
Hari ini Dika dan Indah ke luar negeri bersama, karena ada tuntutan pekerjaan, sekaligus mereka juga berbulan madu atas permintaan pak Candra.
“Huh ... akhirnya tiba juga,” keluh Dika merasa sangat lelah dengan perjalanan mereka.
“Cape Bang?” tanya Indah meletakkan tas miliknya.
Dika mengangguk.
“Istirahat dulu. Sore kita ada pertemuan,” tutur lembut Indah.
“Iya, sayang.”
Dengan posisi tengkurap, Dika mulai memejamkan matanya.
Namun, mendengar gemercik air dari kamar mandi. Dika langsung bangun, melihat istrinya tidak ada di kamar.
“Dia mandi?” gumamnya.
Dika langsung tersenyum licik, segera beranjak dari tempat tidurnya dan melepas semua pakaiannya, hanya meninggalkan celana pendek saja.
Sebuah keberuntungan kamar mandi tersebut tidak di kunci oleh Indah, hanya di tutup rapat saja.
“Bang,” pekik Indah karena terkejut Dika yang berada di belakangnya sama-sama tidak mengenakan pakaian.
“Bang, gantian. Setelah aku selesai baru Abang mandi!” protes Indah.
“Aku tidak mau. Kamu mandi lama sekali, aku maunya sekarang!” jawab asal Dika.
Namun, tangannya tidak bisa diam. Membuat Indah mengerti apa yang diinginkan suaminya.
Dika membalikkan tubuh istrinya agar menatap dirinya. Di bawah guyur shower mereka saling melu*at satu sama lain.
Bahkan Dika tidak membiarkan istrinya melepaskan pangutan mereka.
Dan terjadilah perang antara suami istri ini di dalam kamar mandi, perang menyenangkan tentunya.
Namun, karena merasa tidak puas di kamar mandi, Dika menggendong istrinya keluar kamar mandi dan melanjutkannya di tempat tidur.
“Huh ... terima kasih sayang.”
Dengan nafas yang naik turun di antara keduanya.
Indah tersenyum menatap suaminya yang masih berada di atas tubuhnya.
“Sama-sama Bang, dengan senang hati aku melayanimu,” tutur lembut Indah memegang kedua pipi suaminya.
“Kalau begitu, kita lakukan lagi,” ujar Dika tersenyum.
Membuat Indah sedikit cemberut, Dika tidak peduli dengan wajah istrinya yang cemberut.
Dika seakan belum puas menjamah tubuh istrinya, lagi dan lagi ia mengacak tubuh istrinya di atas tempat tidur, hingga keduanya tertidur karena kelelahan.
Satu jam mereka tertidur, Dika lebih dulu mengerjapkan kedua kelopak matanya. Karena merasa perutnya keroncongan karena belum makan.
Dika melihat jam dari layar ponselnya, melihat sudah pukul dua. Sedangkan pertemuan mereka pukul empat sore di hotel yang sama, mereka masih mempunyai dua jam lagi sebelum pertemuan.
Dika memesan makanan melalu ponsel miliknya, setelah selesai ia kembali memeluk istrinya yang masih tidur pulas tanpa mengenakan apapun.
“Sayang, bangun,” bisik Dika di daun telinga istrinya.
“Hem ...” deham Indah dengan mata yang masih tertutup.
Dika tersenyum simpul, apalagi banyak sekali meninggalkan bekas kissmark di tubuh putih istrinya.
“Sayang. Apa kamu mau lagi?” goda Dika.
Mendengar itu, Indah langsung membuka matanya.
“Jangan lakukan sekarang Bang. Aku lelah,” ujarnya dengan suara parau.
“Iya. Tapi, jangan salahkan aku, jika aku menginginkannya lagi. Lihatnya caramu tidur saja sudah menggodaku, bahkan kamu tidak mengenakan pakaianmu,” goda Dika.
Matanya masih tertuju area favoritnya, membuat Dika menelan salivanya kasar.
Indah segera menarik selimutnya dan menutupi semua tubuhnya hanya menyisakan kepalanya saja.
Dika terkekeh melihat istrinya yang begitu lucu, padahal dirinya hanya ingin menggoda saja.
“Mandi, sayang. Sebentar lagi makanan kita datang,” ujar Dika.
Indah mengangguk, ia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan selimut yang masih melekat di tubuhnya.
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan, Dika mengenakan pakaiannya terlebih dahulu sebelum membuka pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka, melihat seorang pelayan mengantarkan makanan untuk mereka.
“Terima kasih,” ujar Dika tidak membiarkan para petugas hotel tersebut masuk.
Karena takut istrinya, tiba-tiba keluar dari kamar mandi.
Dan benar saja, setelah menutup pintu kamar bersamaan dengan istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.
“Sayang, makanannya sudah datang. Cepat kenakan pakaianmu, aku sangat lapar. Aku menunggumu di balkon,” ujar Dika membawa nampan ke arah pintu balkon.
“Iya, Sayang.”
Indah mengenakan pakaiannya, mengingat dua jam lagi ada pertemuan. Indah mengenakan pakaian rapinya, karena ia berpikir tidak gontai ganti pakaian lagi.
Setelah itu ia melangkah ke arah balkon mendatangi suaminya yang tengah duduk sambil membuka layar ponselnya.
“Sudah?” tanya Dika melihat istrinya datang.
Indah mengangguk.
Mereka makan dengan tenang, sesekali mereka saling menyuapi satu sama lain secara bergantian.
Setelah makan, Dika menarik istrinya agar mendekatinya untuk duduk.
“Sudah kenyang?” tanya Dika.
“Sudah,” sahut Indah sembari memberi kecupan hangat di tangan suaminya.
“Kemari,” ujar Dika menarik istrinya lalu mendekapnya.
“Abang ingin mempunyai anak?” tanya Indah.
Ia sempat berpikir jika Dika tidak ingin mempunyai anak, karena setelah menikah sering Indah bertanya. Namun, Dika selalu mengalihkan pembicaraannya.
“Tentu saja, jika Allah mengizinkan. Maaf, pasti kamu berpikir jika aku tidak ingin mempunyai anak,” tutur Dika.
Indah mengangguk.
“Iya. Sebenarnya bukan tidak mau. Aku takut jika aku tidak bisa mendidik anakku dan akan membuatnya menjadi tidak baik. Contohnya seperti kami, yang tidak pernah akur dengan Papa. Aku hanya takut, sayang. Aku tidak ingin anakku merasakan apa yang aku dan Icha rasakan.”
Indah menghela nafas, tidak habis pikir entah kenapa suaminya bisa berpikir seperti itu.
“Tapi, setelah aku mendengarmu mengaji dan selalu salat malam. Aku yakin, kamu bisa mendidiknya sayang.”
“Kenapa Abang Nisa berpikir seperti itu? Berarti Abang meragukan diri Abang sendiri!”
“Maafkan aku Sayang. Abang hanya trauma, dengan kehidupan Abang dari dulu hingga sekarang.”
Indah mengelus pelan bahu suaminya.
“Serahkan semuanya pada Allah. Kita hanya dapat merencanakannya dan Allah yang menentukan segala-galanya. Kita juga tidak bisa mengubah, apa yang menjadi garis takdir kan?”
Dika mengangguk.
“Terima kasih Sayang. Semoga dia cepat hadir di dalam rahimmu,” ujar Dika mengusap perut rata istrinya.
“Sekarang, aku mau mandi dulu. Sebentar lagi kita ada pertemuan di bawah,” ujar Dika.
Istrinya kembali mengangguk.
Sebelum masuk ke kamar, Dika tidak membiarkan Indah duduk diam. Bahkan tangan jahilnya, masuk ****** masuk ke dalam baju istrinya.
Plak!
Indah memukul pelan tangan istrinya, bukan menolak. Hanya kesal karena tidak tahu tempat.
“Sayang. Ini tempat terbuka!” menatap suaminya dengan wajah cemberutnya.
Dika terkekeh dengan cepat menarik tangannya kembali, lalu mencium tepat di bibir istrinya karena gemas melihat wajah istrinya yang cemberut.
“Awas kamu nanti malam!” bisik Dika dengan menyeringai licik.
“Cepat sana mandi!” Ujar Indah mendorong tubuh suaminya.
Karena dirinya juga masih malu, ketika suaminya apalagi Dika sering bicara ngelantur membicarakan kegiatan mereka di atas rancang.
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba, dimana Dika dan Indah melangkah beriringan menuju ke lantai bawah hotel. Dimana tempat mereka mengadakan pertemuan.
Sambil melangkah tidak henti-hentinya, Dika memuji kecantikan istrinya.
Walaupun Indah masih belum mengenakan hijab, tapi Indah selalu mengenakan pakaian yang sewajarnya bisa bilang masih sopan.
“Sayang, kamu sangat cantik,” bisik Dika sambil melangkah.
“Kamu, juga sangat tampan,” balas Indah bicara pelan.
Mereka tiba di salah satu kamar VIP, yang sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara.
“Selamat datang Pak Dika dan Nona Indah,” sapa mereka yang sudah menunggu mereka.
Mereka menggunakan bahasa Inggris, yang diterjemahkan oleh authornya. 🤭😊
Mereka disapa dengan sangat ramah, ada beberapa orang di dalam kamar tersebut.
“Terima kasih,” sahut mereka dalam bahasa Inggris.
Lama mereka berbincang tentang pekerjaan, pak Candra memang sengaja mengirim mereka karena ia juga tahu kemampuan Dika yang luar biasa. Sekaligus pak Candra memberi bonus untuk keponakannya tersebut untuk berbulan madu.
Tanpa Dika dan Indah sadari, jika salah satu dari mereka menatap Indah dengan tatapan nafsu. Menatap Indah dari atas sampai bawah, mereka belum mengetahui jika Indah dan Dika adalah suami istri.
Apalagi ia menatap bagian dada Indah yang sedikit menonjol, membuatnya semakin bernafsu.
“Maaf, Nona Indah. Apakah aku boleh berbicara denganmu?” tanya pria muda itu.
Indah menatap suaminya untuk meminta izin.
Dika mengangguk.
“Iya, Tuan,” sahut Indah setuju.
Pria tersebut mengajaknya untuk duduk sedikit menjauh dari tempat tersebut, masih di ruangan yang sama. Namun, meja dan kursi terpisah dari yang lain.
“Ada yang saya bantu Tuan?” tanya Indah dalam bahasa Inggris.
“Tidak ada yang perlu di bantu. Tapi, saya ingin bicara serius kepadamu.”
Indah mengernyit bingung.
“Maaf. Bicara serius tentang apa? Bukan kah sejak tadi kita berbicara serius?”
“Iya. Maksud saya, bukan masalah pekerjaan. Tapi ...” pria itu menggantungkan ucapannya.
“Tapi apa?”
Tanpa di duga pria itu mengambil tangan Indah, lalu meletakkan di area kema**nnya sudah mengeras sejak tadi.
Indah membuatkan matanya, lalu menarik cepat tangannya dan langsung berdiri.
Plak!
Tamparan keras mengenai pipi kiri pria tersebut, hingga menyebabkan kemerahan di pipinya.
Semua orang menghadap ke arah mereka, tak terkecuali Dika.
Dika melangkah mendekati istrinya.
“Ada apa Sayang? Kenapa kamu menamparnya? Mereka adalah klien penting kita,” ujar Dika mengingatkan istrinya.
“Tapi, dia kurang ajar padaku!” menatap tajam pria tersebut yang masih mengelus pipinya masih panas akibat tamparan Indah.
“Maksudnya?” tanya Dika yang tidak mengerti.
“Kamu tanyakan saja pada dia!” menunjuk ke wajah pria tersebut dengan murka.
“Ada apa Tuan? Istri saya bilang, jika anda kurang ajar padanya?” tanya Dika dalam bahasa Inggris, sambil menatapnya.
“Apa? Istri?” tanyanya terkejut.