Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 36



Pak Heri menatap Aditya dengan tajam.


“Pak Aditya, tolong jelaskan! Siapa wanita itu?!” tanya pak Heri.


Dika yang melangkah mendekati adiknya, menarik pelan lengan adiknya agar menjauh dari tempat duduknya.


“Katakan Mas. Siapa aku?!”


Wanita tersebut menuruni anaknya, lalu dengan polosnya bocah tersebut menemui Aditya.


“Ayah ...” panggil bocah tersebut langsung memeluk Aditya.


Aditya masih diam terpaku menatap bocah tersebut, tersirat rasa bersalah di benaknya.


“Lihat, aku tidak menyebar cerita bohong, bukan!” wanita tersebut menunjuk ke arah Aditya.


“Pak Aditya, sekali lagi aku bertanya. Siapa mereka, apa dia istrimu?”


“Maafkan saya Pak Heri,” lirihnya.


Semua orang menatap Aditya, beruntung tamu yang datang belum terlalu banyak.


“Saya tidak bermaksud membohongi Pak Heri. Sungguh,” Ujar Aditya menunduk merasa bersalah.


“Kurang ajar kamu!” bentak pak Heri.


“Tapi, bukankah pak Heri sendiri menawarkan putri Bapak kepada saya, demi menyelamatkan bisnis Pak Heri yang hampir bangkrut?!” kesal Aditya tidak mau kalah.


“Kesepakatan kita adalah, pak Heri meminta saya menikahi putrinya!”


Dika sangat murka mendengar hal tersebut, adiknya di jadikan bahan penukaran demi bisnis.


Pak Heri terdiam, Dika hanya diam mendengarkan perdebatan antara papanya dan Aditya. Saat ini ia sudah mengetahui siapa yang memaksa Icha untuk menikah.


Disaat suaminya sibuk berdebat dengan pak Heri, wanita tersebut menghampiri Icha yang duduk di kursi dengan kepala menunduk.


“Hei ... lihat aku,” ujar wanita tersebut kepada Icha.


Icha mendongakkan kepalanya, menatap wanita tersebut.


“Kamu itu sangat cantik. Kenapa harus mencari pria yang sudah beristri?! Apa kamu tidak kasihan melihat putraku yang masih kecil!” bentak wanita tersebut.


“Jaga bicara Anda Nyonya. Adikku tidak tahu jika Aditya sudah beristri. Salahkan suami Anda yang berbohong!” ujar Dika masih berkata sopan.


“Pembohong. Tidak mungkin ia tidak tahu mana pria beristri atau tidak! Memang dasarnya wanita seperti dia memang suka menggoda pria yang sudah beristri, jilbab hanyalah topeng belaka!”


“Nyonya! Saya sudah bicara sangat sopan dengan Anda. Tolong jangan bicara yang tidak-tidak tentang adik saya!” Dika masih menahan emosinya.


“Kalau begitu, ajarkan adikmu ini!”


“Cih ... dasar murahan!” bentak wanita tersebut tanpa memedulikan ucapan Dika, wanita tersebut mengangkat tangannya hendak menampar pipi mulus Icha.


Namun, seseorang langsung menahan tangannya.


“Jaga sikap Anda, Nyonya.”


Fahry yang baru saja datang langsung menahan tangan wanita tersebut, sebelum mendarat ke pipi Icha.


Icha hanya diam dan pasrah menerima penghinaan terhadapnya hari ini.


“Lepaskan!” teriaknya.


“Anda bukan anak kecil yang harus saya beri tahu berulang kali, bukan. Anda pasti tahu jalan pintu keluar,” Ujar Fahry melepaskan cengkeraman tangannya.


“Aku bersumpah sekarang, bahwa wanita murahan sepertimu tidak akan pernah menikah seumur hidupmu! Kamu tidak akan mendapat pria mana pun! Tidak akan ada pria yang mau menikah dengan wanita murahan sepertimu!” bentaknya sambil merekam dengan layar ponselnya.


“Kata siapa? Aku siap menikahinya,” ujar Fahry berbicara dengan lantang.


Aditya melangkah mendekati istrinya, menarik paksa tangan istrinya untuk keluar dari tempat tersebut.


“Aku bersumpah akan membalas perbuatan mu pak Heri, karena sudah membuatku malu!” geram Aditya dalam hati sambil melangkah keluar.


Semua orang menatap kepergian Aditya dan istrinya, sedangkan pak Heri juga keluar dari tempat tersebut tak kuasa menahan malunya.


Fahry mendekati Dika, berdiri di hadapannya.


“Izin kan aku untuk menikahi adikmu,” ujar Fahry meminta izin.


Tanpa menunggu lagi, Dika mengangguk.


Sebelumnya, Dika sudah meminta Fahry untuk menikahi adiknya. Untuk menyelamatkan adiknya dari sang papa. Namun, Fahry menolak karena tidak pantas menjadi suami Icha.


Flashback On.


Sepulang dari kantor, Dika mampir ke toko swalayan untuk membeli minum.


Karena merasa tenggorokannya sangat kering, ia memarkirkan mobilnya persis di depan toko tersebut.


Namun, ia tidak sengaja menangkap Aditya yang sedang duduk makan di sebuah restoran. Karena restoran tersebut terbuat dari dinding kaca, maka dari itu terlihat jelas dari luar siapa saja yang ada di dalamnya.


“Aditya ...” gumamnya.


Ia melihat Aditya yang begitu menikmati makannya, bersama wanita cantik di depannya dan juga di sampingnya ada anak kecil yang berusia sekitar tiga tahun.


“Siapa wanita yang ada di sampingnya?” tanya Dika dalam hati.


Ia masih memperhatikan mereka, tampak jelas Aditya menyuapi perempuan tersebut.


Deg!


Perasaan Dika mulai gusar, ia yakin bahwa wanita tersebut adalah orang yang spesial di hidup Aditya.


Ia mencari tempat duduk yang berdekatan dengan meja Aditya.


“Sayang, kapan kamu mengajak kami ke luar kota? Sebentar lagi adalah ulang tahun pernikahan kita.”


“Iya, tunggu awal bulan. Kita akan pergi berlibur ke luar negeri, aku akan mengatur jadwal pekerjaanku,” ujar Aditya.


“Oh ... jadi mereka suami istri!” ujar Dika dalam hati mengepal tangannya kuat.


Dika mendengar jelas percakapan mereka.


Setelah mendengar percakapan mereka, ia keluar dari restoran tersebut, Dika sudah mengetahuinya dan sangat jelas ia mendengar jika ternyata Aditya sudah beristri.


Dika menghela napas berat, ketika sudah di dalam mobil.


“Kurang ajar kamu Aditya, berani sekali kamu mempermainkan adikku!” kesal Dika.


Di saat masih kesal, Dika merasakan getar ponselnya dari dalam saku celananya.


“Fahry,” gumamnya.


“Assalamualaikum ... Fahry. Ada apa?” tanya Dika.


“Waalaikumsalam ... Dika, maaf besok sepertinya aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Karena aku harus mengantar Ifan ke kampung, karena ibunya sakit keras.”


Dika tidak mendengar Fahry berbicara, ia hanya sibuk dengan pikirannya.


“Fahry, kita bertemu sekarang.”


Menutup panggilan tanpa permisi.


Ia melajukan mobilnya ke arah rumah Fahry, beruntung tidak jauh dari tempat tersebut.


Tidak butuh waktu lama, Dika tiba di depan rumah Fahry.


“Assalamualaikum Dika ... ada apa?” tanya Fahry melihat wajah Dika yang seperti menahan amarahnya.


“Fahry, apa kamu mau menolongku?”


“Minta tolong apa? Semoga aku bisa membantumu,” sahut Fahry.


“Menikahlah dengan adikku,” ujar Fahry tanpa basa basi.


Fahry bungkam, ia tidak langsung menjawab.


“Dika, ada apa? Tidak mungkin aku menikahi adikmu, sedangkan Icha besok akan menikah.”


“Fahry, tolong aku! Untuk kali ini saja,” ujarnya menangkup kedua tangannya.


Dika menceritakan Icha pasti dipaksa oleh papanya untuk menikahi pria yang sudah beristri demi bisnisnya, sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Fahry menghela napas.


“Ini mustahil Dika. Aku tidak mungkin menikahi Icha, apa lagi aku tidak sederajat dengan kalian,” tutur Fahry.


“Fahry, tolong aku. Aku ingin menyelamatkan adikku,” ujar Dika.


“Maaf, Dika. Aku tidak bisa!” tegas Fahry.


Dika pasrah mendengar penolakan Fahry, ia kembali ke mobil miliknya berjalan dengan gontai. Ia gagal menyelamatkan adiknya dari pernikahan tersebut.


Fahry melihat kepergian Dika.


“Fahry. Maaf aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian.”


Fahry menghela nafas berat.


“Aku tahu, jika kamu juga menyukai Icha. Jangan pikirkan tentang derajat kita, sejatinya semua orang sama di mata Allah.”


“Tapi, bagaimana? Tidak mungkin aku datang langsung menikah dengan Icha, pasti orang tuanya marah termasuk pak Heri!” pungkas Fahry.


“Sebelum memintamu menikah dengan adiknya, pasti Dika sudah memikirkan semuanya,” tutur Ifan.


“Tapi ... Astaghfirullah.” Fahry duduk berulang kali menghela nafas berat.


“Fahry, Dika sudah banyak membantu kita. Sudah waktunya untukmu membalas kebaikannya, aku melihatkan sangat kacau hari ini, terlihat jelas dari raut wajahnya.”


“Apa kamu mau melihat Icha di sakiti oleh orang? Terlihat dari matamu, jika kamu menyayangi Icha.”


Fahry menggelengkan kepalanya.


“Saranku, ambil wudhu dan salat. Meminta petunjuk dari Allah,” usul Ifan.


Fahry mengangguk.


“Terima kasih,” ujar Fahry.


Ifan mengangguk menepuk bahu Fahry pelan.


Fahry menuruti apa yang di ucapkan oleh Ifan, sahabatnya. Di sepertiga malam ia terbangun dan mengadu kepada Allah, meminta petunjuk langkah mana yang harus ia ambil.


Hingga adzan subuh berkumandang, Fahry masih duduk di atas sajadah. Ia membaca Al-Qur’an beberapa halaman, untuk menenangkan hatinya.


Selesai salat subuh, Fahry mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Dika.


“Bismillah ... semoga ini jalan yang terbaik,” Ujarnya dalam hati lalu menekan tulisan kirim.


Flashback Off.