Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 58



Hari ini Fahry memutuskan untuk tidak pergi bekerja, ia hanya ingin menemani istrinya di rumah.


Karena baru menerima upah bulanan bekerja di tempat ia bekerja, Fahry dan Icha menyisihkan sebagian gajih untuk bersedekah.


Mereka memesan makanan untuk di bagikan, seperti biasanya.


“Sudah siap?” tanya Fahry melihat istrinya sudah memakai pakaian yang rapi.


Fahry juga sudah meletakkan bungkusan makanan di motor miliknya.


Icha mengangguk. Walaupun Fahry sudah menjelaskan berulang kali pada istrinya. Namun, sikap Icha masih saja dingin.


Jika Fahry bertanya atau berbicara hal baru ia menjawab, jika tidak maka dirinya hanya diam tanpa ingin memulai percakapan seperti biasanya.


“Kenapa sih? Masih marah?” tanya Fahry melihat istrinya dingin.


“Enggak!” sahut Icha singkat.


“Huft ... Apa ini efek dari wanita sedang datang bulan,” batin Fahry.


“Kemari,” ajak Fahri menarik tangan istrinya, masuk ke dalam rumah.


Icha mengernyit heran, pasalnya dirinya dan Fahry sudah mengenakan helm.


Tek!


Tek!


Fahry membuka kunci rumah.


Ceklek!


Suara pintu terbuka.


“Kenapa? Apa kita tidak pergi?” tanya Icha heran.


“Kita tidak akan pergi, jika kamu hanya diam sejak tadi. Aku sudah mengatakan, jika yang di foto itu bukan diriku,” ujar Fahry menatap netra istrinya.


“Kenapa masih tidak percaya?”


“Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya?”


Icha hanya menggelengkan kepalanya.


“Sebaiknya tidak perlu pergi,” ujar Fahry hendak melepaskan helmnya.


“Aku minta maaf!” lirih Icha.


“Aku bukan tidak percaya mas. Hanya saja ...” perkataan Icha terjeda.


“Hanya saja apa?”


Kembali menatap istrinya lagi.


“Hiks ... hiks ... hiks! Mas, jangan pergi ....” Icha terisak menangis.


Tak mampu lagi menahan air matanya di depan suaminya, yang ada di pikirannya saat ini adalah Fahry akan pergi meninggalkannya.


“Memang siapa yang mau meninggalkanmu? Aku masih disini bersamamu! Tidak ada yang mampu memisahkan kita, kecuali kematian.”


Fahry langsung memeluk istrinya, tapi sebelum itu ia melepaskan helm istrinya terlebih dahulu yang masih melekat dikepala istrinya.


Cup!


Kecupan mendarat di kening istrinya.


“Jangan menangis lagi. Hum ... sayang, aku sudah pernah berjanji. Memang pernikahan kita tidak biasa seperti orang-orang pada umumnya, tapi aku bisa pastikan ini adalah pernikahan pertama dan terakhir kita.”


Fahry mengusap air mata istrinya, lalu mengecup kedua kelopak matanya.


“Sebentar,” pamitnya meninggalkan istrinya.


Fahry melangkah cepat ke dapur, untuk mengambil air putih. Tak lama, ia kembali menemui istrinya dengan membawa gelas berisi air putih di tangannya.


“Ini minum dulu,” Ujarnya menyerahkan gelas tersebut.


“Terima kasih Mas,” sahutnya.


Icha melangkah ke kursi untuk duduk, lalu mulai minum. Sebelum itu tidak lupa ia mengucap basmallah.


Fahry ikut duduk menatap istrinya sambil tersenyum.


Fahry menggelengkan kepalanya.


“Jika saat ini kamu tidak sedang datang bulan. Mungkin aku sudah membawamu bertempur,” goda Fahry.


Membuat Icha menjadi merah merona karena malu, ia membuang wajahnya ke arah lain agar suaminya tidak melihat wajahnya.


“Ekhem ... baiklah. Apa kamu ikut ke tempat Nenek?” tanya Fahry mencairkan suasana.


Nenek adalah, tempat tinggal para lansia yang pernah Icha dan Fahry kunjungi. Karena setiap bulan Fahry ke tempat tersebut.


“Iya,” sahut Icha sembari tersenyum.


“Nah, gitu dong. Uh ... cantiknya istriku kalau tersenyum begini,” goda Fahry mendekati istrinya.


Tanpa menunggu lagi, Fahry memberi lumata*n pada bibir istrinya, hingga Icha yang belum siap menjadi tersengal karena kesulitan bernafas.


“Hmmfftt ...” Icha berbicara tidak jelas.


Fahry melepaskannya karena melihat istrinya seperti kesulitan bernafas.


“Mas,” ujar Icha dengan nafas yang naik turun.


“Maaf, aku tidak tahan melihat bibirmu itu!”


Mengusap air saliva yang menempel di bibir istrinya.


“Ayo,” ajak Fahry menarik pelan tangan istrinya.


Mereka keluar ingin melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah memastikan istrinya naik motor duduk dengan aman di belakang, Fahry segera meninggalkan rumah mereka menuju tempat yang ingin mereka tuju.


“Fahry, Fahry!” panggil suara seorang perempuan saat berhenti di lampu merah lalu lintas.


Fahry dan Icha mencari arah sumber suara.


Mereka melihat seorang wanita melambaikan tangannya.


“Cindy,” lirih Fahry.


“Kenapa dia ada disini? Astaghfirullah, kenapa bisa kebetulan sih. Padahal sudah sangat lama tidak pernah bertemu dengan Cindy,” batin Fahry.


“Siapa Mas?” tanya Icha.


Fahru hendak menjawab pertanyaan istrinya, akan tetapi lampu lalu lintas sudah berubah menjadi warna hijau.


Mobil Cindy pun mengikuti mereka dari arah belakang, berulang kali Cindy membunyikan klaksonnya meminta agar Fahry menepi.


“Mas, sepertinya mobil itu meminta kita menepi.”


Fahry mengangguk.


Ia menepikan kendaraan roda duanya, terlihat mobil tersebut juga menepi dan berhenti tepat di depan mereka.


Wanita itu keluar, menghampiri mereka. Walaupun pakaian Cindy mengenakan celana panjang dan baju lengan panjang. Akan tetapi pakaiannya masih memperlihatkan lekuk tubuhnya.


“Fahry bukan?” tanya Cindy.


“Iya, saya Fahry.”


Sembari tersenyum, hingga Icha mengernyit heran.


“Apa kabar Fahry?” tanya Cindy mengulurkan tangannya.


Terlihat Fahry belum membalas tangan Cindy, hingga sang pemilik tangan mengernyit heran.


Icha turun dari motor dan membalas uluran tangan Cindy.


“Saya Marissa, istri dari mas Fahry,” Ujar Icha tersenyum sembari membalas uluran tangan Cindy.


“Oh Fahry sudah menikah? Kenalkan saya Cindy, teman sekelas Fahry dulu.”


Deg!


Icha mematung, menatap wajah wanita yang ada di depannya dengan yang di foto.


Hampir mirip, namun wajah yang ada di depannya tersenyum terlihat lebih tirus.