Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 66



Hari ini Fahry di antar oleh seseorang menolongnya saat kecelakaan terjadi untuk pulang ke rumah, karena motornya rusak parah.


Saat di depan rumah, terlihat Icha sedang menyapu di teras rumah.


“Assalamualaikum ...” ujar Fahry memberi salam.


“Waalaikumsalam, Mas. loh, kenapa dengan tanganmu mas?” tanya Icha melihat tangan suaminya penuh dengan luka kecil, terutama di bagian siku.


“Sebentar Sayang. Pak, terima kasih sudah mengantar saya. Mari, mampir dulu,” ajak Fahry pada pria tersebut.


“Sama-sama. Maaf, bukan tidak mau. Tapi, saya ada pekerjaan. Lain kali, saya pasti akan mampir,” tolak pria itu.


“Iya, Pak. Terima kasih sekali lagi, maaf sudah merepotkan.”


“Tidak perlu meminta maaf, bro. Saya pamit, assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” sahut Fahry.


“Mas, apa yang terjadi?” tanya Icha cemas.


“Ayo kita masuk,” ajaknya.


Fahry dan Icha masuk ke dalam rumah, Icha mengambil kotak obat. Tapi sebelum itu ia membuatkan teh hangat untuk suaminya.


“Mas, minum dulu.”


Menyerahkan gelas berisi teh tersebut, lalu Icha duduk di samping suaminya dan mulai mengeluarkan kapas untuk membersihkan lukanya.


Setelah minum beberapa teguk, Fahry melihat istrinya yang begitu telaten membersihkan lukanya.


“Aku kecelakaan Sayang, bukan hanya aku. Tapi, ada beberapa orang juga yang mengalaminya, bahkan ada yang meninggal di tempat.”


“Innalilahi wainnailaihirojiun, Mas. Alhamdulillah mas selamat, aku ikut prihatin pada mereka. Semoga Husnul Khotimah, dan diterima semua amal ibadahnya,” ujarnya memeluk suaminya.


“Iya, Sayang. Hanya luka kecil, karena aku melompat dari motor. Tapi, motor pemberian Abang Dika hancur tidak berbentuk lagi,” ujar Fahry.


“Jangan pikirkan motornya, Mas. Yang terpenting Mas selamat,” ujar Icha.


Ia kembali melanjutkan membersihkan luka suaminya, terdengar ada pesan masuk melalui ponselnya.


“Ini hanya peringatan kecil, bersiap-siap lah, setelah ini ada kejutan lagi.”


Fahry membaca pesan tersebut, melirik ke samping istrinya masih sibuk dengan lukanya.


“Jadi ini perbuatan Papa. Astaghfirullah ... begitu bencinya padaku, tidak memikirkan banyak yang menjadi korban atas kecelakaan ini,” gumam Fahry dalam hati.


“Mas, kok bengong? Kenapa, siapa yang mengirim mu pesan?” tanya Icha penasaran.


“Entah. Nomor yang tidak di kenal, mungkin salah sambung.”


“Oh,” sahut Icha.


Fahry langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas, untuk pesan ini ia harus menyembunyikan dari istrinya.


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu, seperti tidak sabar.


Icha melangkah membuka pintu, terlihat sang Mama dengan nafas yang naik turun.


“Sayang, dimana Fahry? Mama melihat motornya ada di dalam kecelakaan itu. Dimana dia?” tanya Bu Sintya seperti tidak sabar.


“Ma, tenang Ma. Mas Fahry ada di dalam, masuk dulu Ma.”


Bu Sintya tampak bernafas lega.


Ia masuk melihat keadaan Fahry yang penuh dengan luka, terutama di bagian lengannya.


“Fahry, apa kamu baik-baik saja?” tanya ibu mertuanya.


“Aku baik, Ma. Alhamdullilah, Fahry selamat dalam kecelakaan itu.”


“Kita ke rumah sakit sekarang,” ajak Bu Sintya.


“Ma, maaf. Fahry menolak, ini hanya luka kecil dan sudah di obati oleh istriku.”


“Kamu yakin?” tanya Bu Sintya lagi.


“Sangat yakin, Ma.”


“Huft ... Mama langsung kemari setelah melihat berita itu. Mama melihat motor yang kamu kendarai rusak parah,” ujar Bu Sintya terlihat begitu cemas saat baru datang.


Namun, saat ini dirinya sudah bisa bernafas lega melihat keadaan menantunya baik-baik saja.


Saat melihat Icha masuk ke kamar, kesempatan Bu Sintya bicara pada Fahry.


“Saat ke kantor Papa. Mama tidak sengaja mendengar Papa memerintahkan orang untuk mencelakaimu. Astaghfirullah Fahry, ini sungguh keterlaluan. Kamu selalu menjadi korban ulah Papa, Mama sangat malu padamu!”


“Fahry tahu kok Ma. Bahkan Papa mengirim pesan padaku, untuk berhati-hati setelah ini.”


“Ya Allah, Fahry. Sebaiknya, kalian pindah dari kota ini. Mama tidak ingin terjadi sesuatu dengan kalian,” usul Bu Sintya.


“Fahry, ini sudah sangat keterlaluan!”


“Ma, percaya pada Fahry. Papa tidak mungkin mencelakai putrinya sendiri, dan aku akan menghadapinya. Sampai dimana Papa akan menyerah dengan sendirinya.”


“Fahry, ibumu pasti bangga mempunyai anak sepertimu, Nak.”


“Fahry, juga bangga Ma. Mempunyai mertua seperti Mama, Icha mempunyai sisi hati yang lembut sama seperti Mama.”


“Wah, serius sekali. Ada apa nih?” tanya Icha yang baru keluar dari kamar.


“Mas, ganti pakaianmu dulu.”


Melihat pakaian suaminya yang kotor dan juga ada noda darah di bajunya.


“Sebentar Ma, Fahry ganti baju dulu.”


Bu Sintya mengangguk.


“Ma, Icha masuk dulu ya. Mama tunggu sebentar,” ujar Icha hendak menyusul suaminya ke kamar.


“Iya, Sayang.”


Icha tersenyum, lalu meninggalkan Mamanya.


Icha melihat suaminya yang terlihat kesusahan membuka pakaiannya.


“Aku bantu Mas,” ujar Icha menarik pelan pakaian suaminya untuk membuka bajunya.


“Mas, ini sakit?” tanya Icha melihat bagian bahu suaminya yang sedikit membiru.


“Tidak Sayang.”


“Tunggu sebentar, aku akan mengambil air dingin untuk mengompresnya.”


Tanpa menunggu persetujuan sang suami, Icha melangkah keluar.


Sambil menunggu istrinya kembali, Fahry duduk di tepi tempat tidur.


Ia menghela nafas berat, melihat tangannya yang penuh luka kecil.


“Bagaimana dengan mereka semua? Apa mereka baik-baik saja?” gumam Fahry melihat korban kecelakaan yang selamat.


“Mas, kok bengong. Istighfar Mas,” Ujar Icha kembali menghampiri suaminya.


Meletakkan kain kecil di bahu suaminya, sebelumnya ia sudah meletakkannya di dalam air es.


Cup!


Icha mengecup pipi suaminya.


“Aku tidak bisa membayangkan kejadian itu Mas, bagaimana jika Mas tidak selamat dari kejadian tadi aku ....”


“Sssttt ... jangan di bayangkan. Kamu sudah melihatku ada di hadapanmu, aku baik-baik saja. Jangan berpikir yang buruk!” sela Fahry karena tidak ingin istrinya menjadi kepikiran.


“Maaf Mas. Aku hanya belum siap kehilanganmu,” lirih Icha memeluk pelan lengan suaminya.


“Siap tidak siap, kita semua pasti akan meninggal Sayang. Jadi jangan terlalu dalam mencintai bahkan melebihi cintamu pada Allah. Di dalam doaku, selalu ku sematkan agar kita bisa bersama di dunia maupun di akhirat kelak.”


Icha mengangguk.


Hening sejenak, Icha masih memeluk lengan suaminya.


“Sayang, sepertinya ini sudah selesai.”


Icha langsung melepaskan tangannya yang menempel pada lengan suaminya, lalu mengambil kain yang menempel pada bahu suaminya.


“Sudah Mas.”


Fahry mengangguk.


“Ini pakaianmu Mas, pakailah ...” ujar Icha membantu memakaikan pakaian untuk suaminya.


Fahry hanya pasrah mengikuti kata istrinya, karena memang tangannya sudah mulai terasa sakit apalagi di bagian bahu.


Sebenarnya, Fahry hendak di antar oleh pria yang menolongnya ke rumah sakit. Bahkan pria itu membiayai semua pengobatannya. Namun Fahry menolak, menurutnya luka hanya luka kecil tidak perlu di bawa ke rumah sakit. Saat itu, yang ada dalam pikirannya adalah bertemu dengan istrinya.


“Mas, celananya juga,” ujar Icha melihat celana suaminya yang terlihat kotor.


“Iya, aku bisa menggantikannya sendiri.”


Karena Fahry masih malu jika istrinya juga yang menggantikan celananya.


“Kenapa tidak sekalian saja. Cepat buka,” ujar Icha sedikit memaksa.


“Hah ...!”


Fahry tampak bingung.