
Icha hendak melangkah masuk ke dalam kamar Kakaknya. Namun, di urungkannya karena melihat mereka berdua saling berpelukan.
Masih terdengar suara isak tangis Anggun dalam pelukan Mamanya, akhirnya Icha memutuskan untuk tidak mengganggu mereka dan membiarkan mereka saling berpelukan untuk melepaskan rindu.
Icha kembali masuk ke kamarnya, dengan senyum yang belum luntur dari bibir ranumnya.
“Sayang, bukannya ingin ke Kamar kak Anggun?” tanya Fahry yang masih mengenakan pakaian tidurnya.
Icha menggelengkan kepalanya.
“Tidak jadi Mas. Nanti saja, karena aku tidak ingin mengganggu Mama dan Kak Anggun. Mereka saling melepaskan rindu, karena Ibu dan Anak yang sudah lama tidak bertemu.”
“Oh ... syukurlah, semoga semuanya kembali seperti dulu lagi.”
“Iya Mas, Aamiin ...” sahut Icha.
“Mas tidak kerja?” tanya Icha melihat suaminya belum bersiap.
“Aku ambil cuti selama seminggu. Aku dan Bang Dika ingin ke rumah singgah, melihat keadaan di sana.”
“Ikut dong,” ujar Icha duduk di samping suaminya, sedangkan Fahry berbaring miring berhadapan dengan sang putra.
“Boleh. Bagaimana dengan Azam, putra kita?” tanya Fahry.
“Bawa saja Mas.”
“Oke, baiklah.”
Icha mulai mempersiapkan perlengkapan putra seperti popok dan yang lainnya. Karena Fahry mengajak istri dan anaknya untuk berkunjung ke rumah singgah, karena para lansia yang selalu ia kunjungi setiap bulannya kini sudah di pindahkan ke tempat tersebut.
Bahkan Ifal dan Andi juga beserta keluarga mereka juga pindah ke tempat tersebut, karena mereka sebelumnya masih menyewa di kontrakan sempit. Sedangkan di tempat tersebut, mereka tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk sewa rumah.
“Mau ke mana? Loh nak Fahry tidak bekerja?” tanya Bu Sintya yang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Tidak Ma. Hari ini hingga seminggu ke depan, Fahry ambil cuti dan hari ini Fahry ingin ke rumah singgah bersama Abang,” sahut Fahry menarik kursi untuk istrinya duduk.
“Oh,” sahut Bu Sintya singkat.
“Huh, cucu Oma semakin hari semakin gemoy ...” ujarnya mencubit pelan pipi cucunya.
“Iya dong Oma,” sahut Icha.
“Apa kalian membawa Azam?” tanya pak Heri di sela sarapan mereka.
Pak Heri saat ini masuk duduk di kursi roda, ada kemajuan karena pak Heri sudah mulai lancar berbicara dan juga bisa makan sendiri tanpa harus di suapi lagi.
“Iya, Pa. Azam kami bawa,” sahut Icha.
“Biarkan Azam bersama kami di rumah,” tutur Bu Sintya.
“Apa tidak merepotkan Mama?” tanya Fahry.
Bukan tidak percaya menitipkan Azam, akan tetapi tidak ingin membebani orang tuanya.
“Iya. Mama kalian benar, biarkan Azam bersama kami,” sela Papanya.
Icha tersenyum.
“Iya, Baiklah. Jika tidak merepotkan Mama dan Papa, Azam berada di rumah saja.”
“Nah gitu dong. Sama sekali tidak merepotkan, Mama dan Papa menikmati hari tua ingin bermain bersama cucu saja,” ujar Bu Sintya.
Mereka tertawa bersama di meja makan, apa lagi melihat tingkah Azam membuat pak Heri tersenyum bahagia.
Tanpa mereka sadari, jika Anggun menatap tajam mereka dari kejauhan. Mereka duduk makan bersama, disematkan canda tawa bahagia, seakan tidak ada beban.
Ia menatap rasa cemburu pada Icha, yang dulu ia rasakan di posisi Icha.
Hari ini seakan terbalik, keadaan sudah berubah, kini dirinya merasakan bagaimana rasanya di abaikan.
Anggun mengepal kuat tangannya, sambil melangkah menghentakkan kakinya kembali masuk ke kamarnya.
🌹🌹🌹
Arif baru saja pulang, karena ia mendapatkan tugas di luar kota selama beberapa hari dan baru kembali hari ini.
Ting! Tong!
Suara bel berbunyi.
Adita baru saja menyelesaikan masakannya, karena sebelumnya Arif sudah mengabarkan jika ia pulang pagi ini dan ingin makan masakan Adita.
“Ma, belnya bunyi,” ujar Eza di selanya bermain mendengar bel berbunyi.
“Iya, Sayang. Mungkin om Arif, ayo kita buka pintu,” ajak Adita pada putranya.
Walaupun Adita bekerja di rumah Arif, ia tidak pernah menginap di rumah tersebut. Pagi-pagi sekali ia datang dan sore hari dirinya pulang menggunakan motor yang diberikan Icha untuknya agar tidak terlalu cape menunggu taksi.
“Assalamualaikum,” ujar Arif memberi salam saat pintu rumah sudah terbuka sempurna.
“Waalaikumsalam,” sahut Adita.
Yang pertama Arif lihat adalah, wajah Adita yang cantik natural tanpa menggunakan makeup sama sekali, apalagi saat ini Adita mengenakan hijab hingga menambah aura kecantikannya.
Sejenak mereka saling bertatapan, Arif langsung tersadar dan segera mengalihkan pandangannya pada Eza yang juga ikut menyambut kedatangannya.
“Kamu baik-baik saja Pak?” tanya Adita melihat wajah Arif yang sedikit pucat.
“Iya, aku baik-baik saja,” sahutnya berbohong.
Ia memang merasakan kepalanya pusing yang sangat luar biasa.
“Aku ....”
Bruak!
Pak Arif hampir tersungkur ke lantai, beruntung Adita langsung menangkapnya hingga tidak terjatuh ke lantai.
Pak Arif tidak sadarkan diri, melihat hal itu Eza ketakutan dan langsung menangis histeris.
Sekuat tenaga Adita menahan tubuh Arif yang lumayan berat tersebut.
Satpam dan Adita mengangkat tubuh Arif dan membawanya ke kamar tamu yang ada di lantai bawah, setelah itu Adita di bantu oleh satpamnya untuk melepaskan tas yang masih melekat di punggungnya.
Adita meletakkan tangannya di dahinya Arif, Adita merasakan suhu tubuh Arif yang lumayan tinggi.
“Dia sakit,” Gumam Adita.
“Pak, apa ada Dokter yang biasa di panggil kemari?” tanya Adita pada satpamnya.
“Ada Bu. Saya akan menghubunginya,” sahutnya.
Adita mengangguk.
“Mama, hiks ... hiks ... omnya kenapa? Kok tidak bangun?” tanya Eza menangis sambil sesenggukan.
“Tidak sayang. Om nya sakit, kita akan panggil Dokter, oke.”
“Cup cup anak Mama yang Soleh, sudah ya menangisnya. Sekarang duduk di samping om Arif, kita akan mengompres kepalanya,” tutur Adita pada putranya.
Eza langsung berhenti menangis dan menuruti perkataan sang Mama untuk duduk di samping Arif yang tengah terbaring.
Sambil menunggu dokter tiba, Adita membuatkan teh hangat dan juga air hangat di dalam wajah untuk mengompres Arif.
Sementara itu, satpam rumah tersebut masih berada di dalam kamar, atas permintaan Adita.
Arif perlahan membuka kelopak matanya, ia merasakan ada sesuatu yang menempel di dahinya.
“Om sudah bangun,” ujar Eza yang masih setia duduk di samping Arif.
Arif melihat ke sampingnya, ada Adita dan Eza yang setia duduk menunggunya.
Sekitar beberapa langkah kaki, ada penjaga rumahnya yang menunggunya juga.
“Pusing?” tanya Adita.
“Sedikit,” sahutnya mencoba untuk duduk.
Adita membantunya untuk duduk dan meletakkan bantal di belakang tubuh Arif agar ia bisa bersandar.
“Minum teh hangatnya dulu dan sarapan bubur ini dulu,” ujar Adita meletakkan nampan yang berisi makanan tersebut di sampingnya.
Arif mengangguk.
Tangannya gemetar saat hendak mengambil teh tersebut, Adita yang melihat pun jadi tidak tega.
“Biar aku saja,” ujar Adita.
Arif menahan senyumnya dengan penuh kemenangan.
“Om jangan sakit ya. Nanti Eza mainnya sama siapa?” ujar Eza pada Arif.
“Iya, sayang. Doakan om ya, biar cepat sembuh.”
Eza mengangguk, lalu berbaring di samping Arif.
Adita terharu melihat perlakuan Arif pada putranya, karena sebelumnya Eza begitu dekat dengan Ayahnya Aditya.
Beberapa bulan lamanya, Eza sudah tidak bertemu dengan Aditya. Bukan tidak ingin mempertemukan Eza pada Ayahnya, hanya saja Adita masih takut untuk bertemu dengan mantan suaminya. Apa lagi setelah mendengar, jika Aditya berniat ingin membunuhnya.
Adita kembali menyuapi Arif sarapan dan membantunya untuk meminum tehnya.
Tidak lama dokter langganannya datang untuk memeriksa dirinya.
“Hadeh Arif, sakit lagi sakit lagi. Dalam sebulan sudah berapa kali kamu sakit, Arif?” tanya dokter tersebut.
Selain berprofesi sebagai dokter, ia adalah sahabat dari Arif juga.
“Cepat nikah! Biar ada yang mengurus mu!” godanya pada Arif sambil memeriksanya.
“Aku sekarang butuh vitamin, bukan istri!” celetuknya pada sahabatnya yang selalu mengejeknya untuk segera menikah.
“Iya aku tahu. Setelah menikah, vitamin mu itu adalah istri,” ujarnya sambil memeriksa tekanan darah Arif.
“Huh ... sok tahu anda!”
“Ya memang tahu. Aku akan sudah menikah!”
“Oh iya ya,” sahut Arif cengengesan.
Adita hanya jadi pendengar perdebatan kecil mereka.
“Mereka ternyata bersahabat,” gumam Adita dalam hati.
“Dokter, Mama aku juga sering pusing, kemarin saja menangis,” ujar Eza polos.
Adita yang mendengarnya membulatkan matanya.
“Oh ya. Benarkah?” tanya dokter tersebut.
Arif menatap Adita setelah mendengar Eza mengatakan jika Adita menangis, akan tetapi Adita melangkah keluar dari kamar tersebut.
“Menangis kenapa sayang?” tanya dokter tersebut pada Eza yang masih berbaring di samping Arif.
“Tidak tahu,” sahutnya lagi sambil memainkan robot di tangannya.
“Anak siapa?” tanya dokter tersebut dengan pelan.
“Itu ibunya,” sahut Arif melirik dengan matanya melihat punggung Adita yang menjauh.
Dokter tersebut mengangguk mengerti. Beberapa detik ia baru tersadar, lalu menatap Arif meminta penjelasan.
Arif yang mengerti dengan tatapan sahabatnya tersebut, hanya tersenyum menganggapinya.
Dokter hanya menggelengkan kepalanya melihat Arif tersenyum.