
“Ma, lagi ngapain?” tanya Icha saat masuk ke dalam kamar.
Ia melihat sang Mama yang duduk melamun, sambil melihat keluar jendela.
“Lagi duduk Sayang. Ada apa? Apa Icha menginginkan sesuatu?”
Icha menggelengkan kepala.
“Mama kenapa?”
Bu Sintya menggelengkan kepalanya.
“Ma, apa Abang ada menghubungi? Icha kangen,” tuturnya.
“Mama akan coba menghubunginya. Soalnya, beberapa hari ini jaringan sedang gangguan.”
“Iya, Ma. Semalam, Icha mimpi bertemu Papa. Bagaimana kabar Papa, Ya? Icha merindukan Papa, Ma.”
“Mama ke dapur dulu, haus.”
Bu Sintya bukan menghindar, sebenarnya ia juga merindukan suaminya. Hanya saja rasa rindu tidak sebanding dengan apa yang di lakukan oleh suaminya.
Icha menghela nafas melihat kepergian Mamanya, Icha juga tahu jika Mama juga merindukan papanya. Icha pernah mendengar Bu Sintya mengigau memanggil Papanya.
“Assalamualaikum,” ujar Fahry yang baru pulang berjualan.
“Waalaikumsalam,” sahut Icha.
Icha mengambil alih kantong plastik yang ada di tangan suaminya, terlihat Fahry begitu banyak mengeluarkan keringat.
“Mas, mau minum es teh?” tanya Icha melihat suaminya terlihat sangat lelah.
“Boleh, Sayang. Cuaca sangat panas,” sahutnya memutar ke kiri dan ke kanan handuk kecil yang biasa menempel di lehernya, agar mendapatkan angin.
Icha langsung melangkah ke dapur, untuk menyiapkan es teh untuk suaminya.
Ia membuatkan dua gelas es teh untuk dirinya dan suami.
“Mama dimana, Sayang.”
“Ada di kamar,” sahut Icha meletakkan teh tersebut.
“Bismillah ... Alhamdulillah, segarnya.”
Fahry meletakkan kembali gelas tersebut di meja.
“Mas, apa sebaiknya kita kembali ke kota?” menatap sendu suaminya.
“Kenapa? Apa kamu merindukan Papa?” tanya Fahry.
“Sayang, bukannya aku tidak ingin membawamu ke kota. Ini sangat bahaya membawamu, dalam keadaan seperti ini. Ini sangat berisiko.”
“Kita juga belum mendapatkan izin dari Abang. Aku tidak tahu, jika kembali kesana, apakah bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Untuk kehidupan kita dan biaya untuk mu melahirkan,” tutur suaminya lembut.
“Maafkan aku mas,” lirih Icha.
“Jangan meminta maaf, sayang. Kita akan kembali kesana jika Abang sudah bilang aman, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu dan juga calon anak kita.”
Mengelus lembut perut istrinya.
“Iya, Mas. Aku akan mengikuti apa yang menurut mas itu baik,” tutur Fahry lembut.
“Apa Abang ada menghubungi hari ini?” tanya Fahry.
“Belum, Mas. Jaringan sudah beberapa hari ini gangguan, susah untuk menghubungi Abang.”
“Iya, cuaca sedang tidak bagus.”
Perbincangan mereka terhenti ketika ada yang datang.
“Permisi,” panggil seorang pria dari luar rumah.
“Iya,” sahut Fahry beranjak keluar rumah.
“Cari siapa?” tanya Fahry.
Karena tidak mengenal pria yang ada di hadapannya, dua pria bertubuh kekar tersebut masih berdiri di depan rumahnya.
“Cari Fahry,” sahutnya.
Fahry mengernyit heran.
“Ada apa? Saya Fahry.”
“Kami membawa kiriman dari Pak Dika, dan juga di tugaskan untuk menjaga kalian.”
“Menjaga?”
“Iya. Karena situasi tidak aman, jadi kami di tugaskan menjaga kalian di desa ini.”
“Masuk,” ajak Fahry karena tidak ingin di dengar oleh tetangga.
Dua pria bertubuh kekar tersebut melangkah masuk dan membawa banyak sekali beberapa perlengkapan bayi.
“Banyak sekali,” ujar Icha melihat begitu banyak pelengkapan bayi.
“Tuan kami ...” perkataan mereka di sela oleh Fahry.
“Jangan panggil aku Tuan, panggil Fahry saja.”
Dua pria tersebut mengangguk.
“Fahry, kami ada kabar buruk dari pak Dika.”
Deg!
Perasaan Icha mulai tidak karuan, apalagi mendengar kata anak buah dari Abangnya bahwa ada kabar buruk.
"Kabar buruk? kabar apa?" tanya Bu Sintya yang baru keluar dari kamarnya.
"Maaf, Nyonya. kami juga di minta oleh Pak Dika untuk menyampaikan ini, karena begitu sulit untuk menghubungi kalian."
"Jangan banyak bicara! cepat, katakan! kabar apa yang ingin kamu sampaikan!" seru Bu Sintya, karena menurutnya dua pria tersebut terlalu banyak bicara.
Icha mengusap pelan bahu Mamanya.
"Maaf, Tuan besar sedang koma dan masih di rawat di rumah sakit. Tuan mengalami kecelakaan tunggal, setelah pulang dari rumah Pak Dika."
"Astaghfirullah." Icha menutup mulutnya, mendengar ucapan pria tersebut.
apalagi Bu Sintya yang langsung terduduk lemas di lantai.
"Tolong ambilkan air," pinta Dika pada pria tersebut melihat ibu mertuanya terlihat syok.
Salah satu pria tersebut mengambil air ke dapur.
Fahry meminta istrinya untuk duduk, begitupun dengan Bu Sintya duduk bersandar di lantai.
"Bagaimana keadaan Papa sekarang? hiks, hiks." tangis Icha pecah.
"Keadaan Tuan sudah stabil dan masih dalam perawatan di rumah sakit."
"Jika, Nyonya ingin pulang, kami siap mengantar. tapi, untuk Fahry dan Nona Icha tetap di sini. pak Dika meminta kalian berdua untuk tetap berada di desa ini, karena disana belum cukup aman."
Fahry mengangguk.
"Ma, apa Mama ingin pulang?" tanya Fahry pelan.
Bu Sintya masih bungkam, tatapannya kosong.
"Ma, Papa membutuhkan Mama sekarang. papa terbaring di rumah sakit, Papa sangat membutuhkan Mama untuk memberinya semangat."
"Tapi, Papa sudah mengusir Mama dulu," lirihnya teringat akan perkataan suaminya.
"Ma, lupakan yang dulu. mungkin saja Papa khilaf mengatakan itu."
Bu Sintya berpikir sejenak.
"Ma, kasihan Papa. Pasti sedang kesakitan," ujar Icha menatap Bu Sintya yang tampak bingung.
"Iya, Mama ingin pulang. tapi, bagaimana dengan kalian?"
"Jangan pikirkan kami, Ma. insya Allah, kami akan baik-baik saja. Ada Fahry yang selalu bersama Icha," sahutnya menyakinkan ibu mertuanya.
"Iya, Nak. Mama akan mengemasi barang Mama dulu," ujarnya, mencoba berdiri untuk masuk ke kamarnya.
Icha membantu ibunya untuk mengemasi pakaiannya.
"Ma, maafkan lah Papa. Icha yakin, pasti Papa akan sembuh dan kembali berkumpul bersama Mama lagi."
Bu Sintya hanya mengangguk.
Selesai bersiap, Icha memeluk erat Bu sintya.
"Jaga diri baik-baik sayang. Mama akan kembali, jika semuanya sudah kembali normal."
Icha mengangguk dalam dekapan sang ibu.
"Mama hati-hati di jalan, kabari Icha jika sudah tiba disana."
"Iya, Sayang."
cup!
Bu Sintya meninggalkan kecupan di pipi putrinya, sebelum melangkah keluar kamar.
Dua pria tersebut masih duduk di kursi bersama Fahry berbincang hangat, bahkan bertanya apa yang terjadi disana.
Dua pria itu tidak memberitahunya, karena harus meminta izin pada Dika terlebih dahulu.
"Sidah siap?" tanya Fahry ibu mertuanya sudah berpakaian rapi.
"Salah satu dari kami akan mengantar Nyonya," Ujar pria bertubuh kekar tersebut.
"Mari, Nyonya saya antar."
Fahry dan Icha bergantian mencium punggung lengan Bu Sintya.
"Hati-hati di jalan, Ma."
"Iya, kalian juga jaga diri baik-baik.
"Mama pamit dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ada beberapa tetangga yang keluar rumah melihat ada mobil yang terparkir di depan rumah mereka.
"Siapa Cha?" tanya ibu muda yang menghampiri mereka setelah mobil itu menjauh.
"Mama, Mbak. Mama harus kembali pulang, karena ada urusan penting," sahut Icha.
"Oh. Aku pikir siapa yang datang," ujarnya mengangguk mengerti.
"Kalian tidak ikut?" tanyanya karena penasaran.
"Tidak, Mbak. Saya takut untuk perjalanan jauh, apalagi dengan keadaan saya yang sedang hamil muda."
"Iya, juga sih."
Icha tersenyum melihat ibu tersenyum berpamitan pulang, kerena sudah dapat jawaban dengan rasa penasarannya.
begitupun dengan Icha dan Fahry, mereka masuk ke dalam rumah.
"Mas, bagaimana keadaan Papa sekarang?" memeluk suaminya dari belakang saat tiba di kamar mereka.
"Serahkan semuanya pada yang maha kuasa, berdoa agar semuanya akan baik-baik saja."
Fahry membalikkan tubuhnya, agar menghadap istrinya dan memeluknya Kembali.
terdengar suara Isak tangis istrinya di dalam dekapannya.
"Kita akan mencoba menghubungi Abang nanti," Ujarnya memberi ciuman hangat di pucuk kepala istrinya.
"Semua akan baik-baik saja," tambah Fahry lagi.