
Enam bulan sudah berlalu, hari ini adalah hari yang paling menegangkan untuk semua orang, karena hari ini sidang putusan hak asuh putri dari Anggun.
Sepertiga malam, ia melaksanakan salat lalu di lanjut hingga subuh ia tidak tidur sama sekali.
“Sayang, serahkan semuanya kepada-Nya.” Mengusap punggung putrinya setelah selesai melaksanakan salat subuh berjamaah.
“Iya, Ma. Anggun sangat merindukan Naura, sudah sangat lama Anggun tidak bisa memeluknya.”
“Iya. Mama selalu berdoa setiap hari, agar kamu bisa memenangkannya hak asuh Naura.”
“Iya, Ma.” Memeluk Mamanya.
Setelah itu, mereka kembali ke kamar untuk bersiap.
Semua orang ikut hadir dalam sidang putusan tersebut, termasuk Indah dan Dika kecuali Bu Sintya tidak di perbolehkan ikut oleh Anggun dengan alasan tidak ingin membuat sang ibu cemas di persidangan nanti.
Setelah selesai bersiap, Anggun mengusap foto putrinya yang ada di layar ponselnya.
“Mama akan datang menjemputmu, Nak. Tunggu Mama ya,” gumamnya tanpa sadar meneteskan air mata.
Melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Anggun segera keluar dari kamar. Karena persidangan tersebut dilaksanakan pada pukul sepuluh pagi.
“Sayang, sarapan dulu. Semua orang sudah sarapan, kecuali kamu,” tutur sang Mama melihat putrinya sudah menuruni anak tangga.
“Iya, Ma.”
Anggun duduk di kursi, sang Mama setia menunggu putrinya hingga selesai makan.
Sebenarnya, Bu Sintya ingin menyuapi putrinya akan tetapi Anggun melarangnya.
Saat usia ibunya sudah lebih dari setengah baya, giliran mereka lah harus merawat sang Mama.
“Ma, apa Mama sudah sarapan?” tanya Anggun di sela makannya.
“Sudah. Maaf, mama lebih dulu sarapan bersama adikmu. Mama menunggumu sejak tadi keluar kamar,” sahut Bu Sintya.
Anggun tersenyum.
“Iya, Ma. Jangan menunggu Anggun,” sahutnya.
Terlihat Icha dan suaminya menuruni tangga, karena mereka ikut menemani kakak nya persidangan hari ini.
“Maaf Mama tidak bisa ikut. Tapi, doa Mama selalu ada untuk kalian semua.”
“Iya Ma.”
Setelah sarapan, Anggun dan Icha beserta Fahry melangkah ke teras menuju mobil mereka.
🌹🌹🌹
Sementara Dika masih bersiap di kamar sama dengan istrinya.
Indah terduduk lemas di tepi kasur, karena merasa kepalanya sangat pusing.
“Kenapa Sayang?” tanya Dika menghampiri istrinya.
“Kamu sakit? Wajahmu pucat sekali.” Dika terlihat cemas melihat wajah istrinya yang begitu pucat.
Indah menggelengkan kepalanya.
“Aku baik-baik saja Bang. Mungkin hanya kelelahan,” sahutnya mencoba merapikan hijab yang ia kenakan.
“Kamu yakin? Kamu tidak perlu pergi, Sayang. Aku khawatir, wajahmu begitu pucat.”
“Tidak Bang. Aku ingin menemani Anggun.” Indah bersikeras ingin ikut bersama suaminya ke pengadilan.
“Baiklah, minum air putih dulu.” Menyerahkan gelas yang berisi air putih tersebut.
Indah mengambilnya, lalu menarik kursi untuk duduk. Ia mulai minum air putih yang suaminya berikan, hingga menghabiskan setengah dari gelas tersebut.
“Bagaimana? Apa masih pusing?” tanya Dika duduk di hadapan istrinya.
Indah tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
“Sudah merasa baikkan,” tuturnya.
“Baiklah, sekarang ayo kita berangkat. Fahry dan yang lainnya sudah pergi ke pengadilan.”
“Iya, Bang.”
Saat berdiri dari tempat duduknya, Indah merasakan kepalanya sangat pusing. Tidak hanya itu, ia juga merasakan perutnya terasa di aduk. Hingga ingin mengeluarkan isi perutnya, namun berusaha menahannya.
Adita masih mencoba mengikuti langkah suaminya, sambil menahan perut yang bergejolak hebat.
Saat tiba di ruang tamu, Indah sudah tidak bisa menahannya lagi perutnya kembali merasakan guncangan hebat.
Bruuk!
Indah terjatuh tepat di belakang suaminya.
Mendengar suara tersebut, Dika langsung membalikkan badan.
Ia membulatkan matanya melihat istrinya sudah tidak sadarkan diri.
“Sayang,” panggil Dika mencoba membangunkan istrinya.
“Bi!” teriak Dika.
“Iya, Tuan.” Terlihat pembantu rumahnya setengah berlari.
“Ambilkan air!”
“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya dengan cemas mengangkat kepala istrinya ke pangkal pahanya.
Pembantu tersebut membawa segelas air, Dika mencoba membangunkan istrinya dengan membasahi wajahnya menggunakan air yang ada di gelas tersebut.
“Bi, tolong buka pintu mobilku. Aku akan membawanya ke rumah sakit,” perintahnya dengan suara yang bergetar.
Pembantu tersebut mengangguk, lalu melangkah cepat ke teras.
Dika menggendong istrinya ke luar rumah menuju mobilnya terparkir, beruntung sang sopir juga sigap melihat majikannya terlihat cemas sambil menggendong istrinya yang tidak sadarkan diri.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Dika setelah masuk ke dalam mobil.
Sang sopir mengangguk, lalu segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Ia mendengar suara ponselnya berdering, akan tetapi ia mengabaikannya karena yang terpenting saat ini adalah istrinya.
Setengah perjalanan menuju rumah sakit, mata Indah perlahan terbuka. Netranya tertuju pada sang suaminya terlihat begitu cemas.
“Sayang, kamu sudah sadar?” tanya Dika mengusap pelan pipi istrinya.
“Bang, kita ke mana?” tanya Indah dengan suara yang masih lemas.
“Kita akan ke rumah sakit. Jangan duduk, berbaringlah. Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit,” ujarnya melihat sang istri hendak duduk.
Tak lama mereka tiba di rumah sakit, Dika menggendong istrinya karena masih lemas.
Ia meletakkan istrinya di bangsal, lalu beberapa perawat membawanya masuk ke UGD.
Beberapa perawat tersebut memeriksa tekanan darah, juga denyut nadinya.
Salah satu perawat datang menghampiri Dika yang tengah berdiri menatap istrinya dari kejauhan.
“Pak, saya sarankan istrinya bisa di bawa ke Dokter Obgyn, untuk di periksa.”
“Dokter Obgyn? Dokter kandungan?” tanya Dika.
Sang perawat mengangguk.
“Istri saya butuh perawatan, kenapa harus di bawa ke Dokter tersebut!” seru Dika.
“Maaf, Pak. Tidak ada masalah serius dari istri bapak dan hasil periksa darah jika istri bapak sedang mengandung. Kami tidak ingin mengambil risiko, karena akan membahayakan janinnya. Maka dari itu, saya sarankan bawa ke Dokter kandungan terlebih dahulu.”
“Apa? Istri saya hamil?” tanya Dika memastikan.
“Ini masih belum pasti Pak, maka dari itu saya sarankan Istri bapak di bawa ke Dokter kandungan.”
Dika tercengang sejenak, lalu mengangguk.
Indah duduk di kursi roda, karena tidak kuat untuk berdiri lagi atau pun melangkah.
Dengan sabar Dika mendorongnya ke ruangan dokter kandungan.
Sebelum itu, Dika harus mendaftar terlebih dahulu dan mengantre seperti yang lainnya untuk menunggu giliran mereka di panggil.
Sembari menunggu nomor antrean mereka, Dika masih bergelut dengan pikirannya.
“Apa Indah hamil? Tapi, jika hasilnya tidak seperti yang di bayangkan, pasti akan menyakiti hatinya,” gumamnya dalam hati.
“Bang, kenapa melamun?” tanya Indah melihat sang suami sejak tadi melamun, entah apa yang di pikirkannya.
“Hah, tidak. Sebentar, aku akan menghubungi Icha. Aku lupa memberitahunya, aku tidak jadi pergi agar mereka tidak menunggu kita.”
Indah mengangguk.
Dika melangkah sedikit menjauh, karena tidak ingin mengganggu orang yang tengah menunggu antrean.
Tut! Tut!
Panggilan terhubung.
“Assalamualaikum, Icha.”
“Waalaikumsalam, Bang. Abang dimana? Kami menunggu Abang dan Kakak, sebentar lagi persidangan akan di mulai.”
“Maaf, Icha. Tolong katakan pada Anggun, Abang tidak bisa hadir. Saat hendak berangkat, Kakak kalian tidak sadarkan diri, saat ini kami sedang di rumah sakit.”
“Astagfirullah. Bagaimana keadaan kak Indah sekarang, kami akan menyusul nanti kak.”
“Masih menunggu di periksa. Tidak perlu, kalian fokus temani Anggun saja. Kabari Abang setelah persidangan selesai.”
“Iya, Abang. Kabari juga keadaan Kak Indah setelah di periksa nanti, semoga hasilnya baik-baik saja dan tetap dalam lindungan Allah,” tutur Icha di balik ponsel tersebut.
“Iya, Dek. Baiklah, Abang tutup teleponnya. Assalamualaikum,” pamit Dika.
klik!
Dika mengakhiri panggilannya, setelah mendengar adiknya menjawab salamnya.
Dika kembali duduk di samping istrinya yang masih setia menunggu nomor antrean mereka di panggil.
“Sayang,” panggil Dika pelan mengambil tangannya istrinya dan menyatukannya pada tangannya.
“Iya Bang.” Netra Indah menatap wajah sang suaminya yang masih terlihat cemas.
“Apa pun hasilnya nanti, Abang harap kamu jangan sampai kepikiran. Abang sudah ikhlas menerima semuanya,” tutur Dika lembut dengan bicara pelan.
“Iya Bang. Jangan khawatir, aku sudah biasa menghadapi ini. Jadi, Abang tenang saja.”
Indah mengeratkan tangan mereka, sambil memaksakan senyumnya.
Walaupun sebenarnya dirinya sangat cemas dengan hasilnya, berharap apa yang ia harapkan selama ini benar-benar terjadi.
“Bagaimana? Apa kepalanya masih pusing?” tanya Dika mengalihkan pembicaraan.
“Masih pusing. Akan tetapi tidak seperti sebelumnya,” sahutnya.
“Baiklah. Sekarang senderkan kepalamu di bahuku,” Ujarnya menarik pelan kepala istrinya agar bersender di bahunya.