
Di kamar pengantin baru, mereka tidak melakukan apapun. Bahkan Dika mengajak Indah istrinya duduk di balkon kamar hotel.
Bersama beberapa camilan dan kopi yang tersedia di meja, karena sebelumnya Indah sudah memesan kepada petugas hotel.
Posisi Dika bersandar di bahu sofa, sedangkan Indah berbaring di dada bidang Suaminya.
“Tidur sayang, jika kamu mengantuk,” ujar Dika melihat istrinya beberapa kali menguap.
“Aku akan menunggumu. Sampai kapan Abang seperti ini? Jangan berlarut-larut dalam kejadian tadi, Bang.”
“Kita harus yakin, pasti Papa akan berubah suatu saat nanti. Mungkin, saat ini hati Papa masih tertutup,” Ujar Indah lembut.
“Iya Sayang. Kamu benar, hanya saja Abang merasa bersalah pada Icha. Lihatlah, kisah hidupnya tidak semulus orang lain.”
“kata siapa? Semua orang pasti mempunyai jalan hidup yang sulit Bang. Hanya saja masalahnya berbeda, kita juga tidak mengetahui masalah setiap orang. Jadi sekarang, Abang harus berpikir positif. Kita tidak tahu ke depannya bagaimana nanti kehidupan Icha,” tutur Indah lembut.
“Iya sayang. Tetap seperti ini, menjadi Istri yang selalu memberi semangat suamimu,” ujar Dika memeluk istrinya.
“Oh ya Bang. Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Indah.
“Boleh. Tanyakan saja,” sahut Dika pada istrinya.
“Bang, bagaimana istri dari Aditya mengetahuinya jika suaminya sedang melangsungkan pernikahan?”
Dika hanya diam.
“Maaf, jika pertanyaan Indah membuat Abang mengingat lagi kejadian tadi.”
“Tidak sayang, jangan meminta maaf. Sebenarnya aku sudah mengetahui sehari sebelum berlangsungnya pernikahan. Abang yang meminta Fahry untuk menikahi Icha, karena Abang pasti mengetahui pasti akan kejadiannya seperti itu, Karena Abang sendiri yang mengirim pesan pada istrinya.”
Indah mengangguk mengerti.
“Saat ini, Abang merasa sangat bersalah pada Fahry. Abang mempunyai hutang besar padanya, yaitu hutang rasa bersalah. Walaupun Fahry sudah memaafkan Abang, tapi Abang masih sangat merasa bersalah padanya.”
“Indah mengerti Bang. Abang jangan berlarut dalam rasa bersalah, lebih baik kita bantu Fahry dan Icha.”
Dika mengangguk.
“Itu pasti sayang. Abang akan selalu membantu mereka dan memantau dari jauh saja, agar tidak ada yang mengusik rumah tangga mereka termasuk Papa. Aku sangat tahu sifat Papa yang keras kepala, ia tidak akan membiarkan siapapun lepas begitu saja, sebelum memuaskan keinginannya.”
“Sabar sayang.”
“Masuk yuk,” ajak Indah mengalihkan pembicaraan karena melihat suaminya yang mulai kembali emosi.
“Kenapa? Kamu kedinginan?” tanya Dika.
Indah mengangguk.
“Baiklah,” sahut Dika lembut.
Indah beranjak dari dada bidang Suaminya masuk ke dalam kamar hotel lebih dulu, di ikuti oleh Dika di belakangnya.
Indah lebih dulu naik ke atas tempat tidur, menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya.
Begitu juga dengan Dika, yang ikut masuk ke dalam selimut.
“Abang, maaf Indah belum bisa memberikan hak Abang. Karena Indah sedang datang bulan,” ujar Indah merasa bersalah.
Dika tersenyum ia menarik Indah ke dalam pelukannya.
“Tidak perlu meminta maaf sayang. Kalau sudah selesai nanti, aku tidak akan mengampunimu. Itu sebagai hukuman telah memblokir nomorku dulu!” ancam Dika dengan lembut.
“Iya, iya maaf. Hukum aku sepuas Abang.”
Keduanya terkekeh.
Dika memeluk istrinya dengan erat, karena kelelahan menyambut tamu yang hadir di acara pernikahan mereka. Tak butuh waktu lama untuk mereka tidur, hingga masuk ke alam mimpi indah mereka sesuai dengan nama istrinya, Indah Permata Ayu dewi.
Tidak dengan pak Heri, ia masih duduk di balkon hingga tengah malam, masih dengan setengah kesadaran akibat minum.
“Argghh ... kenapa semua anakku tidak pernah menuruti perkataanku?!” geram pak Heri membanting botol kosong ke lantai yang ada di tangannya, hingga hancur berkeping dan berhamburan kemana-mana.
“Bahkan tidak memandangku sebagai Papa kalian! Aku akan menganjurkan kalian, hingga mengemis kembali kepadaku!”
Ia mengambil ponsel miliknya dari dalam saku celananya, walaupun masih dengan setengah kesadaran pak Heri masih bisa mencari nomor orang yang ingin ia hubungi.
Tanpa ia sadari jika istrinya masih melihatnya dari kejauhan, karena dirinya juga tidak bisa tidur karena ulah suaminya yang berisik di balkon.
“Halo,” ujar pak Heri menghubungi seseorang.
Bu Sintya penasaran dengan siapa suaminya berbicara di telepon, apalagi di tengah malam begini dengan setengah kesadaran akibat mabuk minuman beralkohol.
Rasa penasaran yang begitu tinggi, hingga membuatnya melangkah perlahan mendekati pintu balkon agar mendengar suaminya sedang berbicara dengan siapa.
“Dimana kalian? Aku ada tugas untuk kalian, yang akan di laksanakan malam ini juga!”
Bu Sintya mengerutkan keningnya heran, tugas apa yang diminta oleh suaminya untuk di kerjakan malam ini.
“Bakar semua rumah singgah yang Dika dan Icha bangun itu. Tidak berguna! Bakar hingga habis tak bersisi!” pekiknya.
“Jangan menunggu lagi, cepat sekarang kerjakan!” benaknya.
Tampak pak Heri langsung mengakhiri panggilan tersebut dengan kesal, ia meletak kasar ponselnya di meja.
“Astaghfirullah ...” ucap Bu Sintya dalam hati sambil mengelus dadanya.
“Aku harus memberitahu Abang sekarang,” gumam Sintya segera pergi dari tempat tersebut agar tidak ketahuan oleh suaminya.
Bu Sintya keluar kamarnya, membawa ponsel miliknya dan masuk ke dalam kamar Icha putrinya.
Ia menekan nomor putranya Dika berulang kali, akan tetapi tidak diangkat olehnya.
“Sepertinya, Abang sudah tidur. Bagaimana ini? Rumah itu adalah impian Icha dan Dika sejak dulu, bagaimana jika mereka benar-benar membakarnya.”
Ia berusaha menghubunginya lagi, akan tetapi tetap sama.
“Huftt ... sepertinya ponselnya di mode silant!” gumam Bu Sintya.
“Icha. Iya Icha, aku mencoba menghubunginya saja.”
Ia kembali menekan nomor putrinya, akan tetapi nomor Icha tidak aktif.
“Ya Allah ... lindungi kedua anakku dan rumah singgah impian mereka,” ujar Bu Sintya dalam hati.
Bu Sintya kembali menghubungi nomor putranya, ia melangkah bolak balik ke kiri dan ke kanan.
“Sintya!” teriak pak Heri memanggil nama istrinya.
Bu Sintya begitu terkejut, untuk pertama kalinya suaminya memanggilnya dengan sebutan nama.
Bu Sintya masih mematung di tempatnya berdiri.
Bruk!
Suara pintu kamar terbuka sangat lebar, mas Heri menahan amarahnya. Terlihat dari wajahnya yang memerah menahan emosinya.
“Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu sedang merencanakan sesuatu?!” bentak pak Heri.
“Ti-tidak. Aku tidak merencanakan apapun,” pungkas istrinya.
“Lihat saja jika kamu berani mengacaukan rencana ku, aku tidak segan akan menghabisimu!” ancam pak Heri.
Pak Heri kembali melangkah meninggalkan istrinya yang sedang mematung.