Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 40



Setelah berpamitan dengan Dika, Fahry dan Icha pulang menggunakan taksi yang di pesan Online oleh Dika.


Icha memandang ke arah luar jendela, sama halnya pada Fahry.


Sekitar tiga puluh menit, mereka sudah tiba di kediaman Fahry.


“Icha. Kita sudah tiba, ayo turun,” ajak Fahry.


Namun, tidak ada sahutan dari Icha. Fahry sedikit memajukan wajahnya untuk melihat wajah Icha, ternyata Icha tertidur.


“Dia tidur,” gumam Fahry dalam hati.


Fahry keluar dari mobil, lalu memutar mobil untuk membuka pintu mobil, berniat ingin menggendong istrinya.


Namun, saat hendak menggendong istrinya Icha langsung terbangun karena merasa ada pergerakan.


Fahry terkejut melihat Icha sudah bangun, mata mereka saling bertemu bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.


“Eh, maaf Icha. Aku tidak bermaksud lain,” ujar Fahry merasa tidak enak, langsung menjauh dari tubuh Icha.


Icha tersenyum getir, karena dirinya juga sangat gugup.


“Tidak apa-apa, fah ... maksudnya Mas Fahry,” ujar Icha gugup langsung membenarkan ucapannya.


Fahry tersenyum.


“Ayo kita masuk, kita sudah tiba di rumah.”


Icha mengangguk. Fahry kembali memutar mobil, membuka bagasi mobil untuk mengambil koper milik istrinya.


Saat hendak membuka dompet, ingin membayar ongkos taksi.


“Berapa Pak?” tanya Fahry mengambilkan beberapa lembar uang kertas di dalam dompetnya.


“Maaf, pak. Sudah di bayar oleh yang memesannya,” sahut sopir tersebut.


“Oh,” sahut Fahry.


“Terima kasih pak,” ujar Fahry lagi.


Ia menggeret koper milik istrinya, sementara Icha melangkah bersamaan dengan Icha.


Rumah sederhana, hanya memiliki satu kamar.


“Maaf Icha, rumahnya kecil. Aku akan mencari rumah sewa besok yang sedikit besar,” tutur Fahry.


“Jangan merasa tidak enak. Ini saja sudah lebih dari cukup, kita mulai dari awal mas. Aku akan ikut bersamamu kemana pun, mas melangkah.”


Fahry tersenyum mendengar tutur istrinya.


“Terima kasih, sudah menerima dan mengerti keadaan ku saat ini.”


Icha kembali tersenyum.


“Fahry. Kalian sudah datang?” sapa Ifan yang ternyata baru selesai membersihkan rumah tersebut, karena istri dari sahabatnya akan datang.


“Assalamualaikum ...” Ujar Fahry dan Icha memberi salam secara bersamaan.


“Waalaikumsalam ... Hm, kalian memang berjodoh, mengucap salam saja bersamaan,” goda Ifan.


Membuat Icha dan Fahry merasa malu.


Namun, saat Fahry masuk ia melihat satu tas yang tergeletak di dekat pintu keluar, bahkan ia sangat mengenal tas tersebut.


“Ifan, kamu mau kemana? Ini tas kamu, bukan?” tanya Fahry.


“Fahry kamu jangan salah paham. Sebenarnya, aku di minta pak Dika untuk mengerjakan rumah singgah itu, kalian juga mengetahui ini. Karena rumah ini dan tempat tersebut cukup jauh, akan memakan waktu untuk tiba disana. Jadi, aku memutuskan untuk tinggal di dekat itu.”


“Iya, aku tahu. Tapi, kenapa harus malam ini.”


“Ya besok aku harus mulai bekerja,” sahut Ifan.


“Tidak. Aku tidak mengizinkan kamu pergi malam ini,” ujar Fahry bersikeras tidak membiarkan Ifan pergi malam itu.


“Tapi, kamu mengizinkan aku pindah?” tanya Ifan.


“Jika bisa tinggal di sini, kenapa harus pindah. Kamu bisa memakai motor untuk pergi.”


Ifan menghela nafas berat, bukan tidak ingin tinggal bersama sahabatnya. Akan tetapi, ia merasa kurang nyaman jika ada perempuan yang ada di kamar mereka, apalagi perempuan tersebut adalah istri dari sahabatnya sendiri.


Ifan beralih ke Icha yang masih berdiri di belakang Fahry.


“Fahry, ajaklah Icha masuk.”


Fahry menoleh ke arah belakang, ia melupakan istrinya yang baru saja ia nikahi.


“Oh iya maaf. Ayo,” ajak Fahry.


Icha mengangguk, Fahry membawa istrinya masuk ke kamar. Kamar kecil hanya dengan terdiri kasur kecil dan satu lemari kecil saja.


“Istirahatlah. Jika kamu ingin mandi, kamar mandi ada di belakang,” ujar Fahry menunjuk arah


“Iya, terima kasih.”


“Aku tinggal sebentar,” pamit Fahry.


“Kemana?” tanya Icha.


Karena dirinya masih takut sendirian, apalagi di rumah yang baru ia tempati.


“Aku hanya di depan, ingin berbicara dengan Ifan sebentar. Apa aku boleh ke depan?” tanya Fahry lembut.


“Oh, hanya di depan. Iya,” sahut Icha menunduk malu.


Icha duduk di tepi kasur, melihat sekeliling kamar tersebut. Ia berpikir akan tidur di mana nanti malam, apalagi tempat tidur hanya muat untuk satu orang.


“Apa aku meminta Abang untuk belikan kasur lagi?” gumamnya.


“Huh ... sepertinya tidak. Pasti mas Fahry tidak akan menyukainya, aku takut mas Fahry tersinggung,” ujarnya lagi mengurungkan niatnya.


Icha mulai membuka koper miliknya, mengambil pakaian yang ingin ia kenakan setelah mandi.


Ia melangkah keluar kamar menuju kamar mandi, masih terdengar samar-samar Fahry dan Ifan berbincang di teras rumah.


Saat tiba di depan kamar mandi, alangkah terkejutnya Icha melihat kecoa yang melintas di depannya.


“Aaa ... mas Fahry,” teriak Icha membuat Fahry dan Ifan mendengar teriakan Icha langsung berlari masuk ke dalam rumah.


“Icha ada apa?” tanya Fahry terlihat cemas.


“Ke-kecoa,” ujar Icha dengan suara gemetar, karena kecoak tersebut menempel di baju bagian bawahnya.


Karena merasa takut, refleks Icha memeluk tubuh Fahry, dengan tubuhnya yang masih gemetar karena sangat takut dengan hewan tersebut.


Karena Icha memeluknya erat, Fahry sedikit kesulitan mengusir kecoa yang masih betah menempel di bagian baju Icha.


Ifan yang mengerti, langsung menangkap kecoa tersebut lalu membuangnya lewat jendela.


Ifan terkekeh melihat Fahry yang tegang di peluk oleh Icha, karena ia sangat tahu jika Fahry belum pernah memeluk wanita selain ibunya.


“Sudah, kecoanya sudah pergi,” ujar Fahry.


Mendengar ucapan Fahry, Icha langsung tersadar jika dirinya memeluk erat Fahry.


“Astaghfirullah ... maaf mas Fahry.”


Refleks Icha langsung melepaskannya dan sedikit menjauh.


“Tidak perlu meminta maaf. Apa kamu mau mandi?” tanya Fahry.


Icha mengangguk.


“Sekarang mandilah. Jangan lama mandinya, karena sudah malam nanti masuk angin,” ujar Fahry penuh perhatian.


Icha kembali mengangguk.


Saat hendak berbalik badan, Fahry teringat sesuatu.


“Oh iya Icha. Katakan pada Abang Dika, jika kita sudah tiba di rumah. Agar Dika tidak ke pikiran,” ujarnya.


“Iya,” sahut Icha singkat.


Setelah mengatakan itu, Fahry kembali melangkah menemui Ifan yang sudah lebih dulu pergi dari tempat tersebut.


“Ifan,” panggil Fahry.


“Iya,” sahutnya.


“Maaf Fahry. Sepertinya, aku harus pindah dari rumah ini. Tidak ada maksud apa-apa, jangan berpikir yang tidak-tidak. Tapi, ini murni memang pekerjaanku.”


“Baiklah. Aku tidak memaksamu,” sahut Fahry mengalah.


“Nah begitu dong. Oh ya, selamat ya atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian Sakinah, Mawadah dan Warahmah.”


“Aamiin ... terima kasih Ifan.”


“Oke baiklah. Aku pergi sekarang, katakan pada Icha aku pergi bukan karena adanya dirinya.”


“Iya,” sahut Fahry mengerti apa yang di pikirkan oleh sahabatnya tersebut.


“Aku akan mengantarmu,” usul Fahry.


“Tidak perlu Fahry. Aku bisa naik taksi,” tolak Ifan.


“Tidak. Aku tidak menerima penolakan, tunggu sebentar.”


Ifan menghela nafas, ia sangat tahu Fahry terpaksa ia menunggu Fahry untuk mengantarnya.


Di depan kamar mandi, Fahry tampak ragu untuk mengetuk pintu. Namun, ia juga tidak mau Ifan menunggunya terlalu lama.


Tok! Tok!


Fahry memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi.


“Icha,” panggilnya.


“Iya, mas Fahry. Ada apa?” tanya Icha setengah berteriak.


“Aku pergi keluar sebentar, untuk mengantar Ifan. Apa kamu tidak keberatan jika aku tinggal sebentar?”


Tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.


“Icha. Apa kamu mendengarku?” tanya Fahry lagi.


“Iya, Mas. Hati-hati dijalan mas. Tapi mas ...” Icha menggantungkan ucapannya.


“Iya, ada apa Icha? Apa kamu butuh sesuatu?”


“Tidak Mas. Jangan terlalu lama ya mas, Icha takut sendirian.”


Fahry mengulum senyumnya mendengar tutur Icha.


“Iya, aku hanya pergi sebentar. Assalamualaikum ...”


Icha tidak menjawab salam Fahry, karena posisi Icha masih ada di dalam kamar mandi.