Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 81



Polisi masih mengejar pelaku, dengan menggunakan motor.


Dor!


Polisi menembak pelaku tepat di kaki kirinya, hingga pelaku tersebut hilang Kendali dan terjatuh.


Bruak!


Pelaku terjatuh dan terseret, karena pelaku begitu cepat mengendarai motornya.


“Angkat tanganmu!” pekik polisi sambil mengarahkan senjata api tersebut pada pria yang menembak Dika.


Masih keadaan tengkurap, pria tersebut akhirnya menyerah mengangkat kedua tangannya.


Pria itu di tarik paksa, untuk menepi. Kedua tangannya langsung di borgol, agar pria tersebut tidak melawan.


“Ampun Pak. Saya cuma orang suruhan,” ujar pria tersebut berlutut di depan polisi tersebut.


“Jelaskan di kantor polisi saja!” bentak polisi tersebut.


Tidak lama, datang mobil polisi untuk menjemput mereka dan segera membawanya pergi dari tempat tersebut.


🌹🌹🌹


“Sialan! Kenapa jadi kacau begini?” umpat Aditya.


“Arggh ...” teriak Aditya frustrasi.


Saat mengetahui istrinya Adita sudah tiba di rumah sakit untuk menemui Dika, karena sebelumnya ia meminta kepada anak buahnya untuk mengikuti istrinya hingga ke rumah Dika.


Namun, ia mendapatkan laporan jika di rumah Dika ada begitu banyak polisi.


Aditya begitu terkejut, ia tidak menyangka pada istrinya ternyata benar-benar mengatakan pada Dika tentang kejahatannya.


Aditya segera mengemasi pakaiannya dan segera pergi dari rumahnya dan kota tersebut.


Sedangkan ia meminta anak buahnya untuk menembak Dika dan istrinya, karena sudah sangat kesal pada mereka.


Skenario yang ia susun rapi pun akhirnya berubah dan juga gagal total karena ulah istrinya.


Aditya mengambil ponselnya, ia melihat pesan masuk dari salah satu orang suruhan untuk mencari keberadaan Icha beberapa Minggu yang lalu.


Ia tersenyum licik.


“Aku akan datang Icha,” ujarnya menyeringai jahat melihat foto Icha.


Ia juga mendapatkan dimana keberadaan Icha, yang selama ini di sembunyikan oleh Dika.


“Ternyata kamu sembunyi di sana, pantas saja begitu sulit mencari keberadaan mu.


“Dika, lihatlah. Dimana pun kamu menyembunyikan adik manis mu itu, aku tetap menemukannya. Benar kata orang, kalau jodoh tidak akan ke mana.”


“Hahaha. Aku datang My Darling ... muach ....” ia mencium layar ponselnya yang ada foto Icha.


Saat ini Aditya sedang berada di hotel di salah satu kota besar, ia sengaja meninggalkan ponsel satunya di rumah beserta identitasnya.


Sedangkan saat ini ia memakai identitas orang lain.


“Nikmatilah Adita, apa yang kamu lakukan sekarang. Kamu pasti hidup dalam ketakutan, karena aku akan selalu menghantuimu! Kamu itu wanita bodoh, telah berpihak pada Dika!” tuturnya sambil tersenyum puas, karena sudah mengetahui keberadaan Icha.


“Anakku, setelah menemukan bunda Icha dan membawanya pulang. Papa akan kembali menjemputmu sayang. Bersabarlah, kita akan hidup bahagia hanya bertiga,” Ujarnya mengusap foto putranya.


Setelah puas bicara sendiri seperti orang tidak waras, Aditya merebahkan tubuhnya untuk beristirahat. Karena besok pagi ia akan pergi pagi-pagi sekali ke tempat tujuannya.


🌹🌹🌹


Ke esokkan paginya, Dika mengerjapkan keduanya. Ia melihat dua wanita yang setia menunggunya.


Terlihat juga pak Candra baru datang membuka pintu ruang rawat inap.


“Sstt ...” ujar pak Candra meletakan jari telunjuk di bibirnya, agar tidak mengganggu tidur istri dan ibunya.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya pak Candra bicara pelan.


“Alhamdulillah, masih terasa sakit Paman.”


“Pelaku penembakan sudah di tangkap dan dalangnya masih berkeliaran. Wanita yang ada di rumah mu itu, terlihat sangat ketakutan. Jadi, Paman memintanya untuk ke rumah Paman. Di rumah ada Bibi mu yang menemaninya, agar dirinya tidak ketakutan.”


“Astaga, aku melupakan wanita itu,” ujar Dika karena lupa dengan Adita istri dari Aditya.


“Paman mengetahui ini dari mana?” tanya Dika.


“Dari Indah dan maaf, Paman sudah menyelidiki ini secara diam-diam tanpa sepengetahuanmu. Paman baru ingin mengatakannya, akan tetapi kejadian ini lebih cepat dari yang Paman kira.”


“Iya, Paman. Aku tidak menyangka Aditya dalang di balik semua ini, aku sangat berdosa sudah menuduh Papa.”


Tanpa mereka sadari, jika Bu Sintya ternyata sudah bangun dan berpura-pura tidur untuk mendengar percakapan mereka.


“Dika, pelaku utamanya masih berkeliaran dan juga anak buahnya yang lain. Paman bukan ingin ikut campur, akan tetapi saat ini keberadaan adikmu sedang tidak aman. Yang di incar dari awal adalah adikmu, sehingga dia harus menyingkirkan kalian terlebih dahulu termasuk dirimu.”


“Dimana kamu menyembunyikan adikmu?” tanya pak Candra.


“Di sebuah desa kecil, yang jaringan pun sangat susah di akses.”


“Saran Paman, katakan pada mereka untuk tidak tinggal di satu tempat. Saat ini keberadaan mereka sudah tidak aman lagi, jika kamu ingin adikmu selamat,” usul pak Candra.


“Tapi, ada anak buahku yang menjaga mereka di sana.”


“Iya, Paman. Aku akan mencoba menghubungi mereka,” sahut Dika.


Drrtt!


Seperti sebuah kebetulan, ponsel miliknya berdering dan tertera nama Fahry di layar ponsel tersebut.


Indah yang semula tertidur pulas, terbangun karena mendengar suara dering ponsel milik suaminya.


“Abang, sudah bangun?” tanya Indah melihat suaminya sudah duduk di bangsal.


“Paman juga di sini?” melihat Pamannya duduk di sampingnya.


Pak Candra hanya tersenyum menanggapinya.


“Sayang, tolong ponselku.”


Indah segera mengambil ponsel suaminya yang tergeletak di meja dan memberikannya pada Dika.


“Halo, assalamualaikum Fahry.”


“Waalaikumsalam. Bang, ini Icha.”


“Icha, dimana Fahry? Abang ingin bicara serius dengannya,” ujar Dika tanpa basa basi.


“Abang kenapa? Suaranya sangat cemas. Apa semua baik-baik saja, Bang?”


“Semua baik saja Icha, sekarang berikan ponselnya pada suamimu.”


“Iya, Bang.”


“Halo, Bang. Apa kabar Bang?” tanya Fahry juga tidak kalah khawatir.


“Fahry, sekarang kemasi barang kalian dan bergegas pergi dari desa itu. Abang sudah menyiapkan semuanya, kalian tidak perlu khawatir.”


“Bang, ada apa? Kenapa mendadak Bang?”


Dika menceritakan sebagian ceritanya kenapa mereka harus pergi dari desa itu, akan tetapi ia tidak menceritakan jika dirinya sedang berada di rumah sakit.


“Fahry, tolong! Ini semua kebaikan kalian,” lirih Dika karena ia menahan sakit bahunya.


“Iya, Bang. Kami akan pulang dan mengemasi pakaian kami,” ujar Fahry.


“Baiklah, apa Darwin bersama kalian saat ini?” tanya Dika.


Darwin adalah orang suruhan Dika untuk menjaga adiknya di desa itu.


“Ada Bang.”


“Katakan, aku ingin berbicara dengannya.”


“Halo, Bos,” ujar Darwin lantang.


“Darwin, bawa kedua adikku keluar dari desa itu. Aku akan mengirim pesan padamu ke mana kamu akan membawa mereka, sekarang! Jangan menunggu lama!” ujar Dika lantang.


“Siap, Bos.”


“Semua bonus mu sudah aku transfer dan aku akan berikan tiga kali lipat jika kamu berhasil mengamankan mereka.”


“Iya, Bos.”


Setelah mengatakan itu, Dika mengakhiri panggilannya agar Fahry dan Icha segera mengemasi pakaian mereka.


“Bagaimana?” Tanya pak Candra.


“Sudah Paman,” sahut Dika.


“Baiklah, Paman harus ke kantor sekarang. Semua rumah sakit ini sudah ada anak buah Paman yang jaga, begitupun di rumah.”


“Iya, Paman.”


“Paman akan kembali lagi sore nanti,” ujarnya lagi.


Indah mencium punggung tangan Pamannya, sebelum pergi dari rumah sakit itu.


“Sayang, ada apa?” tanya Indah.


Ketika hendak menjawab, Bu Sintya mendekati mereka.


“Ada apa Dika?” tanya Bu Sintya.


“Ma. Mama pasti sudah mendengar semuanya, mama tidak perlu khawatir. Aku yakin dengan Fahry, ia pasti bisa menjaga Icha.”


“Mama sangat khawatir, Bang.”


“Ma, semua akan baik-baik saja.”


Sebenarnya Dika pun tidak kalah khawatirnya, apalagi Aditya yang belum tahu keberadaannya sekarang.


*


*


*


Terima kasih dukungannya kalian semua.