
Hari ini adalah bertepatan dengan bertambahnya usia Adita, sehingga Arif dan keluarga Dika semua merencanakan untuk memberi kejutan padanya.
Akan tetapi, mereka yang di beri kejutan dengan kedatangan mantan suaminya ke rumah tersebut.
Arif masuk duduk di sofa, ia menahan amarahnya setelah mendengar apa yang di ucapnya oleh Aditya barusan.
Melihat Arif hanya duduk diam, tidak sepertinya biasanya. Ia mengerti apa yang di rasakan oleh Arif saat ini, bahkan ia sangat merasa bersalah padanya karena membiarkan mantan suaminya masuk ke dalam rumah.
Adita beranjak dari duduknya untuk menghampiri Arif yang tengah duduk di sofa sendirian.
Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar Dika dan yang lainnya mengucapkan salam secara bersamaan.
“Assalamualaikum ...” ucap mereka.
“Waalaikumsalam ...” sahut Adita dan Arif bersamaan.
“Wah, kalian kemari? Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Adita langsung memeluk Indah dan Icha bersamaan, lalu terakhir bu Sintya dan Anggun.
“Justru itu, kami ingin memberikan mbak kejutan.”
“Kejutan?” tanya Adita bingung.
“Happy milad Mbak, barakaullah fii umrik.”
Adita yang mendengarnya langsung terharu, tanpa sadar ia menitikkan air mata.
Icha yang melihatnya, langsung memeluknya. Adita juga membelas pelukan Icha, sambil mengusap air matanya.
“Terima kasih,” lirihnya.
“Sama-sama Mbak,” sahut Icha.
Selesai saling berpelukan, para wanita duduk di dapur, sambil menyiapkan makanan yang mereka bawa dari rumah mereka.
Sedangkan para pria, duduk di sofa yang ada di ruang tengah berbincang hangat.
Setelah selesai menyiapkan makanan, mereka semua makan bersama penuh canda dan kebahagiaan.
Hari ini Adita merasa sangat bahagia, memiliki keluarga yang sangat ia impikan sejak dulu.
Semua orang sudah menyelesaikan makannya, sedangkan Arif tidak berbicara sepatah katapun pada Adita sejak kedatangannya.
Namun, Arif berbincang pada keluarga Dika dan Fahry seperti sebelumnya seakan tidak ada masalah sedikitpun.
Arif berpamitan untuk menerima telepon keluar rumah.
Saat kembali dari menerima telepon, Arif berpamitan pulang karena ada sesuatu yang mendesak.
Ia berpamitan kepada semua keluarga Dika, akan tetapi ia tidak berpamitan pada Adita.
Adita hanya tersenyum getir, melihat punggung Arif keluar dari rumah tersebut.
“Entah apa yang di katakan Aditya padamu? Sehingga kamu langsung berubah padaku,” ujarnya dalam hati setelah melihat kepergian Arif.
Icha hanya bisa mengusap punggung Adita, ia melihat tatapan sendu Adita pada kepergian Arif.
Setelah cukup lama di rumah tersebut, Dika dan keluarganya berpamitan untuk pulang ke rumah. Karena malam sudah cukup larut, sehingga mereka memutuskan untuk pulang.
Adita melambaikan tangannya kepada mereka, setelah melihat kepergian mereka Adita menutup pintu rumahnya.
Adita kembali ke kamarnya, melihat putranya sudah tidur pulas.
Adita menggantikan pakaiannya, lalu menyusul putranya yang sudah tidur.
Sebelum mematikan lampu tidur, ia mengintip ponselnya terlebuh dahulu. Namun, tidak ada panggilan masuk atau pesan yang masuk ke ponselnya.
Keesokan paginya.
Siang ini, Adita sudah bersiap. Ia ingin mengajak putranya untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan mereka.
Adita menemani putranya bermain di salah satu wahana tempat bermain anak-anak di salah satu mall.
“Ma, Eza cape. Eza boleh tidak minum es?” tanya Eza yang terlihat sangat haus.
“Eza mau itu?” tanya Adita melihat netra putranya selalu tertuju pada minuman tersebut, yang terlihat dari fotonya sangat segar.
“Boleh?” tanyanya.
“Eza tunggu di sini, Mama yang belikan. Jangan ke mana-mana,” ujarnya.
Eza mengangguk.
Adita ikut mengantre, sesekali ia melihat putranya yang masih setia menunggunya duduk.
Namun, ketika ia membalikkan badannya, matanya tanpa sengaja menangkap Arif yang tengah duduk dengan seorang wanita.
Deg!
Jantung Adita seketika berdegup kencang.
Arif yang tengah berbincang, tanpa sengaja melihat Adita yang juga tengah menatapnya.
Netra mereka saling bertemu, Adita hanya tersenyum getir melihatnya. Lalu mengalihkan pandangannya dan segera memesan minuman karena memang sudah gilirannya.
Setelah selesai memesan minuman, ia kembali melirik dimana tempat calon suaminya duduk.
Akan tetapi, ia tidak melihat Arif dan wanita tersebut duduk di sana.
“Mereka sudah pergi,” gumam Adita.
Adita berusaha tidak memikirkannya, bahkan ia berusaha untuk tidak memikirkan hubungannya dengan Arif. Karena memang, Arif lebih pantas mendapatkan wanita yang sempurna.
“Ini Sayang,” ujarnya memberikan pada putranya dan ikut duduk di sampingnya.
“Haus banget ya?” ujar Adita melihat putranya meminum jus dingin tersebut.
Eza mengangguk.
“Sekarang Eza mau main apa lagi?” tanya Adita sembari membenarkan topi putranya yang terlihat miring.
“Mm ... Eza mau main ke rumah Adek Azam. Kita ke rumah Adek Azam yuk, Ma. Eza mau memberikan mainan ini untuknya,” bujuk Eza pada ibunya.
Sebenarnya Eza meminta di belikan mainan tersebut, karena ia ingin memberikannya pada Azam putra Icha dan Fahry.
“Mm ... bagaimana ya?”
“Ma, Eza mau mainan sama Adek Azam.” Wajah Eza memelas bahkan hampir menangis melihat mamanya ingin menolak.
“Baiklah,” sahutnya.
“Yei ... ke rumah Adek Azam,” ujar Eza sangat senang.
Adita menuruti apa yang di inginkan oleh putranya, mereka melangkah ke arah motor mereka terparkir sambil bergandengan tangan.
Sesampainya di parkiran, Adita meminta putranya untuk memakai helm dan kacamata.
“Bismillah ...” gumam Adita dalam hati saat hendak berangkat dari parkiran tersebut menuju ke rumah Icha.
Namun, di tengah perjalanan menuju rumah Icha. Mereka terjebak hujan yang begitu deras dan di sertai angin kencang.
Mereka harus berhenti karena tidak mungkin melanjutkan perjalanan mereka, mereka berteduh di salah satu toko yang tutup ada beberapa orang juga yang berteduh di sana.
Adita memeluk putranya yang terlihat kedinginan.
“Dingin nak?” tanya Adita melihat putranya yang terlihat gemetar.
“Iya, Ma. Dingin, Eza takut.”
“Jangan takut, ada Mama,” ujarnya memeluk putranya.
Sebenarnya dirinya juga takut, apalagi ketika mendengar petir bergemuruh yang saling bersahutan.
Ada sebuah mobil yang berhenti di tempat toko tersebut, Adita tidak memedulikan siapa pemilik mobil yang keluar. Karena dirinya sibuk memeluk putranya, bahkan dia sendiri pun sedikit ketakutan.
“Om,” panggil Eza melihat Arif keluar dari mobil dengan menggunakan payung menghampiri mereka.