
Pagi yang cerah, secerah hati pengantin baru yang masih betah dalam selimutnya.
Burung-burung kecil berkicau riang menyambut sang mentari yang sudah tidak malu menampakkan dirinya.
Bahkan cahaya sang Surya sudah masuk melalui celah-celah jendela.
Setelah salat subuh, dua insan yang sedang di mabuk asmara ini kembali tidur.
“Assalamualaikum Ukhti ...” sapa Fahry melihat istrinya masih tertidur dengan mukena yang masih melekat di kepalanya.
“Hm ... Waalaikumsalam Akhi,” sahut Icha dengan suara parau khas orang bangun tidur.
Mereka berdua tersenyum.
“Mas, malu!” ujar Icha menutup wajahnya dengan selimut, karena Fahry memandangnya.
“Malu kenapa? Buka selimutnya,” ujar Fahry menarik selimut yang menutupi wajah istrinya.
Icha membuka selimutnya, dengan senyum di bibirnya yang tidak luntur.
“Ayo bangun. Aku juga harus kembali untuk melihat orang-orang yang ada di pengungsian. Sebelum masa cuti ku habis, aku akan menjadi relawan.”
“Iya, Mas. Apa aku boleh ikut ke tenda pengunsian?” tanya Icha.
“Boleh,” sahut Fahry.
“Benarkah?” tanya Icha antusias karena merasa sangat senang mendengar Fahry mengizinkannya.
Fahry mengangguk.
“Baiklah, sekarang aku membuat sarapan terlebih dahulu untuk kita.”
“Iya,” sahut Fahry lembut.
Icha beranjak dari tempat tidurnya, sebelum itu ia melepaskan mukenanya lalu menggantikannya dengan hijab.
Sedangkan hanya Fahry menatap istrinya, dari tempat tidur.
“Mas, aku ke dapur dulu ya,” pamit Icha.
Fahry mengangguk.
Icha melangkah keluar kamar meninggalkan suaminya, sedangkan Fahry mengambil laptopnya dan menulis mengisi kegiatannya yang kosong sambil menunggu istrinya selesai membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
Di sela menulisnya, Fahry tersenyum teringat kejadian yang semalam.
Aktivitas yang tidak pernah ia lupakan.
Namun, Fahry mendengar suara ketukan yang sangat keras dari luar rumah.
Fahry mengernyit heran, berpikir siapa yang datang dengan mengetuk pintu sangat keras seperti itu.
Fahry beranjak, ia mengintip dari jendela kamarnya.
Deg!
Terlihat papa mertuanya yang datang sendiri, berdiri sambil mengisap rokok.
Fahry melangkah keluar kamarnya, bersamaan dengan Icha yang hendak membuka pintu rumah.
“Mas, Papa datang kemari.”
Sebelum membuka pintu, Icha menatap suaminya terlebih dahulu.
“Buka pintunya,” sahut Fahry lembut.
Icha mengangguk.
“Assalamualaikum Pa,” sapa Icha saya membuka pintu rumahnya.
“Hm ...” deham pak Heri melenggang masuk ke dalam rumah tanpa menunggu persetujuan dari Icha.
“Oh jadi, ini suamimu Icha?”
Icha mengangguk.
Fahry mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan mertuanya.
“Jangan menyentuh ku, aku tidak Sudi!” bentak pak Heri.
“Icha, Papa ingin bicara denganmu.” Menarik tangan putrinya.
Icha melihat suaminya yang mengangguk.
Pak Heri menarik tangan menuju ke arah dapur.
“Ada apa Pa?” tanya Icha terlihat takut.
“Kenapa kamu mau menikah dengan Fahry? Apa kamu lupa dengan janjimu waktu itu?!”
Icha hanya menunduk, tidak berani melihat Papanya.
“Kamu dengar Papa bicara atau tidak?!” bentak pak Heri pada putrinya.
“I-iya, Pa.”
“Sekarang kamu punya satu pilihan, kamu harus bercerai dengan Fahry!”
Icha menggelengkan kepala cepat.
“Berarti, kamu harus melihat Abangmu menderita!” ancam pak Heri.
“Papa kok tega?! Abang juga putra Papa,” sahut Icha mulai berani bersuara.
“Kamu yang tega! Kamu berbohong dan tidak menepati janjimu!” seru pak Heri.
“Janji yang mana yang belum Icha penuhi? Icha sudah mau menikah dengan rekan Papa, akan tetapi dia sudah beristri. Papa kok tega membiarkan Icha menjadi perebut suami orang!”
“Iya, memangnya kenapa kalau menjadi istri kedua. Apa salahnya? Bukankah seorang pria boleh mempunyai istri lebih dari satu?! Kamu tidak mengerti!” bentak pak Heri.
“Pokoknya, Papa tidak mau tahu. Kamu harus bercerai dengan Fahry, jika kamu ingin Abangmu selamat!” Ancam pak Heri lagi.
“Papa akan mencarikanmu pria yang lebih tampan dari suamimu itu dan lebih kaya. Kamu mengharapkan apa pada suami yang hanya penjual buku itu! Cih ... aku tidak Sudi mempunyai menantu miskin seperti dia.”
“Jadi, menantu seperti apa yang Papa inginkan?” tanya seseorang yang baru saja datang menghampiri mereka.
Yaitu Dika yang menatap mereka tajam, sambil melipat tangannya.
Memang Dika berniat ingin mengunjungi adiknya pagi ini, karena mendengar mereka sudah pindah rumah.
Namun, ia mendapati mobil Papanya yang terparkir di halaman rumah Icha.
“Katakan padaku, menantu seperti apa yang Papa inginkan?” tanya Dika lagi.
“Abang,” lirih Icha.
“Cih ... kamu tidak perlu ikut campur!” seru pak Heri.
“Tentu saja aku ikut campur! Papa sudah mengancam adikku, dan memintanya bercerai dengan suaminya.”
“Aku hanya menyelamatkan dia dari pria miskin itu, aku ingin Icha hidup bahagia.”
“Oh ya? Dengan mengancamnya?!” Dika tidak mau kalah.
“Heh! Dia putriku aku berhak atas dirinya.”
“Putri? Kenapa baru sekarang Papa menganggapnya putri? Kemana Papa selama ini?”
“Diam kau! Kamu itu tahu apa ...!”
“Aku sangat mengetahuinya Pa. Bisnis Papa sedang bangkrut, bukan? Dan sekarang Papa mengancam Icha untuk bercerai dengan suaminya dan menikahkannya kembali demi menyelamatkan bisnis Papa. Iya, bukan?”
“Ck ... kok ada orang tua seperti Papa yang merelakan putrinya demi bisnis,” ejek Dika.
“Jangan kurang ajar kamu ya! Aku ini masih Papamu, lancang sekali kamu bicara! Justru aku sangat menyayangi putriku, agar kehidupannya lebih layak dan terjamin!”
“Pa, Icha sudah bahagia. Bahkan sangat bahagia, apalagi mempunyai suami seperti Fahry.”
Icha dan Fahry hanya diam berdiri mematung di tempatnya.
“Oh ya. Tentu saja suaminya bahagia, dengan duduk diam di rumah apalagi dengan rumah pemberianmu!”
Deg!
Perasaan Fahry hancur, setelah mendengar perkataan papanya Icha. Ketakutan yang benar-benar terjadi.
“Ini bukan pemberianku. Ini adalah uang adikku yang ia tabung padaku selama bertahun-tahun dan aku membelikannya rumah hasil tabungannya sendiri!” seru Dika tidak mau kalah.
“Pa, cukup Papa mengusik rumah tangga adikku. Aku tidak akan tinggal diam lagi, jika Papa selalu mengganggu Icha!” tambah Dika lagi yang mulai emosi.
“Iya baiklah. Tapi suatu hari nanti kalian semua pasti akan menyesal!” bentak pak Heri melangkah menuju pintu keluar.
Sebelum itu, ia menatap Fahry sejenak lalu membuang wajah kasar.
Fahry hanya menghela nafas berat melihat kepergian Papa mertuanya.
Icha diam mematung, bahkan tanpa sadar meneteskan air mata.
“Icha, jangan dengarkan ucapan Papa. Icha sudah tahu sifat Papa, bukan!” ujar Dika mengusap air mata adiknya lalu memeluknya.
Tidak dengan Fahry, ia masuk ke dalam kamar duduk di tepi kasur.
Berulang kali mengucap istigfar dalam hati, mencoba untuk memaklumi ucapan papa mertuanya.
“Mas,” panggil Icha saat masuk ke dalam kamar.
“Iya,” sahutnya tanpa menoleh ke istrinya.
Fahry membuka lemari untuk mencari pakaiannya, karena ingin berganti pakaian.
“Mas, marah?” tanya Icha dengan hati-hati, karena melihat suaminya yang tidak menoleh.
Ia paham dengan keadaan suaminya saat ini.
Fahry hanya diam, sibuk mencari pakaiannya.
Grep!
Icha memeluk suaminya dari belakang, baru semalam mereka bercerita sangat mesra. Entah kenapa saat ini Icha merasakan suaminya kembali asing dan bersikap dingin.
“Hukum saja aku Mas. Tapi jangan pergi,” lirih Icha sambil terisak menangis sambil memeluk suaminya dari belakang.
.
.
.