Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 94



Setelah selesai, dokter itu keluar dari kamar tersebut dan menyerahkan resep obat untuk Adita.


“Bagaimana keadaan Pak Arif, Dok?” tanya Adita.


“Dia baik-baik saja. Dia hanya kelelahan, aku sudah memberinya resep vitamin untuknya. Tidak ada penyakit serius,” tuturnya.


“Terima kasih Dok,” ujar Adita.


Adita mengantar dokter tersebut ke depan pintu.


“Oh ya. Tolong jaga dia, Arif sudah tidak mempunyai orang tua. Jaga dia untukku,” ujar dokter tersebut menatap Adita.


“Iya Dok. Saya hanya bekerja di rumah ini, jadi semampu saya untuk merawatnya sesuai jam kerja.”


“Oh jadi wanita ini bekerja di rumah ini, aku kira kekasihnya. Dasar si Arif!” gumam dokter tersebut dalam hati.


“Oh, iya. Kalau begitu saya permisi,” pamitnya.


Adita mengangguk.


Setelah mengantar dokter tersebut, ia kembali masuk untuk menemui Arif dan putranya yang berada di kamar.


Saat hendak membuka pintu kamar, bersamaan dengan pintu terbuka. Karena penjaga rumah Arif lebih dulu membuka pintu.


“Saya ke depan dulu, Bu.”


“Iya, Pak. Terima kasih,” sahut Adita.


“Iya, Bu. Sama-sama,” sahutnya.


“Eza Sayang, makan dulu yuk,” ajak Adita pada putranya.


“Sstt ... dia tidur,” Arif meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Adita melihat putranya yang tertidur pulas di samping Arif, salah satu tangan Eza melingkar di perut Arif.


“Dia tidur?”


Arif mengangguk.


“Huft ... kenapa dia tidur? Eza menunggumu untuk makan,” tutur Adita pelan.


“Menungguku?”


Adita mengangguk.


“Ya ampun, kasihan sekali Eza. Maafkan om ya,” ujarnya mengusap kepala Eza pelan.


“Biarkan saja dia tidur, semalam ia terus membicarakanmu hingga larut malam. Mungkin saat ini Eza mengantuk berat, karena tidak seperti biasanya ia tidur sepagi ini.”


“Apa saja yang ia bicarakan?” tanya Arif penasaran.


“Sangat banyak, aku lupa. Aku mau ke apotek dulu, ingin membelikan mu obat.”


“Tidak perlu, biarkan Pak satpam yang membelinya. Tolong berikan uangnya dan juga resep obatnya,” Ujar Arif menyerahkan beberapa lembar uang pada Adita.


“Iya,” sahut Adita.


Ia melangkah keluar, berselang beberapa menit ia kembali lagi.


“Apa Pak Arif mau makan lagi?” tanya Adita, karena sebelumnya Arif sudah di suapi olehnya bubur untuk pengganjal perut yang ia belikan saat hendak kemari.


“Tidak. Nanti saja,” sahut Arif masih mengusap kepala Eza dan berulang kali ia mengecup kepala bocah yang berusia kurang lebih 4 tahun itu.


Adita menatap mereka secara bergantian, ada rasa haru melihat momen ini. Tapi, Adita sadar jika suatu saat nanti Arif menikah, pasti Eza akan kehilangan sosok ayahnya lagi.


“Pak Arif, bagaimana keadaanmu?” tanya Adita.


“Alhamdulillah, sudah baik. Ada apa?” tanya Arif.


Arif perlahan mengangkat tangan Eza pada perutnya.


“Maaf sebelumnya, sepertinya akhir bulan ini aku ....” Adita menggantungkan ucapannya.


“Aku apa?” tanya Arif penasaran, ia duduk bersandar di bahu kasur.


“Aku akan berhenti bekerja.”


Deg!


Mendengar hal itu, Arif langsung terdiam.


“Berhenti? Kenapa?” tanya Arif.


“Lalu siapa yang memasak untukku? Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk berhenti bekerja!”


“Tapi Pak, aku punya alasan.”


“Apapun alasannya, aku tidak peduli!”


“Maaf Pak, aku tidak bisa. Aku tetap pada pendirianku untuk berhenti bekerja,” Ujar Adita tidak mau kalah.


Arif menghela napas berat.


“Beri tahu aku alasannya,” Ujarnya melemah.


Sebelum mengatakannya, tampak Adita menghela napas terlebih dahulu.


“Aku tidak ingin Eza terlalu dekat padamu, bukan melarangnya. Aku hanya tidak ingin jadi bumerang bagi Pak Arif dan istri Pak Arif kelak, aku akan memberinya pengertian pada Eza nanti Pak jika sudah berhenti dari tempat ini.”


“Memangnya siapa yang mau menikah?” tanya Arif.


“Mau,” sahutnya.


“Ya maka dari itu. Aku hanya tidak ingin Eza berharap terlalu banyak pada Pak Arif, setelah Pak Arif menikah pasti akan mempunyai anak. Aku tidak ingin ada kecemburuan di antara mereka,” tutur Adita panjang lebar.


“Kalau begitu menikahlah denganku,” ujar Arif tanpa basa basi.


“Hah ... jangan bercanda Pak, aku sedang bicara serius.”


“Memang wajahku terlihat sedang bercanda?” menatap Adita dengan wajah serius.


Tenggorokan Adita terasa tercekat, hingga begitu sulit untuk menelan salivanya.


“Aku mau ke dapur, Pak. Sepetinya Eza masih tidur,” pamitnya mengalihkan pembicaraan, langsung beranjak dari tempat duduknya menuju pintu kamar yang masih terbuka lebar.


“Adita, tunggu. Jangan mengalihkan pembicaraan!”


Langkah Adita langsung terhenti, ia membalikkan tubuhnya kembali.


“Adita, apa kamu tidak ingin membuka pintu hatimu kembali?” tanya Arif menatap Adita yang mematung.


Arif beranjak dari tempat tidur, menghampiri Adita.


Ia menarik lengan Adita untuk duduk kembali, sementara ia menarik kursi lain untuk duduk di hadapan Adita. Namun, ia masih memberi jarak di antara mereka.


“Adita kenapa diam saja? Apa kamu tidak ingin membuka hatimu kembali? Atau memberi kesempatan untuk seseorang memilikimu.”


“Aku tidak menutup hatiku. Tapi, aku hanya belum siap,” sahutnya.


“Apa bedanya?”


“Adita, aku ingin menjalin hubungan serius denganmu.”


Adita masih bungkam.


“Aku tidak pantas untuk Pak Arif, masih banyak gadis di luar sana Pak. Bahkan lebih baik dari pada aku, “ tutur Adita.


“Katakan padaku, bagaimana ciri wanita yang pantas untukku? Aku ingin kamu memilihnya untukku.”


“Aku tidak bisa Pak. Aku bukan Mak comblang yang menjodohkan seseorang, bapak bisa mencari sendiri!” tolak Adita.


“Kalau begitu, aku memilih wanita yang ada di hadapanku,” sahutnya.


“Jangan Pak. Masa lalu aku buruk, aku bahkan sangat malu mengingat semua itu.”


“Itu hanya masa lalu. Kita melangkah ke depan, bukan ke belakang. Masa lalu di jadikan pelajaran, bukan meratapinya dan menutup hati karena masa lalu.”


“Lupakan masa lalu, melangkah ke depan bersama ku.”


“Maaf Pak, aku tidak bisa.”


“Kenapa? Apa kamu masih mencintai mantan suamimu?”


Adita menggelengkan kepalanya.


“Lalu?”


“Aku hanya tidak ingin Pak Arif malu pada teman-teman pak Arif, karena sudah menikahi janda dan bahkan usiaku lebih tua dari Pak Arif.”


“Hanya itu? Yakin tidak ada yang lain?”


Adita mengangguk.


Arif terkekeh.


“Sungguh konyol. Kamu percaya cinta itu buta? Aku tidak peduli dengan usia dan apa status mu sekarang. Aku merasa nyaman saat ada di dekatmu dan juga Eza.” Menatap sendu Adita.


“Adita.”


Arif hendak mengambil tangan Adita, akan tetapi di urungkannya. Mengingat status mereka yang belum muhrim. Ia hanya duduk di lantai sambil menatap wajah Adita yang juga menatapnya .


“Beri aku waktu,” sahut Adita.


Pak Arif langsung tersenyum mendengar jawaban Adita, walaupun jawaban yang kurang memuaskan. Namun, ia merasa lega masih ada kesempatan walaupun sedikit.


“Terima kasih,” ujar Arif.


Adita mengernyit heran.


“Terima kasih untuk apa? Aku belum menjawab iya.”


“Tapi kamu sudah mempertimbangkannya, bukan?”


Adita hanya tersenyum.


Tok! Tok!


“Maaf Pak. Saya ingin mengantar obatnya,” ujar Pak satpam.


“Iya. Bawa kemari,” ujar Arif.


Satpam tersebut meletakkannya di meja, lalu berpamitan keluar.


“Aku permisi, ada pekerjaan. Minum obatnya dulu dan istirahatlah,” Pamit Adita.


“Iya. Sebenarnya aku ingin memelukmu, tapi belum muhrim. Jadi aku hanya mencium ujung kerudungmu saja,” ujar Arif terkekeh.


Adita menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Arif.


Ia berpikir, jika seorang polisi itu selalu tegas. Namun, ia salah, ia melihat sendiri tingkah Arif selama beberapa bulan bekerja di rumahnya. Sangat berbeda dengan Arif yang pertama kali ia bertemu, di rumah Dika saat menangani kasus mantan suaminya.