Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 80



Sintya baru saja tiba di rumah putranya Dika, karena menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Namun, baru hendak membuka pintu mobil, terdengar suara tembakan yang cukup nyaring hingga sang sopir menarik Bu Sintya kembali dan menunduk kepalanya ke arah dalam.


“Astagfirullah. Apa itu?” tanya Bu Sintya gemetar.


“Sstt ... itu suara tembakan Nyonya, diamlah!” ujar sang sopir, ia mengunci semua pintu mobil, masih dalam keadaan menunduk.


Sementara itu, Dika mengerang kesakitan.


“Arggh ... Astaghfirullah,” gumamnya menahan bahunya yang begitu banyak mengeluarkan darah.


Satu peluru tepat mengenai bahu kanannya, dan satu peluru meleset akan tetapi mengenai jendela kaca hingga pecah.


“Sayang,” teriak Indah berlari cepat mendengar suara tembakan yang begitu nyaring.


Polisi sigap mencari arah suara tersebut, mereka melihat suara motor yang pergi menjauh dan segera mereka melakukan pengejaran.


“Kita ke rumah sakit sekarang,” ujar Indah melihat bahu suaminya yang begitu banyak mengeluarkan darah.


Sedangkan Bu Sintya berlari keluar dari mobil mendengar suara teriakan putranya yang mengerang kesakitan.


“Dika, apa yang terjadi nak?”


“Ma, kita tidak punya banyak waktu. Sekarang kita bawa Abang ke rumah sakit,” tutur Indah terlihat cemas.


Bu Sintya mengangguk.


Dika di bantu oleh sopirnya untuk masuk ke mobil lalu mereka bergegas melaju menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Dika langsung di larikan ke rumah operasi. Karena harus segera di operasi untuk mengeluarkan peluru dari bahunya.


Di rumah, Adita terlihat sangat ketakutan apalagi mendengar suara tembakan tadi.


Ia mengunci pintu kamarnya, bahkan jendela yang ada dikamar tersebut.


Ia memeluk putranya yang masih tertidur pulas, dengan tangan yang gemetar.


“Jangan bunuh kami,” lirih Adita.


Tok! Tok!


“Nona, buka pintunya.”


Adita tidak menghiraukan ketukan yang terus menerus sejak tadi, ia masih berada di tempatnya sambil memeluk putranya dengan ketakutan.


“Nona, kami dari pihak kepolisian. Anda tidak perlu takut.”


Terlihat Adita menghela napas lega.


Adita perlahan meletakkan putranya, ia melangkah menuju pintu kamar untuk membuka pintu kamar.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka perlahan.


“Nona, Apa anda baik-baik saja?” tanya salah satu polisi tersebut.


Adita tampak ragu mengangguk.


“Jangan takut, pelaku penembakan sedang dalam pengejaran.”


“Su-suami saya?” tanya Adita tampak ragu.


“Suami anda sedang dalam pencarian, karena sudah pergi dari kota ini.”


“Ada beberapa polisi sudah berjaga di tempat ini, mohon kerja samanya jangan keluar dari rumah ini.”


Adita mengangguk.


“Saya permisi Nona,” pamitnya.


“Terima kasih, Pak.”


Polisi muda tersebut tersenyum lalu mengangguk.


Melihat wajah Adita yang terlihat ketakutan, ia tidak tega melihatnya.


“Tutup saja pintunya, jangan lupa makan.”


Adita mendongakkan kepalanya melihat wajah polisi tersebut, lalu segera mengalihkan pandangannya lalu Adita mengangguk.


🌹🌹🌹


Di rumah sakit.


Tidak ada yang melihat jika jari telunjuk pak Heri yang bergerak.


Beberapa kali ia menggerakkan jarinya, mulai jari telunjuk hingga jari tengah.


Di depan ruangan operasi, Indah dan Bu Sintya tampak cemas karena sang suami belum juga keluar dari ruang operasi.


Bahkan jarum jam sudah menunjukkan pukul satu malam.


“Ma, Abang kok belum keluar, ya? Indah khawatir terjadi sesuatu dengan Abang,” ujarnya berulang kali menatap pintu ruangan operasi.


“Sabar, Sayang. Kita berdoa semoga semuanya baik-baik saja,” sahut Bu Sintya.


Bu Sintya mengajak menantunya untuk duduk di kursi, lalu memberikan sebotol air putih.


“Terima kasih Ma.”


Indah meminum air putih tersebut, hingga menghabiskan setengahnya.


Tak lama, terlihat pintu ruangan tersebut sudah terbuka.


Para perawat menarik pelan bangsal tersebut, dengan Dika yang masih terbaring di atasnya. Untuk membawa Dika dan sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap.


“Pak Dika sudah melewati masa kritisnya, karena peluru yang menembus bahunya cukup dalam, hingga kesulitan bagi kami dan syukurlah, semua berjalan lancar.”


“Alhamdulillah.”


“Saya permisi,” pamit dokter tersebut.


Indah dan Bu Sintya mengangguk.


“Terima kasih, Dok.”


“Sama-sama.”


Mereka melangkah menuju ruang rawat inap, dimana Dika di tempatkan.


“Ma, Abang sudah melewati semuanya. Mungkin pengaruh obat, jadi Abang masih menutup matanya,” Ujar Indah saya sudah tiba di ruangan tersebut.


“Iya, sayang. Abang itu anak yang kuat, dari dulu selalu ada untuk adiknya. Pasti dia bisa melalui ini semua,” Ujarnya.


“Iya Ma. Oh ya Ma, Papa juga berada di rumah sakit ini. Papa berada di ruang ICU,” ujar Indah berbicara dengan hati-hati.


Bu Sintya hanya mengangguk.


“Ma, apa Mama tidak ingin menemui Papa?”


“Papa masih koma, Ma.”


“Mama akan ke sana, jika Abang sudah sadar. Sekarang kamu juga istirahat,” tutur Bu Sintya lembut.


Indah hanya mengangguk, dirinya juga tidak bisa memaksa jika ibu mertuanya tidak ingin menemui Papa mertuanya.


🌹🌹🌹


Icha tampak gelisah, ia tidak bisa memejamkan matanya. Melihat jam di dinding sudah pukul dua malam.


Icha berbalik badan ke kiri, akan tetapi matanya tetap tidak mau terpejam.


Lalu berbalik lagi, tetap saja matanya tidak mau terpejam.


Merasa ada pergerakan, Fahry terbangun. Ia melihat istrinya yang tidak tidur, melirik jam sudah pukul dua dini hari.


“Sayang, kenapa? Apa kamu lapar?” tanya Fahry duduk bersandar di bahu tempat tidur sambil menguap.


“Mas, kenapa bangun?”


“Bagaimana aku bisa tidur, jika istriku saja tampak gelisah. Ada apa sayang? Lapar?” tanya Fahry.


Icha duduk dan bersandar di dada bidang suaminya.


“Aku tidak lapar, Mas. Tapi, aku tidak bisa tidur. Kenapa ya?”


“Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?”


Icha berpikir sejenak, lalu mengangguk.


“Papa?”


Fahry tahu apa yang di pikirkan oleh istrinya pasti itu yang membuatnya gelisah hingga membuatnya tidak bisa tidur.


Icha mengangguk.


“Kita akan mencari jaringan tempat yang bagus besok, kita akan menghubungi Abang.”


“Iya, Mas.”


Icha membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


“Ada apa?” tanya Fahry menatap curiga pada istrinya, karena melihat tatapan istrinya yang berbeda.


Icha mendekatkan bibirnya, pada telinga suaminya.


“Mas,” panggil Icha dengan panggilan menggoda, membuat Fahry merinding seketika.


“Sayang, kamu kenapa sih? Ini sudah tengah malam, jangan seperti itu.”


Icha terkekeh melihat suaminya, yang seperti menahan sesuatu di sana.


Bukannya mendengar ucapan suaminya, Icha malah duduk di atas paha suaminya lalu memeluknya.


“Sayang, kenapa seperti ini? Ayo turun.”


“Tidak mau, aku ingin seperti ini, hanya sebentar Mas.”


“Hm ... baiklah. Lakukanlah apa yang membuatmu nyaman,” sahut Fahry mendekap istrinya.


Icha merasakan sangat nyaman saat di peluk oleh suaminya.


“Nyaman sekali, apa karena ini bawaan bayi?” gumam Icha dalam hati tersenyum.


Tanpa ia tahu, jika Fahry tersiksa di bawah sana. Bukan dengan berat badan istrinya, melainkan ada sesuatu yang harus ia tahan, karena tidak ingin menyakiti istrinya dan calon anaknya yang masih di dalam rahim Icha.


“Sayang, aku sangat lelah. Kita tidur lagi yuk,” ajak Fahry lembut.


“Iya, Mas. Aku ingin di peluk sambil tidur,” ujar Icha berkata manja.


Karena semenjak kehamilannya, Icha tidak ingin di peluk oleh suaminya saat tidur.


Namun, berbeda dengan hari ini yang ingin di peluk oleh Fahry.


“Iya,” sahut Fahry lembut.


Ia baru menyadari, jika wanita hamil itu mood yang selalu berubah-ubah.


Fahry memeluk istrinya, hingga Icha tertidur pulas. Kini gilirannya tidak bisa tidur dan masih terjaga hingga subuh.


Di tambah lagi mengingat sikap manis istrinya barusan, yang membuatnya tidak bisa tidur kembali.