
Selesai melaksanakan salat berjamaah untuk pertama kalinya, Fahry mengulurkan tangannya kepada Icha.
Icha mengerti apa yang di maksud oleh Fahry, lalu mengambil tangan suaminya tersebut lalu menciumnya.
Fahry merasakan tangan Icha yang gemetar memegang tangannya, ia mengerti karena ini untuk pertama bagi Icha bersama lawan jenis untuk berpegangan tangan.
Setelah itu mereka menyatukan kedua tangan mereka masing-masing untuk memanjatkan doa.
Icha menyapu kedua tangannya ke wajahnya karena selesai berdoa.
Begitupun dengan Fahry, ia membalikkan badannya menghadap istrinya. Icha tampak masih malu-malu menatap suaminya.
“Icha. Kita sama-sama tahu, tentang pernikahan ini. Tapi, percayalah aku ingin menjalankan pernikahan dengan serius. Pernikahan untuk sekali seumur hidup.”
“Mas Fahry. Aku pun sama sepertimu, menjalankan pernikahan secara syariat Islam. Bimbing aku sebagai istri yang ingin berbakti kepada suami.”
“Maafkan aku jika masih banyak kekurangan, aku akan belajar sebagai seorang istri yang baik.”
Fahry tersenyum.
“Kita akan sama-sama belajar, aku berharap kamu nyaman dengan keadaanku. Kamu pasti mengetahuinya, aku hanya pria biasa yang masih tinggal di rumah sewa.”
“Itu tidak jadi masalah bagiku. Yang terpenting kita saling menerima satu sama lain dan saling terbuka,” sahut Icha dengan lembut.
Fahry mengangguk.
“Insya Allah,” tutur Fahry.
Icha tersenyum.
Kali ini Fahry bisa menatap sepuasnya senyum dari istrinya, senyum manis di bibir ranumnya.
“Oke baiklah. Sekarang mari kita pulang,” Ajak Fahry beranjak dari tempat duduknya.
Sebelum itu, Fahry lebih dulu melipat sajadahnya.
“Iya,” sahut Icha.
Icha kembali mengemasi pakaiannya, setelah selesai Icha meletakkan kopernya di depan pintu keluar.
Ia melihat Fahry yang sibuk berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Sambil menunggu Fahry, Icha juga membuka ponsel miliknya. Ia mengirim pesan kepada Abangnya, jika dirinya ikut bersama suaminya kembali ke rumah.
Namun, pesan yang ia kirim belum di balas oleh abangnya.
“Mungkin Abang masih banyak tamu,” gumamnya.
“Sudah selesai?” tanya Fahry yang baru selesai menerima panggilan.
“Sudah,” sahut Icha.
“Ayo,” ajak Fahry mengulurkan tangannya.
“Kenapa? Oh maaf, aku lupa jika kamu belum terbiasa.”
Fahry menarik kembali uluran tangannya.
Icha beranjak dari tempat duduknya, mengikuti suaminya.
Sebelum membuka pintu, Fahry menarik koper milik istrinya.
Saat membuka pintu, bersamaan dengan Dika ingin mengetuk pintu kamar mereka. Dika masih dengan pakaian lengkap, pakaian yang ia kenakan di acara resepsi pernikahannya.
“Fahry,” Ujar Dika melihat Fahry menggeret koper milik istrinya.
“Abang,” panggil Icha yang ada di belakang suaminya.
“Icha, maaf Abang tidak mendengar suara pesan masuk tadi. Abang baru melihatnya,” Ujar Dika merasa bersalah.
“Iya, Bang. Icha paham kok,” sahut Icha.
“Bang, Icha minta izin untuk pergi ikut bersama suami Icha.”
Dika tersenyum.
“Sekarang tugas Abang sudah selesai. Mulai dari sekarang, kamu meminta izin bukan kepada Abang lagi. Tapi, kepada suamimu.”
Dika melirik sekilas Fahry di samping adiknya.
“Jadi istri yang Soleha, yang selalu berbakti kepada suami.”
Icha mengangguk.
Dika beralih kepada Fahry.
“Aku titip adikku padamu, semua tanggung jawabku ku serahkan kepadamu. Jagalah dia, didik dia. Jika adikku bersalah beritahu dia,” ujar Dika.
“Pasti, aku akan selalu menjaganya.”
Sebelum mereka pergi, Icha dan abangnya saling berpelukan. Begitupun dengan Fahry, ia berpamitan dan saling berpelukan.
“Fahry, terima kasih banyak. Aku berhutang banyak kepadamu, bahkan belum tentu aku bisa membayarnya,” bisik Dika disaat mereka berpelukan.
Fahry tersenyum lalu melepaskan pelukannya.
“Jangan anggap ini hutang. Ini adalah hadiah terindah untuk ku, kamu sudah memberikan bidadari padaku dan jangan anggap ini hutang adikmu bukan penebus hutang,” ujar Fahry.
Dika terharu dengan ucapan Fahry yang begitu sangat dewasa, ia sangat bersyukur Icha adiknya menikah dengan orang yang tepat. Walaupun saat ini mereka harus menikah karena di jodohkan olehnya.
.
.
.