
Pagi itu, Fahry membulatkan tekadnya untuk datang ke kantor Papa mertuanya.
Entah papa mertuanya menyambutnya atau tidak yang jelas ia hanya ingin bertemu Papa mertuanya.
“Maaf, anda ingin bertemu dengan siapa?” tanya satpam.
“Saya ingin bertemu dengan pak Heri. Apakah beliau ada?”
“Maaf. Apa sebelumnya sudah punya janji?”
“Belum Pak.”
“Sebaiknya, anda harus membuat janji terlebih dahulu. Setelah itu, anda kembali lagi kemari.”
“Tapi, saya ada perlu dengan beliau.”
“Tidak bisa sembarang orang masuk, Pak. Maaf,” ujar satpam tersebut.
Fahry mengangguk mengerti.
Terlihat mobil pak Heri datang dan masuk ke area parkir kantornya.
Satpam tersebut membungkuk setengah badannya, melihat mobil bosnya datang.
“Itu Pak Heri datang,” Ujar satpam tersebut menunjuk mobil itu.
Fahry melihat pak Heri keluar dari mobil mereka saling menatap satu sama lain.
Pak Heri tersenyum licik, melangkah menghampirinya.
“Kenapa kamu kemari? Apa kamu sudah menyerah dan mau menyerahkan putriku padaku?!” menyeringai jahat.
“Tidak. Aku hanya ingin bertemu dengan anda Tuan,” ujar Fahry ramah.
“Ck ... jadi aku harus membiarkan sampah masuk ke dalam kantorku?!”
“Baiklah. Jika sampah masuk, bisa dibersihkan kembali!”
Menatap Fahry dengan kebencian.
Satpam tersebut melongo mendengar perdebatan kecil antara bosnya dan pria yang baru datang tadi.
“Masuk,” Ujar pak Heri mengajak Fahry masuk ke kantornya.
Ia terpaksa membawa masuk Fahry, karena tidak ingin di dengar oleh karyawannya. Jika menantu dan mertua saling bermusuhan, karena akan menjelekkan namanya.
“Dia menantunya Bos?” ujar satpam.
Satpam tersebut mulia berkeringat dingin.
“Habis lah riwayatku,” lirihnya terduduk lemas.
Fahry mengikuti belakang pak Heri, menaiki lift dan masuk ke ruangannya.
Sesampainya di ruangan, Anggun terlihat sibuk depan layar komputernya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?! Aku tidak punya waktu banyak untuk orang sepertimu!”
Anggun yang mendengar Papanya datang dengan keadaan kesal, membuatnya menoleh ke arah mereka.
Netra Anggun tertuju pada Fahry yang masih berdiri.
Mata hitam legam, postur tubuh idaman para wanita, hingga membuat Fahry begitu tampan di mata Anggun.
“Aku hanya ingin memberikan ini, pada Tuan.”
Fahry mengeluarkan beberapa Lembar foto mesra dirinya dan Cindy.
Pak Heri mengernyit heran, kenapa Fahry memberikannya foto tersebut.
“Apa ini? Kamu sudah berselingkuh dari putriku?!” bentak pak Heri.
“Oh, jadi ini adalah suaminya Icha. Tampan sekali,” gumam Anggun dalam hati.
Tatapannya belum pergi dari Fahry, masih betah memandang wajah Fahry. Bahkan suara pak Heri memenuhi ruangan tersebutpun tidak peduli.
“Jawab! Kenapa kamu diam saja?!” bentak pak Heri lagi.
Fahry menghela nafas, ia tahu jika Papanya hanya bersandiwara.
“Kenapa Tuan bertanya padaku. Aku bisa memastikan jika foto ini adalah bukan diriku, bahkan aku mempunyai foto aslinya.”
Fahry masih berkata lembut.
“Apa maksudmu?”
“Tuan, aku sudah mengetahui ini adalah perbuatan Anda Tuan. Kenapa begitu tega memfitnah saya? Walaupun dengan cara apapun, Tuan tidak bisa memisahkan aku dengan Icha!”
“Jadi, apa yang kamu mau? Semua akan aku penuhi, asal meninggalkan Icha!”
“Aku tidak akan meminta apapun, bahkan aku tidak pernah berpikir untuk meninggalkan istriku.”
“Cih ... punya nyali ternyata dirimu. Baiklah, kita lihat saja nanti. Sampai kapan kamu bertahan!”
“Mau sampai kapan Tuan menyakiti putrimu? Setiap malam menangis, apa tidak ada rasa kasihan pada Icha. Dia darah daging Tuan,” ujar Fahry.
“Aku akan menyayanginya jika kamu meninggalkannya. Lepaskan putriku,” Ujar pak Heri.
“Aku tidak percaya pria sepertimu bisa membahagiakan dia. Pekerjaan hanya penjual buku, gajihmu itu hanya bisa untuk membayar gajih pembantu, itupun kurang.”
“Aku akan membuktikan pada Tuan, jika aku bisa membahagiakan istriku. Kebahagiaan itu tidak harus di nilai dengan kekayaan,” tantang Fahry.
“Keluar dari ruanganku. Aku tidak ingin pria rendahan sepertimu masuk ke dalam ruanganku!” bentak pak Heri.
“Iya, Tuan. Aku akan keluar dari ruangan ini, tapi aku harus mengembalikan foto ini pada pemiliknya,” ujar Fahry menyerahkan beberapa lembar foto dirinya.
“Assalamualaikum ...” ujar Fahry memberi salam lalu keluar dari ruangan tersebut.
Anggun baru tersadar, saat Fahry sudah keluar dari ruangan tersebut.
Pak Heri mengernyit heran, tidak mungkin Anggun tidak mengetahuinya siapa pria itu.
“Kamu bertanya siapa pria itu? Bukan kah kamu mendengar sendiri perdebatan tadi! Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Aku hanya fokus dengan pekerjaanku,” sahut Anggun berbohong.
Pak Heri menghela nafas berat, ia duduk di kursi kebesarannya.
“Dari mana dia mengetahui jika aku yang mengirim foto ini?” gumam pak Heri mengambil foto itu.
Lalu membuang foto tersebut ke tempat sampah yang ada di jangkauannya.
“Kurang ajar sekali dia! Sudah berani menantangku,” gumam pak Heri dalam hati.
Ia mengepal kuat tangannya.
🌹🌹🌹
Dika membantu membersihkan sisa luka di wajah istrinya.
“Sakit sayang?” tanya Dika mendengar desis istrinya.
“Sedikit Bang,” sahut Indah.
Setelah membersihkan luka itu, Dika menyuapi istrinya makan.
Dika kemarin sudah menghubungi Mamanya untuk tidak pergi menemui mereka, karena Indah dan Dika juga akan pulang ke tanah air.
Sedangkan pak Candra dan istrinya sudah lebih dulu pulang, setelah melihat keadaan Indah yang sudah baik-baik saja.
Selesai mereka sarapan, Dika mengajak istrinya duduk di balkon, sambil melihat pemandangan laut di pagi hari.
Dika mendekatinya istrinya. Melihat leher istrinya, Dika langsung teringat bagaimana pria bejat itu mencium brutal leher istrinya.
Dika langsung menarik tengkuk leher istrinya, mengecup beberapa titik di leher istrinya bahkan meninggalkan kissmark disana.
“Bang,” panggil Indah melihat suaminya menarik lembut tengkuk lehernya.
“Jangan mencegahku. Aku hanya menghapus bekas pria itu,” ujar Dika dengan suara beratnya.
Indah membiarkan suaminya, bahkan tangan Dika sudah mulai merayap masuk ke dalam baju.
“Bang, jangan disini.”
Dika baru tersadar, jika Mereka sekarang malah ada di balkon.
Dengan mata sayunya, menatap wajah istrinya. Indah mengangguk, ia mengerti keinginan suaminya.
Dika menggendong tubuh istrinya, membawanya masuk ke dalam kamar.
Tidak lupa Indah menutup pintu terlebih dahulu dan juga tirai agar menutupi pintu tersebut, karena pintu itu terbuat dari kaca.
“Bang, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga tubuhku untukmu, aku kotor Bang!” lirih Indah.
“Kata siapa kamu kotor? Aku sudah membersihkannya semua,” tutur Fahry sambil membuka pelan kancing baju istrinya.
Baju tersebut sudah terbuka sempurna, Dika membuangnya ke sembarang arah.
Lalu mereka merajut Indah kebahagiaan mereka, hingga mereka tertidur akibat kelelahan karena aktivitas mereka.
🌹🌹🌹
Setelah kepulangannya dari kantor pak Heri, Fahry mengendarai motor cukup kencang menuju ke tempat kerjanya.
Karena dirinya sudah hampir terlambat pergi bekerja, akan tetapi ia tidak fokus melihat kaca spionnya. Ada sebuah mobil yang mengikuti dirinya sejak keluar dari kantor tersebut.
Semakin cepat Fahry mengendarai motornya, semakin kencang juga mobil tersebut mengikutinya.
Saat Fahry menurunkan kecepatannya, karena melihat lampu lalu lintas beberapa meter di depannya berubah menjadi warna merah.
Mobil yang ada di belakangannya, menambahkan kecepatannya hingga menabrak belakang motor Fahry.
Bruaak!
Ciiiitt!
Bruaak!
Motor Fahry terpental, beruntung Fahry sempat melompat dan membiarkan motornya di tabrak oleh mobil tersebut.
Fahry hanya mengalami luka ringan, terlihat sedikit luka di lengannya akibat gesekan aspal.
Macet panjang terjadi di daerah tersebut, Fahry mengeluskan dadanya melihat motornya hancur tidak berbentuk lagi.
“Astaghfirullahalazim ... ya Allah, alhamdullilah masih bisa selamat dari maut,” gumam Fahry dalam hati.
“Apa anda baik-baik saja, Pak?” tanya seseorang yang membantunya untuk berdiri.
“Alhamdulillah Pak. Hanya luka kecil saja,” sahut Fahry beranjak dari duduknya.
“Alhamdullilah ... sepertinya mobil ini memang melaju kencang. Padahal sudah terlihat jika di depan ada lampu merah lalu lintas, pengendara semua harus berhenti.”
“Sepertinya, mobil ini sengaja ingin menabrakmu,” ujar pria itu.
“Kamu tunggu disini,” ujar pria tersebut.
Ia melangkah menuju mobil tersebut, di dalam mobil tersebut tidak ada orang.
“Sepertinya, sopirnya sudah kabur ,” ujarnya kembali menghampiri Fahry yang masih terduduk lemas.
Banyak polisi yang datang, bahkan ambulance pun sudah tiba di tempat tersebut.
Ada beberapa orang yang menjadi korban kecelakaan tersebut, bahkan ada yang meninggal di tempat.
Karena pengendara roda dua maupun roda empat sedang berhenti, karena sedang menunggu lampunya berubah menjadi warna hijau. Sehingga banyak yang menjadi korban kecelakaan tersebut.