
Di kamar, Icha dan ibunya melaksanakan ibadah shalat magrib secara bersama. Setelah itu, di lanjut dengan membaca surah Al-Qur’an.
Bu Sintya juga sudah mulai lancar mengaji, bahkan sudah hafal surah-surah pendek.
Sambil menunggu masuknya waktu isya, mereka berbincang hangat di balkon.
“Alhamdulillah, kita bisa berkumpul bersama lagi nak,” Ujar Bu Sintya ikut duduk bersama Icha di balkon.
“Icha,” panggil mamanya melihat diri putrinya dengan melamun.
“Hah, iya Ma. Ada apa?”
“Kamu sedang memikirkan apa? Mama perhatikan kamu melamun sejak tadi?”
“Ma. Apa Icha boleh minta sesuatu?” tanya Icha tampak serius.
Bu Sintya mengangguk, lalu membenarkan mukena Icha yang masih melekat di kepalanya. Lalu menyelipkan rambut putrinya yang tampak keluar yang menjuntai sedikit.
“Katakan, apa yang Icha inginkan?” tanya sang Mama menatapnya.
Icha menatap sang mama dalam-dalam.
“Ada apa sayang?” tanya Bu Sintya lagi.
“Ma, Icha ingin kita bersama seperti dulu. Kak Anggun memang salah, tapi tidak seharusnya Mama mengabaikan kak Anggun. Apalagi saat ini kak Anggun sedang mengandung,” ujar Icha sambil menatap sang Mama.
Terlihat Bu Sintya menghela napas.
“Ma, kasihan kak Anggun. Di abaikan semua orang di rumah ini,” imbuhnya.
Bu Sintya menghela napas kembali.
“Iya sayang. Mama sudah berusaha menerima apa yang terjadi saat ini,” sahutnya.
Icha tersenyum lalu memeluknya.
“Terimakasih, Ma.”
“Mungkin ini adalah karma untuk Mama,” lirihnya.
Icha mendongakkan kepalanya.
“Mama dulu jarang memperhatikan kalian, bahkan Mama dan Papa tidak pernah mengajarkan kalian ilmu agama. Yang di pikiran Papa dan Mama hanya uang, dengan uang kita bisa membeli segalanya! Mama selalu berpikir seperti itu, dulu.”
“Mama sangat menyesal,” imbuhnya.
“Ma. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya dan sekarang Allah memberi kesempatan untuk itu agar Mama memperbaiki diri,” ujar Icha lembut.
Bu Sintya tersenyum.
“Terimakasih sayang. Terimakasih untuk semuanya, sudah sabar dan memaafkan Mama.” Kembali Memeluk erat putrinya.
🌹🌹🌹
Di ruang tamu, masih tercipta ketegangan.
“Anggun, benarkah apa yang di ucapkan kekasihmu itu?”
Anggun tampak ragu untuk mengangguk.
“Aku tidak akan segan mengusirmu dari rumah ini, jika pernikahan ini kalian anggap main-main. Demi menutupi aib ini!” bentak Dika.
“Kenapa tidak Abang usir saja Anggun sekarang?!” pekik Anggun tidak mau kalah.
“Sudah...!” pekik pak Heri.
“Dino, apakah kamu bicara jujur? Jika orang tuamu sudah tiada?” tanya Pak Heri memastikan.
Dino mengangguk tanpa ragu.
“Baiklah, aku percaya. Kalian bisa menikah besok,” ujar Papanya.
Mendengar itu, Anggun dan Dino menatap Papanya dengan wajah yang senang.
“Tapi... setelah anak itu lahir, kalian harus menikah kembali. Menikah secara resmi,” usul Pak Heri.
Dino mengangguk pelan.
Dika menatap curiga kepada Dino, seperti ada yang ia sembunyikan.
“Baiklah, itu keputusan kalian. Aku permisi,” pamit Dika.
Semua orang menatap Dika yang beranjak dari tempat duduknya.
Dino hendak berpamitan, akan tetapi Anggun melarangnya. Ia meminta izin kepada Papanya untuk mengizinkan Dino untuk menginap di rumah ini.
Karena takut Dino akan mengkhianatinya lagi, seperti waktu lalu.
Pak Heri menyetujuinya. Pak Heri berpamitan dari ruang tamu tersebut dan menghubungi seseorang untuk mencari pak ustadz untuk menikahkan Anaknya besok.
Setelah melihat Papanya hilang dari pandangannya, Anggun menatap Dino dengan tajam.
“Kenapa kamu berbohong?” tanya Anggun penuh selidik.
“Berbohong apa? Aku tidak mengerti maksudmu,” ujar Dino.
“Kamu berbohong tentang orang tuamu?” jelas Anggun.
“Aku terpaksa berbohong. Aku belum siap memberitahu mereka, karena Ayah pasti akan memarahiku! Ini semua ku lakukan demi anak kita,”
“Terus bagaimana? anak ini adalah cucu mereka! Kamu tega tidak memperkenalkan istrimu kepada orang tuamu!”
“Kamu tenang saja, aku pasti akan memperkenalkanmu kepada orang tuaku setelah menikah,” ujar Dino lembut.
Anggun menatap kekasihnya itu, lalu mengangguk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.09 dini hari.
Tenggorokan Dika terasa sangat kering, hingga membangunnya dari tidurnya.
Melihat di nakas, ternyata gelas tersebut kosong.
“Ck... aku lupa mengisi airnya,” decapnya dengan suara paraunya.
Dengan terpaksa ia melangkah keluar kamarnya. Namun, ia melihat Dino yang baru masuk ke dalam kamar adiknya.
Amarahnya kembali memuncak, dengan langkah cepat ia mengetuk pintu adiknya.
Tok! Tok! Tok!
“Anggun, buka pintunya!” teriak Dika.
Tok! Tok!
“Buka!” teriaknya lagi.
Anggun membuka pintu kamarnya.
“Ada apa sih Bang? Malam-malam begini mengetuk pintu sekeras itu! Bagaimana kalau Mama dan Papa bangun?” kesal Anggun.
“Mana dia?”
“Dia siapa?” tanya Dika.
“Siapa lagi kalau bukan kekasihmu itu! Kamu mau berbuat mesum di rumah ini, hah?!” bentaknya.
“Dino hanya menumpang kamar mandi, karena kamar mandi di kamar tamu airnya macet,” ujar Anggun.
Karena memang benar air di kamar tamu memang sedang macet, karena belum di perbaiki.
“Awas saja kalau berani macam-macam di rumah ini!” ancam Dika.
“Apaan sih! Besok juga aku menikah!” gerutu Anggun.
“Jaga bicara mu itu. Lihat karena ulah kalian, hingga membuat orang tua jadi malu!” bentak Dika lagi berlalu meninggalkan Anggun yang masih mematung dengan wajah cemberutnya.
🌹🌹🌹
Pagi hari, seperti biasa rutinitas pagi Icha hari ini membersihkan kamarnya. Karena hari ini dan seminggu ke depannya, Icha tidak mengerjakan shalat karena sedang datang bulan.
Setelah itu, ia mandi dan segera bersiap untuk pergi bekerja. Karena sudah hampir terlambat.
Icha menuruni tangga dengan terburu-buru, hingga tidak melihat sang papa sedang menatapnya dari ruang tamu.
“Kamu mau ke mana Icha? Sudah rapi sepagi ini,” tanya pak Heri melihat putrinya sudah rapi.
“Mau berangkat bekerja,” sahutnya tanpa sadar, ia lupa jika sang Papa belum mengetahuinya jika dirinya sudah bekerja.
“Bekerja? Bekerja di mana?” tanya pak Heri.
Langkah Icha langsung terhenti, ketika sudah di dekat papanya.
“Di to-toko buku,” sahutnya terbata.
Icha baru menyadari, jika dirinya belum meminta izin untuk bekerja.
“Toko buku? Kenapa, harus bekerja di toko buku? Bukankah Papa sendiri mempunyai bisnis, kamu bisa mengelolanya. Contoh seperti Kakak mu Anggun, dia bisa mengelola bisnis tanpa bantuan Papa sekarang.”
“Ta-tapi Pa, Icha...”
“Ayo Icha berangkat,” ajak Dika yang tiba-tiba datang menarik tangannya.
“Tunggu!” ucap Papanya melihat Dika menarik tangan adiknya.
“Dika, Papa tahu jika kamu masih marah sama Papa. Tapi, tidak bisakah Dika kembali lagi bekerja di kantor? Papa lelah harus mengerjakannya sendiri, Anggun sudah tidak masuk seminggu ini.”
“Maaf Pa. Untuk saat ini, Dika lebih senang bekerja dengan orang lain,” imbuh Dika.
“Kenapa? Kamu masih marah dengan Papa?” tanyanya lagi.
“Tidak Pa,” sahut Dika melihat Papanya.
“Jika kamu kembali ke kantor, kamu bisa mengajari adikmu mengelola bisnis. Ini semua untuk masa tua kalian kelak.”
Dika menatap adiknya yang terlihat diam saja.
“Icha tidak akan bekerja di kantor. Ia lebih senang bekerja di toko buku,” ujar Dika karena sangat mengerti isi hati adiknya.
Icha menatap Abangnya.
“Dika, Papa mohon! Kembali nak kek kantor,” ujarnya menangkap kedua tangannya.
“Hanya kalian harapan Papa satu-satunya yang menjadi pewaris Papa,” ujar Papanya.
“Dika, Papa mohon!”
Melihat sang Papa sangat memohon, akhirnya Dika mengangguk berulang kali ia menghela nafas kasar.
“Baiklah, Pa. Dika akan mengundurkan hari ini di kantor,” ujarnya karena tidak tega kepada sang Papa.
Karena ucapan sang Papa ada benarnya, sang Papa mendekatinya dan memeluknya.
Setelah puas memeluk putranya, Ia mendekati Icha, lalu memegang kedua bahu putrinya tersebut.
“Nak, Papa hanya minta satu permintaan kepadamu, agar kamu bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.”
“Berhenti bekerja di toko nak dan kamu harus masuk kantor, semuanya akan di ajarkan oleh Abangmu,” ujar peri lembut.
Icha tidak langsung menjawab, ia melihat wajah sangat Papa raut wajahnya.
“Iya Pa. Baiklah,” sahut Icha mengalah.
Wajah pak Heri yang ceria dari semula.
“Terimakasih nak,” ucap pak Heri pada anaknya.
“Iya, Pa.”
“Ayo, kita berangkat!” ajak Dika.
“Tunggu Dika,” ujar Pak Heri lagi.
Dika kembali menghentikan langkahnya.
“Jangan sore pulangnya. Ingat! Hari ini pernikahan adikmu, walaupun ini pernikahan siri kamu harus ikut hadir.”
Dika mengangguk.
“Kak Anggun menikah?” tanya Icha karena belum mengetahuinya.
“Iya. Hari ini Anggun akan menikah,” sahut Dika.
“Tapi, Bang... kak Anggun sedang mengan...”
Belum sempat berbicara penuh, ucapan Icha langsung di sela oleh Anggun yang tiba- tiba datang.
“Tapi kenapa? Kamu mau melarangku untuk menikah?! Jangan sok suci deh, kamu!” celetuk Anggun sambil melangkah melewati mereka.
“Sudah! Ayo,” ajak Dika agar Icha tidak tersinggung dengan ucapan Anggun.
Dika menarik tangan adiknya pelan, lalu melangkah menuju mobilnya.
Melihat Dika dan Icha sudah pergi, pak Heri kembali duduk di sofa.
“Huft... bekerja di toko! CK... sungguh memalukan, mau taruh di mana wajahku!” gerutu pak Heri.
“Apalagi, semua rekan kerjaku mengetahui jika Icha adalah putriku!”
Pak Heri kembali berdecap.