Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 45



Di tempat lain, Icha dan Indah sedang sibuk memilih apa yang ingin mereka beli.


Setelah selesai, mereka meletakkan barang belanjaan di meja kasir.


Saat Icha hendak mengeluarkan uang dari dalam dompetnya, berniat ingin membayar. namun, Indah Kakak iparnya menahannya.


“Biar aku saja,” ujar Indah.


“Tapi, kak ...”


“Sudah! Kakak tidak menerima penolakan,” sahut Indah lembut.


Dengan berat hati, Icha terpaksa membayarkan semua belanjaannya.


Icha merasa tidak enak pada kakak iparnya, karena dirinya memang belanja banyak untuk kebutuhan dapur.


Karena dirinya dan Fahry memang belum belanja, akibat pernikahan mendadak mereka hingga tidak mempersiapkan semuanya.


“Ayo,” ajak Indah membawa sebagian tas belanjanya.


Begitupun dengan Icha, mereka membawa masing-masing satu tas belanja.


Sebelum menuju rumah, Icha lebih dulu mampir di warung tempat jualan sayuran dan juga ikan.


Ia berniat memasak untuk Abang dan juga kakak iparnya, karena itu ia harus membeli sayurannya terlebih dahulu.


Selesai belanja, mereka kembali pulang dengan membawa motor milik suaminya menuju kosan Fahry.


🌹🌹🌹


Sementara itu, Fahry baru tiba di tempat mamanya menunggu.


Terlihat ada dua koper di samping mamanya.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil Dika.


“Ma,” panggil Dika saat keluar dari mobil.


Bu Sintya beranjak dari duduknya, menggeret satu koper untuk meletakkannya di bagasi mobil, sedangkan yang satunya di bawa oleh Dika.


“Ini koper Mama? Mama pergi dari rumah?” tanya Dika setelah masuk ke dalam mobil.


“Bukan. Itu semua pakaian Icha, Mama membawanya karena pasti Icha hanya membawa sedikit pakaiannya.”


“Oh,” sahut Dika singkat.


“Bagaimana dengan Papa?” tanya Dika.


Bu Sintya melirik sekilas ke arah putranya, lalu menghela nafas kasar.


“Rupanya Dika belum mengetahuinya,” gumam Bu Sintya dalam hati.


“Ya begitulah. Semalam saja Papa marah besar, bahkan menghabiskan beberapa botol minuman!”


“Papa minum lagi?”


“Hm ... Mama pusing dengan sikap Papa yang tidak pernah berubah! Mama sudah cape!” keluh Bu Sintya menyenderkan punggungnya ke kursi.


“Mama bingung harus bagaimana lagi menghadapinya!”


“Mama bertahan hanya demi kalian. Jika Mama pergi kalian akan dalam bah ...” Bu Sintya hampir saja mengatakannya.


“Apa Ma?” tanya Dika melihat Mamanya tidak melanjutkan ucapannya.


“tidak! Bukan apa-apa,” sahut Bu Sintya cepat.


Dika mengerutkan keningnya heran, ia curiga jika ada yang di sembunyikan oleh Mamanya.


“Bagaimana dengan adikmu?”


“Icha baik Ma. Sepertinya mereka sudah menerima satu sama lain, Abang bangga dengan kedewasaan Fahry.”


“Syukur alhamdullilah. Mama ikut senang, sebelumnya Mama begitu khawatir. Tapi setelah mendengar ini, Mama bernafas lega.”


“Iya, Ma.”


“Apa Papa mengetahui jika Mama keluar?”


“Abang tahu sendiri, jika Papa banyak minum, Papa akan bangun paling cepat sore hari. Apalagi Papa minum beberapa botol semalam!”


“Apa Papa menyakiti Mama?” tanya Dika mengkhawatirkan Mamanya.


Bu Sintya tampak berpikir.


“Mm ... tidak!”


“Bisnis Papa memang sudah bangkrut. Sejak Anggun dan Abang tidak pernah ke kantor lagi. Bahkan, hingga saat ini adikmu Anggun tidak bisa di hubungi. Mama mencoba datang ke rumahnya, tapi mereka tidak ada di rumah,” tutur Bu Sintya.


Walaupun beberapa kali mengecewakan dirinya, tetap saja ia juga sangat menghawatirkan putrinya tersebut.


“Iya, mungkin kamu benar. Karena suaminya sangat kaya, bukan? Tapi kenapa dia tidak menikahi Anggun secara resmi! Mama mempunyai firasat buruk pada Aditya, Mama sangat khawatir pada Adikmu Bang.”


“Iya Ma. Kita harus berpikir yang positif Ma,


“Iya Ma. Kita harus berpikir yang positif Ma, selain itu Dika akan mencari tahu tentang Aditya dan keberadaan mereka.”


“Iya, sayang.”


🌹🌹🌹


Icha baru saja tiba di kosan, dengan membawa barang belanjaan.


Indah melihat mobil suaminya yang tidak ada terparkir.


“Kemana Abang?” tanya Icha pada kakak iparnya.


“Entahlah. Sebentar Kakak akan menghubunginya.”


Icha mengangguk.


Mereka meletakkan barang belanjaannya di dapur.


“Kak, Icha ke kamar sebentar,” pamit Icha.


Indah mengangguk, ia duduk di kursi merogoh ponselnya dari dalam tas kecil miliknya.


Ceklek!


Icha membuka pintu, terlihat Fahry juga melihat ke arah pintu. Mata mereka saling bertemu, dengan Icha mengalihkan pandangannya.


“Kamu sudah pulang?”


Melihat istrinya sudah kembali.


“Sudah Mas,” sahut Icha membuka kerudungnya.


Terlihat jelas keringat sedikit membasahi wajah Icha.


Fahry menghidupkan kipas angin kecilnya.


“Terima kasih, Mas.”


Fahry mengangguk.


Icha mencari pakaiannya di dalam koper, berniat ingin mengganti pakaiannya.


“Icha,” panggil Fahry.


“Iya,” sahut Icha menoleh ke arah suaminya.


“Ini.”


Menyerahkan kartu atm miliknya.


“Apa ini, Mas?”


“Semua uangku ku serahkan padamu, mulai sekarang kamu yang mengatur keuangan kita. Maaf, aku hanya bisa memberikanmu segini,” tutur Fahry.


Icha menatap kartu di tangan suaminya.


Icha berdiri menghadap suaminya.


“Mas, aku ...”


“Kamu adalah istriku, aku harus memenuhi kewajiban ku untuk menafkahimu. Tolong jangan menolaknya,” tutur Fahry lembut.


“Ini,” ujar Fahry meletakkannya di tangan istrinya.


“Terima kasih, Mas.”


Icha mengangguk tersenyum sambil meneteskan air matanya.


“Kenapa menangis?” tanya Fahry mengusap air mata istrinya.


Icha menggelengkan kepalanya, entah kenapa Icha begitu terharu mendengar perkataan suaminya.


“Sudah, jangan menangis lagi. Ayo kita keluar,” ajak Fahry.


“Aku ganti pakaianku dulu,” sahut Icha.


“Iya. Oh iya, aku hampir lupa. Sepertinya kita perlu membeli lemari untuk meletakkan pakaianmu.”


Icha tersenyum, lalu mengangguk.


“Tapi sebelum itu, kita harus pindah rumah terlebih dahulu.”


“Pindah?” tanya Icha bingung.