Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 102



Di perjalanan pulang, tidak ada percakapan di antara mereka, Eza sudah tertidur pulas di pangkuan Adita.


“Dia Adik sepupuku, namanya Aisyah. Dia kemari untuk liburan dan orang tuanya akan menyusul besok,” tutur Arif menjelaskannya.


Walaupun Adita tidak meminta penjelasan dari Arif, tapi Arif sangat tahu apa yang di pikir oleh Adita saat ini.


“Oh. Tapi aku belum bertanya!” tutur Adita dengan pandangan yang lurus ke depan.


“Aku hanya memberitahumu. Kenapa kamu memberikan cincin itu padanya? Aku kan sudah katakan, jika kamu tidak menyukainya buang saja.”


“Oh itu ... akhh aku minta maaf Pak Arif, i-itu.”


Arif mengulum senyum, sangat jelas terpancar dari wajah Adita jika dirinya saat ini sedang cemburu.


“Iya aku mengerti.”


Tidak lama mereka tiba di depan rumah Adita.


“Tunggu, biar aku yang mengendong Eza,” ujar Arif melihat putra Adita yang sudah tertidur pulas.


Arif mengambil Eza dari pangkuan Adita dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Terima kasih,” ujar Adita pada Arif.


“Iya, sama-sama. Aku pamit pulang,” pamit Arif tanpa menatap Adita.


“Apa Pak Arif tidak ingin mendengar sesuatu dariku?” tanya Adita di depan pintu rumahnya, melihat Arif hendak melangkah ke mobilnya.


Langkah pak Arif langsung berhenti, akan tetapi ia tidak menoleh ke arah belakang.


“Kamu ingin mengatakan sesuatu? Katakan lah,” sahut Arif sambil menahan senyumnya.


“A-apa Pak Arif jadi pindah?” tanya Adita terlihat gugup.


“Iya, mungkin besok atau lusa,” sahutnya pak Arif membalikkan tubuhnya menghadap Adita yang tengah menunduk.


“Maaf, Adita. Aku harus pulang, hari sudah malam. Aku tidak ingin tetangga berpikir buruk tentang kita.”


Adita mengangguk, karena yang di ucapkan oleh Arif ada benarnya.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Arif benar-benar meninggalkan Adita, tanpa menunggu lagi.


Setelah kepergian Arif, Adita menutup pintu rumahnya dan masuk ke kamar. Ia melihat putranya yang tertidur pulas di tempat tidur.


Sedangkan dirinya, sudah hampir jam tengah malam ia belum bisa memejamkan matanya.


Ia mengambil ponselnya dan berniat ingin mengirim pesan pada Arif.


Adita sudah mengetik beberapa kata, lalu di hapusnya. Lalu kemudian mengetik lagi dan di hapus kembali.


Ting!


Pesan masuk di ponselnya.


“Ada apa?” tanya Arif.


Ternyata Arif juga melihat Adita yang ingin mengirim pesan akan tetapi sejak tadi ia menunggu namun tidak kunjung di kirim.


Karena terlihat jelas di salah satu media soisal nya, jika Adita mengetik.


“Astagfirullah ... aku malu sekali,” gumam Adita dalam hati.


Ia membalas pesan Arif. Namun, baru saja mau menekan tanda send, Arif langsung menghubunginya.


Adita langsung menggeser layar untuk menerima panggilan.


“Assalamualaikum, halo.”


“Waalaikumsalam. Ada apa? Sejak tadi ingin mengirim pesan, apa ada yang kamu katakan?” tanya Arif.


Terdengar suara helaan napas Adita.


“A-aku minta maaf sebelumnya, jika membuat Pak Arif kecewa padaku. Dengan hati yang paling dalam, aku menerima pinangan Pak Arif.”


Adita mengatakan itu tanpa jeda, ia mengatakannya sambil menutup mata.


Tidak ada sahutan dari Arif di dalam telepon tersebut.


“Halo, Pak Arif.”


“Iya, Halo. Adita maaf, aku tidak mendengar suaramu. Coba katakan lagi,” ujar Arif.


“Hah! Tidak Pak, lupakan saja. Aku tidak bicara apa-apa!” tutur Adita sedikit kesal.


Ia sejak tadi mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal tersebut, akan tetapi pak Arif malah tidak mendengarnya.


“Hahaha ... maaf Adita.”


Adita mengernyit heran setelah mendengar tawa Arif.


“Ada apa Pak? Kenapa anda tertawa, apa ada yang lucu?” tanyanya.


“Jika saja kamu dekat, aku sudah mencubit pipimu gemas. Aku hanya bercanda tadi, terima kasih sudah mau menerima diriku. Aku akan secepatnya melamarmu, setelah aku pulang dari luar kota,” tutur Arif lembut.


“Hah? Jadi, Pak Arif hanya berpura-pura? Jahat sekali!” ujar Adita cemberut.


“Iya, maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal, tapi ... ah sudahlah I love u, calon istriku.”


Adita yang mendengarnya langsung tersenyum malu, apakah ini yang di sebutkan puber kedua?


“Jawab dong sayang,” ujar Arif lembut.


“Hah, jawab apa?”


“Ya sudah lupakan. Hati-hati di rumah, jaga diri baik-baik. Aku akan berangkat besok pagi dan pulang sebulan lagi.”


“Sebulan? Lama sekali,” ucap Adita tanpa sadar.


“Kenapa? Kamu pasti rindu dengan calon suamimu kan,” goda Arif.


“Hah! Tidak, bukan begitu.”


“Iya, sayang. Aku mengerti kok, sekarang istirahat sudah malam. Aku janji, setelah kepulanganku nanti kita akan langsung menikah dan kamu akan mengatur sebagian ya, karena aku sibuk bekerja dan sisanya aku.”


“Iya Pak,” sahutnya.


“ Kok Pak sih!” protes Arif.


“Lalu?”


“Panggil yang membuatmu nyaman, apa saja sayang asal jangan panggilan Pak.”


“hm ... baiklah, Om.” Adita terkekeh.


“Hah! Kok Om sayang?! Panggil Mas saja,” usul Arif.


“Hm ... mas ya. Baiklah Mas,” tutur Adita lembut.


Arif tersenyum bahagia mendengar Adita, untuk pertama kalinya ia mendengar Adita memanggilnya dengan sebutan itu.