Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 34



Melihat Icha yang menangis tersedu-sedu, Diana berinisiatif membawanya masuk ke dalam kamar yang di sediakan untuk karyawan beristirahat.


Diana tidak bertanya langsung, ia membiarkan Icha menangis di pelukannya.


Setelah di rasa Icha sudah tenang, Diana mengusap air mata sahabatnya tersebut.


“Ada apa? Apa kamu punya masalah?” tanya Diana lembut.


Icha masih bungkam.


“Lihat aku,” ujar Diana menarik pelan wajah Icha dengan kedua tangannya untuk menghadapnya.


“Kita sudah bersahabat lama, aku sangat tahu jika saat ini kamu sedang dalam tidak baik-baik saja.”


“Diana ... hiks! Hiks!”


Icha Kembali menangis.


“Maafkan Din ... aku belum bisa cerita,” Ujarnya Icha dalam pelukan sahabatnya dengan suara paraunya.


“Menangis lah ... menangis jika itu membuatmu tenang dan jangan lupa mengadu kepada Allah. Hanya kepadanya kita berserah diri,” ujar Diana memeluk erat sahabatnya.


Melihat sahabatnya bersedih seperti saat ini, Diana juga ikut meneteskan air mata.


Cukup lama mereka menangis dan saling berpelukan, Icha tertidur di pelukan sahabatnya.


Masih terlihat sisa air mata yang basah di sudut kelopak matanya Icha.


Diana memindahkan Icha perlahan dari pelukannya ke kasur, karena mereka sebelumnya duduk di kasur kecil.


“Kasihan kamu Icha. Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya, aku yakin kamu itu wanita kuat. Maka dari itu Allah memilihmu,” Ujar Diana pelan, sambil menatap sahabatnya tertidur dengan nafas sudah beraturan.


“Meskipun kamu tidak pernah cerita, ini pasti ada hubungannya dengan Papamu.”


Tanpa Diana sadari, Fahry ada di depan pintu kamar tersebut hendak mengambil ponsel yang tertinggal di tasnya.


Namun, ia tidak berani masuk saat melihat Icha menangis terisak di pelukan sahabatnya. Ia sangat prihatin melihat keadaan Icha, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.


🌹🌹🌹


Di kantor.


Pak Heri menyambut Aditya yang baru saja tiba di ruangannya.


“Selamat datang Pak Aditya,” ujar pak Heri sambil mengulurkan tangannya.


“Silakan duduk,” ujar pak Heri mempersilahkan Aditya duduk.


“Bagaimana? Apa anda sudah senang mendengar kabar dari saya semalam?” tanya pak Heri sambil tersenyum.


“Sangat senang. Mimpi apa saya bisa memperistrikan anak pak Heri,” tutur Aditya.


“Iya, saya juga. Jadi ... bagaimana dengan kesepakatan kita?” tanya pak Heri.


“Oh itu, tentu saja.”


“Jadi ... kapan aku datang ke rumahmu, untuk melamar putri anda Pak Heri?”


“Saya akan kabari secepatnya, kemungkinan dalam waktu dekat ini,” sahut pak Heri.


“Hm ... baiklah. Saya tunggu kabar itu.”


Cukup lama mereka berbincang di ruangan tersebut, terlihat Aditya sangat bosan mendengar ocehan pak Heri menurutnya tidak berfaedah. Padahal saat itu pak Heri membicarakan tentang bisnis.


Drrtt! Drrtt!


Ponsel Aditya bergetar, menandakan ada panggilan masuk.


Aditya tampak gusar melihat nama tertera di layar ponsel tersebut.


Aditya menggeser layar tersebut, untuk menolak panggilan tersebut.


Namun, nomor yang sama tersebut kembali menghubungi.


Pak Heri mengernyit heran, melihat panggilan masuk tersebut selalu di tolak oleh Aditya.


“Ada apa Pak Aditya? Jangan sungkan untuk menerima telepon, sebentar lagi aku juga mertuamu.”


Aditya segera menonaktifkan ponselnya.


“ Hahaha iya. Tapi ini telepon tidak penting,” sahutnya sambil menyembunyikan rasa gugupnya.


Pak Heri semakin heran melihat sikap Aditya.


“Apa yang terjadi pak Aditya? Kenapa anda terlihat gugup?”


“Hah! Tidak, biasa saja. Aku gugup karena sebentar lagi aku akan melamar putri Anda,” ucapnya berbohong.


“Oh hanya itu. Santai saja, rileks-rileks ...” ujar pak Heri mendekati Aditya lalu mengusap pelan bahunya.