
“Fahry ...” panggil Ifan yang duduk di belakangnya.
“Iya. Ada apa?” tanya Fahry masih mengendarai motor.
“Wanita yang berkerudung biru tadi, apa sudah bersuami?” tanya Ifan.
“Siapa? Santi maksudnya?” tanya Fahry.
“Iya,” sahut Ifan.
“Janda. Suaminya meninggal beberapa bulan yang lalu, kenapa?”
“Oh begitu. Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja.”
“Fahry ...”
“Iya,” sahut Fahry lagi.
“Ada apa lagi?” karena sejak tadi Ifan selalu memanggilnya.
“Ternyata Icha sangat cantik ya. Bagaimana bisa kamu tidak menyukainya? Sudah cantik, baik, dan sopan banget lagi.”
“Sudah, sudah! Tidak baik membicarakan wanita yang bukan muhrim,” ujar Fahry mengingatkan.
Ifan terkekeh, teringat dulu ia pernah berkata seperti itu kepada Fahry.
Mereka melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah mereka. Seperti biasa, anak-anak banyak menunggu Fahry. Karena sore ini sudah berjanji kepada anak-anak untuk belajar mengaji bersama.
“Assalamualaikum kak Fahry.”
Anak-anak tersebut mengucap salam dengan serentak, melihat Fahry yang baru saja datang.
“Wah, kak Fahry motor baru,” puji salah satu dari mereka.
Mereka melihat kak Fahry dengan motor baru.
“Bukan punya kakak. Ini hanya titipan,” sahutnya.
“Kak, ajak kami dong. Jalan-jalan pakai motor baru,” ujar Ifal.
Fahry tersenyum, ia sengaja lama menjawab karena ingin mengerjai anak-anak tersebut.
“Mmm ... bagaimana ya?” Fahry tampak berpikir.
“Ayo dong kak sekali saja,” ujar Ifal dengan memelas.
“Ifal ingin sekali naik motor baru, ingin merasakannya. Karena Ifal belum pernah naik motor,” tambah Ifal lagi.
“Kami juga kak,” tambah Andi dan dua anak lainya.
Fahry merasa iba, niat awalnya hanya ingin mengerjainya. Akan tetapi dirinya malah merasa bersalah.
“Kakak hanya bercanda. Ayo naik,” ajak Fahry.
“Tapi, setelah pulang keliling sebentar. Kalian harus setor surah minimal satu, setiap seminggu dua kali. Bagaimana?”
“Iya kakak,” sahut mereka bersamaan.
“Kakak akan mengajak kalian keliling, jika kalian sudah setor mulai Minggu besok. Oke?”
“Siap Bos ...” Ifal memberikan hormat kepada Fahry hingga membuatnya terkekeh.
Fahry terkekeh melihat tingkah Ifal.
“Ayo naik,” ajak Fahry.
“Dua sama kakak Fahry dan dua lagi bersama kak Ifan. Jika semua ikut kak Fahry, tidak bisa. Karena terlalu banyak akan bahaya, apalagi kalau polisi lihat. Kita akan di tangkap,” ujar Fahry.
“Iya, kak.”
Fahry mengajak mereka berkeliling tidak terlalu jauh dari tempat itu, mengingat hari juga sudah sore. Terlihat jelas dari jalanan, jika sang Surya sudah hampir meninggalkan siang itu, karena akan berganti dengan rembulan malam.
Sebelum pulang, Fahry lebih dulu mengajak mereka makan bakso. Karena Fahry dan Ifan sudah makan, maka dari itu Fahry hanya memesan bakso hanya untuk mereka berempat saja.
Untuk ekonomi sulit seperti sekarang ini yang di rasakan oleh empat orang anak yang ada di hadapannya. Jangan untuk membeli bakso, dapat makan dari hasil jual botol saja mereka sangat bersyukur untuk makan sehari-hari.
“Makan yang banyak,” ujar Fahry.
Terlihat anak-anak tersebut sangat menikmati makan bakso, Fahry terlihat bahagia melihat anak-anak tersebut saling melempar canda.
Melihat senyum dari anak-anak tersebut itu sudah cukup baginya.
“Fahry,” panggil Ifan.
“Iya.”
“Kenapa tersenyum sendiri? Apa kamu baik-baik saja.”
Fahry terkekeh.
“Alhamdulillah aku baik-baik saja.”
“Oh, syukur Alhamdulillah. Aku melihat mu tersenyum sendiri, maka dari itu aku cemas dengan kesehatanmu,” tutur Ifan juga terkekeh.
“Apaan sih!”
“Aku bahagia melihat senyum dari wajah anak-anak ini, mereka sangat menikmati hidup mereka. Mereka tak seberuntung anak-anak di luar sana, di usia mereka saat ini seharusnya bermain dan bersekolah. Tapi, mereka harus mencari uang ikut dengan orang tuanya, karena tuntutan ekonomi.”
Ia teringat dengan almarhumah ibunya, yang berjuang berjualan setiap hari di kantin sekolah. Agar dirinya bisa bersekolah.
Ifan mengusap bahu Fahry, ia sangat mengerti yang di rasakan oleh Fahry.
“Aamiinn ... kelak mereka akan menjadi orang sukses dan selalu berbakti kepada orang tuanya. Karena ucapan adalah suatu doa,” Ujar Ifan.
Tak dapat di ungkiri, jika dirinya juga sangat sedih melihat nasib empat anak yang sibuk makan bakso sambil bercerita.
“Tapi, semua ini harus mereka lalui terlebih dahulu. Karena Allah mempunyai rencana indah untuk mereka ke depannya,” tutur Fahry.
“Iya. Kamu benar, Allah tidak akan menguji di luar batas umatnya,” tambah Ifan.
“Kak Fahry kenapa? Kok wajahnya sedih?” tanya Ifal yang menangkap raut wajah Fahry yang terlihat sedih.
Fahry tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
“Kakak tidak bersedih. Cepat habiskan baksonya, sebentar lagi masuk magrib. Kita salat dulu di masjid, setelah itu kita mengaji.”
“Oke kak,” sahut Ifal.
Sepulang dari makan bakso, Fahry memarkirkan motornya. Ia meminta anak-anak tersebut menunggunya karena ia harus mandi dulu.
Sayup-sayup terdengar suara Isak tangis seseorang sambil berbicara di luar rumah kosnya.
Ia melangkah keluar.
“Andi, kamu pulang. Jaga adik kamu dulu, Mama akan mencari pinjaman. Kita akan membawa adikmu ke dokter,” ujar salah satu ibu dari anak yang ikut Fahry tadi.
“Tapi, Bu. Andi ingin mengaji dulu,” ujar Andi sambil terisak.
“Andi, adikmu sakit. Hiks ... tolong jaga dia sebentar saja,” Ujar ibunya juga sambil terisak.
Andi mengangguk.
“Ada apa Bu?” tanya Fahry yang keluar dari dalam rumahnya, karena mendengar keributan.
“Aisya sakit, badannya sangat panas. Aku meminta Andi untuk menjaga adiknya sebentar,” sahut ibunya Andi sambil mengusap air matanya.
“Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit?” tanya Fahry.
Ibunya Andi tampak diam, ia tidak ingin merepotkan Fahry terus menerus.
“Ayo kita bawa ke rumah sakit,” ajak Fahry.
Ia bergegas menemui Aisya ingin membawanya ke rumah sakit.
“Tapi Fahry, ibu selalu merepotkan mu.”
“Jangan pernah berpikir seperti itu Bu. Saya membantu dengan ikhlas,” ujar Fahry menghentikan langkahnya sejenak.
Ia melanjutkan lagi langkahnya untuk menemui Aisya di rumahnya. Karena rumah Andi dan dirinya hanya berjarak beberapa meter saja.
Fahry yang melihat keadaan Aisya adiknya Andi yang meringkuk kedinginan, di tambah suhu tubuh Aisya yang sangat tinggi.
“Kita bawa ke dokter saja,” usul Fahry.
“Tapi, nak. Ibu tidak mempunyai uang. Ibu mau mencari pinjaman ...”
“Mencari pinjaman di mana Bu, jaman sekarang sangat sulit mencari pinjaman apalagi tidak ada jaminannya,” ujar Fahry.
“Ibu tidak perlu memikirkan uang, yang terpenting sekarang kita bawa Aisya ke rumah sakit.”
Tanpa menunggu lama, Fahry menggendong Aisya di ikuti oleh ibunya di belakang.
Fahry membonceng mereka menuju ke rumah sakit terdekat, dan setelah tiba disana mereka langsung membawa Aisya ke IGD.
Cukup lama menunggu hasil serangkaian pemeriksaan dan tidak lama hasil labnya keluar.
Aisya di nyatakan positif demam berdarah dan harus di rawat.
“Nak, Fahry bagaimana jika Aisya di rawat di rumah saja. Sungguh, ibu tidak mempunyai biaya rumah sakit.”
“Ibu, tidak perlu memikirkan biaya. Fahry yang akan membayarnya,” sahut Fahry.
Ibunya Andi menangis terisak, langsung mengambil tangan Fahry dan menciumnya berulang kali.
“Ibu, jangan seperti ini. Yang terpenting sekarang Aisya di tangani.”
Fahry menarik tangannya pelan, karena sangat malu jika orang yang lebih tua mencium tangannya.
“Terima kasih banyak Fahry, Allah akan membalas kebaikan Fahry.”
“Iya, Bu. Aamiin ... sekarang ibu tenang ya,” ujar Fahry.
Ibunya Andi mengangguk.
Teruslah menebar kebaikan kepada siapapun dan dimanapun kamu berada meski melelahkan. Karena lelahnya akan hilang dan insya Allah di ganti dengan pahala yang akan terus ada.
.
.
.