Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 41



Setelah selesai mandi, Icha bingung harus melakukan apa. Ia baru ingat jika dirinya dan Fahry belum makan malam.


Icha perlahan melangkah ke arah dapur, mencari bahan makanan yang bisa di masak untuk makan malam mereka.


Walaupun dengan baju kebesaran, serta kerudung yang menjuntai panjang menutupi sebagian tubuhnya, tidak menyulutkan keinginan Icha untuk memasak.


Icha hanya menemukan beberapa butir telur, tidak menemukan sayuran di sana. Bahkan di dalam kulkas kecil mereka terlihat kosong.


“Aku masak nasi goreng saja,” gumam Icha.


Ia mulai memotong bawang merah dan putih, lalu mengiris cabai menjadi beberapa bagian.


Srengg!


Suara minyak panas, ketika Icha sudah memasukkan bawang yang sudah ia iris tipis ke dalam wajan yang berisi minyak yang sudah di panaskan.


Setelah selesai, Icha menatanya dipiring menjadi dua bagian.


Terdengar suara motor datang dan berhenti di teras rumah, ia tahu jika yang datang adalah motor suaminya karena sering mendengar suara motor Fahry.


Tok! Tok!


“Assalamualaikum ...” ucap Fahry memberi salam sambil mengetuk pintu.


“Waalaikumsalam ...” sahut Icha sambil memutar kunci yang tergantung di pintu, karena sebelumnya di kunci olehnya.


“Maaf, lama. Ban motor bocor, alhamdullilah ada bengkel terdekat hingga aku tidak terlalu jauh mendorongnya.”


“Iya, Mas.” Icha mengambil tangan suaminya lalu menciumnya.


Hati Fahry tak karuan, karena belum terbiasa tangannya di cium oleh seorang perempuan.


“Kamu memasak?” tanya Fahry mengalihkan rasa gugupnya, kebetulan dirinya juga mencium aroma wangi makanan.


“Iya, Mas.” Sahut Icha menutup pintu rumah kembali setelah memastikan suaminya masuk ke dalam rumah.


Fahry melihat di meja kecil, terhidang dua piring nasi goreng beserta telur dadar di atasnya.


“Mm ... Icha, maaf. Di rumah ini tidak ada meja dan kursi untuk duduk makan, seperti di rumahmu. Kita hanya makan lesehan di lantai. Apa kamu tidak keberatan?” tanya Fahry dengan hati-hati.


Icha tersenyum.


“Saat Icha masuk pesantren, tidak pernah makan di meja, mas. Icha sudah terbiasa makan duduk di lantai,” sahut Icha lembut.


Fahry menghela nafas.


“Maaf, aku membawamu ke rumah yang sangat jauh berbeda dengan rumahmu.”


“Mas,” panggil Icha lembut.


“Rumah itu milik orang tuaku, bukan punya Icha. Mas Fahry jangan merendahkan diri terus ya! Semua orang itu sama di mata Allah,” tutur Icha dengan lembut.


“Maaf,” lirih Fahry.


Mereka makan di lantai beralaskan tikar, makan masakan untuk pertama Icha untuk suaminya setelah menikah.


“Icha bisa masak? Masakanmu sangat nikmat,” puji Fahry memakan nasi goreng dengan lahap. Walaupun sedikit asin, akan tetapi itu tidak jadi masalah bagi Fahry, karena masih enak di makan.


“Benarkah?”


Fahry mengangguk.


“Alhamdulillah kalau Mas Fahry suka,” Ujar Icha merasa senang bahwa masakan pertamanya, di nikmati oleh suaminya.


Selesai makan, Fahry ingin mencuci piring bekas makan mereka.


Namun, Icha menahannya.


“Biar Icha saja mas.”


“Tidak Icha, aku ...”


“Tidak Mas. Ini tugas seorang istri,” sahut Icha langsung mengambil piring bekas di tangan suaminya.


Fahry tersenyum, ia begitu kagum dengan Icha. Walaupun terlahir dari orang yang kaya, akan tetapi ia tidak manja bahkan tidak malu masuk ke dapur langsung.


Icha beranjak dari tempat duduknya, lalu membawa piring kotor tersebut ke dapur untuk mencucinya di wastafel.


Begitupun dengan Fahry, ia masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Karena sebelumnya ia sudah mandi di hotel sore tadi.


Icha mencuci piring di wastafel yang di lakukan oleh istri pada umumnya.


Setelah itu, mereka melakukan salat isya berjamaah, lalu mengaji bersama.


Icha begitu terpana dan sangat kagum mendengar suara merdu Fahry suaminya yang mengaji.


Selesai mengaji Icha membuka mukenanya, bersama dengan jilbabnya.


Saat Fahry membalikkan badannya, ia terpana pertama kali melihat istrinya tanpa mengenakan hijab.


Rambut tergerai panjang, berwarna hitam campur kecokelatan.


Fahry menelan salivanya, ia langsung memalingkan wajahnya. Karena sedikit malu menatap jika ketahuan oleh istrinya.


“Ekhem ...” deham Fahry menetralkan rasa gugupnya.


“Kenapa Mas? Apa Mas Fahry mau Icha buatkan kopi?”


“Hah? Oh tidak, tidak,” sahut Fahry tampak gugup.


Icha melirik tempat tidur Fahry yang hanya beralaskan tikar, sedangkan tempat tidur yang di minta oleh suaminya di kasur empuk hanya cukup satu orang saja.


“Kenapa Mas? Kenapa kita tidur berbeda?” tanya Icha terlihat sedih.


“Aku takut jika kamu tidak nyaman, maaf.”


“Mas,” panggil Icha lembut.


Ia melangkah mendekati Fahry, ia menghadap suaminya.


“Mas. Icha sudah sah istri jadi istri Mas Fahry. Icha menyerahkan semuanya, Icha siap melayani Mas Fahry lahir dan batin,” ujar Icha lembut.


Entah siapa yang memulai, wajah mereka semakin dekat hanya menyisakan beberapa senti.


Icha menutup matanya.


Cup!


Fahry mencium kening istrinya Icha, untuk pertama kalinya ia mencium wanita setelah ibunya.


Icha membuka matanya, terlihat mereka sama-sama gugup.


Icha tersenyum sambil menunduk malu.


Fahry memberanikan dirinya, ia menarik Icha ke dalam pelukannya. Berulang kali Fahry mencium pucuk kepalanya istrinya.


“Terima kasih,” bisik Fahry.


“Jangan berterima kasih terus Mas. Sejak tadi, Mas Fahry banyak sekali berterima kasih,” tutur Icha masih dalam pelukan suaminya.


Fahry tersenyum tipis.


Cukup lama mereka berpelukan, Fahry melepaskan pelukannya.


“Sekarang kamu istirahat lah, kamu pasti cape,” ujar Fahry.


Icha mengangguk, ia melangkah mendekati tempat tidur mulai merebahkan tubuhnya dengan perasaan yang tidak karuan, campur aduk jadi satu.


“Aku ada pekerjaan, tidurlah,” tambah Fahry lagi.


Icha mengangguk.


Fahry melangkah mengambil laptopnya, lalu duduk di samping tempat tidur sambil menulis buku ceritanya.


Sudah banyak buku yang dicetak dan terjual olehnya, dari hasil menulis sebagian uangnya di bagikan ke fakir miskin.


Cukup lama ia berkutat dengan laptopnya, akhirnya ia menyelesaikan beberapa bab tulisannya.


Ia melirik istrinya yang tertidur pulas, dengan tidur miring menghadap ke kanan.


“Dia sudah tidur? Cepat sekali,” ujarnya.


Fahry menatap wajah istrinya dengan sesama, bulu mata yang begitu lentik alami. Bibir yang berwarna pink muda, di tambah lagi rambut panjang yang sedikit menutupi wajahnya.


“Icha. Aku tidak menyangka, ucapan Nenek waktu itu telah menjadi kenyataan. Aku tidak menyangka jika hatimu semulia ini, mau menerima dan tinggal di tempat kecil seperti ini. Aku telah salah sangka padamu,” gumam Fahry masih menatap wajah istrinya.


Ia tersenyum tipis, mengingat pertemuan pertama mereka. Ia menyangka, jika saat itu Icha sudah memiliki suami.


“Apa kamu tahu Icha? Sejak pertemuan pertama kita di halaman masjid waktu itu, hampir setiap malam kamu hadir di mimpiku. Tapi, saat ini kamu ada di hadapanku, tidak hanya mimpi.”


Puas bergumam sambil menatap istrinya, Fahry menutup kembali laptopnya.


Ia berbaring di lantai beralaskan tikar, sambil menatap wajah istrinya. Karena sangat lelah, ia juga perlahan menutup kelopak matanya menuju ke alam mimpi.


Di tengah malam, Icha terbangun karena terasa banyak sekali nyamuk yang mengganggu tidurnya.


Melihat di sekelilingnya, ia mengernyit heran melihat kamar asing.


“Astaghfirullah ... aku hampir lupa,” gumam Icha menepuk keningnya pelan, dengan suara paraunya.


Ia baru mengingatnya, jika dirinya baru saja menikah.


Melihat ke arah sampingnya, suaminya terbaring di lantai beralaskan tikar, sambil meringkuk kedinginan. Karena Icha yang memakai selimut miliknya.


Karena banyak sekali nyamuk menggigitnya, ia mencari sesuatu yang dapat mengusir nyamuk. Icha melihat ada obat nyamuk yang berbentuk bulat melingkar di samping tempat tidur.


Icha sangat tahu benda itu, karena di pesantren ia pernah memakai itu karena banyak nyamuk.


Ia mengambilnya dan menyalakannya karena ada korek api juga yang tersedia di tempat tersebut.


“Kenapa dia tidur di situ. Kasihan sekali,” gumam Icha dalam hati, mengambil selimut menutupi tubuh suaminya yang meringkuk kedinginan.


“Bagaimana kalau aku membangunkannya? Untuk pindah tempat tidur?” tanyanya dalam hati.


Tapi Icha mengurungkan niatnya, setelah mendengar dengkuran kecil suaminya.


“Mas Fahry pasti sangat cape,” gumamnya lagi.


Icha kembali merebahkan tubuhnya, posisi miring menghadap suaminya yang tertidur pulas.


“Maafkan aku Mas Fahry, karena kejadian tadi, Mas Fahry terpaksa harus menikahiku.”


Icha masih di selimuti rasa bersalah pada suaminya.


“Selamat malam Mas, Fahry. Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa Mas, aku akan belajar menjadi istrinya yang baik,” gumamnya dalam hati meyakinkan dirinya.