
Dua bulan kemudian.
Pagi ini Anggun tampak kebingungan, ia mencari putri dan suaminya tidak ada di rumah.
Ia bertanya pada penjaga rumah, tidak ada yang mau memberitahunya.
“Bi. Dimana Naura dan suamiku? Ke mana mereka pergi sepagi ini?” tanya Anggun pada pembantu rumahnya.
“Sa-saya ti-tidak tahu Nyonya,” sahut pembantu.
Sangat jelas dari wajah pembantu itu terlihat sangat gugup, bahkan wajahnya tampak pucat.
“Bi. Aku tahu, jika Bibi menyembunyikan sesuatu. Kenapa? Apa bibi di ancam oleh suamiku?” tanya Anggun menatap curiga pada pembantunya.
Bibi hanya menunduk, tidak mengangguk juga menggelengkan kepalanya.
Terlihat Anggun menghela nafas berat, ia kembali ke kamarnya. Bertanya pada pembantunya pun percuma, pasti dirinya tidak akan mendapatkan jawaban.
Anggun masuk ke kamar dengan tegesa-gesa ia mengambil ponsel miliknya. Akan tetapi, amplop putih yang tergeletak di meja lebih menarik perhatiannya.
Ia meletakkan kembali ponselnya dan mengambil amplop putih tersebut lalu membukanya.
Anggun membulatkan matanya, setelah membaca surat tersebut.
Surat dari pengadilan agama, sang suami sudah mengajukan perceraian untuk mereka.
Anggun terduduk lemas di tepi kasur, sambil meneteskan air mata membasahi kertas putih tersebut.
“Ini mimpi kan?” gumamnya.
Dengan tangan yang gemetar, Anggun mencari nomor suaminya dan berusaha menghubunginya berkali-kali.
Namun percuma, panggilannya selalu di tolak.
“Sialan kau! Kembalikan putriku!” pekiknya Anggun menatap nomor suaminya.
Ting! Pesan masuk di ponselnya, segera Anggun membukanya
“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku sudah menalakmu sekarang. Bahkan aku sudah mendaftar perceraian kita di pengadilan, kamu pasti sudah membaca amplop itu, bukan?”
“Hiks! Hiks! ... kembalikan putriku,” tutur Anggun yang menangis tanpa henti, bahkan semakin nyaring setelah membaca pesan tersebut, ia meremas kuat kertas tersebut.
“Kamu penipu!” pekiknya melempar kertas yang sudah di remas menjadi kusut ke sembarang arah.
Cukup lama ia menangis di kamar, hingga air mata yang mengalir di pipinya mulai mengering.
Anggun tampak berpikir, Anggun beranjak dari tempat duduknya seperti ia sudah mengingat sesuatu.
Anggun melangkah keluar dari kamarnya, sambil membawa ponsel dan kunci mobil.
“Nyonya mau ke mana?” tanya pembantu yang terlihat cemas melihat keadaan Anggun.
Sebenarnya, ia tidak tega ingin menceritakan semuanya. Akan tetapi, suami Anggun mengancamnya akan memecat dan keluarganya juga akan menanggung akibatnya. Jika ia Berani buka mulut untuk memberitahu keberadaan dirinya dan Naura.
“Bukan urusanmu!” bentak Anggun tanpa peduli pada pembantu itu yang terlihat khawatir padanya.
Anggun terus melangkah menuju mobilnya yang terparkir, lalu tancap gas ke suatu tempat.
Dengan kecepatan penuh, menembus keramaian kota dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang, tanpa peduli dengan keselamatannya lagi.
20 menit, ia tiba di gedung tinggi yang ada beberapa tingkat. Ia masuk ke dalam lift, tanpa peduli pada orang sekitar yang berbisik. Karena melihat penampilannya dengan rambut yang acak-acakan, dan mata sembab karena terlalu banyak menangis.
Setibanya di lantai atas, ia kebingungan karena ada beberapa pintu. Karena sebelumnya ia pernah mendengar, jika istri pertama dari suaminya tinggal di apartemen ini.
Anggun melihat mainan anak kecil yang terjatuh di depan salah satu pintu kamar apartemen tersebut, ia mengambilnya dan sangat mengenali mainan tersebut.
Sudah di pastikan, jika mainan tersebut adalah milik putrinya. Karena ia yang membelinya di saat ia belum melahirkan.
“Aku yakin, Naura pasti ada di sini,” gumamnya.
Ia menekan bel pintu, akan tetapi pintu tersebut tidak ada yang membuka.
Lalu berulang kali menekannya dengan tidak sabar.
Ceklek!
Pintu itu terbuka, terlihat wajah suaminya yang menatapnya dengan tajam.
“Mau apa lagi?! Mau cari mati datang kemari!” bentak suaminya menatap tajam Anggun.
“Dimana putriku? Kembalikan dia padaku,” pekik Anggun mencoba masuk ke dalam apartemen tersebut.
“Tidak akan. Dia putriku! Aku Ayahnya!” bentaknya tidak mau kalah.
“Apa? Aku tidak salah dengar! Aku yang melahirkan dia!”
“Lalu kenapa memangnya? Kamu memang melahirkan dia, tanpa diriku Naura tidak akan ada. Pergi dari sini!” ujarnya ingin menutup kembali pintu.
Namun, Anggun berusaha keras untuk menahannya, hingga ujung jari telunjuknya terjepit.
“Buka!” pekik Anggun tanpa peduli pada jarinya yang mengeluarkan darah.
Suaminya melepas pintu tersebut, hingga Anggun tersungkur ke dalam posisi tengkurap.
Bruuk!
Anggun terjatuh, karena suaminya melepaskan tangannya dari pintu tersebut.
Sang suami bukanya membantu, ia malah tertawa mengejek.
“Cuma segitu kemampuanmu!” ejeknya.
“Pak, bawa wanita gila ini keluar! Dia datang ingin merebut putriku, padahal dia sendiri yang tidak menginginkannya!” tuturnya berbohong.
Anggun mengernyit heran, melihat suaminya berbicara seperti itu.
Anggun bangkit dari tempat ia terjatuh, ia baru melihat ada di satpam apartemen yang sedang menunggunya di depan pintu.
Ternyata, mereka sudah di hubungi oleh istri pertama dari suaminya setelah mengetahui kedatangannya.
“Lepas! Aku bukan wanita gila, aku juga tidak mungkin membuang putriku!” bentak Anggun mencoba memberontak saat di tarik oleh dua satpam tersebut.
“Jangan dengarkan dia Pak. Wanita ini berbohong,” selanya.
“Cepat bawa dia!”
“Kamu yang gila! Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang!” teriak Anggun karena dirinya di bawa paksa oleh petugas keamanan apartemen atau satpam.
Pria tersebut tersenyum licik, setelah melihat Anggun di bawa paksa oleh satpam.
“Apa dia sudah pergi?” tanya istrinya yang menggendong Naura.
“Sudah.”
Suaminya menutup kembali pintu tersebut.
“Huh, syukurlah.” Istrinya pertamanya menghela nafas lega.
Di dalam lift, Anggun masih berusaha memberontak.
“Lepaskan aku! Aku tidak gila!” bentak Anggun.
“Diam!” bentak salah satu satpam tersebut, karena sedikit kewalahan membawa Anggun yang memberontak.
“Kalian yang diam! Kalian harusnya membantuku, untuk mengambil putriku! Mereka menculik putriku!” bentak Anggun tidak mau kalah.
“Kami tidak tahu masalah anda, Nona. Jika mengganggu keamanan di sini atau membuat keributan, kami tidak akan segan-segan mengusirnya!”
Anggun melemah, bahkan ia terduduk lemas di lantai lift. Dua satpam itu terlihat prihatin melihat Anggun yang terduduk lemas.
Namun, apalah daya mereka hanya menjalankan tugas.
“Naura, Putriku. Hiks ... hiks ... tunggu Mama sayang, Mama akan menjemputmu lagi,” tuturnya menatap foto putrinya yang ia jadikan wallpaper di ponselnya.
Anggun mencium layar ponsel tersebut, lalu memeluknya.
Tak lama pintu lift itu terbuka, saat satpam ingin menariknya agar keluar dari lift.
“Lepaskan, aku bisa jalan sendiri!” bentak Anggun beranjak dari duduknya keluar dari lift.
Setelah keluar dari lift, Anggun menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap tajam dua pria tersebut yang sudah menyeretnya keluar.
Dua pria itu mengernyit heran, apalagi melihat tatapan tajam Anggun pada mereka.
“Ada apa lagi?!” tanya salah satu satpam tersebut.
“Aku akan mengingat wajah kalian! Wajah dua pria yang telah menyeretku keluar dari apartemen ini, aku akan membuat kalian menyesal hingga bertekuk lutut di hadapanku!” ancam Anggun menunjuk kedua pria itu secara bergantian.
Dua pria itu menelan saliva kasar, mendengar ancaman Anggun pada mereka.
“Kami tidak takut dengan ancaman anda. Kami di sini hanya menjalankan tugas! Cepat pergi dari sini!” usir pria itu pada Anggun.
“Lihat saja nanti. Aku akan membuat kalian kehilangan pekerjaan!” ancam Anggun lagi karena sangat kesal kepada dua pria itu.
Setelah mengancam satpam tersebut, Anggun membalikkan badannya dan melangkah menuju mobilnya.
“Sepertinya wanita ini memang sudah tidak waras!” ujar salah satu pria itu.
“Sudah, biarkan saja!” sahut salah satu rekan kerjanya.
Di dalam mobil, Anggun tidak henti-hentinya mengumpat.
“Sialan! Sekarang aku baru mengerti, jika aku hanya di manfaatkan saja. Karena istrinya itu tidak bisa memberi dia anak!” kesal Anggun.
Arrgghh ... Anggun memukul setir mobil berulang kali.
“Aku akan membalas kalian berdua!” ancamnya berbicara sendiri di dalam mobil.
Anggun kembali mengendarai mobilnya keluar dari tempat tersebut, ia ingin pulang terlebih dahulu dan memikirkan bagaimana caranya untuk mengambil putrinya kembali.