Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 23



Setibanya di kantor, Dika sedikit terlambat karena padatnya jalanan hingga kesulitan untuk melaju cepat menuju kantor.


Ceklek!


Ia membuka pintu ruangannya, ia sedikit terkejut melihat Indah sudah ada di dalam ruangannya.


“Selamat pagi,” sapa Indah langsung berdiri.


“Pagi,” sahutnya datar.


Dika duduk di kursinya, lalu meletakkan ponsel miliknya di meja.


Sudah seminggu lebih, Dika bekerja di tempat tersebut. Karena keahliannya, Dika mampu mendapati jabatan yang cukup tinggi di perusahaan tersebut.


“Pak, apa yang harus saya kerjakan?” tanya Indah masih berdiri.


Dika meliriknya sekilas.


“Kemari dan duduk di sampingku. Kamu bisa melihat dan juga mempelajarinya,” sahutnya tanpa melihat Indah.


Dika berpikir, jika ini adalah kantor Papanya, mungkin dirinya sudah mengerjai Indah.


Berhubung kantor tersebut bukan miliknya, ditambah lagi Indah adalah keponakan pemilik perusahaan tersebut yang baru belajar, hingga ia mengurungkan niatnya.


Bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, Indah menurutinya dan mengambil kursi lalu duduk di samping Dika.


Dika fokus dengan layar komputernya, begitupun dengan Dika.


Setelah jam makan siang, Dika masih duduk termenung di kursi kebesarannya. Ia masih memikirkan apa yang di ucapkan oleh Papanya tadi pagi, ia baru saja bekerja di perusahaan itu sekarang dan baru saja menandatangani surat kontrak. Tidak mungkin baginya memutuskan kontrak secara sepihak tanpa sebab.


Namun, ia juga memikirkan Papanya apalagi usia papanya yang sudah tidak muda lagi. Namun, kekecewaan terhadap Papanya hingga ia keluar dari kantor Papanya.


Ceklek!


Indah baru saja kembali dari kantin, ia melihat Dika yang melamun bersandar di kursi sambil melipat tangannya.


Indah melirik makanan yang ada di meja, masih utuh belum disentuh sama sekali.


“Permisi Pak,” sapa Indah.


“Hah, iya!”


Dika langsung tersadar, setelah mendengar suara Indah.


“Kamu sudah kembali?” tanyanya.


Indah mengangguk.


Tampak Dika menggeser makanannya, karena tidak berselera untuk makan.


“Abang tidak makan?” tanya Indah.


“Ini masih jam kantor, Indah. Jangan memanggilku Abang!” imbuhnya Kembali menatap layar komputernya.


Indah memperhatikan Dika yang sedikit kurus, ia menarik kursi lalu duduk.


Kemudian menarik piring yang di singkirkan oleh Dika ke tepi meja.


Dika mengernyit heran.


“Buka mulutmu!” ujar Indah sedikit memaksa.


“Aku tidak mau, jangan memaksa!” menatap tajam Indah.


“Kamu hanya karyawan di sini. Aku adalah keponakan dari pemilik perusahaan ini! Jadi di sini aku bosnya, kamu hanya di tugaskan untuk mengajariku!” kesal Indah terpaksa harus berbicara seperti itu.


Terlihat Dika menghela napas.


“Cepat buka mulutmu!” ujar Indah sambil melotot kan matanya.


Seperti terbalik, kali ini Indah yang lebih berkuasa. Dika terpaksa membuka mulut, dengan sabar Indah menyuapi Dika sambil tersenyum senang dalam hati.


“Kenapa kamu bekerja?” tanya Dika langsung.


“Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku membutuhkan uang,” sahut Indah.


“Kalau tidak bekerja, aku dapat uang dari mana?” tambah Indah lagi.


“Memangnya, ke mana suamimu?” tanya Dika tanpa berbasa basi.


“Suami?” tanya Indah heran.


Indah mengikuti arah netra Dika yang melihat cincin yang melingkar di jarinya.


Indah meletakkan piring di meja, lalu melepas cincin tersebut, lalu mengambil tangan Dika dan meletakkan di telapak tangan Dika.


“Apa ini?” tanya Dika melihat Indah meletakkan cincin di tangannya.


“Lihat baik-baik, agar tidak salah paham.”


“Aku tidak mau,” tolak Dika.


Ia mengembalikan cincin tersebut ke tangan Indah.


“Lihat ini,” ujar Indah memperlihatkan cincin tersebut di bagian dalamnya, yang tertuliskan nama Dika dan Indah.


“Apa Abang sudah melihat namanya, lihat dengan teliti!”


“Oh, nama suamimu Dika?”


Indah menepuk keningnya, ternyata Dika masih belum mengerti.


“Ini adalah nama Abang,” sahut Indah.


Dika mencerna ucapan Indah.


“Abang. Nama Abang selalu terukir, bukan hanya di cincin saja. Tapi, di hati Indah juga.”


“Bahkan hingga sekarang, tidak ada yang mampu menggeser hati Abang dari hatiku,” tambahnya lagi.


“Benarkah? Kamu tidak pandai berbohong, Indah. Jadi, jika ingin berbohong! Jangan denganku.”


“Aku tidak berbohong!” pungkas indah.


“Oh ya. Lalu ke mana kamu selama ini? Kamu menghilang, bahkan nomor mu tidak aktif. Dimana janjimu dulu?” ujar Dika sedikit kesal.


“Bang, dengarkan penjelasan Indah sebentar saja. Aku akan menjelaskan semuanya,” ujarnya.


Dika berpikir sejenak.


“Waktu mu tiga menit, cepat jelaskan!”


“Aku tahu, pasti Abang akan meminta penjelasan ini. Tapi, percayalah Bang. Tidak ada maksud untuk menjauhi Abang, semua itu karena aku ingin cepat selesai kuliah agar kita bisa bertemu kembali.”


“Aku memang salah, sudah memblokir nomor Abang. Maafkan aku Bang, semua itu aku lakukan agar fokus kuliah.”


“Jadi selama ini nomor ku di blokir?”


“Maaf Bang,” sahut Indah merasa bersalah.


“Silahkan hukum aku Bang. Tapi, jangan diamkan aku bahkan tidak mengenaliku sama sekali. Aku hancur, Bang!”


Indah menitikkan air mata, hingga mengalir di pipinya.


“Abang tahu sendiri bukan, Indah tidak punya orang tua lagi. Paman yang mengurus ku sejak kecil, hingga saat ini. Jadi, paman hanya memintaku berkuliah dan bekerja di perusahaannya.”


“Abang, maafkan aku Bang. Jangan diamkan aku Bang,” ujar Indah ia duduk di lantai sambil menunduk.


Dika jadi merasa bersalah, tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya.


“Jangan seperti ini? Ayo berdiri, duduk di kursi lagi,” ujar Dika memegang bahu Indah.


“Jadi, Pak Candra itu Pamanmu?” tanya Indah.


Dika mengusap air mata yang membasahi pipi mulus Indah, akan ada satu jerawat yang menempel di pipinya.


“Iya,” sahut Indah.


Tampak ada kecanggungan dari keduanya, karena sudah lama tidak bertemu.


“Aku minta maaf, Bang. Hukum saja aku, tapi jangan tinggalkan aku!” lirih Indah.


Dika tersenyum melihat gadis di depannya tersebut.


“Aku memaafkan mu! Aku juga minta maaf kepadamu.”


“Tapi, bukan berarti kamu lolos, walaupun aku sudah memaafkan mu! Aku akan tetap menghukummu,” ujarnya menyeringai licik.


Indah langsung mendongakkan kepalanya menghadap Dika, terlihat Dika berbicara serius.


“Abang serius ingin menghukum ku?” tanyanya ragi.


“Iya tentu saja. Bukankah kamu sendiri yang ingin di hukum?”


“I-iya...” sahut Indah gugup.


“Aku akan menghukum mu nanti, Saat ini aku masih memikirkan hukuman apa yang pantas untukmu!” Ujar Dika sengaja mengerjai kekasih yang lama sudah tidak bertemu itu.


Indah tersenyum.


“Kenapa kamu tersenyum? Tidak yang lucu di sini!”


Indah menggelengkan kepalanya, ia sangat tahu betul jika Dika hanya bercanda saja.


Mereka bercerita kembali, mengingat semua masa lalu mereka. Indah bercerita banyak tentang dirinya yang harus berjuang hingga lulus kuliah, ia sangat tersiksa beberapa Minggu saat harus memblokir nomor kekasihnya.


Semua ia lakukan agar fokus dengan mata kuliahnya dan secepatnya kembali ke tanah air.


Mereka bercanda bersama, sekarang ruangan terasa milik berdua. Mereka lupa jika cctv selalu memantau gerak gerik mereka.


Ceklek!


Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, bersamaan dengan Dika yang mengusap kepala kekasihnya pelan.


“Ekhem...” deham pak Candra.


Dika dan Indah langsung menoleh ke sumber suara, tampak pak Candra menatap mereka sambil melipat tangannya dengan raut wajah yang tidak terbaca.


“Pak Candra,” lirih Dika.


Dika dan Indah saling menatap satu sama lain.


“Kalian sedang apa?” tanya Pak Candra menatap mereka.


“Ka-kami hanya sedang berbicara saja Paman,” sahut Indah tampak gugup.


“Apa kalian tidak tahu, jika ini adalah jam kerja!” suara pak Candra begitu menakutkan.


“Maaf, Pak. Saya yang salah sudah mengajak Indah berbicara,” imbuh Dika.


Melihat ketakutan mereka, pak Candra mengulum senyumnya. Hingga akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi, melihat wajah Dika dan Indah yang ketakutan.


“Ha-ha-ha...” pak Candra tertawa lepas.


Dika mengernyit heran, sejenak Dika dan Indah saling berpandangan.


“Paman, ada apa? Kenapa Paman tertawa?” tanya Indah dengan hati-hati.


Tampak pak Candra terengah-engah, lalu menghela napasnya.


“Wajah kalian sangat lucu,” ujarnya menghampiri mereka.


“Jangan tegang seperti itu. Duduk lah,” ujarnya.


Pak Candra duduk di sofa, sedangkan Dika dan Indah duduk ke tempat semula.


“Kalian ini sepasang kekasih ya?” tanya pak Candra langsung.


Karena sebelumnya, ia memantau dari cctv melihat gerak gerik mereka.


Indah melihat Dika, ia menunggu jawaban dari Dika.


Dika tampak berpikir, tidak langsung menjawab.


“Apa kalian lagi puasa bicara? Kenapa tidak ada yang menjawab? Jangan takut, tidak ada larangan di kantor ini mempunyai kekasih,” ujar pak Candra lagi.


“Sebenarnya dulu kami memang mempunyai hubungan. Tapi sekarang saya tidak tahu pak,” ujar Dika melirik Indah.


Pak Candra melihat ada raut sedih di wajah keponakan nya.


“Kenapa bisa seperti itu?” tanya pak Candra penasaran.


“Dia memblokir nomor saya saat dia masih kuliah hingga sekarang, bahkan saat ini sudah kembali tidak pernah menghubungiku!” Dika memasang wajah sedih.


“Indah, benarkah itu?” tanya pak Candra.


Indah mengangguk pelan.


Pak Candra terdiam, ia seperti mengingat sesuatu.


“Astaga, Indah...”


“Iya, Paman. Ada apa?” tanyanya melihat pak candra seperti mengingat sesuatu.


“Jangan bilang jika Dika ini kekasihmu dulu, yang...” pak Candra menggantungkan ucapannya.


Karena Indah dulu pernah bercerita jika dirinya sudah mempunyai kekasih.


Dika menatap mereka secara bergantian.


Indah mengangguk.


“Astaga...!” pak Candra menepuk jidatnya lalu bersandar di bahu sofa.


“Ada apa?” tanya Dika menatap Indah dan bosnya secara bergantian.


“Maaf, Dika. Semua ini salahku, aku meminta Indah untuk lebih fokus dengan mata kuliahnya. Tapi, aku tidak tahu jika ia memblokir nomor kekasihnya.”


“Tidak apa-apa, jangan meminta maaf. Saya membenarkan apa yang pak Candra lakukan, kita harus fokus dengan kuliah kita.”


“Sekali lagi maaf, Dika. Tapi, Indah juga salah dalam hal ini. Kenapa dia memblokir nomor mu, hukum saja dia!” ujar Pak Candra menunjuk Indah.


“Iya, Pak. Aku pasti akan menghukum suatu saat nanti,” ujar Dika sambil mengulum senyumnya.


“Iya. Saya salah, saya minta maaf!” lirih Indah.


Membuat Pak Candra dan Dika tertawa kecil bersama.


“Bagaimana Dika, apakah kamu kesulitan mengajarinya?” tanya Pak Candra.


“Alhamdullilah, tidak Pak.”


“Setelah mengetahui kalian adalah pasangan kekasih, aku sangat senang. Bahkan aku bangga kepadamu, dengan kinerja mu yang sangat luar biasa, dalam seminggu saja kamu bisa meraup beberapa klien untuk bekerja sama dengan kita, ” puji Pak Candra kepada Dika.


“Terimakasih sudah mempercayai saya, Pak.”


“Oh ya. Saya sudah lama ingin bertanya ini kepadamu. Tapi, mohon maaf sebelumnya jika ini menyinggung perasaanmu.”


“Silahkan bertanya saja Pak, tidak perlu meminta izin!” imbuhnya.


“Pak Heriyanto itu adalah orang tua mu, bukan? Yang saya tahu, pak Heri mempunyai bisnis yang lumayan besar,” tanya Pak Candra dengan hati-hati.