Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 71



Setelah selesai memeriksakan dirinya pada bidan yang bertugas di desa tersebut, Icha dan Fahry kembali pulang dengan wajah yang senang.


“Alhamdullilah, Mas. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua,” ujar Icha sambil memeluk suaminya dari belakang, sedangkan Fahry fokus mengendarai motornya.


“Iya, alhamdullilah Sayang.”


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di rumah.


“Dari mana Mbak Icha? Wajahnya terlihat bahagia sekali,” goda ibunya Sifa yang kebetulan duduk di teras rumahnya.


“Baru pulang dari tempat bidan, Mbak. Wah Sifa sudah bangun ternyata, sebentar ya Tante mau masak buat om dulu.”


“Iya, Tante,” sahut ibunya Sifa menirukan suara anak kecil.


Icha berpamitan sama halnya dengan Fahry, sebelum itu tidak lupa Icha mencium gemas pipi gembul Sifa.


“Assalamualaikum Ma,” ujar Icha memberi salam.


Kebetulan sang Mama baru keluar dari selesai masak.


“Waalaikumsalam, Sayang.”


“Bagaimana hasilnya?” tanya Bu Sintya tidak sabar.


Icha tersenyum langsung memeluknya.


“Hasilnya positif, Ma.”


“Alhamdulillah, Sayang. Selamat ya untuk kalian berdua,” ujar Bu Sintya ikut bahagia.


“Mulai sekarang Mama tidak mengizinkan kamu membuat kue lagi, kamu fokus dengan kesehatan kalian berdua. Biar Mama yang membuat kue,” ujarnya.


Icha mengangguk, lalu melepaskan pelukan mamanya.


“Selamat ya Fahry, Mama ikut bahagia mendengar kabar ini.”


“Terima kasih, Ma.”


🌹🌹🌹


Dika baru saja menyelesaikan pekerjaannya, sore ini ia harus pulang cepat. Menurut laporan dari rumahnya, pak Heri kembali datang ke rumahnya.


Sementara itu, ia takut akan terjadi apa-apa pada istrinya. Karena Indah sendirian di rumah.


Setibanya di rumah, Dika melihat sang Papa duduk lesu di sofa miliknya, berbincang dengan Indah istrinya.


“Kenapa lagi Papa datang kemari? Walaupun berulang kali Papa datang, pendirianku tetap sama! Aku tidak akan memberitahu keberadaan Mama, sudah cukup Papa membuat Mama menangis.”


“Hati mu seperti hati batu, kamu egois! Kapan aku membuat istriku menangis? Kamu jangan mengada Ngada!”


“Pa, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ...”


“Bang, sudah!” sela Indah.


Dika menghela nafas kasar.


“Aku tidak akan memberitahu Papa,” ujar Dika pada pendiriannya.


Selama tiga bulan terakhir, pak Heri selalu ke rumahnya dengan niat yang sama ingin tahu keberadaan istrinya.


Namun, Dika tetap pada pendiriannya tidak akan memberitahu keberadaan mereka.


Dika menatap lelah dari mata pak Heri, akan tetapi Dika mencoba untuk tidak menghiraukannya, walaupun ada rasa iba di hatinya.


Selama tiga bulan ini, tidak ada kejadian lagi yang menimpa Icha dan Fahry. Maka dari itu, Dika menganggap jika tempat adiknya tinggal disana sudah aman.


“Dika ...” lirih pak Heri.


“Papa sadar sekarang, jika harta bukanlah segalanya. Papa kesepian tidak ada kehadiran Mama, Papa menyesal.”


“Kenapa baru sekarang Pa? Bukankah di rumah ada Anggun, putri kesayangan Papa.”


Terlihat pak Heri menghela nafas mendengar nama Anggun.


Dika tahu, jika Anggun sudah menikah dengan pria kaya raya yang sudah beristri.


“Ada apa?” tanya Dika penasaran.


“Anggun sudah berubah. Ya, Papa menyadari jika ini adalah kesalahan Papa. Papa selalu memanjakan dia, Papa menyesal.”


Namun, Dika tidak bisa langsung percaya pada pak Heri. Karena sebelumnya pak Heri melakukan hal yang sama, akan tetapi itu hanya penyesalan bohong belaka.


Dika hanya diam menganggapi ucapan Papanya.


Pak Heri menatap wajah Dika yang tidak peduli, pak Heri tertunduk pasrah.


Ia beranjak dari tempat duduknya, melangkah ke luar rumah. Dika hanya menatap kepergian Papanya.


“Bang, kasihan Papa. Tidak seharusnya Abang berkata kasar pada Papa.”


“Bang, sepertinya Papa jujur. Ia sangat menyesal, aku pernah melihat Anggun membentak Papa di depan umum.”


Dika menatap istrinya.


“Dimana?” tanya Dika penasaran.


“Saat aku jalan sama Bibi di mall, aku tidak sengaja melihat Anggun membentak Papa. Aku tidak tega melihat Papa, Anggun sudah besar kepala!” ujar Indah dalam hati, ia tidak jadi menceritakan pada Suaminya.


“Hei, kenapa bengong? Kapan Anggun membentak Papa?”


“Maaf Bang, mungkin aku salah paham. Abang, aku membuat kue untukmu. Ayo cicipi,” ujar Indah mengalihkan pembicaraan.


Dika mengangguk.


Sambil mencicipi kue buatan istrinya, Dika menghubungi Mamanya.


Sedikit sulit untuk menghubungi mereka, karena sinyal yang susah.


“Hallo, Assalamualaikum Bang.”


“Waalaikumsalam, Ma. Bagaimana kabar kalian semua, Ma?”


“Alhamdulillah, Baik. Bahkan Mama punya kabar gembira untuk kalian disana.”


“Kabar gembira apa, Ma? Dika tidak sabar mendengarnya,” tanya Dika penasaran.


“Kabar jika adikmu sedang skavgsbskm ....” suara Bu Sintya kurang jelas, karena jaringannya.


“Ada apa Ma? Suara Mama putus-putus,” tanya Dika lagi, akan tetapi panggilan mereka berakhir.


“Yah, mati!” keluh Dika, kembali lagi mencoba menghubunginya.


“Kenapa Bang?”


“Jaringan susah di sana Sayang, Mama mempunyai kabar gembira. Tapi, aku tidak terlalu jelas mendengarnya, karena suara Mama putus-putus.”


“Oh, coba hubungi lagi.”


“Sudah, tapi tidak masuk.”


“Ya coba lagi,” sahut Indah tidak sabar.


“Iya, Sayang,” sahut Dika lembut.


Sambil menunggu panggilan masuk, Dika malah menarik istrinya agar duduk di pangkuannya.


“Eh, kenapa Bang? Bukannya ingin menghubungi Mama?” tanya Indah bingung.


“Belum masuk. Sambil menunggu panggilan itu, aku juga mau ...” ucapannya terjeda.


“Mau apa?” tanya Indah lagi.


Sebenarnya ia tahu, yang dipikirkan oleh suaminya.


“Mau ini.” Menunjuk area favoritnya.


Indah tersenyum.


“Sebentar lagi masuk magrib,” tolak Indah lembut.


Karena memang hari sudah sore dan sebentar lagi akan masuk waktu magrib.


“Hm ... baiklah, tapi setelah itu aku tidak akan mengampunimu!” menatap istrinya dengan kelembutan.


“Ooh, aku menerimanya. Berapapun Abang mau,” tantang Indah.


“Oh ya? Kamu berani sudah menantangku sekarang ya,” mencium gemas pipi istrinya.


“Selama itu halal, kenapa enggak?”


Keduanya terkekeh.


“Terima kasih sudah menjadi istriku,” Ujar Dika mengelus pipi istrinya.


“Terima kasih sudah menjadi suamiku,” ujar Indah mengikuti gaya suaminya.


“Hei, kalian sedang apa? Jika ingin ehem- ehem kenapa menghubungi Mama?” protes Bu Sintya dari dalam telepon.


Indah dan Dika bersamaan melihat ke arah ponsel tersebut, lalu mereka saling menatap dan terkekeh.


“Ternyata Mama dengar.”


“Tentu saja! Kalian begitu nyaring berbicara!”


“Hahaha ... maaf Ma.”


“Hm ... bagaimana kabar kalian?” tanya Bu Sintya.


“Alhamdulillah baik, Ma.


“Ma, Mama mau bilang apa tadi? Suara Mama kurang jelas.”


“Oh, itu. Mama ingin mengatakan, jika kamu akan segera mempunyai keponakan baru.”


Dika terdiam sejenak mencerna ucapan mamanya, berbeda dengan Indah yang antusias bahagia.


“Alhamdulillah, Ma. Indah pengen kesana Ma, nanti Indah akan bujuk Abang. Selamat ya Ma, sebentar lagi akan menjadi Oma.”


“Iya, sayang. Mama merindukan kalian,” ujarnya.


“Bang,” Panggil Indah.


“Hah, iya. Apa tadi?”


“Icha hamil Sayang,” ujar Indah menjelaskan.


“Alhamdulillah ya Allah. Abang akan atur waktunya, agar bisa kesana Ma.”


“Iya, sayang. Mama tutup dulu teleponnya, sudah Adzan magrib.”


“Iya, Ma.”


Setelah menutup panggilan itu, Indah dan Dika berpelukan ikut bahagia atas kehamilan adiknya.


“Sayang, kapan kita bertemu mereka?”


“Secepatnya,” sahutnya bermain dengan rambut istrinya.


“Benarkah? Huh ... Sayang.” Memeluk suaminya erat.


“Sekarang kita salat dulu,” ajak Dika.


Indah mengangguk dan mereka beranjak dari tempat tersebut.