
Aditya berulang kali mengumpat kesal, merasa di permainkan oleh istrinya.
“Sangat bahaya, jika ia menceritakan pada Dika. Aku harus bagaimana?” ucap Aditya frustrasi.
“Cepat kejar dan tangkap dia!” sentak Aditya.
Mendengar bentakan Aditya, mereka semua bergegas beranjak dari tempat tersebut.
“Arggh ... sialan kau Wulan, aku tidak akan mengampunimu!”
“Aku akan membu*uhmu!” ancamnya.
“Arghh ....”
Buk!
Buk!
Berulang kali menendang ban mobilnya, karena sangat kesal dengan istrinya.
Buk!
Terakhir ia menunjuk pintu kaca mobil dengan kuat, sehingga tangannya mengeluarkan darah.
🌹🌹🌹
Dari pagi hingga malam, Dika masih betah duduk di kursi sambil memegang tangan yang sudah mulai keriput tersebut.
“Sayang, makan dulu. Sejak pagi, Abang belum makan apapun,” ujar Indah menyodorkan sendok yang berisikan makanan.
“Aku tidak lapar sayang,” tolak Dika.
“Bang, kita butuh tenaga untuk menjaga Papa agar tidak sakit. Ayo makan,” ujarnya lembut.
Dika terpaksa membuka mulutnya.
Indah menyuapinya, terlihat suaminya lahap memakannya. Memang dirinya belum makan sejak pagi.
“Pak Dika,” panggil wanita dengan nafas yang terengah-engah sambil menggendong anak kecil.
“Kamu, kenapa kemari?!” pekik Dika, mulai emosi melihat wanita tersebut.
Wanita yang sudah menghina adiknya saat pernikahannya waktu itu.
Dika melangkah besar, melihat situasi tersebut Indah meletakkan piring nasinya di meja dan bergegas mengikuti belakang suaminya.
“Pak, Dika. Tolong saya, saya. Sedang di kejar penjahat.”
Dika mengernyit heran.
“Kenapa kemari? Minta tolong sama suamimu, kenapa padaku!”
“Tenang Bang,” ujar Indah yang melihat suaminya yang tidak bisa mengendalikan dirinya.
“Ada apa Nona?” tanya Indah lembut mengajak wanita tersebut duduk.
“Nona, tolong saya. Suami saya ternyata sangat jahat, aku akan menceritakan semuanya. Tapi, tolong lindungi aku,” ujarnya dengan suara gemetar ketakutan.
“Suamiku yang sudah merencanakan kecelakaan ini,” ungkap Adita istrinya Aditya.
Dika yang semula melipat tangannya, ia sedikit terkejut dengan tutur wanita yang ada di hadapannya.
“Dan sekarang mereka sedang mengejar ku, tolong aku dan putraku, hiks!”
Wanita tersebut memohon dengan menangkup kedua tangannya sambil terisak menangis.
“Baiklah, aku akan menolong mu. Tapi, kamu harus menceritakan semuanya. Tapi, jika kamu berbohong atau ini hanya jebakan. Kamu akan mati di tanganku!” ancam Dika.
Adita menelan salivanya kasar.
“Aku berani bersumpah, jika aku tidak berbohong.”
“Hm ... baiklah, aku akan membawamu ke rumah ku.”
Tampak Dika menghubungi seseorang.
“Anton, bawa dua orang ke rumah sakit termasuk dirimu. Aku ada urusan, tolong jaga Papaku, sekarang!”
Lalu mengakhiri panggilannya.
“Sayang, ajak dia ke mobil aku akan menyusul.”
Indah mengangguk.
Dika masih menunggu di depan ruang ICU, menunggu anak buahnya datang.
Selama banyak kejadian yang menimpa adiknya, Dika rela membayar mahal beberapa orang untuk menjaga semua keluarganya, bahkan pak Candra pun menyewa beberapa orang juga untuk mereka.
Pak Candra mengetahui semuanya, karena di ceritakan oleh Dika dan Indah. Bahkan pak Candra ikut menyelidiki secara diam-diam tanpa sepengetahuan Dika.
Tak butuh waktu lama, mereka bertiga datang.
“Jaga Papaku untuk malam ini, aku ada urusan penting. Jangan biarkan orang yang tidak di kenal masuk ke dalam.”
“Baik bos,” sahut mereka bertiga.
Setelah mengatakan itu, Dika bergegas menghampiri istrinya yang sudah menunggu di mobil.
“Bang, bagaimana dengan Papa?” tanya Indah.
“Papa aman. Ada beberapa orang yang menjaganya,” sahutnya sambil menghidupkan mobil.
Hampir 30 menit menempuh perjalanan menuju rumahnya, menembus jalanan kota yang cukup padat malam itu.
“Entah kenapa jalanan ini selalu macet!” gerutu Dika.
“Sabar, sayang.”
Indah selalu mengusap pelan bahu suaminya ketika suaminya mulai emosi.
Adita yang duduk di belakang tampak gelisah, ia selalu melihat ke arah belakang seakan suaminya selalu mengejarnya.
“Ti-tidak, Nona. Aku hanya takut, jika suamiku mengejarku. Aku tahu, dia tidak akan membiarkan ku hidup.”
“Tenang lah Nona, anda sudah aman. Lihat putramu, dia sangat pulas tidur,” ujar Indah mencoba mengalihkannya agar wanita tersebut tenang.
“Sayang, hiks ... hiks.”
Adita terisak, sambil memeluk putranya.
“Sayang, maafkan Mama. Maafkan Mama sudah membawamu dengan cara seperti ini,” Ujarnya menciumnya berulang kali.
Indah menatap mereka, ia hampir saja meneteskan air mata melihat ibu dan anak tersebut.
Tidak lama, mereka tiba di rumah, Indah mengajak wanita tersebut masuk ke dalam rumahnya.
Dika membiarkan mereka masuk terlebih dahulu, saat memastikan mereka sudah masuk Dika mengeluarkan ponsel miliknya.
Tut! Tut!
Panggilan terhubung.
“Halo, pak polisi,” ujarnya.
“Halo, Pak Dika. Apa ada informasi, sehingga menghubungi kami?” tanya seorang polisi dari dalam ponsel tersebut.
“Ada, Pak. Ada seorang wanita yang sedang ketakutan menghampiriku saat di rumah sakit dan ia mengaku mengetahui siapa pelaku yang menyebabkan kecelakaan tersebut.”
“Baik, ini sangat membantu kami. Kami akan segera datang ke rumah anda, terima kasih atas kerja samanya.”
“Iya, Pak sama-sama. Saya menunggu kedatangan anda,” sahut Dika.
“Dalam 20 menit, kami akan tiba disana.”
“Baik Pak.”
Mereka sama-sama mengakhiri panggilannya, Dika menghela napas kasar.
“Semoga ini adalah akhir dari semuanya, agar keluargaku bisa berkumpul kembali,” gumam Dika mengusap wajah.
Dika keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Ia melihat istrinya yang memberi wanita tersebut minum, agar dia tenang. Terlihat dari wajah wanita tersebut, jika dirinya sedang ketakutan.
“Bang, minum.” Menyodorkan gelas yang berisi air mineral.
“Iya, terima kasih.”
Dika meneguk air tersebut, hingga tidak tersisa sedikitpun.
“Bawa dia ke kamar tamu, agar tenang. Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini, itu sangat berbahaya baginya.”
“Iya, Bang.”
“Oh, ya. Polisi akan datang dalam 20 menit lagi, beri dia makan.”
“Polisi? Kenapa membawa polisi, Bang?” tanya Indah bingung.
“Sstt ... pelankan suaramu!” Ujar Dika.
Indah mengangguk.
“Polisi datang tidak ingin menangkapnya, akan tetapi mereka hanya membutuhkan informasi darinya. Aku jamin, wanita itu tidak akan di tangkap, malah dapat perlindungan.”
Indah mengangguk mengerti.
“Sekarang beri dia makan dan bawa ke kamar tamu. Terlihat jelas dari wajahnya, dia sangat ketakutan.”
“Iya, Bang. Kasihan putranya, aku tidak tega melihatnya.”
“Aku akan menemaninya, Bang.”
Dika mengangguk.
Lagi-lagi Dika menghela nafas, ia meletakkan ponselnya di meja dan melipatkan kedua tangannya.
“Aku kira masalah dulu sudah selesai, ternyata Aditya masih menyimpan dendam. Aku tidak menyangka jika dia dalang di balik kecelakaan itu. Beruntung adikku tidak jadi menikah dengannya,” gumam Dika tersenyum kecut.
“Apa Aditya juga dalang di balik kecelakaan yang di alami Fahry dan juga pembakaran rumah mereka? Jika memang benar, aku tidak akan mengampuninya!” gumam Dika dalam hati.
Saat sibuk berperang dengan isi kepalanya, terdengar suara bel pintu berbunyi.
Ting! Tong!
“Mungkin itu mereka yang datang?” Ujarnya.
“Bi, tolong buka pintunya.”
Dika setengah berteriak memanggil orang bekerja dalam rumahnya.
“Iya Tuan.”
Pembantu rumahnya setengah berlari untuk membuka pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka, tampak ada beberapa polisi yang datang.
“Selamat malam. Apa pak Dikanya ada?”
“Malam, ada Pak. Silakan masuk,” Ujar pembantu tersebut mempersiapkan mereka masuk.
Dika berdiri dari tempat duduknya, melihat beberapa polisi sudah masuk ke dalam rumahnya.
*
*
*
Dukungan kalian adalah semangat author, terima kasih banyak sudah setia membaca cerita Author.