Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 69



Indah mengajak adik iparnya untuk masuk ke kamar, sedangkan Fahry duduk di ruang tamu berbincang dengan kakak iparnya Dika.


“Fahry, kota ini sudah tidak aman untuk kalian. Sebaiknya kalian pindah dari kota ini,” usul Dika.


“Tapi, bagaimana dengan pekerjaan ku? Aku tidak mungkin berhenti bekerja, bagaimana tanggung jawabku pada istriku?” tutur Fahry.


“Fahry, ini mengancam keselamatan kalian. Tempat ini sudah tidak aman, bahkan nyawa adikku juga dalam bahaya. Masalah uang, aku akan memberimu pinjaman dan kamu bisa mengelolanya.”


Fahry tidak langsung menjawab, ia masih menimbang usulan Kaka iparnya tersebut.


“Fahry, kamu tidak punya waktu banyak. Putuskan sekarang,” ujar Dika.


“Iya, Bang. Aku akan membawa Icha pergi dari kota ini,” jawabnya cepat.


“Aku akan ikut bersama kalian,” ujar Bu Sintya yang langsung menyela pembicaraan putra dan menantunya.


“Mama,” ujar Dika dan Fahry bersamaan.


Dika melihat Mamanya yang membawa koper besarnya, dengan menggeretnya masuk ke dalam rumah.


“Ma, ini ....”


“Iya, Mama sudah tidak tahan dengan Papa, Mama memilih pergi.”


“Ma ... duduk dulu, jangan mengambil keputusan yang terburu-buru,” ujar Dika mengajak sang Mama untuk duduk.


“Ma ...” panggil Dika lembut.


“Jangan membujuk Mama sekarang, Mama tidak ingin dengar apapun.”


Dika hanya bisa menghela nafas.


“Kemana pun Fahry Icha pergi, Mama akan ikut. Mama akan memastikan jika mereka berdua baik-baik saja, entah apa lagi yang Papa rencanakan setelah ini.”


“Ma, jangan berpikir buruk tentang Papa. Dika merasa ini bukan perbuatan Papa,” tutur Dika.


“Kamu membela Papamu sekarang?! Lihat apa yang di lakukan oleh Papa pada adikmu.”


“Tidak. Bukan begitu Ma, aku hanya meragukan jika ini adalah perbuatan Papa.”


“Fahry, Mama berharap banyak padamu. Tolong lindungi putriku, bawa dia ke tempat yang aman. Aku ... hiks ! hiks!”


Bu Sintya tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya.


“Ma, aku akan menjaga dengan sepenuh hatiku. Mama tidak perlu cemas,” ujar Fahry lembut.


Dika berulang kali menghela nafas.


“Baiklah, kalau itu kemauan Mama.”


Dika pasrah, saat ini tidak ingin membuat sang Mama bersedih. Ia akan mencari bukti terlebih dahulu, tentang kebenaran yang sebenarnya.


“Fahry, kalian tidak punya banyak waktu. Kalian harus bersiap, aku sudah mengatur semuanya termasuk tempat tinggal kalian. Pastikan tempat tidak ada orang lain yang tahu keberadaan kalian,”


Fahry mengangguk.


Icha di kamar juga sudah bersiap, karena Dika meminta Indah istrinya untuk berbicara pada adiknya Icha.


Indah memberi pengertian pada adik iparnya, karena semua ini demi keselamatan mereka.


Icha mengangguk mengerti.


Semua pakaian Icha di kemas oleh Indah, karena ia meminta pekerja rumahnya untuk membeli semua pakaian untuk Icha dan Fahry.


Mereka melangkah ke ruang tamu, Fahry pun sudah siap. Icha melihat sang Mama juga berapa di ruang tamu.


“Mama. Mama disini?” melihat Bu Sintya.


“Iya, sayang.” Memeluk putrinya.


“Kita akan pergi dari kota ini, Sayang. Mama akan ikut bersama kalian,” ujar Bu Sintya memegang dagu dengan menggunakan kedua tangannya.


“Ma. Papa bagaimana? Apa Mama mau meninggalkan Papa?”


“Jangan pikirkan Papa. Saat ini keselamatan kalian lebih utama,” ujar Bu Sintya memberi pengertian.


Icha hanya bisa mengangguk.


Dika memesan taksi untuk mereka pergi ke bandara, dirinya buka tidak ingin mengantar dengan mobilnya. Akan tetapi ini lebih bahaya jika ada yang mengenali mobilnya.


Mereka berpamitan, Bu Sintya memeluk erat putranya.


“Jaga diri baik-baik, Sayang. Mama akan kabari jika kamu sudah tiba disana,” ujarnya masih dalam pelukan putranya.


“Mama juga jaga kesehatan. Jangan banyak pikiran, nanti Mama sakit.”


“Iya, Sayang.”


Lalu Bu Sintya bergantian memeluk menantunya.


Setelah berpamitan, mereka segera pergi dari tempat tersebut.


Dalam perjalanan menuju bandara, taksi yang mereka tumpangi mogok.


“Kenapa Pak?” tanya Fahry.


“Mobilnya tidak mau menyala, Pak.”


Fahry ikut keluar membantu sopir itu memperbaiki mesin mobilnya, hampir dua jam lebih mereka di pinggir jalan.


Akhirnya mobil pun bisa menyala kembali.


“Fahry, Mama baru saja mendapat kabar dari Abang kalian. Jika, pesawat yang kita tumpangi sudah berangkat dan mengalami kecelakaan.”


“Astaghfirullah ...” ujar Fahry mengelus dadanya.


“Kita akan tetap berangkat, Abang sudah membeli tiket pesawat yang baru.”


“Tenang Sayang.”


Mengusap bahu putrinya teng terlihat tegang berada di dalam mobil tersebut.


Mereka kembali melaju ke bandara, dan sesampainya di sana. Mereka langsung melangkah menuju pesawat karena sebentar lagi pesawat akan terbang.


Hampir satu jam lebih mereka ada di dalam pesawat tersebut, akhirnya pesawat mendarat dengan sempurna.


Lalu tidak sampai disitu, mereka harus menempuh perjalanan sekitar lima jam menggunakan mobil.


Tidak ada percakapan di antara mereka, mereka hanya mengikuti kemana sopir membawa mereka.


Semua sudah di atur oleh Dika, kemana orang suruhannya membawa mereka demi keamanan mereka.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” melihat Icha hanya diam di dalam pelukannya.


Icha mendongakkan kepalanya menatap suaminya.


Icha tersenyum lalu mengangguk.


Fahry sangat yakin, jika istrinya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi melihat mata istrinya yang terlihat sembab.


Setelah menempuh sekitar tujuh jam lebih, mereka tiba di desa terpencil. Bahkan akses sinyalpun sedikit susah, berulang kali Bu Sintya menghubungi putranya akan tetapi sangat sulit sekali.


“Ma, sebaiknya kita istirahat saja dulu. Mama pasti cape,” ujar Fahry.


“Iya, Nak.”


Rumah kecil terdiri hanya dua kamar, Dika sudah menyiapkan semuanya dengan meminta orang suruhannya. Semuanya lengkap, sudah di siapkan oleh Dika.


Bu Sintya mengangguk, ia masuk kedalam kamarnya.


“Sayang, kamu sudah mandi?” tanya Fahry melihat Icha sudah berganti pakaian.


“Iya, Mas. Mas mau mandi?” tanya Icha.


“Sebentar Sayang.”


Fahry menarik lengan istrinya untuk duduk di tepi kasur, mengusap pipi istrinya yang basah terkena rambut.


“Kita akan memulai hidup baru, Sayang. Yakin lah, semuanya pasti akan baik-baik saja.”


“Iya, Mas.”


Memeluk suaminya.


“Kita akan menghadapinya bersama, Mas. Aku sangat yakin, Papa tidak akan tega melakukan itu.”


“Aku juga berpikir sama sepertimu, Sayang. Tapi, biarlah seperti ini dulu agar semuanya tenang termasuk, Mama.”


Icha mengangguk, Fahry semakin mempererat pelukannya.


“Mas, mandi lah. Aku akan membuatkan makanan, sepertinya Abang sudah mempersiapkan semuanya di rumah ini.”


Fahry malah mempererat pelukannya, enggan untuk melepaskannya.


“Apa Mas tidak lapar?”


“Tidak. Aku hanya ingin memakanmu saat ini,” gumam Fahry tangannya mulai tidak bisa diam.


“Tapi, aku lapar Mas.”


Fahry terkekeh.


“Baiklah, setelah mandi aku akan membantumu,” ujarnya memberi kecupan di seluruh wajah istrinya.


“Mas. Terima kasih selalu berada di sampingku dan tidak meninggalkanku.”


Fahry menarik tubuh istrinya agar berbaring di tempat tidur, sedangkan Fahry berada di atasnya dengan bertumpu kedua sikunya.


“Sudah aku katakan padamu berulang kali, hanya kematian yang bisa memisahkan kita,” bisik Fahry pada istrinya.


Netranya menatap bibir ranum istrinya, perlahan bibir mereka saling menempel.


Hanya menempel saja, tidak ada aktivitas di antara mereka.


Cup!


Cup!


Cup!


Fahry mencium bibir istrinya sebanyak tiga kali.


“Istirahat lah, kamu pasti cape. Lihat, wajahmu terlihat pucat sekali. Biarkan aku yang memasak untuk kita,” ujar Dika menatapnya lembut.


“Tapi, Mas.”


“Sstt ... jangan membantah, turuti apa kata suamimu,” tutur Fahry lembut.


Icha tersenyum.


“Baiklah Mas.”