Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 37



Icha terduduk lemas di kursi, dengan air mata yang hampir menetes.


Bu Sintya tak kuasa menahan tangisnya lagi, tidak menyangka dengan perbuatan suaminya yang rela menukar putrinya demi bisnisnya yang hampir bangkrut, agar Aditya bisa menyuntikkan dana ke perusahaannya dan pak Heri bisa mengelola bisnisnya kembali.


“Bagaimana ini pak Dika? Pernikahannya di lanjutkan atau tidak?” tanya penghulu dan beberapa orang tersebut.


“Di lanjutkan Pak. Sebentar, beri kami waktu sejenak,” ujar Dika.


Pak penghulu mengangguk.


Dika melangkah mendekati adiknya, membawanya ke tempat yang sepi bersama dengan Bu Sintya.


“Jangan menangis sayang. Allah telah menyelamatkan mu dari pria itu, walaupun dengan cara seperti ini.”


Icha menatap Abangnya Dika, lalu memeluknya.


“Abang ... hiks! Hiks! Kenapa jadi seperti ini?” Icha menangis di pelukan Dika.


“Sudah sayang, semua sudah terjadi. Sekarang kamu harus kembali menata masa depan, bersama orang yang tepat. Menikahlah dengan Fahry,” ujar Dika.


Icha mengangguk, ia setuju dan pasrah apa yang di putuskan oleh Abangnya.


“Jika Abang yakin, Fahry orang tepat. Berarti Fahry adalah jodoh Icha,” sahut Icha dengan suara bergetar menahan tangisnya.


“Insya Allah. Fahry orang baik, Abang sangat mengenalnya.”


“Ma, apa Mama setuju jika Icha menikah dengan Fahry?” tanya Dika melihat Mamanya.


Bu Sintya mengangguk.


“Demi menyelamatkan Icha dari keserakahan Papa. Mama takut, setelah kejadian ini Icha kembali menjadi korban ulah Papa. Mama percaya sama Abang,” sahut Bu Sintya.


“Insya Allah Ma, Abang sangat yakin dengan Fahry.”


“Lakukanlah nak,” ujar Bu Sintya lagi.


Dika tersenyum lalu mengangguk.


Dika menghapus air mata adiknya dengan tisu, beruntung make up yang kenakan tidak luntur.


Dika menarik pelan tangan adiknya, kembali ke tempat dimana dilaksanakannya ijab Kabul, Dika mengantar adiknya untuk duduk di sebelah Fahry.


Fahry berjabat tangan dengan penghulunya, dan pengucapan Fahry pun sangat lancar.


Bu Sintya menangis terisak-isak di pelukan putranya, tidak menyangka dengan kejadian hari ini.


“Bagaimana saksi, sah?” tanya pak penghulu pada kedua saksi.


“Sah ...” sahut mereka bersamaan.


Dika bernafas lega, melihat adiknya menikah dengan orang yang tepat.


Ia tidak bisa membayangkan nasib adiknya, jika adiknya menikah dengan Aditya, pria yang sudah beristri.


“Bagaimana bisa? Papa tidak mengetahui jika Aditya sudah punya keluarga,” gumam Dika dalam hati.


“Abang. Kok melamun?” bisik Indah yang baru saja menjadi istrinya tersebut.


Dika tersenyum menatap istrinya, lalu menggelengkan kepalanya.


“Maafkan kami sayang, sudah membuat kekacauan tadi. Abang merasa tidak enak dengan paman dan Bibi.”


“Paman dan Bibi pasti mengerti, Bang. Kita akan menjelaskannya nanti ketika sudah berada di rumah,” sahut Indah.


“Terima kasih sudah mengerti, sayang.”


Indah mengangguk tersenyum.


“Dari kejadian tadi, kita harus belajar Bang. Bahwa kejujuran itu sangat mahal harganya, Indah berharap tidak ada yang kita tutupi setelah kita berumah tangga,” Ujar Indah lembut.


“Iya, sayang.”


“Di mana Papa? Pasti Papa sangat sedih atas kejadian ini,” Ujar Indah lagi.


“Iya. Tidak ada orang tua yang tega menukarkan putrinya, demi menyelamatkan bisnisnya yang hampir bangkrut. Tapi, Papa tega! Aku benar-benar kecewa terhadap Papa!” lirih Dika merasa malu atas peristiwa tadi.


“Sabar Bang. Jangan pernah membenci Papa, aku tahu Papa salah. Tapi, walau bagaimanapun beliau adalah orang tua kita.”


“Huftt ... aku akan berusaha,” ujarnya.


Setelah selesai ijab Kabul, di lanjut dengan resepsi siang ini. Namun, Icha dan Fahry tidak mau ikut bersanding di pelaminan.


Dika memakluminya dan menuruti kemauan adiknya.


Masih di kamar hotel, Icha duduk bersandar di bahu tempat tidur. Sedangkan Fahry duduk di sofa sambil memijat kepalanya, belum ada obrolan di antara mereka berdua, masih tercipta keheningan dan kecanggungan.


Tok! Tok!


Suara ketukan membuyarkan lamunan suami istri tersebut.


Mereka saling bertatapan sejenak, lalu Icha melangkah ke arah pintu dan membukanya.


Ceklek!


“Icha.”


“Mama.”


Bu Sintya langsung memeluk putrinya.


“Jangan meminta maaf Ma,” sahut Icha memeluk sang Mama sangat erat.


Icha pun tak kuasa menahan tangisnya.


“Hiks ... Hiks ... hiks, sayang,” lirih Bu Sintya.


Fahry pun masih mematung, begitu terharu melihat anak dan Ibu yang saling berpelukan.


Bu Sintya melepaskan pelukannya, lalu menghampiri Fahry.


“Tolong jaga putriku, bimbing dia. Tolong jangan sakiti dia, jika kamu sudah tidak mencintai putriku suatu saat nanti, kembalikan dia padaku dengan baik. Aku pasti akan menerima putriku kembali,” ujar Bu Sintya memegang tangan Fahry dengan air matanya yang masih mengalir di pipinya.


“Ibu. Ibu tenang saja, saya akan menjaga putri Ibu. Walaupun pernikahan ini terlalu mendadak bagi saya dan Icha, insya Allah dengan izin Allah saya akan menjalani pernikahan ini.”


“Terima kasih nak Fahry. Terima kasih, sudah menerima semua kekurangan putriku,” tutur Bu Sintya masih dengan suara paraunya.


“Ibu jangan berterima kasih. Seharusnya saya yang berterima kasih, karena sudah mempercayai saya untuk menikahkan putri Ibu.”


Bu Sintya mengangguk, sambil menghapus air matanya. Terlihat ia bernafas lega, setelah menangis sejak tadi.


“Sayang, Mama harus pulang. Jaga pernikahan kalian ya sayang, apapun yang terjadi jangan pernah berpikir untuk mengakhiri pernikahan ini.”


“Iya Ma, insya Allah.”


Sebelum pulang, Bu Sintya kembali memeluk putrinya.


Harusnya hari ini dirinya duduk di samping putra dan putri di pelaminan untuk menemani kedua anaknya. Akan tetapi, suaminya meminta dirinya untuk segera pulang karena sudah di ancam oleh pak Heri.


“Mama hati-hati di jalan,” ujar Icha.


“Iya sayang.”


Icha dan Fahry bergantian mencium punggung tangan Bu Sintya, Icha melambaikan tangannya melihat kepergian sang Mama.


Icha masih menatap sang Mama hingga tidak terlihat lagi, melihat Fahry sudah masuk Icha pun menyusulnya.


Icha mendengar suara air terbuka dari kamar mandi, sudah di pastikan jika pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut ada di dalam.


Ceklek!


Fahry membuka pintu kamar mandi, terlihat Icha masih mematung di dekat tempat tidur.


“Fahry ... itu, a—aku ...”


“Sekarang aku sudah menjadi suamimu, belajar untuk tidak memanggil namaku,” tutur Fahry lembut.


“Maaf, aku belum terbiasa!” lirih Icha masih menunduk.


Fahry tersenyum.


“Tidak perlu minta maaf. Lama-lama akan terbiasa kok,” sahut Fahry.


Icha mengangguk.


“Ayo,” ajak Fahry.


Icha mengerutkan kening bingung.


“Ke-kemana?” tanya Icha gugup masih belum bisa menatap suaminya ketika berbicara.


“Astaghfirullah ... sepertinya aku salah bicara,” gumam Fahry dalam hati.


“Maksudku, ayo kita pulang. Pulang ke kos ku,” uang Fahry membenarkan ucapannya lagi.


Terlihat Icha bernafas lega.


Icha mengangguk, ia melangkah mengambil kopernya mengemas pakaiannya yang masih seadanya. Karena semua pakaiannya masih ada di kamar miliknya.


Disaat Icha sibuk dengan mengemas pakaiannya, Fahry kembali memanggilnya.


“Icha,” panggilnya.


Icha tidak langsung menoleh, ia terdiam sejenak menghela nafas sambil menutup matanya.


“Iya,” sahutnya pelan, tanpa menoleh.


Bukan tidak mau, hanya saja ia terlihat gugup dan untuk pertama kalinya ia berdua dengan pria.


“Apa aku boleh meminta waktumu sebentar? Ada yang ingin aku katakan,” tanya Fahry berkata dengan hati-hati.


“Iya, Fah ... eh maksudnya Mas Fahry, maaf aku belum terbiasa.”


Fahry mengulum senyumnya, mendengar istrinya yang terlihat masih canggung.


Sebelum itu, Fahry melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah masuk waktu magrib.


“Sebaiknya, kita salat terlebih dahulu. Karena sudah masuk waktu magrib,” usul Fahry.


Icha kembali mengangguk.


Fahry lebih dulu mengambil air wudhu, setelah Fahry selesai lalu bergantian dengan Icha.


Fahry masih setia menunggu istrinya selesai berwudhu, Icha keluar dari kamar mandi masih mengenakan kerudung penutup kepalanya.


Ia melirik sajadah yang sudah tersedia di lantai, tepat di belakang sajadah suaminya.