Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 62



Sementara di tempat lain, raut wajah pak Heri begitu sangat bahagia. Entah apa yang membuat dirinya begitu bahagia, hingga Anggun yang masuk ke dalam kamarnya pun terlihat heran melihat wajah sang papa yang terlihat bahagia.


“Pa, ada apa? Kok Papa senyum-senyum sendiri?” tanya Anggun penasaran.


Pak Heri langsung menoleh ke arah suara, karena sedikit terkejut dengan kedatangan putrinya.


“Ah, ternyata kamu Anggun. Kamu mengagetkan Papa saja, Ada apa kemari? Tumben sekali ke kamar Papa,” tanya pak Heri melihat Anggun.


“Tidak ada Pa. Anggun hanya meminta tanda tangan Papa, karena Anggun membutuhkan tanda tangan untuk besok pagi,” sahut Anggun menyerahkan berkas tersebut.


“Hm ... baiklah.” Mengambil berkas tersebut lalu menanda tanganinya.


“Ingat, Anggun. Tinggal beberapa hari lagi pertunanganmu, jangan mengecewakan Papa.”


“Iya, Pa. Papa tenang saja, aku tidak akan mengecewakan Papa.”


“Anak pintar. Papa tahu kamu pasti tidak mengecewakan Papa dan lihat, sekarang bisnis Papa kembali lagi maju berkat dirimu, Nak. Terima kasih putriku, dan sekarang kamu istirahat sudah malam,” ujar pak Heri penuh perhatian.


Anggun mengangguk.


“Sama-sama Pah. Papa juga harus istirahat, Anggun permisi dulu.”


Pak Heri mengangguk.


Setelah meninggalkan kamar Papanya, Anggun menghela nafas lega.


Bersamaan dengan Mamanya yang baru saja tiba di depan kamarnya, hendak memutar kenop pintu.


Namun, anggun lebih dulu membuka pintu.


“Anggun,” sapa Mamanya.


“Iya, Ma.”


Namun tidak menatap sang Mama.


“Ada apa Anggun? Kali ini apa lagi yang membuatmu marah pada Mama?” tanya Bu Sintya pada Anggun yang beberapa hari ini selalu ketus padanya.


“Sepertinya dirimu sekarang lebih Angkuh. Lupa kalau aku ini ibumu, yang mengandung dan melahirkanmu?!” tanya Bu Sintya setengah membentak.


“Apa otakmu sekarang tidak berada di tempatnya?!”


“Mama ini bicara apa? Apa Mama lupa? bahwa Mama juga mempunyai anak perempuan selain Icha!” protes Anggun tidak mau kalah.


“Astaghfirullah ... Anggun! Icha itu adik kandungmu, bagaimana bisa kamu selalu iri padanya?”


“Aku tidak iri Mah, tapi perhatian Mama selalu pada Icha.”


“Apa lagi kemarin, Mama terlihat sangat bahagia bersama mereka. Mama lupa jika ada Papa dan Anggun di rumah!”


Karena kemarin ada yang mengirim foto sang Mama yang sedang bercanda dengan anak dan menantunya, hingga membuat dirinya kembali merasakan iri pada mereka.


“Sudah! Mama tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu itu! Setiap hari Mama selalu memberi perhatian dan kasih sayang yang sama pada semua anak Mama. Kamu jangan egois, ingin selalu di perhatikan. Bagaimana jika Icha bertanya padamu? Perhatian Papa selalu padamu!”


Anggun terdiam, entah kenapa yang tertanam di hatinya selalu iri pada saudarinya sendiri.


“Kenapa diam? Mama benarkan,” tanya Bu Sintya.


“Mama tidak akan pernah mengerti,” ketus Anggun pergi meninggalkan Mamanya.


Bu Sintya menggelengkan kepalanya.


Ia menghela nafas kasar, melihat Anggun menutup pintu kamarnya dengan kasar.


“Anggun mengetahuinya dari siapa? Jika kemarin aku ke rumah Icha,” gumam Bu Sintya bertanya-tanya.


Ceklek!


Bu Sintya membuka pintu kamarnya, terlihat wajah pak Heri yang masih tersirat keceriaan yang belum luntur semenjak Anggun keluar kamarnya.


“Dari mana Ma?” tanya pak Heri melihat istrinya.


Bu Sintya mengernyit heran, sikap suaminya tidak seperti biasanya.


“Dari dapur,” sahut Bu Santy.


“Oh. Sekarang istirahatlah, karena sudah malam.”


Lagi-lagi Bu Sintya heran, pak Heri berkata lembut padanya.


Ia berpikir ini kesempatan bagus untuknya, meminta izin untuk menyusul Dika besok.


“Pa, ada yang ingin aku bicarakan.”


“Apa itu Ma?”


“Aku ingin meminta izin, besok ingin menemui Dika dan istrinya. Karena mereka sedang mengalami musibah,” tutur Bu Sintya dengan hati-hati.


“Musibah? Ada apa dengan mereka?” tanyanya.


Hanya bertanya, tidak ada rasa cemas dari raut wajah pak Heri.


“Istrinya Dika masuk rumah sakit. Ia mengalami trauma, karena hampir saja di perkosa oleh pria.”


“Oh, hanya itu. Katakan pada Dika besok, aku ikut prihatin dan katakan juga padanya, semua itu akibat durhaka pada Papa sendiri!”


Bu Sintya menelan salivanya.


“Jadi?” tanya Bu Sintya lagi.


“Pergilah, karena hatiku saat ini sedang senang. Maka aku membiarkanmu pergi,” tutur Pak Heri.


Bu Sintya menghela nafas lega.


“Terima kasih,” ujar Bu Sintya pada suaminya.


“Hm ...” deham pak Heri tanpa melihat istrinya.


🌹🌹🌹


Sementara itu, di kediaman Icha.


Sudah hampir tengah malam, Icha belum bisa memejamkan matanya.


Ia bolak balik, mencari posisi yang pas. Namun, matanya belum juga bisa terpejam.


“Apa aku lapar? Sulit sekali untuk tidur,” gumamnya.


Ia melihat ke sampingnya, suaminya sudah terlelap. Bahkan dengan nafas yang sudah beraturan.


Icha mengangkat tangan suaminya yang mengingkari di perutnya, perlahan beranjak dari tempat tidur agar tidak membangunkan suaminya.


Sebelum keluar kamar, ia lebih dulu mengenakan kain penutup kepalanya. Karena masih mengingat ucapan suaminya, dan ingin berbakti. Jika dirinya harus mengenakan hijab saat keluar kamar.


Saat membuka pintu, ia melihat suaminya lagi untuk memastikan jika masih terlelap.


Lalu keluar kamar dan menutup pintu kembali.


“Astaghfirullah ... kenapa mataku begitu sulit untuk tidur?” keluhnya duduk di kursi, dengan siku bertumpu di meja.


Namun, Icha mengernyit heran, Cindy tidak berbicara apapun atau menyinggung tentang foto tersebut.


Flashback on.


“Fahry, istrimu cantik sekali. Sudah lama kita tidak bertemu,” ujar Cindy.


Icha masih terdiam di tempatnya.


“Iya,” sahut Fahry.


“Kenapa kebetulan sekali,” gumam Fahry dalam hati.


“Maaf, mbak Cindy. Kami permisi,” pamit Icha yang tersadar dengan lamunannya.


“Mau kemana?” tanya Cindy menatap suami istri itu secara bergantian.


“Oh aku tahu. Pasti kalian ingin membagikan ini, bukan?” tebak Cindy.


Walaupun tidak begitu akrab dengan Fahry, akan tetapi Cindy sangat tahu sifat Fahry sejak dulu. Karena dirinya dekat dengan almarhum sang ibunya Fahry, karena beliau dulu berjualan di kantin sekolah mereka.


“Iya,” sahut Icha.


Fahry hanya bisa menelan salivanya dengan kasar.


“Apa aku boleh ikut?” tanya Cindy.


Fahry tidak langsung menjawab, ia menatap istrinya terlebih dahulu.


“Boleh,” sahut Icha tanpa menunggu persetujuan suaminya.


“Wah, terima kasih banyak Marissa,” ujar Cindy mengambil tangan Icha dengan antusias bahagia, walaupun baru bertemu.


Icha hanya tersenyum menganggapinya.


“Biar istrimu ikut bersamaku naik mobil,” usul Cindy.


“Tapi, aku ingin ikut bersama suamiku naik motor,” sahut Icha.


“Aku memaksa,” ujar Cindy menarik pelan tangannya Icha.


“Mas,” panggil Icha.


“Cindy, maaf. Biarkan istriku ikut bersamaku,” ujar Fahry menahan tangan istrinya.


“Fahry. Izinkan aku membalas semua kebaikan ibumu padaku, biarkan istrimu ikut bersamaku. Aku bingung harus membalasnya dengan cara apa?”


Icha mengernyit heran, kebaikan apa yang di lakukan oleh almarhum mertuanya padanya Cindy dulu.


“Ya boleh ya. Aku bukan orang jahat, apalagi berpikir ingin menculik istrimu!”


Fahry dan Icha saling menatap sejenak, Fahry mengangguk pelan.


“Alhamdullilah. Terima kasih Fahry,” ucap Cindy antusias.


Setelah mendapat izin dari Fahry, Cindy membawa Icha masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti belakang motor Fahry.


“Marissa, maaf jangan salah paham tentang aku dan Fahry. Aku dan dia hanya teman biasa, bahkan tidak terlalu dekat. Tapi, aku lebih dekat dengan almarhum ibunya. Beliau sangat baik padaku, bahkan menganggapku seperti putrinya sendiri. Karena aku sudah tidak mempunyai ibu sejak masih duduk di sekolah dasar, entah kenapa aku seperti mempunyai ibu lagi saat dekat dengan ibunya Fahry.”


Icha mengangguk mengerti.


“Panggil aku Icha saja, biasa aku di panggil Icha,” ujar Icha.


“Oh, Icha ya. Hm ... nama yang bagus,” sahut Cindy.


“Tapi, aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya? Mas Fahry juga tidak ada cerita,” tutur Icha lembut.


“Haha ... aku sudah katakan. Aku dan Fahry tidak terlalu dekat, mungkin karena Fahry menjaga jarak karena bukan muhrim. Tapi, aku sangat dekat dengan ibunya. Aku baru kembali dari luar kota, karena aku menetap disana dan kembali kemari karena ada beberapa pekerjaan. Itu hanya beberapa hari saja.”


“Oh, begitu.”


Icha mengangguk mengerti.


“Sudah berapa lama kalian menikah?”


“Baru saja, belum genap sebulan.”


“Wah, kalian pengantin baru. Selamat ya Icha, semoga langgeng sampai maut memisahkan.”


“Aamiin ....”


Seketika hening.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di tempat tersebut.


Fahry menunggu istrinya keluar dari mobil. Icha dan Cindy keluar dari mobil tersebut, menghampiri Fahry yang menunggu mereka.


“Oh ya Cindy. Sudah lama tidak pernah berjumpa, sejak kepergian ibuku. Kamu sekarang masih tinggal di kota ini?” tanya Fahry basa-basi, sebagai manusia yang baik saling menghargai.


Mereka berbincang sambil melangkah menuju rumah lansia.


Tangan satunya membawa plastik besar berisikan kotak makanan, sedangkan tangan sebelahnya menggandeng tangan istrinya.


“Aku sudah pindah Fahry. Datang kemari hanya ada beberapa pekerjaan dan tanpa sengaja bertemu denganmu di lampu merah.”


“Oh iya. Suatu kebetulan,” tutur Fahry.


“Nak, Fahry,” panggil salah satu wanita di panggil nenek oleh Fahry.


“Nenek, apa kabar?” tanya Fahry.


“Alhamdullilah baik,” sahutnya.


Ia melihat ke samping Fahry, dua wanita dengan cara berpakaian yang berbeda.


Satu mengenakan pakaian yang tertutup hingga kepalanya dan satunya mengenakan pakaian tanpa berhijab.


Fahry tersenyum.


“Nek, doa Nenek terkabul. Sekarang Icha sudah menjadi istriku,” ujar Fahry sambil tersenyum.


“Alhamdullilah ... Nenek ikut bahagia. Selamat ya Nak, semoga pernikahan kalian menjadi, Sakinah, Mawadah dan Warahmah.”


“Aamiin ....” sahut mereka bersamaan bahkan Cindy pun juga ikut mengaminkan.


Setelah mengatakan itu, Fahry membagikan makanan tersebut dan juga beberapa amplop berisi uang.


Sedangkan Icha duduk melihat suami dan Cindy membagikan kotak tersebut. Karena dirinya merasa pusing, akibat kurang tidur semalam.


Fahry meminta istrinya duduk beristirahat, karena wajah istrinya yang terlihat pucat.


Icha memperhatikan keduanya, tidak ada yang salah di antara mereka berdua. Bahkan Cindy tidak sama sekali menyinggung soal foto yang ia lihat semalam.


Namun, Icha belum bernafas lega. Karena belum mendengar langsung dari Cindy.


“Ya Allah, siapa yang kejam memfitnah suamiku?” gumam Icha dalam hati.


Flashback off.