Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 79



“Selamat malam Pak Dika,” sapa polisi tersebut.


“Selamat malam, Pak. Silakan duduk, Pak,” ajak Dika.


“Iya terima kasih. Maaf, sudah menunggu lama.”


“Tidak apa-apa, Pak.”


“Bagaimana? Apa wanita itu masih di rumah ini?”


“Ada Pak. Wanita itu ada di dalam kamar, bersama istriku. Kita bisa langsung ke kamar saja,” ujar Dika.


“Iya, Pak Dika. Karena kami tidak punya banyak waktu, semakin cepat terungkap siapa pelakunya, semakin bagus.”


“Iya, Pak. Tunggu sebentar, saya akan memeriksanya terlebih dahulu.”


Polisi tersebut mengangguk.


Dika melangkah ke kamar tamu, sebelum masuk ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


Ceklek!


Dua wanita yang ada di dalam kamar tersebut menoleh ke arah pintu.


“Ada apa Bang?” tanya Indah melihat suaminya yang membuka pintu.


“Sudah makan?” tanya Dika.


Indah yang mengerti maksud suaminya, lalu mengangguk.


“Maaf, Nona. Ada polisi yang ingin bertemu dengan anda,” ujar Dika tanpa basa basi.


Tampak wanita tersebut langsung terkejut.


“Polisi? Kenapa ada polisi, Pak? Saya tidak terlibat dalam kecelakaan itu, kenapa saya di tangkap Tuan?” tanya Adita sambil terisak menangis.


“Nona. Polisi itu tidak ingin menangkap anda, melainkan ingin bertemu dengan anda, hanya ingin mendengar informasi dan kejujuran anda, itu saja.”


Adita tampak berpikir sejenak.


“Benarkah?” tanya Adita.


“Iya,” sahut Dika.


Adita mengangguk, sebelum keluar kamar ia lebih dulu mencium wajah putranya yang begitu pulas tidur.


“Nona, saya titip putraku.”


Indah tersenyum lalu mengangguk.


Adita mengikuti langkah Dika keluar dari kamar, langkahnya terhenti ketika melihat ada beberapa polisi yang duduk di sofa yang ada di rumah tamu.


“Kenapa, Nona?”


Melihat Adita yang menghentikan langkahnya.


“Ti-tidak, Pak.”


“Jangan takut, mereka hanya ingin bertanya saja. Mereka tidak akan menangkapmu jika Anda berbicara jujur.”


Dika bicara penuh penekanan dengan sengaja mengatakan itu, agar wanita yang ada di hadapannya tersebut berkata jujur.


“Iya, Pak. Saya akan berbicara jujur,” sahut Adita.


Adita dan Dika kembali melanjutkan langkahnya.


“Selamat malam,” sahut Adita yang terlihat gugup.


“Jangan takut, kami hanya ingin bertanya kepada anda.”


Adita mengangguk.


“Pak Dika baru saja menghubungi kami jika, anda mengetahui siapa dalang dari kecelakaan yang di alami oleh pak Heri.”


Adita mengangguk pelan.


“Iya, pak.”


“Lalu, apa anda punya bukti?”


“Saya memang tidak mempunyai bukti. Tapi, saya berani bersumpah saya mendengar nya sendiri Pak.”


“Siapa?” tanya polisi tersebut.


Tampak Adita ragu untuk mengatakannya, namun demi menyelamatkan orang yang tidak bersalah ia terpaksa mengatakan kejahatan yang dilakukan oleh suaminya.


“Su-suami saya, Pak. Aditya,” sahut Adita sambil menutup matanya.


“Jangan takut Nona, anda sudah berbuat baik telah melaporkan kejahatan suami anda, agar tidak ada korban lagi setelah ini.”


Adita kembali mengangguk.


“Jadi, anda mendengar sendiri jika suami anda yang melakukannya?”


“Iya, Pak.”


“Okey, baiklah. Lalu, apakah anda bersiap bersaksi di pengadilan nanti?”


Adita Kembali mengangguk.


“Apa lagi yang anda ketahui selain itu?”


“Hanya itu Pak, suami saya terobsesi pada Icha adik dari Pak Dika. Ia rela melakukan apapun untuk mendapatnya Icha.”


“Oh jadi, ini berawal dari kisah asmara?”


“Lalu, apalagi?”


“Hanya itu Pak,” sahut Adita.


“Sebelum saya kabur dari rumah, saya di ancam akan di bunuh.”


“Baiklah, ini sudah cukup bagi kami. Kami akan siap melakukan penangkapan,” Ujarnya.


“Terima kasih sudah bekerja sama, jangan takut. Anda sudah aman di rumah ini, saya akan mengirim anak buah saya untuk mengawasi tepat ini.”


Adita dan Dika bergantian menyambut uluran tangan pak polisi tersebut.


Adita kembali ke kamarnya untuk menemui putranya, sedangkan Dika mengantar polisi tersebut ke teras rumah.


Setiba di teras rumah, Dika masih berbincang pada polisi tersebut.


Dor! Dor!


Suara tembakan dua kali mengarahkan ke rumah Dika


.