Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 97



Di sepertiga malam, seperti biasa, Fahry melaksanakan salat malamnya.


Setelah selesai, ia merasa tenggorokannya sangat kering. Ia melihat di nakas gelasnya tampak kosong, netranya beralih pada istrinya yang tertidur pulas.


“Pasti sangat cape. Apalagi semalam Azam sangat rewel,” gumamnya netranya masih belum beralih pada istrinya sembari melipatkan sajadah dan sarungnya.


“Sayang,” panggilnya pelan.


Fahry duduk di tepi kasur, netranya belum berpindah pada wajah istrinya.


Menatap wajah yang begitu cantik walaupun dalam keadaan tertidur, dengan napas yang sudah beraturan.


“Sayang,” panggil Fahry lagi.


“Hm ...” deham Icha tanpa membuka kelopak matanya.


Fahry menyelipkan rambut halus yang menutupi wajah cantik istrinya, netranya beralih pada bibir istrinya yang berwarna pink pucat tersebut.


Ia mengecupnya sekilas, akan tetapi berulang kali.


Lalu tersenyum tipis.


“Manis sekali,” ujarnya mengelus pipi gembul istrinya.


Netranya beralih ke bagian da*a Istrinya yang terbuka, karena baru saja selesai menyusui putranya, akibat mengantuk hingga belum sempat menutupnya.


“Pasti sangat mengantuk, hingga tidak bisa menutup ini.”


Membenarkan pakaian istrinya agar menutup bagian da*a istrinya terbuka lebar.


Netranya beralih pada putranya, menatap wajah putranya.


Dengan gaya tidur yang sama, bibir putranya yang masih sedikit bergerak seperti sedang mengisap put*ng susu.


“Anak Papa yang Sholeh, sehat terus ya nak.”


Mengusap kepala putranya pelan.


Sebelum beranjak, ia kembali mencium wajah istrinya yang masih tertidur pulas itu.


“Tidurlah sayang, setelah subuh aku tidak akan membiarkanmu tidur,” bisiknya di telinga istrinya sambil tersenyum tipis.


Mungkin karena begitu mengantuk, Icha tidak menghiraukan bisikkan suaminya walaupun ia mendengarnya.


Fahry beranjak dari tempat ia duduk, lalu membawa gelas kosong berniat ingin mengambil air di dapur.


Saat keluar kamar, tanpa sengaja ia melihat kamar Kakak iparnya Anggun yang terbuka sebagian.


“Apa kak Anggun baik-baik saja?” gumamnya.


Karena sebelumnya, Anggun datang ke rumah dalam keadaan pingsan.


Jika ingin turun ke lantai bawah, mereka harus melewati kamar Anggun terlebih dahulu.


Fahry melangkah menuju tangga dan melewati kamar kakak iparnya tersebut.


Namun, ia terus melangkahkan kakinya, bahkan ia tidak melirik ke arah pintu kamar Anggun yang terbuka setengah.


Setibanya di dapur, saat fokus mengisi air ke dalam gelas.


“Fahry,” panggil seseorang.


Fahry sedikit terkejut dengan suara tersebut yang memanggil namanya, ia bahkan sangat mengenali suara tersebut.


“Iya Pa. Kenapa Papa bangun? Apa Papa butuh sesuatu,” tanya Fahry membalikkan tubuhnya.


Fahry di kejutkan dengan pak Heri yang sudah bisa berjalan, walaupun Masih pelan. Fahry melirik ke arah belakangnya dan ternyata pak Heri berjalan sendirian tanpa di temani ibu mertuanya.


“Papa duduk saja. Apa Papa mau minum?” tanya Fahry menarik kursi untuk Papa mertuanya duduk.


Pak Heri menggelengkan kepalanya.


“Fahry, Apa Fahry bisa mengajarkan Papa salat sekarang?”


Fahry sempat mengernyit heran dengan permintaan Papanya, lalu tersenyum tipis. Ia berpikir jika sang papa mertua memang ingin berubah dan ingin belajar salat.


“Tentu saja,” sahut Fahry.


Sebelum ia membawa Papanya ke kamar untuk melaksanakan salat, Fahry lebih dulu minum karena tenggorokannya terasa sangat haus.


Setelah itu, Fahry menggandeng tangan pak Heri dan melangkah perlahan untuk ke kamar.


“Papa tidak tidur?” tanya Fahry sambil melangkah.


Fahry menangkap keanehan pada pak Heri, telapak tangan yang dingin bahkan wajah pak Heri juga tampak pucat.


“Papa tidak bisa tidur,” sahutnya dengan suara sendu bahkan tatapannya pun terlihat kosong.


“Papa sudah minum obat kemarin?” tanya Fahry.


Pak Heri mengangguk.


Saat di kamar, Fahry membantu sang Papa mertua untuk mengambil air wudhu.


Setelah itu, Fahry mengajarkan untuk membaca doa selesai berwudhu.


“Allahuakbar ...” Ujar pak Heri.


Di lanjut Fahry yang membacakan Alfatihah dan surah pendek dari belakang, pak Heri hanya mengikuti surah yang di bacakan oleh menantunya tersebut.


Suara pak Heri semakin lama semakin melemah, bahkan hampir tidak terdengar oleh Fahry.


Bahkan sujud terakhir, suaranya tidak terdengar lagi.


“Allahuakbar ...” ujar Fahry agar papa mertuanya duduk kembali dari sujudnya, karena sudah selesai membaca doa untuk sujud.


Namun, tidak ada respon dari pak Heri.


“Mas,” panggil Icha kebetulan ia turun ke dapur untuk menyusul suaminya.


“Sayang kemari,” panggil Fahry kepada istrinya.


Icha menuruti apa yang di ucapkan oleh suaminya, ia mendekatinya dan memberi kode jika sang Papa tidak bergerak sama sekali saat sujud terakhir.


“Pa,” panggil Icha pelan dengan suara yang bergetar.


Fahry menyentuh bahu pak Heri pelan dan tubuh pak Heri langsung terjatuh ke samping.


“Astaghfirullah ... Papa,” panggil Fahry.


Icha melihat sang papa yang terjatuh ikut panik.


“Pa, bangun Pa.”


Mereka berdua mencoba membangunkan pak Heri, Fahry memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan.


“Innalilahi wainnailaihirojiun,” ujar Fahry.


Icha langsung menangis histeris melihat sang papa sudah tidak bernyawa lagi.


“Papa, hiks ... hiks, bangun Pa,” Ujarnya sambil memeluk tubuh Pak Heri yang sudah terbujur kaku.


Fahry mengambil alih langsung memeluk istrinya.


“Papa sudah tidak ada sayang, ikhlaskan Papa,” ujarnya pada istrinya dengan suara yang bergetar.


“Mas, Papa hiks, hiks.”


Icha semakin mempererat pelukannya pada suaminya.


“Sudah, cukup menangisnya. Sekarang beritahu Mama dan semua orang.”


Menarik wajah istrinya dan meletakkan di kedua tangannya, sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi mulusnya.


Icha mengangguk, masih terdengar suara sesenggukan akibat menangis.


Icha menuruti apa yang di ucapkan oleh suaminya, ia melangkah cepat menuju kamar orang tuanya.


Tok! Tok!


“Mama,” panggil Icha langsung membuka pintu kamar.


Bu Sintya yang terkejut, langsung terbangun dan duduk. Ia melihat wajah Icha yang sembab saat masuk ke kamar.


“Ada apa Sayang?”


“Ma, Pa-papa,” Ujarnya masih dengan tangisnya.


“Papa sedang ti---.”


Bu Sintya heran, melihat suaminya tidak ada di tempat tidur. Akan tetapi kursi rodanya masih berada di tempat yang sebelumnya, bahkan belum berpindah sama sekali.


“Ma, Papa sudah tidak ada, hiks ... hiks.”


Icha terduduk lemas sambil menunduk, ia bahkan tidak bisa menahan tangisnya.


“Papa dimana Sayang?” tanya Bu Sintya masih belum mengerti apa yang di ucapkan oleh putrinya.


“Sayang, kenapa menangis?”


Icha beranjak dari duduknya dan menarik tangan mamanya untuk membawa ke kamar dimana papanya berada.


Setibanya di depan kamar, langkah Bu Sintya langsung terhenti melihat sang suami sudah terbujur kaku.


Terlihat Fahry meletakkan kedua tangan pak Heri di atas perutnya.


Icha setengah berlari untuk membangunkan Abang dan juga Kaka iparnya, karena semalam mereka menginap di rumah tersebut atas permintaan pak Heri.


Mendengar gedoran pintu yang sangat kuat, membuat Indah terbangun dan langsung membuka pintu.


“Icha, ada apa?” tanya Indah sembari melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 03.23 waktu Indonesia barat.


“Kakak dan Abang harus turun sekarang. Papa kak ....”


“Iya, Kakak akan turun.”


Indah langsung mengerti apa yang di ucapkan oleh Icha.


Indah bergegas membangunkan suaminya dan agar segera turun ke lantai bawah.