Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 107



“Adita,” panggil Bu Sintya lembut memegang salah satu pipi Adita


“Iya, Ma.”


“Ada yang ingin bertemu denganmu,” ujar Bu Sintya.


Adita mengernyit bingung dan juga penasaran siapa yang ingin bertemu dengannya.


“Siapa Ma?”


“Arif.”


Mendengar nama Arif, terlihat Adita langsung bersandar di bahu kursi dari semula yang duduk tegak menghadap Bu Sintya.


“Kenapa? Apa kamu sudah melupakan nama itu?”


Adita hanya diam.


“Beri dia kesempatan untuk menjelaskannya padamu, Nak. Dia sangat menyesal,” tutur Bu Sintya.


“Apa yang ingin di jelaskan Ma? Semua sudah jelas, jika Arif lebih memilih dan percaya pada mantan suamiku.”


“Tapi, nak. Arif sungguh menyesal dan bersungguh-sungguh meminta maaf padamu. Arif pernah pingsan di jalan, karena selama tiga hari tiga malam mencari keberadaan kalian.”


“Pingsan?” tanya Adita mengernyit heran.


Bu Sintya mengangguk, memang Arif saat itu pingsan karena tidak makan dan tidur karena mencari keberadaan mereka.


“Abang Dika memutuskan untuk memberitahu keberadaanmu, karena tidak tega melihat keadaan Arif. Sekarang Arif berada di vila ini,” ujarnya.


“Apa yang harus ku bicarakan lagi Ma? Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,” sahut Adita menatap lurus ke depan dengan tatapan sendunya.


“Coba bicara sekali saja padanya. Setelah itu terserah padamu, Mama dan kami semua mendukung semua keputusanmu.”


Tampak Adita menghela napas, ia menolak percuma dan bahkan menghindar pun tidak bisa lagi karena Arif sudah berada di villa itu.


“Baiklah Ma, aku akan mencoba menjelaskannya pada Pak Arif. Jika, kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.”


Bu Sintya mengusap punggung Adita pelan.


“Mama sangat yakin, jika kamu masih mencintai Arif,” gumam Bu Sintya dalam hati.


“Mama akan memanggilnya,” Ujar Bu Sintya beranjak dari tempat duduknya.


Berulang kali Adita menghela napas, ia beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah ke tepi danau buatan yang berada di dekat vila tersebut.


Adita menatap senja yang sebentar lagi akan menghilang dan akan bersiap berganti dengan rembulan malam.


Ia berdiri sambil memasukkan kedua datangnya di dalam kantong jaket yang ia kenakan.


Teringat jelas di benaknya, pertama kali ia bertemu dengan mantan suaminya yaitu ayah dari putranya.


Perjanjian yang ia katakan di malam pertama mereka, berjanji tidak akan pernah meninggalkan dirinya bahkan menyakitinya.


Perkataan yang selalu di ucapkan oleh Aditya dulu jika mereka selesai melakukan hubungan suami dan istri dan ternyata semua itu hanya bohong belaka.


“Kamu kedinginan?” tanya Arif yang tiba-tiba ada di belakangnya meletakkan jaketnya pada Adita.


Adita hanya tersenyum.


“Kenapa di sini? Udara cukup dingin di sini,” Ujar Arif melipat kedua tangannya berdiri sejajar dengan Adita akan tetapi tubuh mereka sama-sama menghadap ke arah danau.


“Apa yang ingin kamu jelaskan?” tanya Adita lembut.


“Aku tidak ingin menjelaskan apapun padamu.”


Adita melirik sekilas pada Arif yang berisi di sampingnya.


“Lalu?”


“Kedatanganku kemari untuk menjemputmu. Sudah cukup bermain petak umpatnya! Jujur aku lelah mencari keberadaan kalian.”


“Kenapa tidak berhenti, jika lelah? Aku juga tidak memintamu untuk mencari kami!”


“Aku tidak bisa berhenti sampai menemukan kalian, walau sebenarnya aku lelah. Kesalahanku itu memang sulit di maafkan, tapi aku hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan.”


“Aku juga manusia biasa, kadang aku tidak bisa menerima tuduhan yang tidak pernah aku lakukan!”


“Iya, aku mengerti. Aku minta maaf, apa pun akan aku lakukan agar mendapat maafmu. Aku baru sadar, aku tidak bisa hidup tanpa kalian.”


Hening sejenak.


“Tahu gak? Kenapa senja itu menyenangkan?”


Arif menggelengkan kepalanya.


“Kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka. Tapi langit selalu menerima senja apa adanya! Sama sepertimu, apakah mau menerima diriku setelah dirimu mengetahui tentang masa laluku?”


“Semua orang punya masa lalu. Ada yang buruk dan ada juga yang baik. Jujur, saat itu aku sangat cemburu padamu, hingga aku tidak bisa berpikir jernih lagi dan aku baru menyadari jika itu memang salahku.”


“Adita, beri aku satu kesempatan lagi. Izinkan aku membahagiakan kalian berdua, maukah kamu menikah denganku?” tanya Arif menghadap ke arah Adita.


Adita hanya diam menatap lurus, langit pun yang sudah mulia berubah menjadi warna kegelapan.


Arif menghela napas, melihat Adita tidak menjawabnya.


“Baiklah. Aku anggap diammu ini, menolak diriku. Terima kasih atas waktunya, aku sungguh menyesal dengan perkataan waktu ini sehingga menyakiti hatimu sampai sekarang ini.”


“Aku benar-benar minta maaf, jaga kesehatan kalian berdua. Mungkin ini akan terakhir kalinya kita akan bertemu,” tambah Arif lagi.


Arif membalikkan tubuhnya lalu melangkah pelan ingin kembali ke mobilnya, ia pasrah dengan semuanya karena memang dirinya yang bersalah.


“Cepat sekali pergi. Bahkan kamu tidak memberiku kesempatan untuk bicara,” ujar Adita masih dengan posisi yang sama.


Langkah Arif langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya kembali menghadap Adita yang masih membelakanginya.


“Kenapa? Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Arif melihat punggung Adita.


“Kamu ingin aku menjawab apa, dengan pertanyaan mu yang tadi?”


“Jujur, aku tidak ingin munafik. Aku ingin kamu menjawab iya. Tapi, aku juga tidak bisa memaksamu!” lirih Arif.


“Kalau begitu aku menjawab iya,” sahut Adita tanpa ragu.


Arif tercengang dengan jawaban Adita.


“Maksudnya? Kamu bersedia menikah denganku?” tanya Arif memastikannya.


Adita mengangguk dengan posisi sama yaitu menghadap ke danau dan membelakangi Arif.


“Adita, kamu serius?” tanya Arif lagi masih belum percaya.


Ia menghampiri Adita, lalu menarik lengan Adita agar menghadap dirinya.


“Sekali lagi aku bertanya. Kamu serius?” tanya Arif.


Adita menatapnya lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil mengulum senyumnya.


Terlihat senyum itu langsung luntur dari bibir ranum Arif.


“Aku tidak menolak,” sahut Adita tersenyum pada Arif.


Senyum itu kembali lagi pada bibir Arif, terlihat ia berulang kali menghela napas lega.


“Terima kasih, Sayang. Maafkan aku, ya. Jujur, saat ini aku sangat takut kehilangan kalian. Jangan pergi lagi ya,” tuturnya lembut menatap wajah Adita lalu membenarkan rambut halus yang sedikit keluar dari kerudungnya.


“Kita akan menikah secepatnya, aku tidak ingin kehilangan kalian lagi. Cukup kali ini saja,” tambahnya lagi.


Adita hanya tersenyum mendengar tutur Arif yang sejak tadi tidak berhenti berbicara.


“Apa aku boleh memelukmu?”


Dengan cepat Adita menggelengkan kepalanya.


“Boleh sih,” ujarnya lagi.


Arif menatapnya bingung.


“Setelah memelukku, aku akan mendorongmu ke danau. Lalu jadilah danau angker di villa,” ujarnya terkekeh.


“Jahat sekali.”


Arif ikut tersenyum bahagia, ia kembali melihat Adita tersenyum seperti dulu lagi.


“Sekarang kita masuk, sudah mau magrib. Kita akan salat berjamaah, pasti yang lain juga menunggu,” ajak Arif.


Adita mengangguk.


“Kamu juga harus istirahat dan tidak boleh cape. Karena besok kamu dan aku harus berdiri tegak menyambut tamu,” Ujar Arif.


Langkah Adita terhenti mendengarnya.


“Menyambut tamu? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?”


“Iya. Kita akan menikah besok,” sahutnya.


Adita membulatkan matanya.


“Bagaimana bisa menikah mendadak seperti ini?!”


“Sstt ... aku sudah mempersiapkan semuanya, kamu tidak perlu khawatir.”


“Masih belum mengerti?” tanyanya pada Adita yang tengah menatapnya meminta penjelasan.


Adita menggelengkan kepalanya.