
“Sayang,” panggil Fahry di ambang pintu kamar mereka.
“Iya,” sahut Icha menoleh ke arah sumber suara, bisa di pastikan itu adalah suara suaminya.
“Sedang apa disini?” tanya Fahry melangkah menghampiri istrinya.
“Aku tidak bisa tidur. Sepertinya aku lapar, Mas.”
Icha beranjak mengambil roti di dari dalam kulkas miliknya.
“Lapar? Tumben,” ujar Fahry tersenyum.
“Mau?” tanya Icha melihat Fahry duduk di sampingnya.
“Boleh. Aku juga terasa lapar,” ujar Fahry.
Ia beranjak ke arah wastafel untuk mencuci wajahnya terlebih dahulu, lalu kembali duduk.
Fahry Kembali duduk di samping istrinya, lalu mengambil roti yang tergelatak di meja.
Setelah merasa perut mereka kenyang, mereka kembali masuk ke kamar. Sedangkan Fahry melakukan salat malam terlebih dahulu, Icha masih setia menunggu suaminya selesai salat. Karena dirinya masih belum bisa melaksanakan salat.
“Kenapa tidak tidur?” tanya Fahry melihat istrinya berulang kali menguap.
Fahry melipat sajadahnya, lalu melepaskan sarungnya selepas salat. Ia meletakkan sarung, sajadah dan pecinya ke tempatnya semula.
“Aku menunggumu Mas,” sahut Icha.
Fahry tersenyum, menghampiri istrinya.
“Terima kasih. Ayo kita lanjut tidur, lihat matamu saja sudah memerah menahan kantuk!”
Icha mengangguk.
Mereka naik ke atas tempat tidur, lalu menerik selimut menutupi sebagian tubuh mereka.
Fahry menarik istrinya masuk ke dalam dekapannya, ia merapikan rambut Icha dan menyelipkannya ke belakang daun telinganya.
“Kenapa belum tidur? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Fahry lembut.
Icha menggelengkan kepalanya.
“Tidak mungkin. Pasti ada yang kamu sembunyikan lagi dariku,” pungkas Fahry.
“Apa kamu sedang memikirkan Cindy? Bukankah kemarin Cindy sudah mengatakannya padamu? Jika kami hanya berteman,” ujar Fahry.
“Cindy dulu sangat dekat dengan ibuku. Saat masih duduk di sekolah dasar, dirinya kehilangan Ibunya untuk selamanya. Semenjak saat itu hingga dirinya duduk di bangku SMA, ia selalu murung tidak mau berteman dengan siapapun. Saat dia makan di kantin sendirian, ibuku mengajaknya berbicara hingga membuat dirinya nyaman. Bahkan sejak saat itu, ia begitu akrab dengan ibuku tapi tidak denganku. Hingga ibuku menganggapnya sebagai putrinya, setelah itu Cindy kembali ceria lagi. Bahkan ia sudah mau berteman dengan semua orang,” tambah Fahry menceritakannya panjang lebar.
“Iya, Mas. Aku percaya kok, kasihan Cindy Mas,” sahut Icha mendekatkan wajahnya pada suaminya.
“Iya,” sahut Fahry.
Fahry tersenyum, mendekap erat istrinya.
“Ayo kita tidur,” ajak Fahry.
Icha Kembali mengangguk.
Mereka tidur hingga pagi menjelang, hingga Fahry salat subuh pun kesiangan.
Sedangkan Icha masih berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya.
“Sayang, dimana teh ku?” sambil memakaikan sepatunya.
“Itu di meja,” sahut Icha.
“Oh, iya. Aku tidak melihatnya,” gumamnya karena fokus memasang sepatunya.
Karena dirinya sudah terlambat pergi bekerja.
Fahry hanya menyeruput beberapa kali saja tehnya, lalu ke menghampiri istrinya yang sibuk membungkus makanan untuknya.
Cup!
“Sayang, aku harus pergi sekarang. Karena sudah sangat terlambat,” ujar Fahry mengecup pipi kiri istrinya.
“Ini bekal makan siangmu, Mas. Maaf, karena diriku Mas jadi terlambat berangkat bekerja.”
“Jangan merasa bersalah seperti itu,” ujar Fahry sambil melangkah.
Icha mencium tangan suaminya, lalu masuk ke dalam rumah. Karena Fahry meminta untuk masuk ke dalam rumah, tidak perlu menunggunya pergi.
🌹🌹🌹
Di tempat lain.
Dika mengerjapkan kedua matanya, melihat istrinya masih tertidur pulas.
Ia terbangun karena mendengar suara seseorang yang sedang berbincang.
“Paman,” gumamnya menyipitkan kelopak matanya.
Dika beranjak dari tidurnya, karena merasa ada pergerakan Indahpun ikut terbangun.
“Bang,” lirih Indah.
“Aku disini sayang,” ujar Dika mengerti ketakutan istrinya.
“Ada Paman juga,” ujar Dika menunjuk Pamanya yang sedang berbincang dengan Dokter.
“Hai, assalamualaikum. Selamat pagi,” sapa pak Candra.
“Selamat pagi Paman, Waalaikumsalam,” sahut Dika dan Indah bersamaan.
Dika merasa malu, karena tertangkap tidur di bangsal bersama istrinya.
“Tidur kalian begitu nyenyak. Jadi, Paman tidak mau mengganggu tidur kalian.”
“Iya, Paman. Maaf,” ujar Dika.
Ia berusaha turun dari tempat tidur, lalu mencium punggung tangan pak Candra.
“Aku sudah mendengar keterangan dari kepolisian dan pria itu memang bersalah. Dari rekaman cctv, dia sudah terbukti salah. Akan tetapi, mereka akan meminta keterangan kalian berdua, nanti.”
“Iya, Paman.”
“Apa kamu baik-baik saja Sayang,” tanya pak Candra pada keponakannya.
“Sudah lebih baik Paman.”
Tak lama, istri dari Pamannya datang membawa beberapa makanan.
“Oh Indah sudah bangun ternyata,” sapanya Lembut.
“Iya, Bi.”
Bibinya meletakkan makanan tersebut, lalu menghampiri Indah yang masih duduk di atas bangsal.
“Sayang, apa ini sangat sakit?” melihat beberapa luka lebam di wajah Indah.
“Sudah tidak begitu sakit, Bi.”
“Pa, Mama tidak mau tahu. Hukum pria itu seberat-beratnya, jangan sampai ada korban lagi. Pria tersebut jangan di beri ampun!” kesal istri pak Candra.
Ia merasa geram pada pria itu, begitu kejinya ingin memperkosa keponakannya.
“Cih ... jika aku sebagai Dika, sudah ku bunuh pria itu!”
Membuat semua orang menelan saliva kasar, setelah mendengar penuturan istri dari pak Candra.
“Sabar, Ma.”
Berusaha menenangkan istrinya.
Pak Candra sangat mengetahui kemarahan istrinya.
“Sekarang kita sarapan bersama,” ujar pak Candra mengalihkan kemarahan istrinya.
Sedangkan Dika masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Ia melihat perhatian Pak Candra pada Indah, walaupun Indah hanya keponakan mereka. Tapi, perhatian mereka melebihi anak kandung.
Bagaimana mereka memberi kasih sayang pada dirinya dan Indah, begitu lembut. Bahkan Jauh berbeda dengan Papanya, yang setiap hari ada saja pertengkaran diantara mereka.
Setelah selesai, Dika keluar dari kamar mandi.
Ia memperhatikan Indah yang disuapi oleh Bibinya, sedangkan pak Candra duduk memakan sarapannya.
“Dika, ayo sarapan dulu. Kemari duduk di sebelah Paman,” ujar pak Candra bergeser sedikit.
“Bi, aku sudah kenyang.”
“Sudah kenyang? Kamu sedikit sekali makan! Lihat, baru beberapa suapan,” protes Bibinya.
“Apa makanannya tidak enak?” tanya pada dirinya sendiri.
Ia mencoba makanan tersebut.
“Hukwee ... pedas sekali,” protesnya.
“Indah, kenapa tidak bilang jika makanan ini pedas? Cepat ini minum dulu, pasti kamu kepedasan.”
Memberikan segelas air putih.
“Ma, makanan ini tidak terlalu pedas. Mama kan tidak suka pedas,” ujar pak Candra melihat istrinya kepedasan, tapi sibuk memberikan air minum pada Indah.
Karena ia berpikir, jika keponakannya kepedasan.
“Masa?” tanyanya menatap Indah.
Indah hanya tersenyum.
“Sudah. sekarang minum obatmu,” Ujarnya menyerahkan beberapa obat pada Indah.
“Semua pakaian kalian Paman pindahkan ke apartemen, Paman menyewa apartemen khusus untuk kalian. Di hotel itu sudah tidak aman, bahkan aku sudah memberinya bintang satu, karena pengamanannya kurang. Bahkan Paman membatalkan kerja sama dengan mereka!” geram pak Candra.
“Tapi Paman. Apa Paman tidak rugi? tander itu cukup besar,” ujar Dika.
“Ck ... aku tidak pernah rugi sedikitpun, apalagi melihat keponakanku di lecehkan begini! Mereka yang rugi,” ujar Paman geram.
Dika seperti kesulitan untuk menelan salivanya.
“Maafkan aku Paman. Semua ini salahku, seandainya saja aku tidak meninggalkan Indah. Peristiwa ini pasti tidak akan terjadi,” ucap Dika merasa sangat bersalah.
“Tidak perlu meminta maaf Dika, aku yakin kamu juga tidak mengetahui kejadian ini akan seperti ini. Ini akan jadi pelajaran ke depannya, untuk kalian berdua.”
Fahry mengangguk.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, Indah sudah di perbolehkan pulang. Karena hanya terdapat luka luar saja, tidak ada luka yang serius.
Dika lebih dulu membayar semua administrasinya dan menebus beberapa obat, lalu menyusul istrinya yang lebih dulu di bawa oleh Pamannya. Mereka bertiga menunggu Dika di mobil.
🌹🌹🌹
Sore itu, Fahry sedikit terlambat pulang. Karena begitu banyak buku yang harus di antar olehnya, karena kemarin dirinya tidak masuk bekerja.
Saat serius mengendarai motornya, ia melihat mobil tidak terlalu asing.
Yang tengah sibuk memeriksa mesin mobilnya, di pinggir jalan.
Fahry menepikan motornya.
Tin! Tin!
suara klakson motor Fahry.
“Fahry, alhamdullilah. Kebetulan kamu ada disini,” ujar Cindy bernafas lega.
“Ada apa dengan mobilmu?” tanya Fahry menghampiri Cindy.
“Mobilku tiba-tiba mogok, entah apa yang rusak,” keluh Cindy.
“Biar aku coba lihat,” ujar Fahry membuka helmnya.
“Iya, terima kasih banyak Fahry sebelumnya.”
Fahry memeriksa bagian mesin mobil, walaupun bukan keahliannya. Akan tetapi ia sedikit mengetahui tentang mesin, karena sering membantu Ifan sahabatnya memperbaiki motor.
Hingga tanpa sadar, Fahry dan Cindy cukup lama di tepi jalan tersebut.
“Fahry, sudah hampir malam. Apa istrimu tidak mencarimu?” tanya Cindy.
Fahry sejenak menghentikan aktivitasnya, ia melihat sekeliling yang terlihat mulai gelap.
“Insya Allah tidak.”
Fahry kembali melanjutkan pekerjaannya dengan alat seadanya.
Melihat Fahry yang berkeringat, Cindy berinisiatif untuk mengambil air mineral dan beberapa lembar tisu.
“Fahry, minum dulu.”
Cindy menyerahkan air tersebut, dan juga tisu.
“Terima kasih,” ujar Fahry.
Cindy mengangguk.
Entah apa yang di lakukan Fahry, hingga mobil tersebut kembali menyala.
“Alhamdulillah ...” ujar mereka bersamaan.
“Sudah bisa,” ujar Fahry menutup kap depan mobil.
“Terima kasih banyak Fahry. Maaf merepotkanmu,” tutur Cindy.
“Sama-sama. Kalau begitu, aku permisi dulu Cindy.”
“Iya, Fahry. Hati-hati di jalan, salam untuk istrimu, Fahry.”
Fahry tersenyum, lalu mengangguk.
Setelah berpamitan, Fahry melaju menuju rumahnya. Karena ia pasti tahu, jika Icha pasti cemas menunggu kepulangannya sudah hampir magrib belum tiba. Dirinya tidak bisa menghubungi istrinya, karena ponselnya sudah mati.
Tanpa mereka sadari, jika ada yang memotret mereka dan di ambil dengan gaya yang tepat, sehingga terlihat mereka sedang berpegangan tangan. Lalu mengirim foto tersebut, pada nomor Icha.
Setelah itu tersenyum licik melihat kepergian Fahry.