Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 64



Sudah menjelang magrib, tapi suaminya belum juga tiba di rumah.


Ting!


Suara pesan masuk dari ponselnya.


Icha membulatkan matanya, melihat pesan yang ia buka. Memperlihatkan beberapa foto suaminya dan Cindy. Melihat mereka seperti sedang berpegangan tangan, bahkan ada juga foto Cindy tersenyum bahagia memberikan botol air mineral.


Icha menghela nafas, menetralkan pikirannya.


Icha menutup pintu rumahnya, karena sudah terdengar Adzan magrib.


“Aku yakin, ada orang yang membenci Mas Fahry dan ingin memisahkan kami.”


Ia melihat nomor yang tidak di kenal yang mengirim foto itu.


Karena sudah selesai datang bulan, Icha mengambil air wudhu untuk melakukan salat magrib.


Di saat khusyuk salat, terdengar suara motor suaminya datang. Lalu terdengar suara membuka pintu rumahnya.


“Assalamualaikum, Ukhti.”


Fahry melihat pintu kamar yang terbuka, Icha masih khusuk dengan salatnya.


“Oh, ternyata istriku sudah salat,” gumamnya.


Ia meletakkan tas kecil miliknya di kursi, lalu masuk ke kamar mandi lain. Karena tidak ingin melewati istrinya yang sedang salat untuk masuk ke kamar mandi mereka yang berada di kamar.


“Sudah pulang Mas?” tanya Icha baru selesai dengan salatnya.


Fahry mengangguk.


Mereka bergantian untuk melaksanakan salat.


Selesai salat, Fahry melihat sekeliling kamar tidak menemukan istrinya. Bisa di pastikan, istrinya sedang memasak di dapur. Karena tercium aroma makanan, hingga ke kamar mereka.


Fahry menyusul istrinya ke dapur, memeluknya dari belakang.


“Maaf, aku terlambat pulang.”


Meletakkan dagunya di bahu istrinya.


“Pasti banyak pekerjaan ya,” Ujar Icha.


“Iya. Hari ini aku banyak mengantar buku, karena kemarin tidak masuk bekerja.”


Deg!


Yang ia butuhkan kejujuran suaminya saat ini.


“Lalu?” ujar Icha masih menunggu kejujuran sang suaminya.


“Ya terus pulang,” sahutnya melepaskan pelukannya.


Mengambil gelas kosong, untuk menampung air minum. Karena tenggorokannya terasa kering.


“Apa Mas bertemu dengan seseorang saat pulang tadi, Mas?” tanya Icha masih mengaduk-ngaduk sayuran yang di masak.


Fahry melirik istrinya, sebelum menjawab pertanyaan istrinya, Fahry duduk di kursi dan minum air putih terlebih dahulu.


“Iya, aku baru saja ingin memberitahumu. Tahu dari mana?” tanya Fahry menatap punggung istrinya.


“Wah , berarti tebakan aku benar Mas.”


Fahry merasa ada yang aneh dengan istrinya.


“Aku tidak sengaja bertemu dengan Cindy, aku membantunya memperbaiki mesin mobilnya. Karena mogok, hanya itu tidak ada yang lain,” ujar Fahry menjelaskannya.


“Dari mana Sayang mengetahuinya?” tanya Fahry.


“Kita makan dulu,” ajak Icha.


Icha menyiapkan semua makan dan meletakkannya di meja, mereka makan tanpa berbicara.


Setelah selesai makan, Fahry membantu istrinya membereskan bekas mereka makan.


Karena sudah mendengar suara Adzan isya, mereka melaksanakan salat bersama.


Icha melipatkan mukenanya, meletakkannya pada tempatnya. Begitu pula dengan Fahry, karena sedikit lelah Fahry merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Fahry memperhatikan istrinya yang sedang serius menatap layar ponselnya.


“Apa yang kamu lihat? Serius sekali,” ujar Fahry mendekati istrinya.


“Mas, ada yang mengirim ini padaku,” ujar Icha memperlihatkan foto dirinya dan Cindy.


Fahry membulatkan matanya.


“Astagfirullah ... sayang, siapa yang mengirim foto ini?” tanya Fahry sedikit terkejut.


Dugaannya benar, jika ada yang memantaunya.


“Entahlah Mas. Saat menunggumu kembali pulang, ada yang mengirim foto ini.”


Fahry mengambil ponsel istrinya dan mencoba menghubungi nomor tersebut.


Namun, nomor tersebut sudah tidak aktif.


“Sayang. Demi Allah, aku tidak pernah bersentuhan dengan wanita selain kamu, apalagi sampai berpegangan tangan. Entah siapa? Yang berulang kali memfitnah aku,” ujar Fahry menjelaskan pada istrinya, agar tidak salah paham.


“Aku percaya Mas. Kita akan hadapi ini bersama-sama, aku yakin dengan kekuatan cinta kita.”


“Terima kasih sayang. Maaf, jika beberapa terakhir ini selalu membuatmu cemas. Sungguh, aku di luar sana benar-benar bekerja.”


“Iya Mas. Seharusnya aku yang meminta maaf, sempat meragukanmu. Tapi, sekarang aku yakin. Jika, suamiku orang yang jujur.”


Icha meletakkan ponselnya di nakas, lalu kembali mendekati suaminya.


“Sekarang aku sudah selesai. Apa Mas tidak ingin menyentuhku?” bisik Icha di telinga suaminya.


Entah dapat keberanian dari mana, Icha berkata seperti itu. Yang jelas, saat ini ia tidak ingin ada wanita yang berusaha masuk ke dalam kehidupan mereka.


“Kamu kok beda sih sayang?”


“Beda kenapa?” tanya Icha mengernyit bingung.


“Ya beda banget sekarang. Tapi aku suka,” ujar Fahry menarik istrinya.


Icha tersenyum simpul.


Sebenarnya Icha malu jika mengatakan itu, tapi demi keutuhan rumah tangganya. Ia harus melayani suaminya dengan lahir dan batin.


Tanpa menunggu lagi, Fahry tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Sudah seminggu lebih dirinya puasa, kali ini ia ingin menuntaskan semuanya.


Fahry menarik selimut dan menutupi tubuh mereka yang polos dan mengacak-acak tubuh istrinya di dalam sana.


Icha langsung tertidur akibat olahraga malam mereka, akan tetapi tidak Fahry.


Ia beranjak dari tidurnya, sebelum keluar kamar ia menutupi tubuh istrinya dengan selimut.


Cup!


Meninggalkan kecupan di pipi mulus istrinya, lalu melangkah keluar kamar.


Ia menekan nomor sahabatnya Ifan.


Tut! Tut!


Panggilan terhubung.


“Assalamualaikum Fan. Sudah tidur?” tanya Fahry mendengar suara parau Ifan.


“Waalaikumsalam, sudah. Ada apa Fahry? Tumben banget menghubungiku selarut ini.”


Ifan mengernyit heran.


“Bingung kenapa?” tanya Ifan.


Fahry menceritakan kepada sahabatnya, yang di alami mereka beberapa hari terakhir. Ada yang tega memfitnahnya dengan mengedit foto dirinya dan mengirimnya kepada Icha istrinya.


“Astaghfirullahalazim ... siapa yang tega berbuat seperti itu padamu?” Ifan juga ikut heran.


Setahunya, Fahry adalah anak yang baik. Sebelum menikah dengan Icha, Ifan tidak pernah menggandeng wanita manapun.


“Aku hanya takut kepercayaan Icha goyah padaku. Mungkin saat ini masih aman dan mempercayaiku, tapi aku tidak tahu besok.”


“Berdoa saja pada yang maha pemberi. Sesungguhnya Allah yang mempunyai kekuatan segala-galanya. Ini adalah ujian pernikahan kalian,” ujar Ifan.


“Apa kamu mencurigai seseorang?” tanya Ifan.


“Iya. Tapi, aku tidak ingin berpikir negatif.”


“Siapa?” tanya Ifan penasaran.


Fahry mulai menceritakan ketika ayah mertuanya datang ke rumah mereka dengan tanpa dosa ia menghina Fahry dan meminta Icha meninggalkannya.


Ifan menggelengkan kepalanya pelan, begitu tidak tega mendengarnya.


Dan saat kemarin, ia sedang mengendarai motornya pulang ke rumah, setelah membantu Cindy memperbaiki mesin mobilnya yang tidak bisa menyala.


Tanpa sengaja, ia melihat mobil mertuanya terparkir di bahu jalan cukup jauh dari mobil Cindy. Ia melihatnya dari kaca spion motornya, ia terus saja mengendarai motornya tanpa curiga.


“Astaghfirullah ... Fahry. Jika dugaanmu benar, sungguh jahat sekali Ayah mertuamu itu. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena ini rumah tanggamu aku tidak ingin ikut campur. Tapi aku selalu mendukung kalian dari belakang,” Ujar Ifan memberi semangat.


“Iya. Terima kasih Ifan, sudah mendukungku selama ini. Maaf aku membuatmu terbangun.”


“Tidak perlu meminta maaf. Kita sudah seperti saudara, apapun keputusanmu, itu yang terbaik untukmu.”


“Terima kasih sudah mendengarkan aku.”


“Iya, sama-sama.”


Sebenarnya, Fahry sedikit sungkan menceritakan masalah pribadinya pada Ifan. Namun, ia dan Ifan sudah lama bersama dan seperti adik dan Kakak.


Tanpa Fahry sadari, jika Icha terbangun dan mendengar semua percakapan antara suaminya dan sahabatnya Ifan.


Saat membalikkan tubuhnya hendak kembali ke kamar, ia terkejut melihat istrinya berdiri di ambang pintu kamar.


“Sayang, kenapa bangun?” tanya Fahry menghampiri istrinya.


“Aku mencarimu Mas,” sahut Icha dengan suara paraunya.


“Apa dia mendengar semuanya?” tanya Fahry dalam hati sambil melangkah mendekati istrinya.


“Ayo, tidur lagi.”


Menarik tangan Icha Kembali ke tempat tidur.


“Sudah lama bangunnya?” tanya Fahry berharap Icha tidak mendengar apa yang dirinya dan Ifan bicarakan.


Icha menggelengkan kepalanya.


“Baru saja,” sahut Icha.


Terlihat Fahry menghela nafas lega.


“Sekarang ayo kita tidur lagi,” ujar Fahry menarik selimut menutupi tubuh mereka dan menarik istrinya dalam pelukannya.


“Mas,” panggil Icha.


“Hm ...” deham Fahry membuka kembali kelopak matanya.


“Ada apa sayang?” tanya Fahry melihat istrinya masih terjaga.


“Maaf aku berbohong padamu,” ujar Icha merasa bersalah karena sudah berbohong.


“Berbohong apa? Jika berbohongnya sangat banyak, aku akan menghukummu. Tapi, hukuman yang nikmat,” goda Fahry.


Icha tersenyum mendengar suaminya menggoda dirinya.


“Aku berbohong. Maaf Mas, aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Hukum aku Mas,” ujar Icha dengan tatapan sendu.


Lagi-lagi, ayahnya yang menjadi biang masalah dalam rumah tangganya.


Fahry menghela nafas, seperti dugaannya Icha pasti mendengar semuanya.


“Tidak perlu meminta maaf, Sayang. Aku yang harus meminta maaf, karena sudah menutupi ini.”


Hening sejenak.


“Mas, aku ingin ke kantor Papa besok.”


“Kenapa? Jangan mencari keributan, biarkan Papa melakukan apa yang ingin ia lakukan.”


“Tapi Mas. Ini sudah keterlaluan!”


“Sstt ... biar aku saja yang bertemu Papa besok. Kamu tetap di rumah,” ujar Fahry.


“Mas mau bicara apa pada Papa?”


“Kamu tidak perlu tahu, ini adalah urusan lelaki.”


“Tapi, bagaimana jika Papa melakukan hal yang buruk padamu?”


“Jangan berpikir yang buruk. Doakan suamimu semoga semuanya baik-baik saja,” ujar Fahry.


Icha mengangguk pasrah.


“Papa melakukan ini pasti ada sebabnya, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.”


“Tapi, Papa berbeda Mas.”


“Iya, aku tahu. Saat ini, kita hanya bisa berdoa, semoga suatu saat nanti Papa berubah. Sesungguhnya hanya Allah yang mampu membolak balikkan hati manusia.”


“Iya Mas.”


“Sekarang kita tidur, sudah larut malam. Apa kamu mau mengulang yang tadi lagi?” tanya Fahry mengalihkan pembicaraan agar istrinya tidak terlalu tegang.


“Jika Mas menginginkannya, aku tidak akan menolak.”


Icha tersenyum malu-malu.


“Aku hanya bercanda sayang, aku tidak ingin kamu terlalu cape.”


Menarik kembali istrinya dalam pelukannya.


Icha membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya dan jari tangannya bermain di dada tersebut, menusuk pelan dada suaminya dengan menggunakan jari telunjuknya.


Fahry menarik tangan Icha, karena jari tersebut membuatnya dirinya bergairah.


“Jangan memancingku! Jika kamu tidak ingin tidur nyenyak malam ini,” ancam Fahry.


“Coba saja kalau berani!” Icha malah menantang suaminya.


“Kamu menantangku?”


“Iya,” sahut Icha dengan lantang.


Fahry menarik tengkuk leher istrinya, dan membenamkan bibirnya pada bibir istrinya.


Melu*atnya hingga Icha kesulitan bernafas, melihat istrinya tersengal lalu ia melepaskannya.


“Jangan salahkan aku, jika ingin meminta lebih,” bisik Fahry di telinga istrinya.


Fahry menanggal semua pakaiannya dan juga istrinya. Ia kembali mengajak istrinya bergelut di dalam selimut tebal mereka.