau mungkin ada perubahan setelah Nyonya banyak bicara padanya.”
Bu Sintya mengangguk Kembali menatap suaminya.
🌹🌹🌹
Setelah mendapatkan telepon dari Abangnya, Fahry dan Icha bergegas pulang ke rumah.
Mereka segera mengemasi pakaian mereka dan barang yang Abangnya kirim semua peralatan bayi ia bagikan pada tetangganya yang sedang hamil.
Setelah itu, Icha dan Fahry berpamitan pada ibunya Sifa. Tetangga yang selalu baik padanya, apalagi pada Sifa yang baru saja beberapa bulan sudah sangat dekat padanya.
“Mbak, kok pindah sih? Katanya mau melahirkan di desa ini, kenapa pergi mendadak sekali?” tanya ibunya Sifa memeluknya sambil menangis.
Ia begitu terkejut mendengar tutur Icha yang mau pindah dari desa itu, dengan secara mendadak.
Icha dan suaminya di kenal baik di desa itu, hanya dalam waktu kurang lebih tiga bulan mereka bisa menyesuaikan pada warga di desa tersebut.
“Aku bingung harus menceritakannya mulai dari mana, tapi yang jelas kami tidak akan melupakan kebaikan mbak dan keluarga pada kami. Aku akan menghubungi Mbak nanti,” tutur Icha lembut.
Ibunya Sifa mengangguk.
“Aku mengerti. Jaga diri kalian baik-baik, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kabari aku, jika kalian sudah tiba di rumah.”
Icha mengangguk, ia beralih pada Sifa yang baru bangun tidur dan minum susu botol sambil berbaring.
“Sayang, maaf Tante ya, arus pergi lagi meninggalkanmu. Suatu saat nanti, kita akan bertemu lagi.”
Berbicara pada Sifa, bocah tersebut hanya tersenyum padanya tanpa mengerti apa yang di bicarakan olehnya.
Cup! Cup!
Berulang kali Icha mencium wajah Sifa, karena merasa akan berpisah dan belum tentu bisa bertemu lagi.
“Nona, kita tidak punya banyak waktu,” ujar Darwin pada Icha.
Ibunya Sifa semakin bingung, apalagi melihat pria yang memanggil Icha dengan sebutan Nona.
“Mbak, jaga diri kalian.” Kembali memeluk ibunya Sifa, mereka saling berpelukan sangat erat.
Lalu Icha berpamitan, bahkan ia meneteskan air matanya.
Ia melambaikan tangannya pada Sifa saat sudah di dalam mobil.
Ibunya Sifa tampak sedih melihat kepergian Icha, mereka cukup dekat sekali dalam waktu kurung beberapa bulan saja.
“Pasti ada yang tidak beres, hingga mereka pergi begitu mendadak. Icha, kalian orang baik. Aku akan selalu berdoa untuk kalian, semoga di lindungi dari para orang jahat,” gumamnya dalam hati.
Setelah melihat kepergian Icha, ibunya Sifa masuk ke dalam rumah sambil menghapus air matanya yang tanpa permisi keluar.
Tak lama, terdengar suara ketukan pintu.
“Siapa?” tanyanya sambil melangkah membuka pintu.
Ceklek!
Pintu rumah terbuka.
“Maaf mengganggu waktunya. Apa anda mengenali orang ini?” tanya pria yang di hadapannya, yang berbadan kekar dengan Kepala plontos tersebut.
Pria tersebut memperlihatkan foto tersebut yang sangat mirip dengan Icha, bahkan tanpa celah sedikitpun.
Ibunya Sifa mengambil foto tersebut, lalu melihatnya dengan teliti.
“Ini sepertinya benar-benar foto Icha, apa ini ada hubungannya dengan kepergian mereka? Pasti orang ini orang jahat!” gumamnya dalam hati melihat wajah pria tersebut.
“Apa anda mengenal wanita ini?” tanyanya lagi.
Dia mengangguk.
“Aku akan membuatmu kesulitan!” ujarnya dalam hati menyeringai jahat.
“Di mana rumah mereka?” tanyanya.
“Ini,” sahutnya menunjuk rumah Icha yang persis berada di sebelah rumahnya.
“Tapi ...” ia menggantungkan ucapannya.
“Tapi apa?”
“Mereka sudah pergi seminggu yang lalu,” sahutnya berbohong.
“Hah, anda yakin?”
“Heh! Kamu pikir aku pembohong!” sentak ibunya Sifa murka melihat pria tersebut.
“Maaf, Bu. Bukan tidak percaya, aku hanya bertanya,” ujar pria kekar tersebut sedikit takut melihat ibu dari Sifa membentaknya.
“Lalu mereka pergi kemana?” tanyanya lagi.
“China?”
“Iya. Kenapa?! Kamu tidak percaya lagi?” menatap tajam pria itu, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
“Tidak. Maksudnya aku percaya Bu. Apa ada selain jalanan ini untuk pergi ke kota? Melewati jalanan yang tadi cukup jauh dan sedikit sulit,” tanyanya.
Ibunya Sifa kembali ingin mengerjai pria yang ada di hadapannya, karena ia sangat yakin jika pria itu bukanlah orang baik.
“Ada,” sahutnya berbohong.
Terlihat dari wajah pria itu, ia menghela nafas lega.
“Anda harus melewati jalan ini, ikuti saja jalannya dan kamu akan menemukan jalan pintas yang langsung menuju ke kota.”
“Oh begitu. Baiklah”
Pria tersebut langsung pergi masuk ke dalam mobilnya, terlihat sekali jika dia sedang terburu-buru.
“Dasar orang aneh, tidak ada sopan santunnya!” kesalnya melihat pria tersebut langsung pergi tanpa berterima kasih.
Namun, setelah mengatakan itu, ia tersenyum licik.
“Mampus aku kerjai, makanya jangan jadi orang jahat!” ujarnya terkekeh.
Sudah lama pria itu mengendarai mobilnya, akan tetapi ia tidak menemukan jalan besar. Bahkan saat ini Ian hanya menemukan jalan setapak menuju ke dalam hutan.
“Apa ini memang benar jalanannya?” gumamnya jalan setapak masuk ke arah hutan.
Ia mengingat lagi ucapan wanita tadi, jika dia menemukan jalan setapak menuju ke dalam hutan.
“Sepertinya iya. Mana mungkin wanita yang tadi berbohong,” gumamnya lagi meyakinkan dirinya.
Pria ini terus mengendarai mobilnya mengikuti jalan tersebut, hingga semakin masuk semakin susah untuk mengendarai mobil tersebut. Karena jalannya yang semakin sempit dan bahkan banyak ranting-ranting kayu berjatuhan.
“Sialan, aku memang di kerjai oleh wanita itu!” umpatnya.
“Sejak tadi aku tidak menemukan jalan besar sama sekali, yang ada aku malah masuk ke hutan begini!” gerutunya mulai memundurkan mobilnya.
Terlihat ada seorang pria tua yang sedang mencari kayu bakar di sekitar itu.
Ia turun dan ingin bertanya.
“Pak, apa disini ada jalan pintas menuju ke kota?” tanyanya.
Pria tua itu hanya diam menatapnya.
“Pak,” panggilnya mulai kesal.
Pria tua ini hanya bisa berbicara menggunakan isyarat tangannya, karena pria tersebut adalah tuna rungu.
“Astaga, aku bahkan tidak mengerti apa yang ia katakan!” kesalnya melihat pria tua itu berbicara menggunakan isyarat tangan.
Ia hanya bisa mengangguk, lalu kembali ke mobilnya.
“Sialan, sepertinya aku harus kembali ke jalan awal saja! Sialan!” umpatnya berulang kali.
🌹🌹🌹
Hampir lima jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di bandara.
Fahry menggeret satu koper miliknya dan istrinya, karena Fahry meminta hanya membawa satu koper saja.
Cukup memakan waktu untuk mengemasi pakaian mereka, karena Darwin mendesak mereka agar cepat dari desa tersebut.
Sambil menunggu keberangkatan, Darwin terlihat serius berbicara pada orang di ponselnya.
Sedangkan Icha dan Fahry hanya duduk menunggu keberangkatan mereka, Icha ingin menghubungi Mamanya akan tetapi ponsel mereka mati karena kehabisan baterai.
“Ada apa Darwin?” tanya Fahry ketika melihatnya sudah selesai berbicara di telepon.
“Pak Dika baru saja menghubungiku, kita akan kembali ke rumah. Karena pelaku sudah di tangkap,” ujarnya.
Terlihat Icha dan Fahry menghela nafas lega.
“Tapi ....”
“Tapi apa Darwin?” tanya Fahry mengernyit heran.
“Masih ada satu anak buahnya yang belum di temukan, kita belum bisa menghirup udara bebas. Tapi, Pak Dika meminta kita untuk kembali, di sana lebih aman.”
Fahry terlihat menghela nafas kembali, lalu mengangguk.
Darwin kembali membelikan tiket lagi untuk mereka, karena mereka terbang ke kota sebelumnya mereka tempati kota tanah kelahiran mereka.
“Maafkan aku Mas, karena aku Mas jadi ikut susah begini,” lirih Icha memeluk lengan istrinya.
“Jangan seperti ini Sayang, memang sudah jalannya seperti ini. Kita ikuti alurnya dan nikmati semua prosesnya, aku ingin menuju Jannah bersamamu,” sahut Fahry pelan agar tidak terdengar sebagian orang yang ada di sekitarnya.
Icha merasa terharu dengan ucapan suaminya barusan, andai saja mereka di rumah ia pasti sudah memeluk erat suaminya.
“Terima kasih, Mas. Aku mencintai mu,” lirih Icha tanpa sadar mengucapkan kata tersebut.
Hingga Fahry sedikit terkejut mendengarkannya, untuk pertama kali Icha mengatakannya.
Sama halnya dengan dirinya, yang belum pernah mengatakan kata itu semenjak menikah.
“Apa? Coba ulangi perkataanmu barusan, aku kurang jelas mendengarnya.”
“Yang mana?” tanya Icha bingung.
“Terima kasih?” tanya Icha lagi.
“Bukan, sesudah itu.”
Icha tampak kesulitan mengingat yang dia ucapkan, Icha berpikir keras untuk mengingatkan. Seketika Icha langsung tersadar saat ia mengingat sesuatu.
“Apa? Sudah ingat?” tanya Fahry.
Icha memalingkan wajahnya ke arah lain, karena sangat malu pada suaminya.
“Fahry ayo, pesawat sudah siap berangkat,” ajak Darwin.
Fahry menggenggam tangan istrinya untuk mengikuti langkah Darwin yang lebih dulu melangkah.