Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 48



“Kembalikan hak kami!” teriak para pekerja di depan kantor pak Heri.


Mira Asisten pak Heri keluar dari kantor, bersama rekannya dan ada dua satpam yang siap siaga di samping Mira.


“Mohon tenang ya Bapak-Bapak sekalian, saya mohon maaf selaku asisten bos. Kami pasti akan mengeluarkan gajih bapak sekalian. Mohon minta waktu untuk dua hari ini,” ujar Mira sambil menahan malu.


“Bohong!” bentak salah satu karyawannya.


“Saya bicara serius. Saya sudah bicara tentang ini pada bos dan beliau minta waktu selama dua hari saja.”


“Jika dalam dua hari kalian berbohong, bagaimana? Apa jaminannya?” tanya mereka lagi.


“Saya yang akan bertanggung jawab,” sahut Mira lantang.


“Oke. Jika dalam dua hari ini tiada kabar atau kalian tidak bisa membuktikan perkataan kalian, kantor ini akan kami bakar termasuk rumah pribadi kalian!” ancam salah satu dari mereka yang demo.


Mira menelan salivanya kasar.


“Anak dan istri kami di rumah kelaparan, bahkan saya harus menjual beberapa barang di rumah saya untuk membeli makan. Tidak punya hati kalian tidak membayar gajih kami selama dua bulan, hingga menyebabkan keluarga kami kelaparan!” bentaknya lagi.


“Iya, Pak. Kami mohon maaf atas semua ini,” ujar Mira lagi.


Setelah mengatakan itu, para pekerja kembali pulang ke rumahnya.


Sedangkan Mira bernafas lega melihat para demo sudah kembali ke rumahnya masing-masing.


Saat Mira ingin meninggalkan tempat itu, terlihat mobil milik pak Heri masuk ke area kantornya.


“Bagaimana Mira? Apa mereka datang kemari?” tanya pak Heri setalah keluar dari mobil.


“Iya Pak,” sahut Mira.


Pak Heri dan Mira asistennya beriringan menuju lantai atas.


“Siapkan meeting lagi Mira,” perintah pak Heri.


“Iya, pak,” sahut Mira memaksakan senyumnya.


Sejatinya, dirinya sangat lelah karena menghadapi sendirian masalah sekarang. Apalagi gajih karyawan yang belum di bayar, karena uang perusahaan mulai menipis dan bahkan hampir bangkrut.


🌹🌹🌹


Fahry dan Icha baru tiba di rumah yang dihadiahkan oleh Abangnya untuk mereka.


Setelah pikir panjang, mereka berdua mengambil keputusan untuk menepati rumah tersebut.


Saat mengangkat barang, banyak yang membantu mereka membawa barang mereka masuk ke dalam rumah baru.


Padahal Fahry tidak meminta mereka untuk membantu, karena akan merepotkan mereka pikirnya Fahry.


Sebab ia sudah membayar orang untuk membawa sebagian barangnya.


Namun, tetangga Fahry di rumahnya yang lama nekat ingin membantunya. Akhirnya Fahry mengalah dan membiarkan orang-orang membantunya.


Hingga sore hari, mereka baru saja menyelesaikan menyusun barang-barang mereka di rumah tersebut.


Icha juga sudah menyusun pakaian mereka di lemari yang ternyata sudah terisi lengkap oleh Dika.


“Istirahat dulu, kalau cape. Jangan terlalu di paksa, pekerjaan rumah akan selalu ada di setiap saat,” ujar Fahry lembut baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.


“Iya Mas. Sudah selesai semua kok,” sahut Icha.


Setelah itu mereka salat magrib berjamaah, selesai menjalankan ibadah salat magrib Icha dan Fahry berkutat di dapur memasak untuk makan malam mereka.


Saat asyik mengiris bawang, tanpa sengaja Icha melukai tangannya hingga mengeluarkan darah.


“Aw ... Astaghfirullahalazim ...”


Icha melihat tangannya yang cukup banyak mengeluarkan darah.


“Kenapa sayang?” tanya Fahry.


Lagi-lagi Icha termangu mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Fahry, untuk keduanya kalinya Fahry memanggilnya dengan panggilan sayang.


“Tanganmu terluka,” ujarnya mengambil tangan istrinya.


Tanpa di duga, Fahry memasukkan jari tangan istrinya ke dalam mulutnya agar menghentikan darahnya keluar.


“Mas, ini hanya luka kecil.”


Icha menangkap dari wajah suaminya yang begitu khawatir.


“Jangan sepelekan luka kecil! Luka kecil akan berakibat fatal jika tidak segera di tangani, dan jika dibiarkan begitu saja!” tutur Fahry lembut namun dengan penekanan.


Icha menelan salivanya kasar mendengar ucapan suaminya terlihat serius.


“Iya, Mas. Maaf,” lirih Icha.


Fahry mencuci tangan istrinya.


“Duduk, aku akan mengambilkan kotak obat.”


Tak lama, Fahry datang membawa kotak obat. Dengan telaten membersihkan luka istrinya membalurkan dengan perban.


“Apa sakit?” tanya Fahry dengan wajah cemas.


Icha menggelengkan kepala.


“Hm ... baiklah. Sekarang kamu duduk saja, biar aku yang memasak makan malam untuk kita.”


Icha melihat punggung suaminya yang sedikit bergoyang karena tangannya lihai memasak.


Menu sederhana untuk malam itu, tumis kangkung dan beserta ikan yang di goreng.


Karena sering bertemu di antara keduanya di tempat kerja, mereka saling mengagumi satu sama lain. Akan tetapi, mereka berdua hanya menyimpannya di dalam hati masing-masing.


Sama halnya seperti saat ini, walaupun sudah menikah. Masih menyembunyikannya di hati, tidak ada yang mau mengungkapkan perasaan mereka.


“Sudah, ayo makan.”


Fahry menyajikan nasi di piringnya juga di piring istrinya.


Makan malam di temani gemuruh hujan petir dari luar rumah.


Tidak ada percakapan di antara mereka.


Setelah selesai, Icha membersihkan bekas makan mereka.


Sedangkan Fahry menerima telepon dari sahabatnya Ifan. Setelah selesai, Fahry menghampiri istrinya yang hampir selesai mencuci piring.


“Icha. Apa kamu tidak keberatan jika aku keluar sebentar?”


Sejenak Icha menghentikan aktivitasnya.


“Kemana mas?” tanya Icha kembali melanjutkan mencuci piringnya.


“Ifan menghubungiku, kita berdua adalah relawan yang membantu korban banjir. Beberapa hari ini hujan sangat lebat beserta badai petir, banjir merendam sejumlah rumah di beberapa titik. kami Membantu mereka untuk mengungsi,” ujar Fahry menjelaskan panjang lebar.


Icha mengusap tangannya yang basah pada kain yang kering.


Icha tersenyum, ia mendekati suaminya.


“Iya, Mas. Icha tidak pernah melarang Mas Fahry jika melakukan kebaikan, asalkan Mas jaga diri baik-baik.”


“Iya,” sahut Fahry lembut.


Entah dapat keberanian dari mana, Icha memeluk suaminya dan Fahry pun membalas pelukan sang istri.


Ini bukan untuk pertama kalinya mereka berpelukan setelah menikah, akan tetapi masih ada rasa gugup dari keduanya.


Cup!


Fahry mencium kening sang istri, hanya sebatas kening yang Fahry berani.


“Aku harus berangkat sekarang,” ujar Fahry.


Namun, tangannya masih memeluk erat sang istri.


“Iya, Mas. Pergilah, aku mengambil jaket dan jas hujan untukmu.”


Mencoba melepaskan diri dari dekapan suaminya.


“Iya,” sahut Fahry terpaksa melepaskan dekapannya.


Fahry menghela nafas, entah kenapa ia seperti enggan untuk melepaskan dekapannya pada istrinya.


“Ini pakailah jaketnya terlebih dahulu, lalu jas hujannya.”


Icha membantu memakaikan jaket suaminya.


“Terima kasih. Kunci pintu ketika aku tidak ada di rumah, aku akan membawa kunci serep.”


“Iya,” sahut Icha lembut.


Sebelum keluar pintu, Fahry memberikan tangannya. Icha yang mengerti lalu mencium tangannya suaminya, tidak lupa juga Fahry memberi ciuman di kening istrinya.


Entah kenapa, mencium kening istrinya menjadi candu bagi Fahry.


Begitupun dengan Icha, sudah mulai terbiasa dengan sikap manis Fahry yang baru saja menjadi suaminya tersebut.


“Hati-hati di rumah, aku berangkat dulu.”


“Iya, Mas. Fii amanillah,” sahut Icha lembut.


“Insya Allah,” sahut Fahry.


Fahry tidak membolehkan Icha keluar rumah untuk mengantarnya, karena istrinya tidak mengenakan hijab.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”