
“Mas,” panggil Icha lagi.
Terdengar helaan nafas Fahry.
Fahry membalikkan badannya menghadap istrinya, menatap matanya istrinya yang masih basah akibat menangis.
“Aku minta maaf, Mas.”
Fahry menghapus air mata istrinya dengan kedua ibu jarinya.
“Memangnya, siapa yang mau pergi? Aku hanya mencari pakaianku, aku akan pergi ke tenda tempat dimana orang mengungsi.”
“Jadi, Mas tidak ingin pergi?” tanya Icha memastikan.
“Tidak. Aku sudah berjanji, tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi.”
“Terima kasih Mas. Maafkan Papaku Mas, maafkan perkataannya yang telah menyakitkan hatumu.”
Memeluk suaminya dengan erat.
Fahry membalas pelukan sang istri.
“Sudah. Jangan menangis, aku sudah pernah katakan. Jika, kita akan menghadapinya bersama.”
Icha mengangguk masih terdengar suara isak tangis di dalam pelukan suaminya.
Fahry melepaskan pelukannya, ia menyatukan kening mereka.
“Jangan menangis seperti ini lagi, aku tidak sanggup melihatnya. Aku sudah terbiasa mendengar hinaan orang dan aku tidak pernah tersinggung sekalipun. Masalah Papa, aku akan membuktikan kepada beliau, jika aku mampu membahagiakanmu.”
Icha mengangguk. Fahry kembali mengusap air mata istrinya yang mengalir tidak hentinya.
Fahry mengecup kening istrinya dan bibir istrinya sekilas.
Tanpa mereka sadari jika Dika, ada di ambang pintu. Ia ingin masuk ke kamar adiknya untuk menemui Fahry, akan tetapi ia tidak sengaja melihat adiknya sedang mesra berdua dengan suaminya lagi berpelukan.
Tok! Tok!
Dika mengetuk pintu walaupun pintu kamar sudah terbuka.
Fahry dan Icha menoleh ke sumber suara, mereka saling melepaskan pelukannya.
“Maaf, Abang mengganggu.”
“Iya, Bang. Masuk Bang,” Ujar Fahry.
“Icha, Abang ingin bicara dengan Fahry sebentar.”
“Apa kamu tidak keberatan? Aku hanya ingin bicara empat mata dengannya?”
Icha mengangguk, ia melangkah keluar kamar menuju ke dapur untuk melanjutkan memasaknya.
“Fahry, aku ingin meminta maaf atas perlakukan papaku padamu. Jangan tersinggung dengan apa yang di ucapkan papaku padamu.”
“Iya, aku memakluminya. Mungkin beliau belum menerimaku saat ini, suatu saat nanti aku yakin akan kekuatan cinta kami, mampu meluluhkan hati Papa.”
Dika menepuk pelan bahu adik iparnya.
“Aku selalu ada di belakang kalian,” Ujar Dika memberi dukungan.
“Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan,” tambah Dika lagi.
“Iya, Bang.”
“Oh ya, satu lagi. Masalah rumah ini, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan rumah ini. Ini murni uang Abang sendiri, tidak ada uang Papa sedikitpun. Abang sudah berniat dari dulu, jika adikku menikah aku akan memberikannya rumah.”
Fahry hanya mengangguk.
“Baiklah. Abang hanya bisa mengucapkan minta maaf, karena perkataan Papa.”
“Iya, Bang. Tidak perlu meminta maaf, ini adalah ujian yang harus Icha dan Fahry lewatkan.”
“Kamu begitu dewasa Fahry,” puji Dika.
Setelah berbincang pada Fahry, Dika merasa lega karena sudah berbicara dengan Fahry.
Dika berpamitan pulang kepada Icha dan Fahry, setelah mengantar Dika mereka masuk untuk bersiap.
Namun, sebelum itu mereka sarapan terlebih dahulu. Fahry tampak diam saat sarapan, bahkan makan sarapannya pun hanya sedikit tidak seperti biasanya.
“Mas,” panggil Icha saat mereka hendak keluar kamar.
“Iya,” sahut Fahry sambil memakaikan sepatunya.
“Ada apa?” tanya Fahry karena Icha tidak berbicara.
Ia menatap lembut wajah istrinya.
Icha menggelengkan kepalanya.
Fahry tersenyum beranjak menghampiri istrinya, ia menyelipkan sehelai rambut yang sedikit keluar dari kerudungnya.
“Sudah. Kita jangan membahas ini lagi, kita akan menghadapinya bersama,” ujar Fahry lembut menatap istrinya.
Icha memeluk suaminya.
“Maafkan Papa mas,” lirih Icha kembali terisak.
“Sstt ... sudah ya! Tidak baik jika menangis terus menerus,” ujar Fahry lembut.
Fahry membalas pelukan istrinya, Fahry melepaskan pelukannya.
Cup!
Fahry mencium kening istrinya.
Cup! Cup!
Fahry kembali mencium kedua pipi mulus istrinya.
“Ayo, kita berangkat,” ajak Fahry mengusap sisa air mata istrinya.
Icha mengangguk.
Setelah drama suami istri, mereka melangkah keluar menuju dimana motornya terparkir.
Dengan membawa beberapa bingkisan makanan untuk beberapa orang, mereka melaju ke tempat tenda pengungsian.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, mereka tiba di tempat tersebut.
Icha melihat sekeliling, cukup banyak orang yang mengungsi disana, anak-anak yang berlarian gembira.
Icha tersenyum melihatnya.
“Ada apa? Kenapa tersenyum?” tanya Fahry melihat istrinya tersenyum, dengan membawa plastik besar di tangan kanannya.
Fahry ikut tersenyum.
“Insya Allah, jika Allah mengizinkan kita akan mempunyai anak juga. Semoga dia cepat tumbuh di rahimmu,” ujar Fahry bicara pelan.
Icha tersenyum malu.
“Insya Allah ...” sahut Icha tersipu malu.
“Assalamualaikum ... Fahry,” panggil Ifan setengah berteriak.
“Waalaikumsalam,” sahut Icha dan Fahry bersamaan.
“kamu sudah datang? Kenapa lama sekali? Sejak tadi aku menunggumu!” protes Ifan.
“Iya, maaf. Ada Papa dan Abang Dika ke rumah pagi ini, sehingga terlambat datang.”
Ifan mengangguk mengerti.
Ifan membantu Fahry membawa bingkisan makanan tersebut dan beberapa bahan makanan lainnya. Sedangkan Icha melangkah menuju dapur umum darurat, untuk memasak bagi pengungsi.
Icha membantu mereka memasak, walaupun dirinya tidak terlalu bisa memasak.
Ifan dan Fahry juga ikut membantu di dapur, untuk membagikan makanan ke pada korban banjir.
“Sudah semua?” tanya Icha melihat tidak ada lagi yang datang mengambil makanan untuk makan siang.
“Sepertinya,” sahut Fahry.
Icha melangkah menghampiri ibu-ibu yang sedang sibuk menyuapi anaknya makan.
“Assalamualaikum ... lagi makan ya Adek?” sapa Icha lembut terlihat anak kecil yang sedang lahap makan di suapi oleh ibunya.
“Waalaikumsalam. Iya Tante,” sahut mereka.
Icha duduk di samping anak perempuan yang berusia sekitar tiga tahun.
“Namanya siapa dek?” tanya Icha anak kecil tersebut yang terlihat lucu.
“Tiara, Tante,” sahut ibunya karena anak kecil tersebut sibuk mengunyah makanan di mulutnya.
“Namanya cantik sekali,” ujar Icha sambil tersenyum.
“Mbaknya, istri dari Mas Fahry ya?” tanya wanita tersebut.
“Iya Bu. Kok ibu tahu?” tanya Icha balik.
“Iya. Tadi saya melihat Mbaknya datang bersama Fahry.”
“Iya. Kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu,” sahut Icha.
“Wah ... pengantin baru ternyata,” goda ibunya Tiara.
Icha hanya tersenyum simpul.
“Jujur saja Mbak. Fahry itu orang yang sangat baik, saya sudah kenal lama dengannya. Dia selalu menolong para korban banjir terutama saya dan keluarga, tanpa pamrih menolong.”
“Jika hujan deras saat malam, pasti di daerah tempat tinggal saya selalu menjadi langganan banjir dan pasti mas Fahry yang datang pertama untuk membantu,” tambah ibunya Tiara.
“Iya, Bu. Alhamdullilah, Mas Fahry dengan cepat datang membantu.”
“Sayang,” panggil Fahry memanggil istrinya.
“Nah, itu suaminya datang. Padahal baru saja di bicarakan,” ujar ibu Tiara.
“Hahaha ... iya Bu.”
“Wah, ada apa ini? Sepertinya kalian sudah akrab?” tanya Fahry ikut duduk bergabung bersama mereka.
“Fahry, istrimu sangat cantik dan Sholeha,” pujinya.
“Alhamdullilah Bu,” sahut Fahry tersenyum sambil memainkan pipi Tiara yang gembul.
“Ibu doakan semoga pernikahan kalian langgeng hingga kakek Nenek, menjadi pasangan sakinah, Mawadah dan Warahmah.”
“Aamiin ...” sahut Fahry dan Icha bersamaan.
“Apa kalian sudah makan?”
“Sudah Bu. Sebelum kemari, kami sarapan di rumah.”
Bu Tiara mengangguk.
Icha memberikan baju anak kecil untuk Tiara, bukan hanya Tiara saja mendapatkannya. Anak- anak yang lain pun kebagian semua.
Sebelum datang ke tempat tersebut, Icha dan Fahry membelikan baju untuk anak-anak yang ada di tenda. Karena Fahry mengatakan jika banyak anak-anak yang kekurangan baju.
“Terima kasih banyak Fahry dan ...” ucapannya menggantung.
“Icha Bu,” sambung Fahry.
“Iya. Terima kasih banyak Fahry dan Icha, semoga Allah membalas kebaikan kalian.”
“Sama-sama Bu. Jaga kesehatannya, kami ingin berpamitan dulu,” pamit Fahry.
“Iya, Fahry. Hati-hati di jalan.”
“Insya Allah.”
Fahry mengusap kepala Tiara sebelum pergi, Icha melihat Fahry yang begitu menyukai anak kecil.
Mereka berpamitan, karena sudah selesai membagikan sembako dan pakaian. Fahry berniat ingin mengajak istrinya ke makam ibunya yang tidak jauh dari tempat tersebut.
“Fahry, kalian mau kemana?” tanya Ifan yang juga ingin pulang.
“Mau ke tempat ibu,” sahut Fahry.
Ifan mengerti yang di maksud oleh Fahry, akan tetapi tidak dengan Icha yang bingung. Karena, setahunya Fahry adalah anak yatim piatu.
Namun, ia tidak bertanya. Hanya diam duduk di belakang suaminya.
Mereka berpamitan dengan Ifan, yang juga ingin kembali pulang ke kosnya.
Saat ini tidak ada jarak di antara mereka saat duduk di atas motor, bahkan tanpa sadar Icha memeluk suaminya dari belakang.
“Icha. Apa kamu tidak lelah?” tanya Fahry saat sedang mengendarai motornya.
“Tidak Mas. Kenapa?” tanya Icha mendekatnya wajahnya ke punggung suaminya bahkan menempelkan dagunya.
“Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat Ibu,” sahut Fahry.
“Oh, iya Mas. Aku juga ingin bertemu Ibu, karena aku belum pernah melihat dan bertemu dengannya.”
Fahry mengernyit heran, ternyata istrinya tidak mengetahui jika Ibunya sudah meninggal.