Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 35



Hari demi hari sudah berlalu, segala persiapan resepsi pernikahan sudah 95% selesai.


Semakin dekat hari pernikahannya, ia lebih banyak diam dan sering mengurung diri di kamar. Memperbanyak ibadahnya, tiada hari tanpa mengadu kepada Allah.


Icha sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya, atas permintaan Papanya. Jika Icha sudah menikah nanti, ia tidak di perbolehkan untuk bekerja.


Dirinya bukannya tidak mau menikah, apalagi menikah adalah suatu ibadah.


Akan tetapi ia belum mengenal lebih banyak tentang Aditya, bahkan sekedar menghubungi atau sekedar bertanya lewat pesanpun Aditya tidak pernah.


🌹🌹🌹


Pagi ini di temani rintik hujan, Icha sudah bangun. Selepas salat subuh ia tidak tidur. Mengingat hari ini adalah hari pernikahannya dan bersamaan dengan pernikahan Abangnya juga.


Tok! Tok!


Mendengar ketukan pintu, Icha melangkah untuk membukanya.


“Icha sayang,” panggil mamanya.


“Iya Ma,” sahut Icha lembut.


Bu Sintya masuk membawa nampan berisi sarapan untuk putrinya, ia tahu jika putrinya tersebut tidak makan sejak semalam.


“Sarapan dulu sayang,” Ujarnya.


Icha mengangguk, mereka duduk di sofa yang ada di kamarnya.


Bu Sintya menyuapi putrinya tersebut dengan telaten.


“Ma, kak Anggun belum datang?” tanya Icha.


Sejak kemarin dirinya menunggu kedatangan kakak perempuannya.


“Belum, sayang. Kak Anggun sepertinya tidak bisa hadir, karena ikut bersama suaminya ke luar kota.”


Icha menunduk sedih, karena ingin di hari bahagianya semua keluarga berkumpul. Walaupun pernikahan ini terpaksa ia lakukan atas kehendak sang Papa.


“Jangan sedih sayang. Doakan kak Anggun selalu sehat,” Ujar sang Mama.


Bukan Icha saja yang bersedih, Bu Sintya pun turut bersedih. Apalagi sudah beberapa Minggu ini putrinya Anggun tidak bisa di hubungi bahkan ia sempat ke rumahnya tapi tidak ada siapapun disana. Jadi, terpaksa ia berbohong pada putri bungsunya.


“Iya, Ma.” Icha mengangguk mengerti.


“Sekarang habiskan sarapanmu, setelah itu kamu akan dirias. Karena jam sepuluh akan di laksanakan akad nikahnya,” tutur Bu Sintya.


“iya, Ma.”


Bu Sintya kembali menyuapi putrinya.


“Putri Mama sekarang sudah sangat besar ya. Rasanya baru saja Mama menggendong mu dan menyusui. Sekarang sudah mau menikah, dan semua itu terasa sangat cepat sekali berlalu.”


“Mama,” lirih Icha lalu memeluk sang Mama.


Bu Sintya memeluk erat sang putri, berulang kali mencium pucuk kepala Icha.


Awalnya dirinya memang belum setuju putrinya menikah saat ini, marah, sedih, kesal jadi satu.


Namun, ia menyadari jika ini adalah pilihan putrinya sendiri, ia berusaha menerimanya sebagai orang tua yang baik untuk putrinya.


“Sayang. Jika sudah menikah nanti, jangan lupa untuk selalu berkunjung ke rumah Mama ya,” tutur Bu Sintya dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Icha mengangguk, di dalam pelukan wanita yang melahirkannya.


Sementara di kamar lain, tampak Dika sibuk menghubungi seseorang. Ia tampak gusar karena panggilannya sejak tadi tidak di angkat.


“Dika,” panggil Papanya membuka pintu kamarnya.


“Iya, Pa.”


“Sudah bersiap?” tanya Papanya.


“Sudah, Pa.”


“Bagus. Setelah adikmu bersiap, kita akan turun.”


Dika mengangguk.


Karena saat ini mereka sudah menginap di hotel tempat mereka mengadakan acara resepsi pernikahan.


“Kamu menghubungi siapa?” tanya pak Heri melihat Dika yang sedang berusaha menghubungi seseorang.


“Hah? Oh ini ... teman Dika Pa,” sahut Dika.


“Sejak tadi Abang menghubunginya, akan tetapi tidak di angkat sama sekali. Entah ke mana dia?” tambah Dika lagi.


“Oh. Mungkin sedang dalam perjalanan,” imbuh pak Heri.


“Semoga saja,” Sahutnya menghela nafas pelan.


“Ayo kita turun, semua orang sudah siap. Tapi, tunggu dulu Papa mau ke kamar putri Papa.”


Dika mengangguk. Melihat papanya sudah keluar dari kamar, Dika kembali menghubungi nomor tersebut.


“Di mana putriku? Apa dia sudah bersiap?” tanya pak Heri.


Semenjak Icha setuju menikah dengan pria pilihannya, ia sering sekali menyebut Icha dengan kata putrinya. Sangat berbeda dengan yang dulu, saat ini terlihat jelas terpancar aura kebahagiaan dari wajah pak Heri.


“Itu, baru selesai di rias.” Istrinya menunjuk ke arah Icha yang duduk di tepi tempat tidur.


Pak Heri melihat Icha duduk dengan tatapan kosong, dengan pakaian gamis senada berwarna putih. Tentunya dengan harga yang fantastis.


“Icha ...” panggil pak Heri.


Icha terlihat terkejut, melihat suara papanya memanggilnya.


“Hah? Papa, kapan Papa disini?” tanya Icha tampak terkejut.


“Apa yang sedang kamu pikirkan? Hingga tidak melihat Papa masuk,” tutur pak Heri dudu di samping putrinya.


“Tidak ada Pa, Icha hanya gugup.”


Pak Heri tersenyum.


“Wajar kalau gugup. Ini yang pertama bagimu, Papa juga dulu begitu, saat ingin menikahi Mamamu,” imbuh pak Heri.


“Iya pa,” sahut Icha sambil tersenyum paksa.


“Pa, apa boleh Icha memeluk Papa?” tanya Icha.


“Tentu saja sayang. Kenapa harus meminta izin,” ujar pak Heri langsung memeluk putrinya.


Bu Sintya menatap mereka sambil tersenyum, pemandangan yang ia tunggu sejak dulu.


Setelah cukup lama mereka berpelukan, pak Heri melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah pukul 9.20. Sedangkan akad nikah akan di laksanakan pukul 10.00 pagi.


“Ayo kita turun, penghulu sudah menunggu dan calon suamimu juga sudah tiba.”


Icha mengangguk.


Bu Sintya menghampiri mereka, lalu mengajak Icha untuk turun.


Mereka melangkah bersama memasuki lift, Icha berusaha tersenyum walaupun tidak dengan hatinya saat ini.


Acara akad nikah pagi ini di laksanakan secara bergantian di hari yang sama.


Dika lebih dulu mengucap ijab Kabul, lalu bergantian dengan adiknya Icha yang di nikahkan oleh papanya sendiri.


“Sah ...” sahut para saksi yang duduk di samping kiri dan kanan.


Dika bernafas lega, mengucapnya secara lancar.


Begitupun dengan kedua orang tuanya, setelah itu wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut di bawa oleh paman dan bibinya untuk duduk di samping Dika.


Dika tak berkedip melihat yang istri begitu cantik dan anggun.


“Ekhem ...” deham pak Candra.


Seketika Dika langsung tersadar.


Mereka membacakan doa, lalu tanda tangan dan terakhir Indah mencium tangan sang suami.


Icha tersenyum melihat sang kakak begitu bahagia, terlihat dari wajah keduanya.


“Aku akan melakukan apapun demi Abang,” gumam Icha dalam hati.


Kini tiba giliran Aditya dan Icha. Namun, Icha mengernyit heran tidak ada satupun keluarga dari pihak Aditya yang hadir.


Aditya tampak gugup, begitupun dengan Icha berulang kali Icha menghela nafas.


“Kamu tenang ya sayang,” bisik Bu Sintya pada putrinya.


“Saya nikahkan dan kawin kan Aditya Pratama bin ...”


Belum selesai pak Heri berbicara, langsung di sela oleh wanita yang baru tiba di tempat tersebut dengan menggendong seorang anak berusia sekitar tiga tahun.


“Pernikahan ini tidak akan sah. Karena belum meminta izin kepada saya selaku istri sahnya!” sela wanita tersebut.


Semua orang menatap ke sumber suara.


Aditya diam terpaku di tempat duduknya.


“Hei ... siapa kamu? Datang tidak di undang dan mengacaukan pernikahan putriku!” bentak pak Heri menatap tajam wanita tersebut.


“Coba tanyakan pada pria yang duduk di depan anda!” geram wanita tersebut.


“Tanyakan padanya, siapa aku? Dan apa peranku dalam hidupnya?!” ujarnya menatap tajam Aditya.


.


.


.