
POV FAHRY
Namaku Muhammad Fahry, biasa di panggil Fahry. Aku dilahirkan tanpa seorang ayah, karena saat usia kandungan ibuku menginjak delapan bulan, ayahku meninggal dunia.
Aku dirawat oleh ibuku seorang diri, karena ibuku tidak mempunyai keluarga di kota ini. Untuk mencukupi kebutuhan kami, ibu ku berjualan makanan di salah satu kantin sekolah.
Saat usiaku menginjak 20 tahun, ibuku berpulang selamanya menghadap sang kuasa karena sakit.
Aku bekerja di salah satu toko buku islami yang cukup terkenal, aku bagian luar yang mengantarkan buku dari satu toko ke toko lain dengan menggunakan motor bututku.
Namun, aku juga menawarkan ke beberapa pemuda pemudi jika aku sedang beristirahat Shalat di mesjid. Karena buku yang terjual tersebut adalah untuk tambahan bonusku.
Setelah selesai menjalankan Shalat, aku berdoa kepada yang maha kuasa. Karena sudah memberiku rezeki, hari ini buku ku hampir terjual habis, hanya menyisakan beberapa buku saja.
Setelah selesai Shalat, aku berniat menawarkan bukuku kepada beberapa wanita yang duduk di halaman mesjid. Namun, saat aku melangkah seorang wanita yang terlihat terburu melangkah, bahkan aku belum sempat menghindar.
Bruuk!
Wanita itu menabrakku cukup kencang, hingga membuat buku yang ku bawa terjatuh berhamburan ke tanah.
Wanita itu membantuku mengumpulkan buku tersebut, sambil berkata dengan suara lembutnya meminta maaf karena tidak sengaja menabrakku karena terburu-buru.
Bahkan aku sempat terpesona mendengar suara lembutnya, kami saling bertatapan sejenak. Aku melihatnya langsung mengalihkan pandangannya.
Setelah selesai, aku menawarkan wanita yang ada di hadapan ku ini buku.
Ia menunjuk salah satu buku islami.
Setelah memberi salam, ia setengah berlari menuju mobil yang sudah menunggunya. Tampak jelas ia sangat bahagia bertemu dengan pria yang ada didalam mobil.
Aku berpikir positif, jika pria yang ada di dalam mobil tersebut adalah suaminya.
Sejak pertemuan pertama itu, wajah wanita itu selalu terngiang di benakku. Hingga seminggu lebih aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, bahkan aku beberapa kali ke mesjid tempat pertemuan kita berharap aku bertemu lagi dengannya.
Siang ini aku baru selesai makan siang bersama pemilik toko, karena penjualan buku bulan ini alhamdullilah melebihi target yang terjual.
Saat aku memarkirkan motorku, aku menangkap wanita yang selalu menari-nari di pikiranku tengah duduk memandang ke arah luar.
“Assalamualaikum Ukhti...” sapaku.
Tampak wanita tersebut sedikit terkejut, entah apa yang dia pikirkan.
POV AUTHOR
“Waalaikumsalam,” sahut Icha refleks menjawab salam.
“Maaf, bukankah Tuan yang ada di mesjid waktu itu?” tanya Icha.
Fahry mengangguk.
Icha mengernyit keningnya bingung.
“Berjodoh?”
“Maaf. Maksud saya, kita berjodoh untuk bertemu kembali. Maafkan saya Ukhti jika membuat Ukhti salah paham,” ujar Fahry merasa salah bicara.
“Perkenalkan saya Fahry,” ujarnya mengulurkan tangannya.
Icha tidak menyambut uluran tangan tersebut, hanya melihatnya sambil tersenyum.
Icha menyatukan kedua tangannya agar tidak bersentuhan dengan orang yang bukan muhrimnya.
“Saya Marissa,” sahut Icha sambil tersenyum.
“Oh, Maaf!” ujar Fahry menarik kembali tangannya.
“Kenapa aku seperti orang bodoh di hadapan wanita,” ucapnya dalam hati merasa malu.
“Apa Nona sedang mencari buku lagi?” tanya Fahry lagi.
Icha menggelengkan kepalanya.
“Saya melamar pekerjaan disini, saya melihat toko ini membuka lowongan pekerjaan,” sahut Icha.
“Maaf sebelumnya, jangan panggil saya dengan sebutan Nona. Panggil saya Icha saja, biasa orang memanggil saya dengan nama Icha,” tambahnya lagi.
“Iya. Icha...” ujar Fahry mengangguk mengerti.
Tak lama, ada karyawati yang memanggilnya untuk masuk ke ruangan untuk interview.
“Silahkan masuk Nona, bos memanggil anda masuk.”
Icha mengangguk, sebelum itu ia berpamitan terlebih dahulu kepada Fahry, lalu mengikuti belakang wanita yang memanggilnya tadi.
Icha membuka pintu, betapa terkejutnya melihat pemilik toko tersebut adalah orang yang sangat ia kenal.
“Kamu!” ucap mereka bersamaan.
.
.
.
Sedikit dulu, Author nya lagi sibuk. Sibuk memikirkan kenyataan hidup🤭🤭😂🙏🙏