Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 86



Satu bulan sudah berlalu, selama itu juga Anggun tidak pernah menjenguk Papanya.


Apalagi ia mendengar Icha dan Mamanya sudah kembali, bukannya senang dengan kembalinya sang Mama dan adiknya, akan tetapi justru malah kebenciannya pada Icha saat ini semakin bertambah.


Hari ini Anggun akan memeriksa dirinya pada dokter kandungan, karena sudah terlambat datang bulan. Hari ini suaminya mengantarkan ke dokter kandungan, tampak jelas jika dari wajah saaminya yang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar bahagia itu.


Keluar dari ruangan dokter, wajah mereka terlihat bahagia, mendengar kabar tersebut. Bahwa anggun kini positif hamil.


“Terima kasih sudah mau memberi pewaris untukku,” ujar suami dari Anggun.


“Sama-sama,” sahut Anggun.


“Apa kita boleh mampir ke rumah Mama? aku ingin memberitahu kabar ini.”


“Tidak boleh. Beritahu lewat telepon saja, apa kamu tidak dengar apa kata Dokter barusan. Kamu harus banyak istirahat, kandunganmu itu lemah,” Ujarnya penuh penekanan.


Mendengar perkataan suaminya, Anggun hanya menghela napas.


“Kenapa? Mau marah?” tanya suaminya.


“Tidak!” lirih Anggun.


Sering kali Anggun mengalah jika bertengkar, selalu saja mengancam akan mengambil kembali dana yang di berikan kepada papanya dulu.


Sehingga membuat Anggun tidak berdaya, bahkan saat ini perusahaan itu di kelola oleh suaminya, karena saat ini tidak ada yang mengelolanya apalagi papanya sedang koma saat ini.


“Kita langsung pulang. Aku juga ada meeting siang ini, seharusnya kamu itu berterima kasih padaku. Karena diriku, bisnis Papamu maju. Bahkan semenjak aku yang mengelolanya, makin bertambah maju. Kalau tidak, mana mungkin jadi seperti ini, apalagi saat ini, papamu itu sedang koma.”


“Aku curiga, dia beneran koma atau hanya akal-akalan saja!”


“Jangan bicara seperti itu tentang Papaku, Papa memang sakit!” celetuknya.


“Hm ...” dehamnya.


🌹🌹🌹


Adita melangkah berat, karena hari ini ia akan menjadi saksi atas perbuatan suaminya.


Pembunuhan rencana yang ia rencanakan, di gagalkan oleh dirinya.


Bahkan Aditya harus mendekam di sel tahanan, menerima atas perbuatannya.


Diki sang anak buah pun sudah tertangkap di bandara, saat dirinya baru saja turun dari pesawat.


Diki terpaksa menceritakan semuanya kepada pihak kepolisian, hingga menyudutkan Aditya.


“Mbak Adita,” panggil Icha melihat Adita hanya diam di mobil.


Saat ini mereka berada di dalam mobil, kembali pulang menuju ke rumah pak Candra.


“Iya,” sahutnya.


“Apa anda baik-baik saja?”


Adita mengangguk.


“Terima kasih, Nona. Semoga Allah membalas kebaikan kalian, aku akan berusaha kuat demi putraku,” tutur Adita.


Icha tersenyum lalu memeluk Adita dari samping, karena mereka saat ini satu mobil dengan Fahry yang duduk di depan bersebelahan dengan sang sopir.


Setibanya di rumah, Bu Sintya tampak gelisah dan berjalan mondar mandir di depan pintu kamar.


“Ma, ada apa?”


“Sayang, Papa.”


“Kenapa Papa Ma?” tanya Icha cemas.


Setelah selesai dokter yang memeriksanya pun keluar dari kamar tersebut.


“Bagaimana keadaan Papa saya, Dok?” tanya Dika tidak kalah khawatir.


Terlihat dokter tersebut menghela napas, lalu menatap mereka berulang kali secara bergantian lalu tersenyum pada mereka.


“Alhamdulillah, Pak Heri sudah sadar dari komanya.”


Terlihat Icha menghela nafas lega, bersamaan dengan air mata yang keluar.


Siang ini pak Heri sudah membuka matanya. Akan tetapi tidak ada yang menyadarinya.


Saat perawat datang, ia terkejut melihat pak Heri yang sudah membuka matanya.


Setelah itu, ia langsung menghubungi Dokter untuk memeriksa keadaan pak Heri.


“Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Dok.”


Bu Sintya langsung melangkah ke kamar untuk menemui suaminya.


Sedangkan Dika mengantar Dokter tersebut hingga ke teras rumah.


Icha dan Fahry melangkah mengikuti Bu Sintya dari belakang. Namun, saat di depan pintu kamar langkah Icha langsung terhenti.


“Kenapa Sayang?” tanya Fahry melihat istri bingung, karena berhenti di depan pintu.


“Lihat.”


Fahry mengikuti netra istrinya, melihat orang tuanya saling berpelukan.


Walaupun masih dalam keadaan terbaring, pak Heri masih bisa memeluk istrinya.


Terdengar Bu Sintya yang menangis dalam dekapan suaminya, begitupun dengan Heri terlihat jelas menangis tanpa suara.


Fahry dan Icha melangkah kembali ke ruang tamu, karena ingin memberi ruang untuk orang tuanya.


“Loh, bukankah kalian masuk ke kamar tadi? Kenapa di luar?” tanya Dika heran.


“Iya Bang. Biarkan Mama dan Papa saling melepaskan rindu,” sahut Icha sambil tersenyum.


Dika mengangguk mengerti, ia pun ikut bergabung bersama Icha dan Fahry duduk di ruang tamu.