Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 73



“Hahaha ....”


Suara tawa menggema di salah satu kamar milik Aditya, ia tertawa bahagia apalagi mendengar berita jika pak Heri mengalami kecelakaan.


“Aku sudah katakan! Jangan pernah bermain-main denganku! hahaha ....”


“Huft ... kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Kamu sudah mempermalukan ku di depan umum waktu itu, hingga membuat bisnisku menurun. Kurasa ini balasan yang setimpal!” menyeringai licik.


“Maaf Icha, aku harus menyingkirkan orang yang menghalangi pernikahan kita waktu itu.”


“Sebentar lagi kita akan bersama, Sayang,” ujarnya menatap foto Icha di layar ponselnya.


Tok!


Tok!


Ceklek!


“Papa,” panggil anak kecil tersebut


“Iya, Sayang. Kamu dari mana?” tanya Aditya pada putranya.


“Mainan, sama Mama.”


“Mas, kenapa sih kamu kok dingin banget sekarang? Disini tuh seharusnya aku yang marah! Kenapa malah kamu yang jadi marah?!” seru istrinya.


Karena sejak kejadian beberapa bulan yang lalu, sikap Aditya padanya langsung berubah menjadi dingin. Bahkan berubah menjadi kasar.


“Kamu ingin menikahi gadis dan kamu berbohong jika sudah mempunyai keluarga. Apa salahku padamu, Mas? Hiks ... tega kamu Mas!” sentak istrinya.


Aditya tidak peduli dengan apa yang di ucapkan oleh istrinya, ia sibuk menyuapi putranya buah jeruk yang ia kupas.


Istrinya menghentakkan kakinya dan berlalu dari kamar itu.


Aditya hanya bisa menghela nafas kasar.


“Aa ...” Ujar putranya membuka mulutnya lagi, karena melihat Aditya berhenti menyuapinya.


“Ini, Sayang.” Kembali menyuapi putranya yang begitu lahap memakan buah jeruk kesukaannya.


🌹🌹🌹


Setelah salat subuh, Icha membantu ibunya di dapur membuat kue untuk di jual.


Sedangkan Fahry sudah berangkat ke pasar, untuk memilih sayuran dan ikan segar untuk di jual kembali di desa itu.


“Assalamualaikum, Bu.”


“Waalaikumsalam, Fahry. Kok tumben siang?” tanya penjual ikan langganan Fahry.


“Haha iya Bu. Motornya sedikit rewel,” sahutnya.


“Semoga banyak rezekinya, biar bisa membeli motor baru.”


“Aamiin ... terima kasih doanya.”


“Ini pesananmu sudah Ibu pisahkan, masih segar semua. Ibu pikir kamu tidak jualan hari ini,” Ujar ibu penjual ikan tersebut sambil menyerahkan satu kantong ikan segar.


“Jualan Bu, berapa semuanya Bu.”


“Gak apa-apa Fahry, bayar besok-besok juga ibu tidak marah kok,” ujar ibu tersebut karena melihat Fahry yang selalu bayar penuh tidak pernah berhutang padanya.


“Jangan Bu. Semuanya sudah saya hitung, saya tidak ingin berhutang. Jika saya meninggal mendadak, kasihan istri saya yang menanggung.”


“Aduh, Fahry! Kamu kok ngomong kematian sih. Ibu percaya kok padamu, kamu itu orang yang jujur.”


“Iya, Bu. Terima kasih sudah mempercayai saya,” tutur Fahry lembut.


Fahry menyerahkan uangnya pada ibu penjual ikan dan selalu saja Fahry memberi lebih uang lebih pada ibu tersebut.


“Fahry, uang yang kamu berikan selalu lebih. Sebentar, Ibu ambil lebihnya.”


“Tidak perlu Bu, simpan saja untuk jajan si kecil.”


“Alhamdulillah, terima kasih Fahry.”


“Sama-sama Bu, saya pamit dulu Bu. Assalamualaikum ...” pamit Fahry.


“Waalaikumsalam ... semoga laris manis Fahry.”


“Aamiin ...” sahutnya.


Setelah mengambil ikan yang sudah ia pesan, Fahry mencari sayuran berserta yang lainnya.


Tiba-tiba ada yang menabraknya dari arah belakang.


Bruk !


Hingga ikan yang Fahry bawa terjatuh ke tanah.


“Aduh, Maaf Pak. Saya tidak sengaja, saya bantu ya,” ujar wanita tersebut.


“Gak apa-apa Mbak. Tidak perlu Mbak, terima kasih sebelumnya.”


“Tidak apa-apa,” ujarnya sedikit memaksa.


“Astaghfirullah ....”


Fahry langsung mengalihkan pandangannya.


“Maaf, Mbak. Saya permisi,” Ujarnya.


Fahry ingin beranjak dari tempat itu, bahkan masih ada sisa ikan beberapa ekor yang tertinggal.


“Tolong ... tolong ...!” teriak wanita tersebut.


Fahry mengernyit heran, kenapa wanita yang ada di hadapannya itu berteriak meminta tolong.


“Woy, ada apa ini?” tanya para pria yang ada di pasar tersebut.


“Dia mau melecehkan ku!” menunjuk Fahry dengan tangisan yang di buat-buatnya.


“Maaf, Mbak. Saya tidak pernah melakukan hal keji itu! Kenapa anda menuduh saya?!” sentak Fahry tidak terima dengan tuduhan wanita tersebut.


“Hei, anak muda. Berani sekali dirimu mau melecehkan wanita yang ada di desa ini! Kamu orang baru sudah berani melecehkan wanita!” bentak salah satu pria menarik kerah bajunya.


“Ini fitnah Pak. Jangan menuduh tanpa bukti!” seru Fahry.


“Wanita itu pembohong!” teriak salah satu wanita penjual ikan tadi.


Semua orang menatapnya.


“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, wanita ini sengaja menabrak Fahry.” Menunjuk wanita tersebut sambil menatapnya tajam.


“Heh! Wanita gatal! Kamu kira saya tidak melihat perbuatanmu tadi, hah? Kamu mau aku beri pelajaran kalau kamu tidak mengaku!” memperlihatkan pentungan kecil di tangan, benda tersebut biasanya ia pakai untuk memukul kepala ikan yang masih hidup


Wanita tersebut terlihat sedikit ketakutan dan menunduk.


“Wulan, jawab jujur. Apa benar pria ini melecehkan mu.” Tanya pria yang masih menarik kerah baju Fahry.


Wulan menggelengkan kepalanya.


Perlahan pria itu menurunkan tangannya pada kerah baju Fahry.


“Dasar wanita ini, bikin malu saja!” serunya.


“Maaf, Pak. Kami sudah salah paham pada Anda,” tutur pria itu merasa bersalah.


“Huhhuuu ...” teriak para pedagang lainnya pada Wulan.


Merasa malu di teriak oleh para pedagang tersebut, Wulan berlari dari tempat tersebut.


Wulan merupakan salah satu pedagang dari tempat pasar tersebut, dia dikenal dengan janda centil di desa tersebut karena dengan tingkah yang memang centil pada pria.


“Sudah, sudah,” ujar Fahry dan ibu penjual ikan yang menolongnya, untuk membubarkan para pedagang yang sempat berkumpul.


“Ibu, terima kasih sudah menolong saya. Semoga Allah membalas kebaikan Ibu.”


“Sama-sama Fahry. Ini juga memberi pelajaran pada wanita itu, karena memang Ibu melihat wanita itu yang menabrakmu. Ibu hanya memberi kesaksian karena Fahry memang tidak bersalah.”


Fahry tersenyum mendengar penuturan ibu penjual ikan yang menjadi langganan Fahry selama hampir tiga bulan ini.


“Sekali lagi saya berterima kasih, Bu.”


“Jangan berterima kasih, Fahry. Ini tugas Ibu menolong sesama manusia.”


Fahry Kembali mengangguk.


Setelah itu, Fahry Kembali berpamitan pada ibu penjual ikan tersebut.


Fahry kembali berbelanja kebutuhan lainnya, seperti sayur-sayuran untuk ia jual kembali.


Fahry sudah hampir kesiangan hari ini, karena kejadian tadi menyita waktunya untuk berbelanja.


Sementara di rumah, Icha duduk di teras rumahnya sambil menunggu suaminya datang.


“Kok, Mas Fahry belum pulang dari pasar?” gumamnya dalam hati.


Setiap pulang dari pasar, Fahry selalu mampir dulu ke rumah untuk mengambil kue buatan ibu dan dirinya untuk di jual.


Namun, sudah lewat jam seperti biasanya suaminya belum pulang.


“Mbak Icha,” panggil ibunya Sifa membawa putrinya yang sudah cantik.


“Haduh, gemas banget sama pita di rambutnya. Sini sayang,” ujarnya melihat Sifa yang tersenyum melihat Icha berbicara.


Icha mengambil Sifa dan berulang kali mencium pipi gembulnya.


“Wangi banget si cantikku ini, mau kemana sih sudah cantik begini?” bertanya pada bayi yang masih berumur delapan bulan tersebut.


“Mau beli sayur Mbak Icha,” sahut ibunya.


“Suamimu belum datang, Icha?” tanya ibunya Sifa.


“Belum, Mbak. Mungkin sebentar lagi,” sahutnya.


“Kok tumben jam segini belum datang? Suamimu itu sangat tampan, kamu harus berhati-hati Icha.”


“Hati-hati kenapa Mbak?” tanya Icha penasaran.