
Di rumah kebesaran pak Heriyanto, Dika baru saja tiba di rumah. Di ikuti oleh Icha yang juga baru datang dengan motor miliknya.
“Assalamualaikum ...”
Mereka masuk rumah beriringan. Icha berpamitan masuk ke dalam kamarnya, sementara ada Mamanya yang duduk di sofa ruang tamu.
“Kenapa dengan adikmu?” tanya Bu Sintya kepada Dika.
“Entah Ma. Sejak tadi Icha banyak diam, tidak seperti biasanya.”
“Oh, mungkin sedang datang bulan.”
“Mungkin,” sahut Dika.
Dika juga berpamitan ingin ke kamarnya, karena sudah sangat gerah ia ingin segera menyegarkan tubuhnya.
Sejak masuk ke kamar tadi sore, hingga tengah malam Icha tidak keluar kamar.
Mungkin karena kelelahan, Icha tertidur di kasur empuk miliknya.
Ia terbangun saat perutnya terasa lapar, Icha menyipitkan kelopak matanya melihat jam dinding.
“Jam 10,” gumamnya.
Icha melangkah ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, ia melihat wajahnya di cermin yang ada di kamar mandi.
Hari ini ia melihat Abangnya terlihat bahagia, saat bersama sang kekasih.
Lalu teringat ucapan sang Papa semalam, akan memisahkan Abangnya bagaimanapun caranya.
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi,” gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai urusannya di kamar mandi, Icha mengambil penutup kepalanya di lemari.
Lalu melangkah keluar kamar, ia tahu jika di jam begini, sang Papa masih di ruang kerja.
Tok! Tok!
Icha mengetuk pintu ruang kerja Papanya.
Ceklek!
Ia membuka pintunya, terlihat pak Heri menoleh ke arah pintu.
Ia tersenyum melihat kedatangan Icha.
“Ada apa Nak?” tanya pak Heri selembut mungkin.
“Pa,” panggil Icha.
Ia duduk di sofa, pak Heri melangkah mendekati sang putri.
“Apa Icha butuh sesuatu?” tanyanya lagi.
“Pa, Icha ...” ia tampak ragu untuk berbicara.
“Icha kenapa?”
Sebelum melanjutkan ucapannya, Icha menghela nafas terlebih dahulu.
“Icha ... se-tuju untuk menikah,” ujarnya tampak gugup.
“Apa? Coba ulangi sekali lagi! Siapa tahu Papa salah dengar?”
“Icha bersedia untuk menikah,” Ujarnya lagi.
Pak Heri tersenyum, lalu memeluk putrinya.
“Terima kasih sayang. Kamu sudah menyelamatkan kita semua, Papa bangga padamu. Ini baru, namanya anak Papa,” puji pak Heri sambil memeluk putrinya.
Di dalam pelukan Papanya, Icha mengusap air matanya yang keluar begitu saja. Ia secepat mungkin menghapusnya agar tidak terlihat oleh papanya.
“Baiklah, sekarang kamu istirahat. Kita akan membicarakan ini besok,” ujarnya.
Icha mengangguk.
“Icha ke kamar dulu Pa,” pamitnya.
“Iya, sayang.”
Pak Heri tersenyum bahagia, setelah mendengar pernyataan Icha yang ingin menikah dengan pria pilihannya.
“Akhirnya ...” gumamnya bernapas lega.
Icha keluar dari ruang kerja Papanya, saat ingin menaiki tangga ia terkejut melihat Dika yang menatapnya di anak tangga.
Dengan cepat Icha menghapus air matanya hingga tidak bersisa.
“Apa yang kamu lakukan di ruangan Papa, di tengah malam begini?” tanya Dika penuh selidik.
“Oh, itu. I-tu ...” Icha tampak gugup.
“Itu apa?” tanya Dika lagi ia melihat adiknya terlihat gugup.
“A-aku, mengantar kopi untuk Papa.”
Setelah mengatakan itu, Icha menutup sejenak sambil menghela napas. Karena untuk pertama kalinya ia berbohong.
“Oh, hanya kopi? Tidak ada yang lain?” tanya Dika lagi masih belum mempercayainya.
“Iya,” sahut Icha singkat.
“Bang, Icha ke kamar dulu ya. Icha mengantuk, huaammm ...” ujarnya sambil berpura-pura menguap.
Dika mengangguk, ia merasa ada yang di sembunyikan oleh adiknya tersebut.
Melihat adiknya sudah melewatinya, ia melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.
Namun, bersamaan dengan pak Heri yang keluar dari ruang kerja dengan senyum mengambang dari bibirnya.
“Abang belum tidur?” tanya pak Heri yang tiba-tiba menyapanya.
Padahal tadi pagi sang papa masih memasang wajah dingin terhadapnya.
“Belum Pa,” sahut Dika.
“Papa mau kemana?” tanya Dika.
“Papa mau bikin kopi,” sahutnya.
Deg!
Satu kebohongan terbongkar jika adiknya sudah berbohong kepadanya.
“Oh ...” sahut Dika singkat.
“Bi ... tolong buatkan saya kopi,” perintah pak Heri, kebetulan pembantu tersebut ada di dapur.
“Iya, Tuan.”
Dika duduk di kursi mengambil satu buah apel.
“Bagaimana?” tanya pak Heri ikut duduk kursi berhadapan dengan putranya.
“Maksud Papa?” tanya Dika.
“Ya, kapan kamu akan melamar kekasihmu? Kapan pun kamu mau kesana, Papa siap.”
“Papa serius?” tanya Dika sekaan tidak percaya.
“Iya, sangat serius,” ujar pak Heri antusias.
“Rencana hari Minggu depan Pa.”
“Baiklah, Besok Papa akan meminta Anton untuk menyiapkan semua keperluan semuanya.”
“Iya, Pa.” Sahut Dika.
“Ini Tuan, kopinya.”
Pembantu tersebut meletakkan gelas kopi di meja.
“Terima kasih,” ujar pak Heri.
Untuk pertama kalinya, pak Heri mengucap terima kasih kepada pembantu. Dika pun di buat heran dengan sikap Papannya hari ini.
“Papa kembali ke ruang kerja dulu,” pamit pak Heri.
Dika hanya mengangguk.
Saat ini ia malah mencurigai sikap Papanya, apalagi melihat ekspresi raut wajah Papanya dan adiknya tersebut sangat berbeda.
“Aku akan menyelidiki ini,” gumamnya.
🌹🌹🌹
Sejak kejadian kemarin, Anggun masih mengurung diri di kamar. Walaupun Dino mengajaknya untuk makan malam bersama, ia tidak menghiraukan ajakan suaminya tersebut.
“Anggun. Kamu sejak kemarin belum makan apapun! Apa kamu tidak kasihan kepada anak kita?”
“Apa kamu pernah memikirkan perasaanku? Kamu peduli hanya dengan anak ini, tidak denganku!” ketus Anggun.
“Kamu ini bicara apa? Tentu saja aku memikirkan kalian berdua,” Ujar Dino.
“Pembohong!”
“Anggun ... aku serius. Aku sangat mengkhawatirkan kalian,” ujar Dino lembut.
“Benarkah?” tanya Anggun memastikan.
“Iya. Tidak mungkin aku seperti ini, jika tidak menyayangi kalian.”
Anggun mengangguk.
Dino tersenyum, ia mengambil piring berisi makanan yang ia letakkan sebelumnya di nakas. Ia meminta kepada pembantu rumahnya untuk memasak makanan kesukaan istrinya.
Dino membantu istrinya untuk duduk dari tempat tidur, lalu menyuapi istrinya.
Dino tersenyum melihat Anggun yang begitu lahap makan.
“Lapar?” tanya Dino.
Anggun mengangguk.
“Jangan seperti ini lagi ya. Kasihan anak kita jika kamu tidak memberinya makan,” ujar Dino lembut.
Anggun kembali mengangguk.
Dino kembali menyuapi istrinya hingga menghabiskan makanan yang ada di piring.
“Dino,” panggil Anggun.
“Panggil aku seperti biasanya, aku masih suamimu!”
“Iya,” sahut Anggun mengerti.
“Ada apa kamu memanggilku?” tanya Dino.
“Apa aku boleh meminta berfoto bersama mu sekarang?” tanya Anggun.
Dino mengernyit heran, tidak seperti biasa istrinya meminta untuk berfoto bersama, apa mungkin bawaan bayi pikir Dino.
Tanpa pikir panjang, Dino mengangguk.
Melihat suaminya mengangguk, Anggun tersenyum lalu memeluk suaminya.
Cekrek! Cekrek!
Dua kali Anggun mengambil foto mereka dengan menggunakan kamera depan dengan gaya yang berbeda.
Yang pertama dengan gaya memeluk erat suaminya dan yang kedua posisi Dino sedeng mencium pipi Anggun.
“Terima kasih,” ujar Anggun antusias sambil melihat foto mereka di ponselnya.
“Iya. Sekarang kamu istirahat, aku ada pekerjaan kantor sedikit.”
Anggun mengangguk.
Setelah selesai dengan drama istrinya, ia kembali ke ruang kerjanya.
Melihat suaminya sudah hilang dari pandangannya, ia menekan nomor istri pertama suaminya. Karena sebelumnya ia sudah menyimpan nomor tersebut.
Ia mengirim foto dirinya yang sedang bermesraan dengan Dino, sambil tersenyum jahat.
“Jangan bermimpi untuk memiliki Dino!” ujarnya Anggun tersenyum licik.
Ia sungguh tidak sabar menunggu balasan dari tiara, istri pertama suaminya.
Tak lama, ponselnya berdering. Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Ck, CK, CK ... jangan harap kamu bisa memilikinya, Tiara! Aku tidak sudi jika aku harus berbagi suami dengan mu! Mulai saat ini, hidupmu tidak akan tenang!”
Anggun menyeringai jahat langsung menggeser panggilan tersebut untuk menolaknya.
.
.
.